Blue Fire : The beginning of a true warrior

Blue Fire : The beginning of a true warrior
Eps 2 : Shadow Child.


__ADS_3


7 tahun kemudian, semua kembali normal. Setiap orang hidup dengan tenang, menjalani kegiatan sehari-hari tanpa ada gangguan.


Di siang harinya, tepat di hari selasa, terlihat di jalan seorang anak dengan mata kanan yang tertutup blindfold, berjalan menuju rumah dengan penuh sukacita. Ya, anak itu adalah anak dari pasangan William dan Isabelle. Ia bernama Ace.


Ia terkesan rapi dengan seragam sekolahnya, berjalan dengan senang hati, menoleh kesana-kemari. Langkah demi langkah ia lalui dengan senyum sapa pada setiap orang yang ditemuinya.


Setibanya di rumah, Ace mengetuk pintu dan membukanya, melihat ibunya yang sedang duduk di sebuah kursi dekat jendela rumahnya sambil menenun kain berwarna ungu gelap. Ia berjalan menuju sisi kanan ibunya.........


"Ibu,......." sapa Ace sambil memeluk ibunya.


"Anak ku.... Bagaimana harimu di sekolah nak ?." ucap ibunya dengan senyum diwajahnya.


"Aku punya banyak sekali teman, mereka menyukaiku, tapi...." ucap Ace sambil tersenyum, dan sengaja berhenti dengan wajah yang merunduk.


"Tapi kenapa anakku ?." tanya ibunya.


Ace berjalan menuju cermin di rumahnya. Berusaha menggapai cermin yang posisinya lebih tinggi dari tubuhnya. Menatap wajahnya dengan mata tertutup blindfold.


"Banyak dari teman ku yang bertanya, mengapa saya menggunakan blindfold." sambil mengusap blindfold-nya.


Ia berhenti berbicara. Menatap blindfold yang digunakannya, terpikir olehnya untuk mencoba membuka sedikit blindfold dari sisi bawah dekat hidungnya. Ia mencoba membukanya secara perlahan...tiba-tiba....


"Ace.........." panggil ibunya.


Sedikit terkejut, Ace melepas sentuhan tangannya pada blinfold, berlagak seolah-olah sedang besolek di depan cermin, mengusap wajahnya, dan kemudian menoleh ke pandangan ibunya. Ia berlari perlahan, menuju kursi tempat ibunya sedang menenun kain. Dengan memasang senyun tipis diwajahnya, bertanyalah ia pada ibunya.


"Ibu, mengapa aku menggunakan blindfold ini ?, perasaan ku, mata ku ini baik-baik saja." ucap Ace penuh percaya diri.


Ibunya terdiam sebentar, memandang wajah manis Ace, seraya memikirkan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ace.

__ADS_1


"Hmm..... nak.. kamu mempunyai keistimewaan di mata kananmu, sebab itu ia butuh pelindung agar supaya keistimewaannya tetap terjaga. Ibu ingin kamu tetap menjaga agar supaya blindfold itu tidak lepas dari mata mu.".


Saling memandang satu sama lain, Ace dan ibunya tersenyum dengan manisnya. Saling memeluk dengan penuh kasih sayang.


"Ibu..... selalu tau, cara untuk membuatku tersenyum." ucap Ace sambil memeluk ibunya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang terbuka, menandakan kepulangan ayah Ace dari tempat kerjanya. Rasa lelah ayahnya yang begitu saja hilang saat melihat Ace dan ibunya sedang berpelukan. Terlintas senyum kecil di bibir ayahnya. Ace dan ibunya menoleh ke arah pintu, melihat ayahnya yang sudah berdiri memegang tas kerja. Kemudian....


"Ayah.....!!." sapa Ace sambil berlalri kecil menuju ayahnya, memeluk serta mengeluskan wajah pada baju ayahnya.


"Anak ku.." ucap ayahnya, memeluk Ace sambil tersenyum bahagia.


"Ayah, ayo cepat kita ke danau." ucap Ace penuh semangat.


"Iya anakku, Ayah juga sangat menantikan hal ini.". Ace dan ayahnya akan pergi ke danau di sebuah hutan untuk menangkap ikan.


Setelah itu mereka bersiap-siap dan bergegas pergi ke danau.


Setibanya di danau semua dalam keadaan baik-baik saja. Terlihat danau yang begitu indah, dikelilingi bebatuan besar, berwarna abu-abu terang, tanah yang agak lembab, serta hutan pinus yang lebat dan indah. Mereka memilih tempat di atas batu yang cukup rendah, datar dibagian atasnya, serta nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat. Dipikulnya perangkap ikan oleh sang ayah, menuju ke dalam danau yang dalamnya mencapai ujung leher ayahnya.


Ace saat itu hanya terpukau dengan pemandangan indah disana. Ia berjalan kesana kemari, melihat-lihat sekelilingnya yang masih sangat alami. Ia mengutip bebatuan kecil di sana, bermain sendiri di dekat batu besar tempat mereka beristirahat.


Angin sepoi-sepoi yang berhembus, dinginnya air danau yang menusuk, serta setiap tepian danau yang masih penuh dengan misteri, tidak membuat ayahnya berpaling sedikitpun.


Setelah memasang perangkap, ayahnya duduk di atas batu tersebut sembari menunggu ikan yang terperangkap, sedang Ace bermain disekitar danau tak jauh dari batu.


Berjam-jam berlalu ayahnya pun tertidur di atas batu tersebut. Ace yang tengah bermain dengan gembiranya, sambil melihat-lihat disekeliling danau, tiba-tiba terdiam. Terkejut ia saat melihat sebuah bayangan anak kecil yang melambaikan tangannya, seperti sedang mengajaknya...


"kemari... kemari.... ikutlah dengan ku." kata yang terlintas ditelinganya samar-samar. Ace terus memandangi bayangan tersebut. Tak lama kemudian, tubuhnya terasa kaku, mulutnya seakan-akan tak sanggup mengucapkan sepatah kata, berdiri kaku dirinya didekat tepian danau.


Ia merasakan energi yang mengalir deras diseluruh tubuhnya. Pandangannya perlahan mulai kabur, tubuhnya merinding dengan hebatnya. Ia tak bisa mendengar suara apapun selain sapaan bayangan anak kecil itu yang suaranya semakin lama semakin jelas.... "kemari....kemari.... ikutlah dengan ku".


Perlahan-lahan ia tidak menyadarkan diri. Badannya terasa kaku, sedang kakinya yang terus bergerak dengan sendirinya, melangkah menuju panggilan bayangan tersebut.

__ADS_1


Bayangan itu terus mengajaknya, mengarahkan dirinya masuk kedalam hutan yang amat lebat, yang mana cahaya matahari tidak menembus dedaunan pohon yang menjulang tinggi.


Beberapa saat kemudian,....


Bruuukkkk..... bruuukkkk,..... suara perangkap ikan bergoyang-goyang sehingga membangunkan ayahnya, berdiri, serta begitu bersemangat dengan hasil tangkapan yang hampir memenuhi perangkap ikan. Tanpa berpikir panjang ia turun ke danau, mengangkat perangkap ikan yang beratnya hampir 10kg, dan menyeretnya ke tepi danau.


Sambil membuka perangkap, tersadar dirinya bahwa Ace sudah tidak ada di dekatnya. Ia menoleh ke segala arah, namun tak melihat Ace. Dengan perasan panik yang memuncak, ia berlarian kesana-kemari, sambil meneriaki nama anaknya. Melihat ke arah danau, di balik batu, di manapun ia mencoba mencari, namun tak menemukan anak satu-satunya itu. Ia terus mencari sampai hampir frustasi.


Alangkah terkejutnya ia, seraya mengucapkan rasa syukur di hatinya, karena saat itu kondisi tanah yang cukup lembab, sehingga terdapat jejak kaki Ace menuju ke dalam hutan pinus. Dengan penuh rasa khawatir, berlarilah ia kedalam hutan sambil meneriaki nama anaknya,... Ace.... Ace......


Sambil mengikuti jejak kaki, ayahnya berlari menyusuri hutan. Ia terus berlari hingga langit hampir gelap. Berjam-jam berlalu, namun tak sampai juga menemukan titik akhir jejak kaki yang panjangnya mampu membuat siapapun malas bergerak. Tanpa mengenal lelah, ia terus mencari, memanggil-manggil anaknya, sampai tenggorokan terasa kering... menyedihkan.


Tak lama kemudian, jejak kaki itu terhenti di depan sebuah gua yang besar, gelap, dengan air yang menetes dari atasnya. Takut....??? gemetar.....??? ngeri ???.... diabaikan semua itu olehnya.


Perlahan-lahan ia melangkahkan kaki masuk kedalamnya. Gelap bagai malam disertai bunyi bising kelelawar yang bergelantungan. Dinyalakanlah korek api. Cahayanya memantul disetiap dinding gua, hampir menerangi keseluruh bagian. Di lihat olehnya, lukisan dinding yang sangat mengerikan, hampir menutup di sepanjang dinding gua.


tak lama kemudian....


"Ace !!!." teriak ayahnya.


Ace yang saat itu dalam kondisi tidak sadarkan diri, tiba-tiba terkejut dan kebingungan mengapa ia bisa ada di tempat itu. Ace pun berlari ke ayahnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini ?." ucap ayah dengan nada yang keras dan penuh khawatir sambil memeluk Ace,


"A... A.. akuu." ucap Ace tertatah.


Karena suara bising olehnya, menyebabkan gerombolan kelelawar terbang keluar gua.


"Ayo kita pergi dari sini." menggendong Ace dengan erat, berlari keluar, kembali menuju danau.


Ace yang saat itu kebingungan, hanya memikirkan bayangan hitam kecil yang melambai padanya, sampai mengabaikan semua ucapan ayahnya.

__ADS_1


Ketika sampai di danau, mereka putuskan untuk kembali kerumah karena takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


to be continued.....


__ADS_2