
Reisya lalu masuk ruangannya dan mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja sambil memakan bekal sandwich yang dia buat di masion tadi pagi. Dia pun menikmati bekal dan pekerjaannya dengan santai.
Setelah pekerjaannya selesai dia pun menyempatkan buat ngecek kerjaan kantornya lewat handphonenya. Tepat setelah selesai ngecek tiba tiba ada telfon dari Andre kalau dia ada pertemuan di kantor DK Corp dan sekarang dia ada di ruangan CEO bersama Indra, Derren dan Rendra asisten pribadi Derren.
"Hallo. Assalamu'alaikum, Ndre ada apa...??!" kata Reisya menjawab telfon dari Andre.
"Wa'alaikumsalam, Rey. Aku ada di kantor CEO DK Corp sekarang. Bisa ibu CEO ke sini sebentar karena ada hal yang ingin di diskusikan dan apabila kesepakatan ini jadi saya butuh tanda tangan ibu" terang Andre pada Reisya.
"Okey, aku ke ruangan CEO DK Corp sekarang. Assalamu'alaikum" jawab Reisya.
Tak lama setelah menutup telfon dari Andre, Reisya pun membereskan meja dan melangkah keluar ruangan menuju ruangan Wanda untuk memberitahukan bahwa ada hal penting yang harus ditangani di ruangan CEO DK Corp.
Reisya pun mengetuk pintu ruangan Wanda.
"Assalamu'alaikum. Bestie urgent, meeting dadakan sekarang di kantor CEO" ucap Reisya tegas.
"Wa'alaikumsalam, bestie. Lho ada meeting dadakan...??! Kan tadi abis meeting" cerocos Wanda.
"Bukan meeting kantor ini tapi kantor kita sendiri. Ya udah, ayok langsung ke ruangan CEO sekarang" kata Reisya.
"Okey aku beresin dulu bentar ya" jawab Wanda.
"Ini kok jadi kebalik ya. Bos yang nungguin asistennya bukan asisten yang nungguin bos" kata Wanda sambil menepuk jidatnya. Sementara Wanda malah tertawa terbahak bahak.
"Ha. . .ha. . .ha. . .ha. Sorry big bos. Abis dadakan sich. Terus juga dadakan kayak tahu bulat yang digoreng dadakan" celoteh Wanda.
"Udah cepetan. Kok malah bahas sampai tahu bulat sich. Udah ditungguin tau" oceh Reisya.
"Okey, udah siap bu boss. Yuk cap cus" ucap Wanda yang udah siap mengikuti langkah Wanda.
__ADS_1
Tak lama mereka berdua pun melangkah menuju lift untuk ke lantai 15 ruangan CEO berada. Tetapi saat menunggu lift terlihat penuh dan saat pintu lift khusus petinggi kantor terbuka terlihat pengawal pribadi Reisya yang keluar dan menghampiri Reisya.
"Siang, ibu. Ini tanda pengenal anda jika anda CEO di Reis Corp dan kartu untuk khusus untuk ibu menggunakan lift petinggi dari pak Indra" jelas pengawal pribadi Reisya.
"Baik. Terima kasih banyak ya pak. Mari pak" kata Reisya lalu melangkah menuju lift khusus petinggi kantor. Dan saat itulah Reisya menjadi pusat perhatian karena karyawan lain terutama karyawan perempuan merasa Reisya karyawan baru yang di istimewakan.
Reisya yang merasa diperhatikan pun merasa cuek karena dia merasa percuma mendengar ucapan mereka di saat genting seperti ini.
Reisya pun masuk ke lift dan menuju lantai 15 dimana ruangan CEO berada. Wanda dan pengawal pribadi Reisya pun mengikuti Reisya masuk lift.
Tepat setelah masuk Reisya meminta pada pengawal pribadinya untuk menjaga jarak nanti, supaya karyawan kantor Derren tidak curiga kalau dia adalah CEO Reis Corp.
"Maaf, pak. Boleh saya nanti minta tolong buat bapak jagain sayanya jaga jarak ya, pak. Soalnya saya gak mau bikin heboh karyawan di sini dengan identitas saya yang sebenarnya" jelas Reisya.
"Baik, bu. Nanti saya akan menjaga jarak. Tapi bila nanti terjadi sesuatu, bagaimana bu...??!" tanya pengawal Reisya.
"Bapak tenang aja. Saya kan bisa bela diri. Jadi bapak gak udah khawatir ya" ucap Reisya dengan senyum manisnya.
Tapi tak lama saat mereka hendak sampai di depan ruangan CEO ada salah satu karyawan perempuan yang menghadang dan memaki Reisya.
"Eh, perempuan ganjen. Jangan coba coba ngedeketin pak Derren ya. Dia itu calon tunangan gue" maki perempuan itu yang bernama Via pada Reisya.
"Maaf saya di sini buka buat menggoda pria mana pun. Saya di sini ada urusan penting. Bisa anda membari saya jalan" jawab Reisya.
"Kurang ajar ya, lo" kata Via pada Reisya dan hendak menampar Reisya.
Tepat saat Reisya akan di tampar ada Derren yang keluar ruangan hendak ke toilet dan malah melihat semua itu.
"Berhenti. Ada apa ini. Kenapa kamu sampai berani mengangkat tanganmu, Via...??!!" tanya Derren dengan suara tegasnya yang menggelegar.
__ADS_1
"Bapak tanya saja sama karyawan bapak ini yang ngatain ganjen dan ingin melayangkan tangannya pada saya" kata Reisya santai.
Sementara Via dia sudah gelagapan dan melayangkan protes untuk membela dirinya.
"Maaf pak, bukan saya yang memulai duluan tapi dia dulu yang menghina saya pak dan dia dulu juga yang ingin menampar saya terlebih dahulu" bela Reisya.
Sedangkan Reisya yang mendengar hanya tersenyum cantik dan berucap "Kenapa bapak repot repot bertanya. Bapak kan bisa melihat lewat cctv. Atau saya perlu meretas cctv kantor bapak ini. Bapak jangan lupa dengan kemampuan saya ya" ucap Reisya panjang lebar karena sudah merasa jengkel.
"Baiklah. Saya akan mengecek cctv, karena kebetulan itu juga terhubung dengan handphone saya" kata Derren yang kemudian mengecek cctv lewat handphonenya.
Tak lama setelah melihat cctv Derren pun telihat melotot dan marah sampai rahang wajahnya terlihat mengeras.
"Beraninya kamu ingin menyakiti orang yang saya sayang dan saya cintai" ucap Derren dengan nada marahnya. "Apa kamu sudah bosan bekerja di sini...??!!" sambung Derren.
"Tidak usah bertele tele. Berikan dia SP 1. Supaya dia jera dan tidak bertindak semena mena lagi pada orang lain. Terutama karyawan yang lain" ucap Reisya dengan santai.
Setelah mengucapkan itu Reisya pun melangkahkan kakinya ke ruangan CEO, karena di depan ruangan terlihat Indra dan Andre juga asisten Derren yang memperhatikan dengan santai.
Tak lama pun Derren menyusul Reisya yang sudah melangkah terlebih dahulu ke depan ruangan CEO.
"Siang bu bos" sapa Andre basa basi.
"Assalamu'alaikum, Andre. Siang juga. Kamu kenapa sich, kok sampai manggil aku segala. Memangnya kamu tidak bisa menangani semua sendiri...??!!" tanya Reisya yang sudah sedikit jengkel.
"Wa'alaikumsalam bu bos. Maaf ada beberapa hal yang harus bu bos periksa langsung dan tanda tangani" jelas Andre.
"Okey langsung aja kasih Wanda biar diperiksa. Jangan ulangi ini lagi Ndre, saya gak mau karyawan sini tau identitas saya yang sebenarnya" terang Reisya.
"Serius banget ya Wan, sampai abangnya di sini aja gak dilirik" sindir Indra pada Reisya sang adik.
__ADS_1
"Abang kalau mau ngajak ribut nanti aja. Rey lagi gak mood buat ribut sama abang" sembur Reisya pada Indra.