Bos Arogan Suamiku

Bos Arogan Suamiku
Sisi lain seorang Reisya


__ADS_3

"Abang kalau mau ngajak ribut nanti aja. Rey lagi gak mood buat ribut sama abang" sembur Reisya pada Indra.


Setelah itu Reisya melanjutkan pekerjaannya dibantu oleh Wanda dan Andre, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan untuk makan siang. Dan pekerjaan mereka pun akhirnya selesai juga. Sampai ada suara tegas dari Indra yang bilang kalau mereka akan makan siang bersama di kantin kantor tanpa ada penolakan.


"Okey, berhubung pekerjaan dan kesepakatan kita sudah beres. Sekarang waktunya makan siang bareng di kantin perusahaan tanpa ada penolakan atau bantahan. Termasuk Wanda, Andre, dan terutama kamu Rey" kata Indra tegas dengan suara bariton yang dia miliki.


Reisya yang mendengar pun langsung menghela nafas berat dan bergumam "ini tuch namanya nyariin aku masalah, abang..!!!??" gumam Reisya yang masih bisa didengar oleh Derren.


"Kok bisa makan siang bareng malah bikin jadi ada masalah. Emang masalahnya apa sich...???!" tanya Derren pađa Reisya.


"Yaiyalah yang ada nanti karyawan kamu mikir aku wanita penggoda petinggi perusahaan. Karena mereka tidak tau status aku yang sebenarnya" terang Reisya panjang lebar.


"Sudahlah dek, cepetan...!!!?" sembur Indra pada Reisya. "Abang tidak mau ada bantahan kali ini" lanjut Indra yang merasa keras kepala Reisya lagi kumat dan pasti akan berbuntut panjang.


Reisya yang sudah mendengar nada tegas pada ucapan sang kakak pun hanya bisa pasrah. Dan menjawab ucapan sang kakak dengan lesu. "Ya udah ayok, tapi Rey mau ke ruangan Rey dulu. Boleh kan bang" tanya Reisya.


"Okey. Tidak masalah, tapi abang juga ikut" jawab Indra.


"Eit . . . tunggu dulu. Aku juga ikut bang." sambung Derren.


"Mendingan kamu tidak usah ikut dech. Kamu temani Pak Andre sama Wanda sebagai relasi bisnis kantor kita." balas Indra.


"Yah calon suami sekaligus adek ipar kecewa." jawab Derren sambil mendramatisir raut wajahnya.


"Lebay banget sich. Sudah dech bang, ayok cepetan kalau mau ikut." balas Reisya yang sudah mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan CEO. Lalu Indra pun mengikuti langkah Reisya.


Disepanjang koridor kantor menuju ruangan milik Reisya banyak karyawan yang memperhatikan interaksi antara Reisya dan Indra. Tak banyak juga yang mengecap Reisya sebagai w**********g.


"Coba dech abang liat pandangan mereka sama aku. Mereka tuch memandang rendah aku, tau nggak sich bang...??! Lagian knpa juga sich abang nggak pura-pura saja nggak kenal sama aku. Biar nggak kayak gini" omel Reisya pada Indra.

__ADS_1


"Sayang mau kayak gimanapun kamu, abang nggak bisa buat pura-pura nggak kenal sama kamu. Karena kamu itu adek abang satu satunya yang paling abang sayang. Lagian kalau di luar rumah posisi abang sebagai penngganti papi yang harus bisa buat lindungin kamu bagaimanapun caranya. Jadi kamu nggak perlu mikirin pandangan orang lain tentang kamu, karena itu semua nanti akan jadi tanggung jawab abang. Paham...??!" jelas Indra panjang lebar.


Reisya pun menganggukkan kepala tanda dia mengerti ucapan sang kakak. Kemudian memeluk sang kakak dengan erat. Tak kalah halnya dengan Indra yang membalas pelukan sang adek dengan penuh kasih sayang.


Pandangan itu pun tak luput dari karyawan yang menatap iri dan merendahkan pada Reisya.


"Mau sampai kapan pelukannya dek...??! Ini udah di depan ruangan kamu lho" ucap Indra sambil terkekeh geli.


"Ich abang mah, rusak suasana banget tau nggak sich" omel Reisya.


"Ya udah sana ambil keperluan yang mau kamu ambil dulu. Abang tunggu di luar ya" kata Indra sambil mengacak lembut surai milik sang adek.


Reisya pun masuk ke dalam ruangannya dan mengambil beberapa keperluan yang dia butuhkan. Setelahnya dia langsung keluar dan menuju kantin perusahaan bersama Indra sang kakak.


Sesampainya di kantin perusahaan, di sana sudah ada Andre, Wanda, dan Derren yang menunggu. Sesaat memasuki kantin semua pandangan tertuju pada Reisya yang datang bersama Indra. Mereka pun menuju tempat dimana ada Andre, Wanda, dan Derren duduk guna untuk ikut bergabung.


"Sumpah ya pengen gue congkel tuch mata mereka semua. Gitu amat natapnya sama kamu dan bang Indra" gerutu Wanda pada Reisya yang duduk di sebelahnya.


"Sama aku juga jadi pengen baku hantam sama mereka tau nggak...???! Cuman aku nggak pengen bang Indra syok nanti kalau


udah liat kita baku hantam" balas Reisya.


"Sudah sudah. Jangan ngoceh dulu. Nggak baik ngoceh ngoceh di depan makanan kayak gitu" sembur Indra pada Reisya dan Wanda.


Sedangkan Reisya dan Wanda yang selesai mendapat pencerahan hanya menampilkan cengiran mereka. Sementara Andre dan Derren hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Reisya dan Wanda.


Setelah selesai makan siang Reisya mendapat notifikasi pesan dari orang kepercayaannya kalau ada yang ingin menjatuhkan salah satu perusahaannya.


Reisya pun langsung menyuruh Wanda membuka email. Kemudian berbicara pada Andre.

__ADS_1


"Wan, buka email sekarang" kata Reisya tak terbantahkan. Wanda pun langsung mengangguk dan mengiyakan.


"Ndre kamu bisa tangani ini kan. Kalau kamu tidak sanggup bilang, maka aku akan turun tangan sendiri" kata Reisya yang sedang dalan mood on serius.


Tatapan Reisya yang tadinya ramah dan murah senyum kini berubah menjadi seorang yang tegas dengan tatapan tajam yang bisa menghabisi orang yang sedang mencari masalah dengannya.


Tak lama Reisya pun mendapat panggilan telefon dari orang kepercayaannya dan Reisya hanya menjawab seperlunya.


"Awasi terus gerak gerik mereka. Jika mereka bertindak diluar batas, saya sendiri yang akan turun tangan" jawab Reisya secara tegas.


Sementara Indra hanya senyum senyum sendiri melihat hal yang dilakukan Reisya. Karena memang dia sudah tahu semua tentang sang adik.


Lain halnya dengan Derren yang tampak serius memperhatikan Reisya. Dan ini baru pertama baginya melihat sisi lain dari Reisya.


"Apa ada yang bisa aku bantu" itulah kalimat yang keluar dari mulut Derren.


Reisya pun hanya melirik dan menggelengkan kepalanya. Kemudian bangkit dari tempat duduknya. Tapi belum sempat melangkah Derren kembali berucap.


"Mau kemana, kan belum selesai jam makan siangnya" kata Derren sambil mencekal tangan Reisya.


"Mau curhat dan mangadu keluh kesah sama yang punya hidup" jawab Reisya ngasal. Mood on sebel lagi aktif malah ditanya kayak gitu otomatis Reisya jd tambah kesel bukan. Udah tau waktu masuk shalat dzuhur kenapa mesti ditanya mau kemana.


Derren yang mendengar pun malah menunjukkan wajah cengonya.


Berbeda dengan Andre, Wanda, dan Indra yang malah menjawab secara kompak akan kebingungan Derren.


"Shalat" jawab Andre, Wanda, dan Indra kompak.


Derren yang mendengar itu hanya menampilkan cengirannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2