Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
SATU


__ADS_3

Kim Taehyung. Pria bersurai hitam legam itu membuka matanya yang lelah dan melirik jam digital di nakasnya. Pukul 03.25 KST. Itu artinya ia baru tertidur selama 5 menit. Tapi kini sepasang matanya itu kembali terjaga. Sial!


Taehyung benar-benar gelisah sekarang. Ia sangat butuh istirahat, tapi seluruh tubuhnya seolah melakukan sebaliknya.


Bukan insomnia. Hanya saja otak Taehyung sedang terus memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah sepanjang malam ini. Kejadian seminggu terakhir-lah yang menjadi penyebab jadwal tidurnya ikut berantakan.


Taehyung mengernyit teringat kejadian aneh beberapa hari yang lalu.


Kala itu Taehyung hendak menyeberang jalan untuk makan siang bersama Jimin, sahabat sekaligus sekretarisnya di kantor. Tanpa di duga, sebuah sedan yang terparkir di pinggir jalan tiba-tiba melaju kencang ke arahnya. Jimin yang lebih dulu menyadarinya dengan cepat menarik lengan Taehyung kembali ke trotoar, sehingga kecelakaan itu bisa dihindari.


Taehyung memejamkan matanya rapat-rapat mencoba menghilangkan memori itu dari kepalanya. Tapi bukannya hilang, otak Taehyung justru memutar ingatan tentang kejadian nahas yang lain.


Esoknya, untuk menghindari hal serupa terjadi lagi, Taehyung memutuskan untuk makan siang di kantor. Sesaat setelah pesanannya datang, tiba-tiba Jimin memberitahu kalau Taehyung kedatangan investor asing dari Singapura. Dengan sangat terpaksa, Taehyung harus melewatkan makan siang dan memberikan makanan itu pada OB yang membawanya. Betapa terkejutnya Taehyung begitu kembali, ia mendapat laporan bahwa OB yang membawakan makan siang untuknya baru saja dilarikan ke rumah sakit. Kemungkinan besar akibat keracunan makanan.


Belum selasai sampai di situ.


Hari ini, sepulang dari kantor, sebuah SUV hitam terus mengekori sedan yang dikemudikan Taehyung. Ia hampir menghubungi Jimin ketika tiba-tiba mobil itu hilang, tak lagi terlihat membuntutinya.


Taehyung tahu semua kejadian itu sudah direncanakan. Ia sadar ada yang ingin mencoba melenyapkannya. Tapi siapa?


Taehyung memiringkan tubuhnya menghadap balkon yang tertutup tirai. Mencoba mencari posisi yang nyaman untuk tidur.


Tapi belum sempat matanya terpejam, ia mendengar kenop pintu kamar di belakangnya seperti diputar pelan. See? Bahkan ia tak bisa istirahat dengan tenang di rumahnya sendiri.


Taehyung tak tahu siapa yang mencoba masuk ke kamarnya. Yang jelas, itu adalah orang asing. Karena sudah hampir satu bulan ia hidup sendiri di rumah ini. Tanpa kakeknya yang terbaring koma di rumah sakit.


Taehyung tetap diam di posisinya. Tak bergerak sedikitpun di dalam selimut yang membungkus tubuhnya hingga bahu. Rahangnya mengeras saat menangkap bayangan seseorang yang tercetak di tirai balkon di hadapannya.


Pencahayaan kamar yang remang membuat bayangan itu semakin terlihat jelas. Tangan Taehyung meremat dalaman selimut saat satu-satunya lampu nakas yang masih menyala di belakang punggungnya semakin memperjelas bayangan orang itu yang kini semakin mendekat ke arah ranjang tidurnya.


Jantung Taehyung bergemuruh hebat ketika bayangan itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket, yang Taehyung yakini itu adalah belati.


Berani bersumpah, Taehyung tidak pernah berada di posisi semencekam ini. Tapi Taehyung ingin menghadapinya. Jika memang akan terjadi sesuatu hal yang buruk padanya, setidaknya ia merasa harus tahu siapa orang yang beberapa hari terakhir terus mengincar nyawanya.


Taehyung semakin mempersiapkan seluruh sendi tubuhnya ketika bayangan itu mengangkat belatinya tinggi-tinggi ke arah Taehyung berbaring. Membuat Taehyung menahan napas beberapa saat, seolah memperhitungkan waktu yang tepat untuk bertindak.


Tepat ketika mata belati itu akan berayun menghujamnya, secepat itu juga Taehyung menyentakkan tubuh dan melemparkan selimutnya tinggi-tinggi ke arah si penjahat. Membuat si penjahat mundur beberapa langkah ke belakang.


Kondisi yang menguntungkan untuk Taehyung. Saat si penjahat menyibak selimut yang melingkupi tubuhnya, Taehyung sudah lebih dulu melayangkan tendangan ke dada si penjahat. Membuat penjahat itu lagi-lagi mundur beberapa langkah, terjerembab ke dinding.


Kesempatan itu tak Taehyung lewatkan. Ia memberondong si penjahat dengan pukulan di dada, perut, dan tulang keringnya. Merasa terpojok, si penjahat berniat kabur melalui pintu kamar yang sedikit terbuka. Namun Taehyung lebih dulu menarik jaket hitamnya. Sama sekali tak membiarkan orang itu lari.


Taehyung hampir saja berhasil menarik penutup kepalanya, tapi sungguh sial! penjahat itu justru melayangkan belatinya ke arah Taehyung.


Meski sempat menghindar, tapi belati itu tetap mengenai Taehyung. Tepat di telapak tangan kanannya.


“Akh...!” Taehyung memekik tertahan, merasakan tangannya yang tiba-tiba terasa nyeri dan kebas secara bersamaan.


“Yah! Brengsek! Jangan lari!” Taehyung sungguh ingin mengejar penjahat yang telah lari meninggalkan kamarnya. Ingin sekali menuntaskan rasa penasarannya tentang siapa orang yang sangat ingin melenyapkannya.


Tapi rupanya tidak bisa sekarang. Goresan di tangannya tidak bisa dianggap remeh. Luka itu terus mengeluarkan darah. Sepertinya ia tersayat cukup dalam.


Taehyung memutar tubuhnya ke arah jendela ketika ia mendengar mesin mobil yang menyala cukup keras. Ia menyibak sedikit gorden di sana dan melihat sebuah SUV hitam yang meninggalkan rumahnya dengan terburu-buru.


Ahh, itu mobil yang mengikutinya ketika pulang kerja tadi sore. Sial!


Sadar telah gagal mendapatkan identitas orang yang hendak mencelakainya, Taehyung lalu menyerah dan duduk di tepian ranjang. Membuka laci nakas dan mengambil sapu tangan dari dalamnya. Ia lalu menekan sapu tangan itu pada lukanya yang terus mengeluarkan darah.


Taehyung meringis saat menyadari darahnya banyak mengotori lantai. Membuatnya pening seketika. Haruskah ia ke rumah sakit sekarang?


Taehyung melirik kunci mobil di atas nakas. Mungkin bisa jika menyetir pelan-pelan. Tangannya terulur hendak mengambil kunci mobil ketika ponsel di sebelahnya bergetar. Dari Jimin.


“Eoh¹, Jimin-ah.” Jawab Taehyung setelah mengaktifkan loudspeaker di ponselnya.

__ADS_1


“Tae, maaf mengganggu waktumu malam-malam begini. Oh, maksudku bukan malam, tapi menjelang pagi. Hehe, Maaf.” Jimin terkekeh sebentar lalu melanjutkan. “Aku hanya ingin mengingatkan, pagi ini kau ada jadwal bertemu dengan para karyawan magang dari divisi perencanaan. Takut kau lupa.”


“Hm.” Taehyung berguman singkat.


“Tae? Kau mendengarku?” Mulut Taehyung terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian kembali tertutup saat Jimin kembali bersuara.


“Oh iya Tae, barusan kau cepat sekali menjawab teleponku? Apa kau belum tidur? Atau panggilanku mengejutkanmu? Ahh...maaf ya. Aku hanya takut kau melupakan jadwal yang kau minta sendiri itu”


Taehyung meringis saat merasakan tangannya kembali berdenyut nyeri. Padahal barusan ia hanya membuka ujung sapu tangannya. Memastikan apakah darahnya masih terus keluar.


“Tae, kau masih di sana?” Jimin kembali berceloteh. Sama sekali tak membiarkan Taehyung menyela. “Sebenarnya aku ingin menanyakan ini. Kenapa kau ingin bertemu dengan mereka secara personal? Padahal jika untuk menyapa saja kan bisa dengan-“


“Jimin-ah,..” Taehyung akhirnya memotong kalimat Jimin dengan nada putus asa.


“Hm?”


Taehyung mendongak menahan nyeri yang samakin menjadi. Sumpah dia sudah tidak tahan.


“Taehyung-ah, ada apa?” Merasa tak direspon, jimin kembali bersuara.“Taehyung-ah, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja? Katakan sesuatu!” Tanya Jimin yang merasa ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya.


“Eoh, aku baik Jimin-ah.” Taehyung menghela napas panjang lalu kembali berujar,


“Tapi sepertinya aku butuh bantuanmu.”


_


Taehyung baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Wajahnya sudah tak lagi kusut seperti saat pertama ia sampai di rumah sakit. Lukanya baru selesai diobati tiga puluh menit yang lalu di IGD.


Sekarang ia dan Jimin ada di kamar VVIP, tempat kakek Taehyung dirawat. Taehyung memutuskan untuk sekalian melihat kondisi kakeknya. Biasanya ia baru akan datang setelah pulang kerja, atau ketika jam makan siang. Tapi karena sudah ada di sini, Taehyung ingin sekalian menyapa kakeknya. Meskipun ia sendiri tidak yakin kakeknya bisa merasakan kehadirannya.


Sementara itu, Jimin menatap kesal ke arah Taehyung yang sudah rapi dengan setelan kerjanya. Beberapa saat yang lalu seorang laki-laki tua datang mengantar pakaian itu dari binatu. Tentu setelah Taehyung menghubungi rumah binatu untuk mengantar setelan kerjanya ke rumah sakit. Oh ayolah, serius lelaki itu ingin pergi ke kantor sekarang? Dengan kondisinya yang seperti itu?


Jimin masih ingat, tadi pagi-pagi buta, saat matahari saja belum menyembul sama sekali, sahabatnya itu sudah membuatnya menyetir di jalan seperti orang kesetanan.


Bagaimana tidak? Jimin yang tadinya hanya berniat mengingatkan jadwal Taehyung pagi ini melalui telepon, tiba-tiba dibuat cemas ketika Taehyung bilang butuh bantuannya dengan nada bicara seperti orang sekarat. Oh baiklah, itu berlebihan. Memang bukan sekarat, tapi Jimin yakin betul bahwa Taehyung sedang kesakitan tadi.


Jujur saja, setelah beberapa kejadian buruk yang hampir menghilangkan nyawa Taehyung, Jimin jadi mudah sekali mengkhawatirkannya.


Lelaki itu bahkan beberapa kali menawarkan diri untuk menginap di rumah Taehyung untuk sekedar menemaninya. Tapi sahabatnya itu terus menolak dengan selalu mengatakan ‘Aku bukan anak kecil'.


Dan lihat apa yang terjadi sekarang! Taehyung kembali berada dalam situasi berbahaya. Untung saja pisau itu hanya mengenai telapak tangannya. Bagaimana kalau-  Ahh! Jimin sungguh tidak mau membayangkannya.


“Jimin-ah, bisa tolong bantu aku kancingkan ini?” Taehyung sudah berdiri di hadapan Jimin sambil menunjukkan lengan kemaja kirinya yang belum dikancingkan.


Jimin tidak langsung menolong Taehyung. Justru lelaki itu masih saja duduk menyilangkan kaki di sofa tepat di hadapan Taehyung. Jangan lupakan mata Jimin yang menatap sahabatnya itu dengan horor.


“Oh ayolah, Kau tidak tau seberapa kesulitannya aku saat berpakaian di kamar mandi tadi? Aku sungguh tersiksa melakukan semuanya dengan keadaan tanganku yang seperti ini.” Keluh Taehyung yang mulai terlihat putus asa menatap tangan kanannya yang dibebat.


“Sudah tau begitu masih saja ingin berangkat ke kantor? Kau benar-benar sesuatu!” Jawab Jimin tak kalah sengit.


“Aku tidak bisa membolos hanya karena satu tanganku terluka.”


"Memang apa yang bisa kau lakukan di kantor nanti? Kau bahkan tidak akan bisa menandatangani berkas dengan tanganmu yang dibebat itu!”


“Aku masih punya tangan kiri.”


“Kau tidak kidal!”


“Aku akan berusaha.”


“Kalau begitu berusahalah kancingkan itu sendiri!” Jimin berada di puncak amarahnya. Ia mengalihkan padangan ke arah lain sambil mengacak rambutnya sendiri.


Taehyung menghela napas panjang. Ia tak berniat membalas bentakan sahabatnya itu. Ia tahu betul bahwa amarah Jimin hanya sebagai bentuk perhatian padanya. Ia sangat sadar Jimin mengkhawatirkannya sekarang.

__ADS_1


Maka dengan segala kesabaran dan senyum tulus yang mengembang, Taehyung mengulurkan tangannya menarik lengan Jimin untuk berdiri. Tarikan pertama di tolak mentah-mentah oleh Jimin. Lelaki itu menepis kasar tangan Taehyung dengan masih memalingkan wajah. Membuat senyum Taehyung semakin lebar. Ia kembali menarik Jimin untuk berdiri dan kembali ditolak.


Taehyung sampai menahan tawa menyadari keadaanya sekarang. Seperti sedang membujuk kekasih yang sedang marah saja. Membuat dirinya tampak menggelikan. Untung saja ini Jimin, jadi ia tidak keberatan.


Jimin tahu adegan tarik-tepis ini tidak akan berakhir jika ia tidak mengalah. Akhirnya ia menyerah dan membiarkan Taehyung menarik pergelangan tangannya untuk berdiri.


“APA?!”


“Biarkan aku ke kantor. Ya?” Taehyung merengek sambil menunjukkan senyum termanisnya. Nyaris seperti anak kecil yang minta di belikan permen. Pria ini sudah lupa berapa umurnya? Gila!


Jimin memalingkan wajah ke arah lain. Matanya mulai panas. Brengsek! Ia selalu seperti ini jika menghadapi Taehyung. Ia kesal karena terlalu menyayangi pria keras kepala di depannya. Meski ia lebih tua beberapa bulan saja dari Taehyung, tapi ia sudah menganggap Taehyung seperti adiknya sendiri.


Taehyung tahu itu. Ia sungguh sangat tahu perasaan Jimin yang selalu lemah jika melihatnya dalam kesulitan. Bahkan Jimin tidak segan-segan menangis jika sudah tidak tahan. Seperti sekarang.


“Kau tidak tahu aku mengkhawatirkanmu, hah?” Tanya Jimin yang susah payah menatap mata Taehyung. Tapi sial! Itu justru membuat air matanya jatuh. Memalukan!


“Aku tahu.” Jawab Taehyung sambil menyeka air mata Jimin dengan tangannya yang terbalut perban.


“Lalu? Kenapa masih ingin pergi? Bagaimana kalau penjahat brengsek itu mendatangimu lagi dan-“


“Jimin-ah,” Taehyung memotong kalimat Jimin saat ia mendengar sahabatnya itu mulai terisak. “Apa yang Kau khawatirkan? Aku saja tidak khawatir karena ada kau bersamaku. Hal buruk apa yang bisa terjadi saat aku ada dalam pengawasanmu, hm?”


Jimin terdiam beberapa saat lalu menghela napas panjang. Ia tahu bahwa dirinya tak akan bisa menolak Taehyung yang sedang keras kepala.


“Baiklah. Kita ke kantor sekarang. Tapi aku akan mengundur jadwal pertemuanmu dengan karyawan magang dari divisi perencanaan. Aku ingin Kau bertemu Yoongi Hyeong² dan Namjoon Hyeong lebih dulu.”


Taehyung tersenyum sambil menyodorkan tangan kirinya pada Jimin.“Terserah kau saja. Lakukan sesukamu.”


Jimin berdecak tapi tetap menerima tangan Taehyung. Mengancingkan lengan kemeja lelaki itu lalu menatapnya dengan malas.


“Terima kasih, Hyeong.” Ucap Taehyung yang terdengar tulus, tapi menjengkelkan bagi Jimin. Kalau ada maunya saja Taehyung baru memanggilnya dengan sebutan ‘Hyeong’.


“Si bodoh ini benar-benar menjengkelkan!” Gumam Jimin tapi cukup keras untuk bisa didengar Taehyung. Membuat Taehyung terkekeh pelan memperhatikan Jimin yang membungkuk menghadap kakek Taehyung yang terbaring di ranjang, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu ruang rawat sambil menghapus sisa air matanya.


Setalah Jimin hilang di balik pintu, Taehyung memutar tubuhnya mendekati ranjang kakeknya. Membetulkan letak selimut kakeknya yang sudah rapi sambil berujar,


“Tidurlah lebih lama lagi jika memang masih butuh istirahat, Harabeoji³. Tapi berjanjilah untuk tetap bangun jika saatnya sudah tiba. Jangan khawatirkan aku, karena aku punya malaikat pelindung yang selalu berada di sisiku.” Taehyung segera menegakkan tubuhnya saat matanya mulai memanas. Ia tak ingin melankolis seperti Jimin.


“Aku pergi dulu Harabeoji, saranghae⁴.”


To be continued...


¹ Eoh :  iya


² Hyeong :  kakak laki-laki


³ Harabeoji :  kakek


⁴ Saranghae :  aku mencintaimu / i love you


Haiii Yeoreobeun...


Aku dateng bawa cerita baru nihh, buat kalian bucin setianya si Kim Taehyung/Tae-Tae/V BTS/blankTae/bapaknya Yeontan/suami para ARMY-- eehh,


Yah... Pokoknya dia lah yaa...


Si ganteng paripurna yang kurang ajar karena nggak pernah mau mengkondisikan wajahnya. Hahaha...


(Oke, Skipp aja komentar pribadi yang di atas)


Aku bikin karakter Taehyung di sini jadi seorang bos muda yang tegas, dingin, dan acuh. Tapi juga unyu-unyu dan polos di waktu-waktu tertentu. Seperti kalau dia lagi sama sahabat atau orang yang dicintainya. (Ciyeeehh elah!)


Ya.. Mirip-mirip Tae di dunia nyata lah..

__ADS_1


Yang sexy abis waktu di atas panggung, tapi kiyoottt dan polos kalau lagi ngumpul sama member Bangtan.


Ehemm, jadi, ada yang mau cerita ini di lanjut???


__ADS_2