Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
ENAM


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi saat Taehyung mulai terjaga dari tidurnya. Cahaya matahari yang sudah meninggi memasuki kamar melalui celah gorden yang sedikit tersingkap, menggelitik mata Taehyung dan memaksa kedua kelopaknya untuk terbuka.


Taehyung menggeliat, mengerjap beberapa kali mencoba mengumpulkan serpihan nyawanya yang berserakan terbawa mimpi.


Tapi, mimpi apa dia semalam hingga tertidur sangat nyenyak dan bangun ketika matahari sudah merangkak naik begitu tinggi?


Taehyung tidak tahu. Ia tidak ingat apapun mengenai mimpi yang menyapanya tadi malam. Yang ia tahu saat ini badannya segar dan rasa lelahnya beberapa hari terakhir menguap entah kemana.


Mungkin bukan mimpi, bisa jadi itu respon alami tubuhnya yang memang kurang tidur seminggu belakangan. Hingga lelah yang menumpuk membuatnya terlelap lebih lama melebihi jadwal tidurnya.


Taehyung hampir kembali menenggelamkan wajahnya pada tumpukan bantal jika saja perutnya tidak berteriak minta diisi. Wajar. Karena sekarang sudah lewat jauh dari jam sarapan yang biasa ia lakukan di rumah.


Sadar kalau perutnya tidak bisa lagi diajak kompromi, Taehyung akhirnya bangkit dan duduk di tepi ranjang. Memindai sekeliling mencari letak kamar mandi dan mendesah berat saat tak menemukannya.


Terpaksa, ia menyeret langkahnya ke depan standing mirror di sebelah lemari, memastikan wajahnya tidak terlalu buruk untuk dibawa keluar kamar. Di situ, tanpa sengaja ia melihat dua sticky note berukuran sedang yang tertempel di ujung cermin.


“Selamat pagi Daepyeonim, mohon maaf saya tidak membangunkan. Saya tidak tega karena anda kelihatan sangat lelap. Saat anda bangun, saya dan kakak saya pasti sudah berangkat ke kantor. Jangan kembali tidur, silakan sarapan dulu sebelum semuanya dingin.”


Taehyung tersenyum, beralih membaca sticky note yang kedua.


“Oh iya, jika ingin berganti pakaian, anda bisa mengenakan pakaian saya di dalam lemari. Saya tidak menyiapkannya karena tidak tahu selera anda, silakan anda pilih sendiri. Lakukanlah apa yang ingin anda lakukan dan jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Semoga hari anda menyenangkan.”


Ya, Taehyung memang belum berganti pakaian dan masih mengenakan setelan kerjanya yang kemarin. Semalam ia hanya berniat merebahkan diri sebentar di ranjang Jungkook, tapi malah ketiduran bahkan saat ia belum sempat mandi.


Karena telah mendapat ijin dari empunya, Taehyung lantas membuka lemari pakaian Jungkook dan mengamati isinya. Ia tahu tak ada baju branded di sana, maka ia meraba tiap lipatan baju itu untuk mencari jenis kain yang setidaknya nyaman untuk dipakai.


Pilihannya jatuh pada kaos oblong berwarna putih polos dan celana santai berwarna abu-abu.


Setelah itu ia berjalan keluar untuk mencari kamar mandi.


💜💜💜


Biasanya Taehyung sangat menyukai waktu berkualitas ketika mandi. Selain karena dia adalah pria penyuka kebersihan, ia juga selalu merasa kalau berdiam beberapa menit di bawah guyuran shower dapat menghilangkan segala penat setelah seharian berkerja.


Tapi itu tidak berlaku mulai dari kemarin. Sejak tangannya terluka, ia sama sekali tidak bisa menikmati waktu menyenangkan saat membersihkan diri. Ia mengalami banyak kesulitan ketika berada di dalam kamar mandi.


Terutama ketika membuka kancing kemeja, melepas kancing celana, membuka tutup pasta gigi, menggunakan facial wash dengan satu tangan, atau ketika ia harus memasang sendiri sarung tangan khusus untuk melindungi tangannya yang di bebat agar tidak terkena air.


Menyebalkan.


Dan sekarang Taehyung telah duduk di ruang makan setelah menyelesaikan segala urusan di kamar mandi tanpa berniat berlama-lama di sana.


Sayangnya, ia harus menghadapi satu kenyataan tak menyenangkan lagi setelah berada di meja makan. Sarapannya telah dingin. Dan Taehyung tidak menyukai itu.


Jadi? Sekarang ia juga harus memanaskan makanannya sendiri dengan keadaan tangannya yang seperti itu? Tidak mungkin!


Taehyung mengangkat ponselnya berniat menelepon Jimin, tapi kemudian ia menaruh kembali ponselnya di atas meja. Ini adalah hari pertamanya tidak pergi ke kantor, dan Jimin pasti sedang sangat sibuk menghandle semua pekerjaannya. Sekretarisnya itu jelas tidak akan datang hanya untuk membantunya memanaskan makanan.


Bagaimana kalau pergi mencari sarapan di luar?


Taehyung baru saja berdiri, namun detik berikutnya ia menjatuhkan kembali bokongnya ke kursi. Ia mendadak ingat statusnya sebagai korban yang sedang dalam persembunyian. Jimin pasti mengamuk jika ia nekat berkeliaran ke luar rumah.


Baiklah, mungkin roti panggang dan kopi panas cukup untuk sarapan.


Taehyung mengedarkan pandangan ke mini kitchen set di belakangnya. Dan... Ya ampun! Bahkan tak ada bread toaster atau coffee maker di atas sana.


“Ahh, aku bisa gila!” Gerutunya sambil membenturkan punggung ke sandaran kursi. Memandang nanar beberapa jenis makanan di atas meja.


Sekarang apa?


Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menyantap makanan yang telah dingin di depannya. Malas sih, tapi ia tetap menyentuh sumpitnya, memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut sambil terus mendumal.


“Makhluk primitif mana yang sarapan dengan makanan berat begini!” Omel Taehyung setelah menelan suapan nasi pertamanya.

__ADS_1


“Hidup di planet mana mereka sebelum tinggal di sini?! Bread toaster saja tidak punya!” Gumamnya lagi setelah meneguk air putih untuk mendorong nasi yang seolah menyangkut di tenggorokan.


Taehyung mendadak berhenti mendumal saat mulutnya mengunyah makanan yang ia sendiri tidak tahu apa namanya. Dahinya mengernyit, ini pertama kali ia memakannya. Bentuknya kotak berukuran kecil, gurih, renyah, dan rasanya kedelai sekali. Aneh memang, tapi enak. Ia akan menanyakan nama makanan itu pada Yoo Ra nanti. Kalau tidak gengsi.


Setelah selesai sarapan, Taehyung meletakkan mangkuk dan piring makannya ke dalam sink. Lalu mulai memasang sarung tangan cuci pada kedua tangannya, meskipun jari-jari tangan kanannya jelas tidak bisa masuk sempurna.


Setelah itu ia mulai mengguyur satu per satu tempat makannya dengan air kran. Berikutnya, ia menekan ujung mangkuk atau piring ke pinggiran sink menggunakan tangan kanannya dan membersihkan menggunakan sabun dengan tangan kiri.


Jangan lupakan kalau Taehyung adalah pria penyuka kebersihan. Itulah mengapa ia nekat mencuci piring meski tangannya terluka. Walaupun beberapa kali ia harus berhenti karena tangannya berdenyut nyeri saat menekan alat makan itu pada pinggiran sink.


Baginya, lebih baik bersusah-susah sedikit daripada meninggalkan begitu saja alat makannya di sana dan malah merusak pemandangan. Ia tidak suka sesuatu yang kotor.


Butuh hampir lima belas menit hanya untuk mencuci dua mangkuk, satu piring, satu gelas dan sepasang sumpit. Tapi tidak apa-apa, yang penting Taehyung berhasil melakukannya dengan sempurna setelah memindahkan satu persatu alat makan yang telah bersih itu ke dalam rak peniris kecil di samping wastafel.


Selesai dengan acara cuci mencuci, Taehyung melangkah menuju ruangan kecil yang berhadapan langsung dengan kamar Jungkook dan Yoo Ra.


Ia lalu menjatuhkan diri di sofa panjang berwarna abu-abu yang cukup nyaman. Kaki telanjangnya bergerak-gerak bergesekan dengan karpet bulu di bawahnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari sesuatu yang menarik perhatiannya.


Matanya tertuju pada tiga pigura kecil yang berjejer rapi bersama sebuah telepon rumah dan remot tv di atas nakas, disamping sofa. Taehyung menggeser duduknya mendekati ketiga foto itu.


Satu pigura menampilkan foto Jungkook yang sedang memegang busur dan anak panah tanpa melihat ke arah kamera. Di bagian bawah foto tertulis kalimat ‘My Handsome Archer’ dengan emoticon love disamping kalimat. Foto itu diambil oleh Yoo Ra saat Jungkook menjadi atlet yang mewakili sekolahnya di turnamen panahan musim panas beberapa tahun lalu.


Pigura di tengah menampilkan foto Jungkook memakai atribut kelulusan sekolah dengan buket bunga di tangannya sedang tersenyum lebar, ditemani Yoo Ra disampingnya yang berpose lucu dengan jari tengah dan telunjuknya membentuk simbol peace.


Sedang satu pigura lagi menampilkan foto dua orang gadis remaja berseragam sekolah sedang duduk di kursi taman. Mereka saling merangkul satu sama lain sambil tertawa.


Hanya sekali lihat saja Taehyung langsung bisa tahu kalau salah satu gadis di dalam foto itu adalah Yoo Ra. Wajah Yoo Ra tak banyak berubah. Masih sangat cantik.


Eh?


Taehyung langsung berpaling sambil menggelengkan kepala beberapa kali mengusir pikiran aneh di kepalanya.


Tidak kok. Taehyung tidak sedang berpikir kalau Yoo Ra cantik. Ia hanya heran kalau gadis bar-bar seperti Yoo Ra bisa tersenyum cantik layaknya gadis-gadis normal pada umumnya.


“Benar. Senyumnya saja yang cantik. Bukan orangnya.” Gumam Taehyung yang entah mengapa jadi salah tingkah sendiri. Ia langsung menyambar remot tv yang tergeletak di samping telepon rumah tanpa melihat kembali objek yang membuatnya kehilangan fokus barusan.


Sejujurnya Taehyung bukan orang yang terbiasa menonton acara tv. Ia bahkan tidak tahu acara apa yang sebenarnya ingin ia tonton sekarang. Sejak tadi ia hanya mengganti saluran tv berulang kali dengan malas.


Tak ada satupun channel yang membuatnya bertahan lebih dari tiga menit. Semuanya membosankan. Baru saja Taehyung hendak mematikan televisi, sebuah breaking news membuatnya membeku seketika.


Berita singkat itu membahas tentang kondisi kakek Taehyung yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan hangat. Pembaca berita menegaskan kalau publik masih dibuat bertanya-tanya tentang bagaimana kondisi terkini kesehatan pemimpin perusahaan HOJIN Group tersebut. Pasalnya, tak satupun wartawan bisa meliput perkembangan kesehatannya dikarenakan penjagaan yang begitu ketat.


Selanjutnya, Taehyung tak lagi mendengar apa yang dikatakan sang pembaca berita. Ia fokus melihat gerak-gerik kakeknya yang terkam kamera wartawan. Beberapa aktifitas kakeknya ketika masih sehat, diputar kembali di sana.


Seolah apa yang dilakukan kakeknya di layar televisi baru saja terjadi. Seolah kakeknya masih sehat seperti yang terlihat di sana. Seolah kabar tentang kakeknya yang dinyatakan koma sebulan lalu tidak pernah ia dengar.


Ada gurat kesedihan di wajah Taehyung. Bahkan kini ia sedang mati-matian menahan liquid bening yang merangsek keluar dan membuat pandangannya buram. Hatinya mendadak hampa saat breaking news itu berganti dengan iklan komersial, menenggelamkan wajah kakeknya yang tadi sempat menghiasi layar kaca.


Taehyung mendongak menahan air matanya yang hampir jatuh. Beberapa kali mengambil napas besar untuk menetralkan dadanya yang bergemuruh. Ada sakit yang memenuhi ulu hatinya sekarang. Hanya ada satu alasan yang membuatnya begitu. Ia merindukan kakeknya.


Taehyung mematikan televisi lantas menjatuhkan tubuhnya berbaring di sofa. Tangannya menarik ponsel yang sempat tertindih kepala lalu membuka kunci layar. Tapi tak ada satupun notifikasi yang muncul.


Ia baru ingat kalau ponsel yang dipegangnya sekarang adalah ponsel baru yang jimin belikan kemarin saat pria itu sempat menghilang beberapa saat dan tak terlihat di kantor.


Jimin membelikan ponsel yang sama persis dengan miliknya yang lama dan menyisipkan simcard yang baru di dalamnya. Jimin bilang, itu adalah upaya agar keberadaannya tidak terlacak oleh sembarang orang.


Ponselnya benar-benar masih kosong. Bahkan hanya ada tiga nama di dalam contacts. Jimin, Namjoon, dan Yoongi.


Ahh... Taehyung jadi bertanya-tanya,


Apa yang akan terjadi dengan hidupnya setelah ini...


💜💜💜

__ADS_1


“..... Setelah ini... Sebuah lagu yang begitu melegenda di tahun 90’an akan segera memasuki ruang dengar kalian semua. Sebuah lagu yang meskipun sudah begitu lama, namun masih tetap melekat di ingatan kita.”


“Seperti halnya sebuah kenangan... Meskipun telah lama termakan waktu, namun akan selalu segar dan berharga untuk kita ingat.”


“Sampai bertemu lagi besok pukul empat sore di acara kesayangan kita ‘LISTEN. Dengarkan suara hati'. Semoga hari kalian menyenangkan, GD pamit undur diri, sampai jumpaaa....”


Yoo Ra menghembuskan napas lega setelah menutup acara siaran radionya. Tiga menit kemudian ia keluar dari ruang siaran disambut tepuk tangan bangga penulis naskahnya, Jung Hoseok.


“Woah.... GD! Kau sungguh luar biasa... Ku rasa rating LISTEN minggu ini akan naik lagi karenamu.” Sorak Hoseok sambil merangkul bahu Yoo Ra.


Ya! Yoo Ra adalah seorang penyiar radio tetap di KBC FRESH FM. Sedang GD adalah nama samaran Yoo Ra saat ia membawakan acara radio bertajuk ‘LISTEN’ yang naskahnya dibuat langsung oleh Jung Hoseok.


Yoo Ra sudah menunjukkan bakatnya sebagai seorang penyiar radio hanya dalam beberapa bulan setelah bergabung sebagai penyiar magang di KBC. Acara yang dibawakannya selalu mendapat rating tinggi, hingga akhirnya ia dikontrak sebagai penyiar tetap tiga bulan setelahnya.


Sekarang adalah tahun ke empat Yoo Ra menjadi seorang penyiar. Empat tahun lalu Hoseok secara kebetulan bertemu Yoo Ra di sebuah minimarket tempat Yoo Ra bekerja part time sebelumnya.


Hoseok dulunya adalah kakak kelas Yoo Ra di Senior high school. Pria itu tahu betul bakat Yoo Ra karena semasa sekolah dulu, ia sendiri yang mengaudisi Yoo Ra sebagai penyiar di radio sekolah. Melihat Yoo Ra bekerja part time di minimarket membuat Hoseok merasa bakat Yoo Ra terbuang sia-sia.


Itulah yang mendasari Hoseok nekat menyeret Yoo Ra kembali ke ruang siaran dan membuat gadis itu sukses menyalurkan hobinya hingga detik ini.


“Kau mau pulang sekarang GD?” Tanya Hoseok saat melihat Yoo Ra memasukkan charger ponselnya ke dalam tas.


“Iya, Oppa. Aku harus buru-buru.”


“Kau tidak ingin minum kopi sebentar?”


“Maaf Oppa, lain kali saja ya. Aku harus pulang untuk membuat makan malam.” Jawab Yoo Ra sambil berlalu melewati Hoseok.


“GD!”


“Ya?” Yoo Ra berbalik saat tangannya telah menyentuh gagang pintu.


“Sampaikan salamku untuk Jungkook. Dan berikan ini padanya.” Hoseok melempar sebuah roti sobek yang masih terbungkus plastik dan langsung ditangkap Yoo Ra dengan sedikit susah payah. “Hadiah karena sudah berhasil magang di perusahaan impiannya.”


Yoo Ra sempat tertegun menatap roti sobek berselai pisang di tangannya. Ada sesuatu yang membuat hatinya terharu.


“Jangan menangis di sini. Cepat pulang sana.”


“Aku tidak menangis. Tapi... Terima kasih Oppa.” Jawab Yoo Ra membalas senyum tulus Hoseok yang masih mengembang bahkan sampai Yoo Ra menghilang di balik pintu.


Yoo Ra masih terdiam di dalam lift yang mambawanya ke lobby. Pandangannya masih setia tertuju pada roti sobek pemberian Hoseok, sampai ketika suara ponsel mengejutkannya.


Yoo Ra segera mengaduk tasnya mencari letak ponsel yang masih terus berbunyi. Siapa tahu itu tunangan yang luar biasa ia rindukan?


Baiklah. Yoo Ra terlalu berharap untuk itu. Rupanya panggilan itu dari Jungkook. Setelah sempat kecewa, Yoo Ra akhirnya menggeser tombol hijau di ponselnya.


“Hm, ada apa? Kau sudah pulang?..... Apa?..... Benarkah?..... Kau yakin?..... Iya aku sudah pulang. Sebentar lagi keluar...... Baiklah, sampai nanti.


Sambungan terputus tepat ketika pintu lift terbuka dan menampilkan seorang pria dengan setelan formal yang kini berdiri di hadapan Yoo Ra sambil menyunggingkan senyum manis.


“Jimin-ssi ?”


To be continued...



👆***foto Taehyung yang lagi minjem bajunya Jungkook.😆


Dan yang bawah ini👇foto cute jungkook waktu acara panahan musim panas... elahhhh... bunny boy...ganteng bener***.😄



*M**akasih buat yang masih setia baca.😘

__ADS_1


Semoga kalian suka...🤗


Sampai ketemu lagiiiii 💜💜💜*


__ADS_2