
Pintu itu telah tertutup. Menenggelamkan sosok Park Jimin dengan sempurna di dalam sana. Namun Taehyung belum juga beranjak. Ia masih terpekur memikirkan apa yang salah dengan sahabatnya.
Park Jimin yang baru saja dilihatnya bukanlah Park Jimin yang selama ini ia kenal. Sorot mata sendu dan gurat wajah sedih itu sama sekali tak mencerminkan pribadi seorang Park Jimin yang periang.
Ketika seorang dengan sifat periang tiba-tiba berubah menjadi murung dan pendiam, maka itu artinya ‘bencana’. Pasti sesuatu yang besar dan serius telah terjadi. Setidaknya itulah yang Taehyung yakini. Ia ingin sekali kembali ke dalam dan memaksa sahabatnya itu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi tidak. Taehyung tetap harus setengah mati menahan keinginannya karena kondisi Jimin yang tak memungkinkan untuk diajak bicara serius sekarang.
Ahh...! Andai saja pria Park itu sedang sehat, Taehyung pasti sudah memakai berbagai macam cara untuk mendesaknya agar mau bicara. Bahkan jika harus baku hantam sekalipun, Taehyung tidak perduli. Lebih baik melihat jimin babak belur ketimbang melihatnya menderita karena menanggung bebannya seorang diri.
Taehyung menghela napas panjang, menghilangkan bayangan Jimin dalam otaknya untuk sementara, lalu melangkah pelan menjauhi pintu kamar. Bagaimanapun, hal terbaik untuk Jimin sekarang adalah istirahat. Dan Taehyung tak ingin merusaknya.
“Dia sudah tidur?”
Langkah Taehyung terhenti tepat ketika suara Yoo Ra memasuki rungunya. Gadis itu sedang duduk sendiri di sofa sambil menonton acara musik di televisi. Merasa tak mendapat respon, Yoo Ra berpaling menatap Taehyung untuk meminta jawaban.
Yang ditanya hanya mengendikkan bahu acuh sambil melepar pandangan ke arah lain. Bukan apa-apa, Taehyung masih belum siap kena serangan jantung dadakan lagi jika tiba-tiba Yoo Ra tersenyum.
“Hei, aku sedang bicara padamu. Setidaknya tatap aku... ”
Lagi. Taehyung masih saja menghindari tatapan Yoo Ra, membuat gadis itu kesal sendiri karena merasa diacuhkan.
“Ya ampun... Bisa-bisanya pidato panjang lebar soal attitude kerja. Padahal berattitude yang baik pada lawan bicara saja tidak bisa.” Sindir Yoo Ra yang sengaja memperbesar volume suaranya agar bisa didengar Taehyung.
“Apa kau bilang?!”
Berhasil. Yoo Ra mendapatkan atensi Taehyung. Seseorang seperti Taehyung memang harus dipancing dengan hinaan dulu rupanya.
“Oh, kau mendengarnya?”
“Menurutmu?!”
“Maaf-” Yoo Ra menyeringai. Memasukkan keripik kentang ke mulutnya dengan wajah tanpa dosa lalu menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya. “Duduk, sini.”
Tak ada pilihan lain. Hanya ada satu sofa di ruang tv. Taehyung juga bukan tipe orang yang mau duduk di bawah meski lantainya beralaskan karpet bulu sekalipun. Jadi, meski enggan, Taehyung akhirnya mendekat. Menjatuhkan diri tepat di sebelah Yoo Ra yang langsung menyodorkan snack keripik kentang padanya.
“Kenapa? Sedang diet?” Tanya Yoo Ra lantaran Taehyung hanya memandang bungkus snack itu tanpa menyentuhnya.
“Tidak.”
“Tidak suka kentang?”
“Suka”
“Lalu?”
“Aku-“
“Ohh, tidak terbiasa makan dari bungkus yang sama dengan orang lain ya?”
“Bukan,”
“Kalau begitu ambilah.” Yoo Ra menaikkan sebelah alisnya, menunggu Taehyung mengambil keripik kentang itu dari tangannya.
Alasan Taehyung enggan sebenarnya lebih karena dia tidak familiar dengan merk snacknya. Jujur saja, ia tidak terbiasa makan makanan yang tidak jelas asal usulnya seperti itu. Tidak jelas di produksi oleh perusahaan mana, tidak jelas komposisinya apa, tidak jelas lulus seleksi badan pengawas makanan atau tidak, dan lebih penting lagi, tidak jelas apakah itu makanan sehat atau bukan.
Taehyung mendesah. Bisa saja ia menolak mentah-mentah, tapi melihat ekspresi Yoo Ra sekarang membuatnya tak punya pilihan lain selain memasukkan tangan kirinya ke dalam bungkus snack dan mulai memakannya.
“Enak kan?”
“Tidak.” Sanggah Taehyung. Padahal jelas mulutnya ketagihan.
“Tapi ekspresimu mengatakan sebaliknya.”
“Oh ya?”
Taehyung mengambil lagi keripik kentang dari tangan Yoo Ra dan memasukkannya ke mulut. Membuat Yoo Ra memutar bola matanya, kesal sekali melihat Taehyung yang tengil begitu. Bilangnya tidak enak. Tapi tidak berhenti makan.
“Siapa mereka?” Tanya Taehyung, menunjuk ke arah televisi dengan dagunya.
“Aah.. Itu BTS. Bangtan Sonyeondan. Mereka baru saja kembali setelah melakukan world tour concert mereka.”
“Apa bagusnya mereka?” Tanya Taehyung saat melihat sorot mata Yoo Ra yang berbinar-binar melihat ketujuh pria itu di layar tv.
“Bagusnya? Lagu mereka keren.”
“Itu saja?”
“Mereka tampan. Hehe”
“Tampan?!” Taehyung terkekeh membuat Yoo Ra bingung. “Yang mana yang kau sebut tampan?”
“Mereka semua tampan. Sungguh. Eh? Tunggu sebentar-“ Yoo Ra melihat ke arah televisi dan Taehyung bergantian dengan wajah terkejut.
“Kenapa?”
“Wow!”
“Apa?!”
“Lihat Taehyung-ssi, kau mirip sekali dengannya.” Yoo Ra bersemangat menunjuk-nunjuk layar televisi yang kini menyorot wajah salah seorang member BTS.
“Siapa?”
“V! Itu V BTS. Kalian terlihat sangat mirip.”
“Aku? Mirip dengannya?... Jangan bercanda.”
“Kenapa?”
“Matamu bermasalah? Sudah jelas aku lebih tampan.”
Yoo Ra mengerjap beberapa kali. Mungkinkah dia salah dengar?
“Ck, ck, ck, ternyata kau narsis juga ya, Taehyung-ssi?”
“Menurutmu itu narsis?”
“Ya.”
“Menurutku itu fakta.” Taehyung mengendikkan bahu, kembali mengambil kepingan keripik dari tangan Yoo Ra lalu memakannya.
Sejujurnya Yoo Ra ingin sekali mendebat Taehyung. Tapi kalau dipikir-pikir, apanya yang mau didebat? Toh, yang Taehyung bilang barusan bukan sekedar bualan. Kim Taehyung yang tampan itu adalah sebuah fakta.
__ADS_1
Eh?
Kok jadi seperti de javu? Rasanya Yoo Ra pernah ada di posisi di mana ia mengagumi paras menawan seorang Kim Taehyung.
Yoo Ra menggelang mengusir pikiran aneh di kepalanya. Ia mangalihkan pandangannya dan kini jatuh pada tangan kanan Taehyung yang di bebat. Tadi ia sempat bertanya tentang luka itu pada Jungkook, tapi adiknya itu juga tak tahu menahu perihal luka itu sama sekali.
“Pasti parah ya?”
“Hm?”
Yoo Ra menunjuk tangan kanan Taehyung yang dibebat.
“Ini? Tidak juga. Hanya tergores.”
“Apa itu sudah ada sejak kita berpapasan di lobby kantormu?”
“Ya.”
“Kok aku tidak melihatnya ya- “
“Tentu saja. Kau sibuk melihat hal lain yang tidak seharusnya kau lihat.”
Yoo Ra mengangkat sebelah alisnya. “Maksudmu melihat ritsleting celanamu yang terbuka?”
“YAH!!!”
“APA?!!!”
“Mulutmu tidak ada sensornya ya?!”
“Memangnya kenapa?! Itu kan fakta!”
“Tapi tidak perlu di bahas lagi!!”
“Kau duluan yang mulai!!!”
“Waahhh... Ternyata kau suka sekali dengan topik yang vulgar begini ya?!”
“Apa kau bilang barusan??”
“Vulgar!”
“YAH! KAU BENAR-BENAR-!!”
“Noona! Jangan- !!”
💜💜💜
Perasaan seorang tokoh utama di film horor saat berhadapan dengan hantu, jin, atau seluruh koloninya, mungkin kurang lebih sama dengan perasaan yang Jungkook rasakan sekarang. Duduk di tengah dua orang yang saling melempar pandangan membunuh satu sama lain membuatnya jadi merinding sendiri.
Yoo Ra duduk di sisi kirinya, sementara Taehyung di sisi kanan. Mereka sama-sama dalam mode garang yang tak main-main. Hanya saja, mode garang Taehyung lebih bisa di bilang elegan.
Pria berkulit ‘tan’ yang mempesona itu hanya duduk tenang di sebelah Jungkook. Menumpukan kaki kanan di atas kaki kiri sambil bersedekap. Hanya mata setajam elangnya saja yang kini masih melirik tepat ke arah Yoo Ra. Seolah hanya dengan tatapannya itu ia menegaskan bahwa Yoo Ra sama sekali bukan sebuah ancaman untuknya. Sepele, Remeh, dan mudah disingkirkan hanya dengan menjentikkan jari. Sikap yang dimiliki konglomerat kebanyakan.
Sedangkan Yoo Ra?
Jangan tanya mode garang seperti apa yang ia punya. Pernah lihat macan betina yang marah karena jatah makannya dicuri?
Atau,
Kurang lebih begitulah mode garang yang dimiliki Yoo Ra.
Barusan saja, Yoo Ra hampir menarik kaos Taehyung kalau Jungkook tidak lebih dulu datang dan memeluknya dari belakang untuk menjauhkannya dari pria itu.
Jungkook sampai bergidik ngeri membayangkan prahara apa yang akan terjadi kalau sampai ia terlambat datang semenit saja.
“Noona, Hyeong, tidak bisakah kalian akur sebentar saja?” Tanya Jungkook saat tak ada satupun dari mereka yang berinisiatif memecah ketegangan.
“Aku tidak tahu apa masalah kalian sebenarnya. Tapi bisakah kalian tidak bertengkar terus seperti ini?”
Hening.
“Jimin Hyeong sedang sakit. Dia bisa terganggu dengan keributan yang kalian buat.”
Andai saja Jungkook tidak menyeret nama Jimin yang memang sedang dalam kondisi sakit, dia pasti sudah kena damprat oleh Yoo Ra habis-habisan. Bisa-bisanya bicara sok tua begitu. Memang berapa umurnya? Baru menginjak dewasa saja sudah berani menceramahi orang yang lebih tua.
Padahal asal tahu saja, Jungkook masih orang yang sama yang menangis sesenggukan hanya gara-gara Yoo Ra salah menaruh kacang panjang dalam gulungan kimbab miliknya.
Dasar Jeon kelinci Jungkook!
“Dari mana saja kau? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?” Tanya Yoo Ra yang kini sudah kembali ke mode jinak karena kalau dipikir-pikir, kata-kata Jungkook ada benarnya. Ia harus lebih mengontrol emosi selama Jimin sakit.
“Hanya ke depan, menemui Jin Goo. Dia datang mengantar barangku yang tertinggal di kantor.”
“Yeo Jin Goo? Teman magang yang satu divisi denganmu itu?” Tanya Taehyung yang merasa familiar.
“Iya. Benar. Hyeong mengingatnya?”
Taehyung mengangguk, “Kau bilang padanya kalau aku tinggal di sini?”
“Tidak Hyeong. Tenang saja, aku bisa menjaga rahasia.”
Taehyung kembali mengangguk. Ia lantas menatap Jungkook yang masih tersenyum ke arahnya.
“Jungkook-ah,”
“Ya?”
“Aku ingin tanya,” Taehyung menjeda sebentar lalu melanjutkan begitu melihat Jungkook mengangguk. “Apa yang Jimin katakan supaya aku bisa diterima di rumah ini?”
Jungkook terkesiap. Begitupun Yoo Ra. Mereka berdua saling melampar pandang satu sama lain dalam beberapa detik sampai akhirnya terdengar tawa dari mulut Jungkook yang terkesan dibuat-buat. Sedangkan Yoo Ra berdehem sambil pura-pura fokus lagi ke acara televisi.
“Katanya... Hyeong tinggal di sini untuk melihat seperti apa kehidupan karyawan HOJIN HILL jika di luar kantor. Hyeong ingin lebih dekat secara kekeluargaan dengan kami. Dan sekaligus untuk mengetahui sejauh apa kami loyal pada perusahaan.”
Taehyung mengerutkan keningnya, merasa jawaban itu tidak masuk akal. “Dan kau percaya?”
“Ya, tentu saja. Lagipula, sebuah kehormatan bagi seorang karyawan kalau atasannya bersedia tinggal di rumahnya yang sederhana.”
Taehyung tidak bodoh. Ia tahu Jungkook berbohong. Iya juga tahu Jungkook dan bahkan Yoo Ra pun sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dan yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana membuat pemuda bergigi kelinci itu mau buka mulut.
“Lalu-“
“Jungkook-ah,” Belum sempat Taehyung meneruskan kalimatnya, Yoo Ra sudah lebih dulu memotong. “Bukankan kau harus segera ganti baju dan tidur? Kau bisa bangun kesiangan kalau tidur terlalu malam.”
__ADS_1
“Ah, Noona benar. Permisi Hyeong, aku ganti baju dulu. Hyeong bisa istirahat di kamar setelah aku selesai ganti baju.”
“Kau akan tidur di sofa ini lagi malam ini?”
“Iya Hyeong. Tidak masalah. Aku tipe orang yang bisa tidur di mana pun kok.” Jungkook segera berlari ke kamar sebelum Taehyung mencecarnya kembali dengan pertanyaan. “Dan... Jangan bertengkar lagi.” Katanya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
Kini tinggal Yoo Ra dan Taehyung berdua lagi di ruang tv. Mereka duduk berjauhan di tepi kanan dan kiri sofa. Terjebak dalam situasi canggung yang luar biasa, sampai suara ponsel Yoo Ra berdenting memecah keheningan, membuat keduanya menghembuskan napas lega.
Yoo Ra lekas memeriksa ponselnya dan menemukan sebuah pesan dari Hoseok.
“Kau sudah sampaikan pesanku untuk Jungkook?”
Yoo Ra menepuk jidatnya. Seketika ingat pada roti sobek pemberian Hoseok. Ia lalu menatap pintu kamar Jungkook yang masih tertutup rapat lalu mengetik balasan di layar ponselnya.
“Maaf Oppa, aku lupa. Jungkook sedang di kamarnya, akan segera kusampaikan begitu dia keluar.”
Yoo Ra baru akan menaruh kembali ponselnya saat benda pintar itu kembali berbunyi. Hoseok? Cepat sekali?!
Dan terkejutlah Yoo Ra mengetahui siapa yang mengiriminya pesan. Bukan Hoseok. Itu tunangannya. Calon suaminya. Belahan jiwanya. Ah!
“Yoo Ra-ya,”
“Sudah tidur?”
Yoo Ra belum menjawab. Ia masih memandang takjub layar ponselnya. Pesan itu nyata kan?
“Besok kau ada waktu?”
“Maaf, sudah lama tak menemuimu.”
“Kita pergi kencan ya?”
“Besok sore ku jemput di rumah.”
“Kabari jika kau bisa.”
Kencan?
Tunggu!
Yoo Ra tidak berhalusinasi kan?! Ponselnya tidak sedang mengajaknya bercanda kan? Atau ini prank?
Bodoh!
Tangan Yoo Ra gemetar. Belum reda rasa terkejutnya, tiba-tiba sebuah kalimat kembali muncul di layar ponsel membuat gejolak di hatinya membuncah tak karuan.
“Yoo Ra-ya, Bogosipeo.”
Ough!!! Manisnya...
Yoo Ra sudah tak tahan lagi. Ia sampai naik ke atas sofa sambil melonjak-lonjak kegirangan. Bernyanyi lagu random yang liriknya bahkan salah semua karena saking senangnya.
Ia sedang sangat gembira, dan tak ada hal lain yang bisa merusak suasana hatinya. Termasuk tatapan aneh yang Taehyung lemparkan untuknya sekarang.
Taehyung memang sudah memperhatikan gerak-gerik Yoo Ra sejak gadis itu menerima pesan pertama dari Hoseok. Dan ekspresi Yoo Ra terlihat menggemaskan di awal. Tapi makin lama malah makin aneh. Taehyung sampai geleng-geleng kepala dan memutuskan mengambil air ke dapur dari pada tetap di sana dan ketularan virus aneh Yoo Ra.
Di dapur, setelah meneguk air dingin, Taehyung sempat berdiam diri sebentar sambil bersandar pada lemari es. Memikirkan ulang perasaannya pada Yoo Ra yang kini sangat ambigu.
Bagaimana tidak?!
Hatinya yang selama ini sulit disentuh oleh wanita bisa dengan mudahnya dibuat berbunga-bunga oleh Yoo Ra. Bahkan jantungnya bisa berdebar hanya dengan melihat senyumnya.
Tapi kadang ia merasa sebaliknya. Kadang ia merasa kesal setengah mati dan bawaannya ingin bertengkar terus dengan Yoo Ra. Pembahasan apapun selalu memicu perdebatan. Bahkan tingkah aneh gadis itu mampu membuatnya merasa ingin melarikan diri secepatnya.
Merasa tak mendapat pencerahan, Taehyung memutuskan meninggalkan dapur. Pergi tidur mungkin adalah pilihan terbaik untuk mengistirahatkan otaknya yang lelah karena memikirkan Yoo Ra.
“Mau ke mana?” Tanya Yoo Ra ketika melihat Taehyung hanya melewati ruang tv begitu saja tanpa melihat ke arahnya.
Gadis itu sudah kembali normal, ngomong-ngomong. Ia sudah duduk manis di sofa sambil menonton acara tv yang sudah berganti dengan serial drama. Yah, meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar menontonnya.
“Tidur.” Jawab Taehyung singkat.
Yoo Ra mengendikkan bahu. Kembali fokus pada layar televisi sambil cengengesan, menjadwalkan hal apa saja yang akan ia lakukan di kencan impiannya besok.
Sampai ketika kedatangan Taehyung mengalihkan perhatiannya.
“Tidak jadi tidur?” Tanya Yoo Ra begitu Taehyung duduk kembali di sampingnya.
“Belum ngantuk.” Jawab Taehyung yang tidak sengaja malah menguap di depan Yoo Ra.
Yoo Ra mengernyit. Jelas sekali Taehyung sedang berbohong. Tapi kenapa?
“Ya ampun.” Yoo Ra ingat kalau Jungkook belum juga keluar dari kamar sejak tadi. Padahal adiknya itu bilang hanya ingin ganti baju. Jungkook pasti ketiduran di kamar.
Baru saja beranjak dari duduknya untuk melihat Jungkook, Taehyung sudah lebih dulu mencekal lengannya membuatnya kembali duduk di posisi semula.
“Jangan. Dia pasti kelelahan.”
“Lalu kau tidur di mana Taehyung-ssi?”
“Aku bisa tidur di kamar tamu bersama Jimin. Tempat tidurnya cukup besar untuk menampung kami berd-.”
“Tidak!”
Taehyung sempat terkejut saat Yoo Ra tiba-tiba memotong kalimatnya.
“Tidurlah di kamarku.”
“Kenapa begitu?”
“Itu... Karena... “ Yoo Ra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung sendiri harus menjawab apa. “J-Jimin.. Jimin-ssi sedang demam. Nanti kau bisa ketularan demam kalau tidur berdempetan dengannya.”
“Ohh. Lalu kau?”
“Aku? Tenang saja, aku bisa tidur di sini. Lagipula sofa nya empuk. Aku juga sering ketiduran di sini saat nonton tv.”
“Baiklah. Selamat malam.” Taehyung beranjak dari sofa menuju kamar Yoo Ra.
Yoo Ra melongo. Cuma begitu? Bukankah harusnya Taehyung menolak dan menawarkan diri untuk menggantikan Yoo Ra tidur di sofa? Bagaimanapun kan Taehyung itu laki-laki dan Yoo Ra perempuan.
Ah, tentu saja. Tentu itu tidak berlaku untuk pria batu es seperti Taehyung.
“Dasar kau... Kim Sialan Taehyung!!!”
__ADS_1
To Be Continued...