Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
TIGA


__ADS_3


Taehyung duduk di sofa single di ruang kerjanya. Kaki kanannya disilangkan di atas kaki kiri sambil mengangkat tangannya sebatas wajah. Ia memperhatikan luka di tangannya yang terbungkus kain perban sambil beberapa kali membuang napas kasar.


"Hahh... . Tanganku sekarang sudah seperti kue lemper." Celetuk Taehyung sambil membolak-balikkan telapak tangannya di depan wajah.


"Hm?" Kim Namjoon yang duduk di sofa sebelah Taehyung jadi kesulitan meneguk tehnya. Ia meletakkan kembali cangkir tehnya ke meja lantas menoleh pada Min Yoongi yang duduk di sampingnya. Pria berwajah datar itu mengendikkan bahu acuh, menjawab tatapan Namjoon. Sama-sam tidak tahu.


Ya. Kim Namjoon dan Min Yoongi ada di kantor Taehyung. Mereka datang atas undangan mendadak dari Jimin tadi pagi. Jimin ingin orang yang berusaha membunuh Taehyung segera tertangkap, sebelum sahabatnya itu semakin dalam bahaya.


Oleh karena itu, dia sengaja meminta Namjoon yang saat ini berprofesi sebagai detektif, dan Yoongi yang bekerja di kantor kepolisian untuk membantunya.


Dia sangat yakin kedua orang yang sudah bersahabat lama dengannya dan Taehyung sejak masih sekolah itu bisa membantu memecahkan kasus ini.


"Apa itu, limper?" Tanya Namjoon yang langsung disambut gelak tawa Jimin yang duduk di sofa seberang, berhadapan langsung dengan Namjoon dan Yoongi.


"Lemper, Hyeong. Makanan khas dari Indonesia. Taehyung mencobanya sekali saat melakukan perjalanan bisnis ke sana bulan lalu." Jimin menjelaskan karena wajah Namjoon terlihat begitu penasaran.


"Wow! Indonesia? Bali?"


"Bukan, Jakarta. Perusahaan memutuskan menanam saham pada sebuah toko online yang cukup besar di sana."


"Ahh-" Namjoon mengangguk-angguk terlihat mengerti. Tapi setelah itu tatapannya kembali tertuju pada Taehyung.


"Apakah bentuknya memang seperti itu?" Tanya Namjoon kemudian sambil menunjuk ke arah tangan Taehyung yang dibebat.


Pemikiran Namjoon barusan yang mengira kalau ada makanan yang dibungkus kain perban membuat Jimin tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Kadang orang jenius juga bisa berpikiran konyol!


Benar, Kim Namjoon memang terkenal jenius sejak masih sekolah. Ia adalah kakak kelas Taehyung dan Jimin yang sudah membuktikan kejeniusannya dengan menjadi seorang detektif yang cukup disegani. Tapi Ya, lelaki yang paling tinggi diantara mereka berempat itu kadang juga bisa berpikiran konyol dan aneh. Makanan yang dibungkus perban? Luar biasa!


Yoongi yang dari tadi hanya diam, sampai menegakkan punggungnya. Ia mengibaskan tangannya sekali di depan wajah Namjoon. Menghilangkan pertanyaan tentang sesuatu apapun itu yang masih mengganjal di otak jenius si detektif.


"Jadi, kau sungguh tidak punya petunjuk apapun untuk membantu kami?" Tanya Yoongi pada Taehyung. Sama sekali tak memperdulikan Jimin yang masih saja tertawa sambil sesekali menunjuk-nunjuk wajah bingung Namjoon.


Taehyung yang tadinya sempat ikut terkekeh mendengar pertanyaan konyol Namjoon, langsung mengalihkan atensi penuh pada Yoongi. Ia terlihat berpikir sejenak kemudian menggeleng pelan.


"Aku hampir bisa membuka penutup kepalanya. Tapi malah ini yang aku dapatkan." Jawab Taehyung sambil mengangkat tangan kanannya yang terluka.


"Jimin?" Yoongi beralih pada Jimin yang sudah mulai berhenti tertawa. Lelaki itu kini berubah murung.


"Aku terlalu fokus untuk memastikan kondisi Taehyung saat kecelakaan itu hampir terjadi. Aku sampai lupa untuk mengingat plat nomor mobil itu. Lalu saat insiden makanan yang di racun, aku juga tidak tahu apapun karena saat itu aku ikut keluar bersama Taehyung menemui investor dari Singapura." Jelas Jimin yang kemudian menoleh ke arah Taehyung dengan wajah bersalah. "Maaf."


Taehyung sampai harus memajukan tubuhnya untuk menepuk bahu Jimin sambil tersenyum tulus. "Tidak. Sama sekali bukan salahmu, kawan."


"Apa ada orang yang kalian curigai? Kompetitor, mungkin?" Tanya Namjoon yang langsung membuat Taehyung dan Jimin beradu tatap.


"Daripada kompetitor, mungkin lebih tepat di sebut rekan bisnis. Atau mungkin keluarga?" Jawab Jimin yang langsung dihadiahi tatapan protes dari Taehyung.


"Maaf Tae, bagaimanapun juga aku tetap mencurigai pamanmu. Hanya dia satu-satunya orang yang memiliki masalah pelik denganmu, bukan?"


"Tidak."


"Tidak? Kau yakin?" Jimin mulai terpancing emosi. Ia menatap Namjoon dan Yoongi yang tiba-tiba diam.


"Bahkan kalian berdua juga tahu kan, Hyeong?!"


"Jimin-ah. hentikan." Ujar Taehyung yang tahu ke mana arah bicara Jimin.


"Bukan hanya aku, kita berempat juga tahu kalau paman Yong Joon adalah satu-satunya paman yang kau miliki, tapi juga satu-satunya paman yang tak menginginkanmu!" Nada bicara Jimin mulai naik. Padahal sebenarnya ia telah berusaha menahan diri.


"Jimin-ah, kumohon." Taehyung menatap tepat ke mata Jimin. Mencoba membuat Jimin tenang dan berhenti membahas tentang sesuatu yang bisa membuka luka lamanya.


Demi Tuhan, jangan sekarang.


Taehyung lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Menarik napas panjang dan memejamkan matanya yang mulai lelah, tepat setelah Jimin menunduk dan memijit pelipisnya.


Namjoon dan Yoongi yang dari tadi hanya menonton perdebatan dua sahabatnya itu hanya bisa bungkam. Bukan tidak paham, mereka tahu betul apa yang sedang diperdebatkan Jimin dan Taehyung. Hanya saja mereka tidak ingin ikut bicara dan malah memperkeruh suasana.


"Begini saja," Yoongi mulai kembali bersuara saat keadaan mulai tenang. "Biarkan aku dan Namjoon berdiskusi dulu untuk menentukan langkah selanjutnya."


"Kami akan menghubungi kalian lagi nanti." Timpal Namjoon sambil menyenggol lengan Yoongi, lantas berdiri dan mengenakan jaketnya yang tersampir di lengan sofa.


Taehyung ikut berdiri, membuat seulas senyum sambil berterima kasih atas kedatangan Namjoon dan Yoongi.


Diikuti Jimin yang telah melangkahkan tungkainya mendahului ke arah pintu,


"Akan aku antar."


_


Pintu ruang kerja Taehyung terbuka pelan dan menampilkan sosok Jimin yang terlihat ragu untuk melangkah masuk. Ia baru saja mengantar Namjoon dan Yoongi ke basement parkir.

__ADS_1


Awalnya Jimin berniat mengantar dua sahabatnya itu sampai ke tempat kerja mereka, lumayan untuk alasan menghindari Taehyung setelah sempat bersitegang dengannya tadi. Tapi Namjoon dan Yoongi sama-sama menolak, dengan alasan membawa mobil sendiri.


Akhirnya mau tidak mau, Jimin terpaksa harus kembali ke ruangan Taehyung. Sebenarnya bisa saja ia tidak kembali. Ia bisa mencari alasan dengan pura-pura sibuk di mejanya sendiri, daripada harus kembali menemui sahabatnya itu dan terperangkap dalam suasana canggung yang aneh.


Tapi Jimin tidak melakukannya. Ia memilih melangkahkan kakinya melewati meja kerjanya sendiri untuk menuju ruangan Taehyung.


Bagaimanapun juga ia tetap merasa harus mengatakan sesuatu. -minta maaf mungkin?


karena secara tidak langsung, kata-katanya ketika emosi tadi mungkin saja sempat membuka kembali kenangan tidak mengenakkan di hati Taehyung.


Dan di sinilah Jimin sekarang. Berdiri mematung di sela daun pintu yang terbuka sedikit. Merasa ragu apakah harus masuk atau kembali saja. Tapi pasti terlihat konyol jika ia kembali padahal netra Taehyung sudah sempat menangkap presensi dirinya di sana.


Kelakuan aneh Jimin itu membuat Taehyung yang kini sedang duduk di balik meja kerja sambil memeriksa beberapa dokumen, jengah sendiri dibuatnya.


Taehyung melepas kacamatanya lantas meletakkan benda itu di atas meja. Menatap Jimin yang masih setia berdiri di ambang pintu seperti orang bodoh.


"Apa kau mau minta sumbangan? Jika iya, pergilah! Aku tidak punya uang receh."


Jimin tersenyum kecil menanggapi candaan Taehyung yang mungkin akan terdengar kasar bagi sebagian orang. Tapi itu jelas tidak berlaku untuk Jimin. Lelaki itu justru melangkah masuk dengan perasaan lega.


Bagi Jimin, sikap Taehyung barusan berarti bahwa lelaki itu sudah melupakan ketegangan yang sempat mereka berdua buat sebelumnya.


"Aku tidak jadi mengantar duo Hyeong itu pulang. Mereka ternyata membawa mobil sendiri, jadi aku hanya mengantar mereka sampai tempat parkir."


Taehyung mengangguk mengerti. Bola matanya mulai bergulir kembali ke tumpukan map di depannya. Berniat untuk kembali fokus memeriksa semuanya. Tapi urung ketika suara Jimin kembali menginterupsi.


"Tae,"


Taehyung mendongak menatap Jimin yang terlihat ragu untuk bicara.


"Soal yang tadi-" Lanjut Jimin lagi dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Alis Taehyung menyatu. Sebenarnya ia tahu apa yang ingin Jimin sampaikan. Tapi ia memilih diam. Sengaja membiarkan Jimin meneruskan kalimatnya.


"Mungkin, aku tidak sengaja telah membuka kembali kenangan yang harusnya sudah kau lupakan."


Kepala Jimin menunduk. Sama sekali tidak membalas tatapan Taehyung terhadapnya. Ia lebih memilih menjatuhkan pandangan ke meja kaca di bawah matanya. Memainkan jari-jarinya di atas sana seolah sedang menuliskan sesuatu.


"Percayalah aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya-" Jimin menjeda kalimatnya lagi, bersamaan dengan jari-jari tangannya yang juga berhenti beraktifitas. "Mungkin aku hanya terbawa emosi." Lanjutnya.


Taehyung masih diam. Matanya melirik jemari Jimin yang kembali bergerak-gerak di atas mejanya. Ia sontak tersenyum saat menangkap kata 'maaf' yang Jimin tulis berulang-ulang dengan jari telunjuknya. Kekanankan. Tapi manis.


"Tidak ada kenangan pahit yang bisa dilupakan, Jimin-ah. Kecuali jika kita amnesia atau mati." Jawab Taehyung berusaha realistis. Tapi malah terdengar menyebalkan di telinga Jimin.


"Kalau begitu jangan bicara omong kosong di depanku! Sekali lagi kau mengungkit tentang kematian, maka aku sendiri yang akan membunuhmu!"


Taehyung tertawa renyah kemudian berdiri mendekati Jimin, bersandar pada meja.


"Wow, santai Brother. Jadi apa jadualku setelah ini, Tuan sekretaris?"


Yang ditanya hanya mendengus kemudian melihat arloji di pergelangan tangannya.


"Bertemu dengan karyawan magang dari divisi perencanaan. Tapi nanti, setelah jam makan siang."


Taehyung mengernyit. Baru sadar kalau sekarang sudah waktunya makan siang.


"Jadi mau makan siang apa, Daepyeonim?"


"Hm... . Yukgaejang?¹, Bulgogi?², Seolleongtang?³ Entahlah, aku hanya sedang ingin makan daging."


"Yukgaejang? Tidak, tidak. Aku tidak mau direpotkan kalau nanti tiba-tiba kau sakit perut. Kau tidak pernah bisa makan pedas, Tae. aku tahu restoran seolleongtang yang enak, kita ke sana saja."


"Baiklah, tidak masalah."


"Tunggu sebentar!" Baru berjalan satu langkah, Jimin menahan bahu Taehyung lantas berdiri di depan lelaki itu untuk memastikan sesuatu. Agak menunduk di depan Taehyung lalu seketika menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Kenapa?"


Bukannya menjawab, Jimin malah tertawa terbahak-bahak sambil menutup wajahnya. Benar dugaannya, ritsleting celana Taehyung terbuka, lagi.


"Serius Tae, ada apa dengan celanamu? Ku pikir semua yang melekat di tubuhmu adalah barang mahal. Tapi lihat itu-" Jimin lebih memilih tertawa daripada melanjutkan kalimatnya.


Sedang Taehyung yang tahu betul apa yang dimaksud Jimin, langsung mengalihkan tatapannya ke bawah. Ia mengumpat kecil lalu berbalik memunggungi Jimin. Mencoba menaikkan ritsleting celananya yang turun untuk kedua kalinya dalam setengah hari ini.


"Semoga burung peliharaan anda tidak keburu lepas, tuan Daepyeonim."


Sebuah kalimat yang tiba-tiba melintasi otak Taehyung dan membuatnya mengumpat-ngumpat tak karuan.


"Gadis bar-bar itu! Awas saja kalau sampai bertemu lagi, akan ku buat dia menyesal!" begitu kira-kira isi hati Taehyung.


Kacau sekali. Dosa apa dia sampai bertemu gadis mesum begitu?! Atau, sebenarnya dia-lah yang justru terlihat mesum di depan si gadis?

__ADS_1


Sialan!


"Arrgghh!!!"


"Apa? Kenapa, Tae? Terjepit?" Tanya Jimin sambil meringis memandang Taehyung yang tiba-tiba tak bergerak.


"Gawat, Jim."


"Kenapa?"


"Aku malah merusaknya."


"Hah?!"


"Sepertinya akau menariknya terlalu keras."


"Coba lihat!" Jimin menarik bahu Taehyung agar berbalik menghadapnya.


"Yah! Mau apa kau?"


Taehyung melotot saat Jimin tiba-tiba berjongkok di depannya. Serta-merta ia mendorong kening Jimin dengan tangan kirinya.


"Membantumu, Bodoh! Apa lagi?"


"Jangan macam-macam!"


"O-hoo?! Kau mau makan siang dengan keadaan seperti ini?"


Kening Taehyung berkerut. Benar juga. Tapi apa tidak ada cara lain?


"Aku akan memesan setelan baru."


"Jangan buang-buang waktu Tae, aku sudah lapar."


Taehyung mendengus. Mau tidak mau, ia harus menerima tawaran Jimin.


"Tapi jangan asal sentuh!"


"Bagaimana caraku memperbaiki tanpa menyentuhnya, Bodoh!"


"M-maksudku jangan sentuh yang-"


"Atau, kau lepas saja celanamu agar lebih mudah, hm?" Jimin menaik turunkan alisnya menggoda. Dan otomatis mendapat tatapan membunuh dari Taehyung.


"Cari mati ya?!"


Jimin tertawa sampai terduduk dan memukul-mukul lantai, melihat ekspresi wajah Taehyung yang sedang terkejut. Seru sekali menggoda pria satu ini.


"Baiklah, baiklah. Aku akan serius sekarang. santai, Man." Ujar Jimin yang memposisikan dirinya di depan Taehyung. Kedua lututnya menjadi tumpuan tubuh agar bisa lebih tegak, tidak terlalu rendah pun terlalu tinggi.


"Kalau soal ritsleting, serahkan saja padaku. Aku sudah terbiasa menghadapinya."


Taehyung mengernyit. "Kalimatmu ambigu sekali, Bung."


Jimin tidak menjawab. Ia lebih fokus memperbaiki ritsleting Taehyung. Meskipun jelas ia sedang mati-matian menahan tawa.


Apapun pikiran kotor yang sedang bergelayut di kepala Taehyung itu jelas tidak benar. Jimin tidak punya pacar. Dan tentu ia masih waras untuk tidak berkencan dengan wanita random lalu tidur- Ah! Dasar Taehyung!


Tangan Jimin masih berkutat di sana. Membuat Taehyung memejamkan matanya erat-erat sambil sesekali menahan napas. Bukan apa-apa, ia hanya takut kalau tangan jimin tiba-tiba keseleo lalu kelepasan dan menjepit sesuatu di bawah sana.


“Hati-hati Jimin-ah. Kubunuh kau kalau sampai melukai masa depanku.”


Jimin terkekeh lalu tak lama kemudian ia membuang napas lega. “Selesai.”


Taehyung menunduk melihat ritsletingnya yang telah tertutup sempurna.


“Kubilang apa kan? Untuk urusan mendesak seperti ini, aku adalah ahlinya.”


Tepat ketika Taehyung membuka mulutnya untuk berterima kasih pada Jimin, sebuah suara gaduh seperti benda pecah terdengar memekakkan telinga. Membuat Taehyung dan Jimin terlonjak kaget lantas melempar atensinya ke sumber suara.


Di ujung sana, tepat di ambang pintu ruangan Taehyung, seorang laki-laki dengan kemeja putih, celana hitam, dan dasi berwarna senada, berdiri di antara pecahan guci antik yang berserakan. Tentu dengan raut wajah yang sama terkejutnya.


ID card dengan tali berwarna merah?


ID card itu,


Karyawan magang?


To be continued...


¹ Yukgaejang : Masakan korea berupa sup daging sapi pedas yang dimasak dalam rebusan kaldu dan kecap.

__ADS_1


² Bulgogi : Olahan daging asal korea. Umumnya menggunakan daging sirloin atau bagian daging sapi pilihan. Biasanya dimasak dengan bumbu campuran kecap asin dan gula, ditambah rempah lain bergantung pada resep dan daerah di korea.


³ Seolleongtang : Jenis masakan korea yang terbuat dari sup kaldu tulang sapi yang direbus dalam waktu lama.


__ADS_2