Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
EMPAT


__ADS_3

"Jeon Jungkook-ssi, tolong ke sini sebentar!"


Jungkook menoleh, menemukan Lee Seo Jin, kepala divisinya sedang membuat isyarat tangan agar ia mendekat. Jungkook lalu mempercepat tugasnya di depan mesin fotokopi. Ia menyusun semua berkas yang telah ada di tangannya sambil berjalan cepat menuju meja kepala divisinya.


"Ini berkasnya Pak, sudah selesai saya fotokopi."


"Terimakasih. Bisa aku minta tolong lagi?"


Yang barusan memang terdengar seperti pertanyaan, tapi percayalah kalau itu sebenarnya adalah perintah. Karena belum sempat Jungkook menjawab, Seo Jin sudah lebih dulu menyodorkan map berwarna biru tua di mejanya pada Jungkook.


"Ini dokumen yang diminta manajer Choi pagi tadi. Ada sedikit kesalahan tapi sudah selesai direvisi. Tolong antarkan ke sekretaris Park agar segera diserahkan pada Kim Daepyeonim. Pastikan sekretaris Park sendiri yang menerimanya sebelum jam makan siang."


"Baik, saya mengerti." Jawab Jungkook sesaat setelah menerima map tersebut.


"Dan jangan lupa siang ini Kim Daepyeonim meminta karyawan magang dari divisi kita untuk datang ke ruangannya. Beritahu dua rekanmu yang lain agar tidak terlambat kembali ke kantor setelah makan siang. Ingat, Daepyeonim paling tidak suka pada karyawan yang tidak tepat waktu!"


Jungkook menelan salivanya dengan susah payah. Kalimat itu kedengarannya sederhana. Lagipula tak ada satupun orang yang suka dengan istilah 'menunggu' bukan?!


Tapi berhubung yang sedang dibicarakan adalah Kim Daepyeonim yang katanya terkenal dingin dan tegas, kalimat Seo Jin barusan jadi terdengar horor di telinga Jungkook.


"Ada pertanyaan?" Tanya Seo Jin saat melihat Jungkook masih berdiri di tempatnya.


"T-Tidak ada. Maaf. Saya akan antarkan dokumennya sekarang. Permisi."


Jungkook berjalan tergesa melewati lorong besar menuju ruang sekretaris Park. Ruang Kim Daepyeonim dan sekretaris Park memang berada satu lantai dengan divisi kerja Jungkook. Hanya letaknya saja yang lumayan berjauhan. Ruang Kim Daepyeonim dan sekretarisnya memiliki area privat sendiri.


Ruang divisi Jungkook ada di sebelah kiri lift karyawan. Berbagi tempat dengan ruang manajer Choi, ruang meeting, pantry, dan beberapa ruang karyawan lainnya. Sedangkan ruang Kim Daepyeonim dan sekretarisnya berada di sebelah kanan lift karyawan, bersebelahan dengan ruang tunggu dan tak ada ruangan lain setelahnya.


Dari kejauhan Jungkook melihat dua rekannya, Jang Ye Eun dan Yeo Jin Goo keluar dari lift sambil membawa tumpukan berkas di masing-masing tangan mereka.


"Mau ke mana?" Tanya Ye Eun saat sudah berada di depan Jungkook.


"Mengantar dokumen untuk sekretaris Park." Jawab Jungkook sekenanya. "Oh iya, kata Pak Lee, kita tidak boleh terlambat kembali ke kantor setelah makan siang. Kita harus ke ruang Kim Daepyeonim tepat waktu." Lanjut Jungkook dan langsung mendapat respon anggukan dari kedua rekannya.


"Kita tidak jadi makan siang bersama?" Tanya Jin Goo saat Jungkook berjalan menjauh.


"Kirim pesan saja. Beritahu tempatnya. Nanti aku menyusul." Jawab Jungkook sambil melambaikan tangan. Menandakan pembicaraan mereka harus selesai saat itu juga.


Menurut yang Jungkook dengar, Daepyeonim dan sekretarisnya jarang menggunakan lift karyawan dan lebih sering menggunakan lift khusus yang bersebelahan dengan ruangan mereka.


Bisa panjang urusannya jika Jungkook tiba di sana tapi mereka berdua sudah keburu pergi makan siang menggunakan lift khusus. Pak Lee bisa ngomel-ngomel atau kena hipertensi mendadak kalau Jungkook tidak bisa menyelesaikan tugas remeh seperti ini.


Tak berselang lama hingga Jungkook tiba di sebuah meja besar di samping lift khusus yang biasanya digunakan oleh para petinggi perusaahaan. Jungkook yakin itu adalah meja sekretaris Park. Tapi alis Jungkook segera berkerut saat menyadari tak ada seorangpun di sana.


Spontan ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Masih ada sepuluh menit sebelum jam makan siang. Harusnya ia belum terlambat.


Jungkook lalu berbalik dan menemukan pintu besar yang berada persis di depan meja sekeretaris Park, yang ia yakini pasti adalah ruangan Kim Daepyeonim. Pintu besar itu sedikit terbuka, membuat Jungkook mendadak lega. Ia yakin belum terlambat. Sekretaris Park pasti baru saja masuk ke sana dan lupa menutup kembali pintunya. Jungkook memutuskan berdiri di depan maja sekretaris Park untuk menunggu pria itu keluar.


Tujuh menit berlalu tapi sekretaris Park belum juga muncul. Jungkook mulai merasa aneh. Apa benar sekretaris Park ada di dalam?


Atau mungkin tidak?


Setelah berperang batin cukup lama, Jungkook memutuskan mendekati pintu besar itu. Ia sadar, mengintip ruangan atasannya sendiri adalah hal konyol yang tidak boleh dilakukan seorang karyawan. Tapi sama konyolnya jika ia hanya menunggu seperti orang bodoh di sana padahal belum tentu orang yang ia tunggu ada di dalam.


Dan entah setan apa yang merasukinya, hingga Jungkook malah mendorong tubuhnya masuk ke dalam ruangan.


Dan,


BOOOOOMMMM!!!


Jungkook mendengar suara bom meledak dengan sangat keras. Tidak! bukan bom dalam artian sebenarnya. Itu adalah bom kasat mata yang meledak di jantungnya. Membuat organ vitalnya itu memompa darah ke seluruh tubuh dengan frekuensi yang semrawut. Dadanya berdetak kuat, membuat kedua tangannya berkeringat dingin. Seluruh sendinya seolah bergetar hebat.


Jungkook baru saja melihat sesuatu yang tidak semestinya ia lihat.


Di seberang sana, tepat di depan matanya, dua orang pria dewasa sedang- Ahh! Jungkook sampai bingung bagaimana menyebutnya.


Bercinta, mungkin?


Seorang pria sedang berdiri menyandarkan pinggangnya pada meja kerja, ia tidak menyadari kehadiran Jungkook karena matanya tertutup rapat. Ia terlihat menahan napas dan juga cemas.


Sedangkan pria satunya berjongkok di depan pria yang sedang menutup matanya. pria itu juga tidak menyadari kedatangan Jungkook karena posisinya yang membelakangi Jungkook. Pria itu sedang melakukan sesuatu entah apa, yang jelas posisi mereka sangat tidak senonoh menurut Jungkook.


Apa yang kedua pria dewasa itu lakukan di kantor sangat tidak benar. tapi keberadaan Jungkook di sanapun sama salahnya. Jadi hal pertama yang harus Jungkook lakukan adalah segera pergi dari sana secepatnya.


Tapi bagaimana?

__ADS_1


Kaki Jungkook seolah tidak bisa digerakkan.


Malah sepasang telinganya yang dengan kurang ajar justru berkerja lebih tajam mendengar dialog dua pria yang berada sekitar lima belas langkah di depannya.


"Hati-hati Jimin-ah, Kubunuh kau kalau sampai melukai masa depanku!" Kata di pria yang berdiri masih dengan menutup rapat matanya.


Jungkook mendelik, "Jimin? jadi pria yang sedang berjongkok di sana adalah sekretaris Park? Dan yang berdiri itu berarti K-Kim Daepyeonim?!" batinnya.


Jimin terkekeh lalu tak lama kemudian ia membuang napas lega. “Selesai.”


Sang Daepyeonim menunduk melihat ritsletingnya yang telah tertutup sempurna lantas tersenyum puas.


Dan lagi-lagi senyum itu terlihat salah di mata Jungkook.


“Kubilang apa kan? Untuk urusan mendesak seperti ini, aku adalah ahlinya.” Ujar Jimin dan kali ini dengan suara lebih keras, membuat Jungkook hampir tersedak ludahnya sendiri.


"Apa dia bilang barusan? U-Urusan mendesak?!" Jungkook mengepalkan tangan kirinya menutup mulutnya yang menganga lebar. Tidak, bahkan dia juga sudah menggigit tangannya juga sekarang. Ia benar-benar terkejut sampai map di tangan kanannya merosot. Tapi ia buru-buru sadar dan berusaha menangkap kembali mapnya yang jatuh agar tidak sampai menyentuh lantai.


Tapi itu keputusan yang salah. Karena gerakannya yang serampangan justru membuat bokongnya menyenggol guci antik yang ada di sebelah pintu bagian dalam.


Tidak ada slow motion seperti di drama-drama korea tentu saja. Dunia Jungkook adalah nyata. Dan tidak sampai tiga detik guci di belakangnya terjatuh, beradu keras dengan dinginnya lantai marmer. Suara pecah dan memekakkan telinga memenuhi setiap sudut ruangan, membuat dua orang pria yang berdiri di seberang Jungkook terlonjak kaget lantas mengunci tubuh Jungkook yang masih mematung dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Oh God, save me... . Please."


 


💜💜💜


 


Jimin memasukkan ponselnya ke saku celana setelah memutus sambungan teleponnya dengan Namjoon. Ia lantas berbalik dan menemukan Taehyung sedang duduk di sofa, berdialog dengan tiga orang karyawan magang dari divisi perencanaan yang duduk di depannya.


Pandangan Jimin lantas tertuju pada Jeon Jungkook, salah seorang karyawan magang yang duduk dengan tenang memperhatikan Taehyung bicara. Padahal Jimin tahu kalau pemuda itu sedang berusaha menutupi kegugupannya.


Jimin mendekat, berdiri di samping Taehyung lalu mundur satu langkah ke belakang, menunjukkan rasa hormatnya pada sahabat yang kini jadi atasannya. pandangannya kembali pada Jungkook yang baru saja memalingkan wajahnya dengan natural. Padahal Jimin tahu pemuda itu baru saja mencuri pandang ke arahnya.


"Ada apa dengan pemuda itu sebenarnya?"


Jujur saja Jimin sempat berpikir buruk tentang Jungkook. Sejak penyerangan yang beberapa kali dialami Taehyung, Jimin jadi mudah curiga pada semua orang yang ada di sekeliling sahabatnya itu.


Dan Jungkook termasuk orang baru yang perlu dicurigai. Bagaimana pemuda itu tiba-tiba ada di ruang kerja Taehyung lalu memecahkan guci tanpa bisa memberikan alasan yang masuk akal.


Jimin yakin ada sesuatu yang Jungkook sembunyikan dan ia perlu tau apa itu.


"Baiklah, Kurasa sudah cukup. Semoga kalian cepat beradaptasi. Dan aku sangat menantikan untuk bertemu kembali dengan kalian di waktu mendatang dengan status kalian sebagai kaeyawan tetap HOJIN HILL."


Kalimat penutup Taehyung membuyarkan lamunan Jimin soal Jungkook. Sekaligus membuat dua orang pemagang di depannya tersipu, tersenyum penuh harap. Kecuali Jungkook tentu saja. Pemuda itu memang ikut tersenyum. Tapi senyumnya terkesan aneh dan dipaksakan.


Dan Jimin mengetahuinya.


💜💜💜


"Apa?! Kenapa harus begitu?" Taehyung nampak terkejut dengan penuturan Jimin padanya. Sekarang hanya tinggal mereka berdua di dalam ruangan Taehyung. Ketiga pemagang itu sudah kembali bekerja beberapa saat yang lalu.


"Itu yang Namjoon Hyeong katakan saat di telepon. Yoongi Hyeong juga setuju. Lagipula kita belum tahu siapa orang yang berniat melenyapkanmu Tae. Memang lebih baik kalau kau sembunyi dulu."


"Mereka yang buronan, kenapa aku yang harus sembunyi?"


"Ayolah Tae, ini demi keselamatanmu."


Taehyung diam. ia nampak masih keberatan.


"Tidak akan lama, Tae. Aku janji." Lanjut Jimin masih berusaha meyakinkan.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan? Bagaimana dengan..." Taehyung menjeda sebentar, mengingat orang yang paling ia cemaskan jika ia tidak ada. "...Harabeoji?"


"Aku akan tetap melapor padamu setiap hari. Jadi kau tetap bisa memantau semua meski tidak datang ke kantor. Yoongi Hyeong juga berjanji akan membantu keamanan Harabeoji selama beliau di rumah sakit. Lagipula target mereka bukan Harabeoji, Tae. Tapi kau!"


Taehyung menghela napas teramat panjang. Berat sekali rasanya hari-hari terakhir yang ia lewati. Tapi ia tahu kalau ia tetap harus mengambil keputusan. Ia tidak boleh egois di saat semua sahabatnya sedang memperjuangakan keselamatannya.


Maka dengan menghembuskan napas panjang sekali lagi, Taehyung akhirnya memutuskan.


"Ke mana aku harus pergi?"


💜💜💜

__ADS_1


"Daepyeonim kita ternyata baik ya? Tegas tapi bicaranya manis.. Meskipun dingin tapi dia keren..bla..bla..bla.." Jungkook mendumal sambil komat kamit sendirian di pantry menirukan kata-kata Ye Eun barusan di sela-sela kerja mereka yang hampir selesai.


Bibir Jungkook mencebik mengingat bagaimana Ye Eun dan Jin Goo memuji Kim Daepyeonim dan sekretaris Park habis-habisan setelah dialog singkat mereka tadi siang.


Sebenarnya Jungkook tidak menampik kenyataan bahwa Daepyeonimnya itu memang nyaris sempurna sebagai lelaki. Bagitu pula sekretaris Park. Mereka adalah perpaduan yang klop jika di sandingkan sebagai sahabat.


Ahh! Lupakan itu.


Jungkook bahkan sudah tidak percaya lagi tentang rumor persahabatan mereka berdua. Bagaimana bisa percaya kalau kedua matanya sendiri memergoki kedua pria itu melakukan hal yang jauh melebihi yang dilakukan sepasang sahabat.


Jungkook menuangkan satu kemasan kecil jahe merah ke dalam tehnya seraya mengingat apa yang dikatakan Jin Goo sesaat sebelum ia melarikan diri ke pantry.


"Daepyeonim dan sekretaris Park punya chemistry yang pas sebagai sepasang sahabat. Yang satu tipe tsundare, yang satu manis dan setia kawan. Bagaimana kalau kita buat persahabatan kita seperti mereka? Bagaimana menurutmu Jungkook? hm?"


Jungkook bergidik ngeri mengingat kalimat Jin Goo.


"Persahabatan apanya?! Andai kalian lihat apa yang ku lihat tadi siang, kalian pasti akan tahu kalau mereka sebenarnya tidak bersahabat. Tapi berpacaran." Gumam Jungkook lagi lantas menyesap teh jahe nya dengan tenang.


"Siapa yang berpacaran?"


Jungkook seketika menyemburkan teh jahe yang ia minum hingga mengotori meja pantry di depannya.


Ia berbalik dan menemukan Park Jimin sedang bersandar pada pintu pantry sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Sejak kapan dia di sana? Apa dia dengar semuanya? Bodoh! Bodoh! Bodoh!"


Jimin melangkah masuk lantas berdiri di samping Jungkook, menyandarkan pinggulnya pada meja pantry. Ia mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celana dan memberikannya pada Jungkook. Pemuda yang masih terlihat shock itu menerimanya dengan raut wajah bingung.


Jimin menunjuk bibir Jungkook sekilas dan langsung membuat pemuda itu sadar, lantas membersihkan mulutnya yang basah dengan sapu tangan yang Jimin berikan.


"Jadi, siapa tadi yang kau sebut sedang pacaran?" Tanya Jimin lagi dengan wajah yang sengaja ia buat serius.


Jungkook kelabakan. Ia berpura-pura tuli sambil membersihkan meja pantry yang basah karena ulahnya. Dia bahkan tidak sadar kalau sedang mengelap meja yang kotor itu dengan sapu tangan milik Jimin.


Yang punya sapu tangan mendelik, tapi kemudian ia pasrah. Padahal dia baru saja mau bilang pada Jungkook untuk mencuci sapu tangannya dan mengembalikannya jika sudah selesai. Kalau sudah begini kan dia jadi ilfeel.


Jimin mendesah sekali lagi. Lupakan dulu soal sapu tangan. Sebenarnya Jimin datang memang sengaja ingin bicara berdua dengan Jungkook.


Pasalnya, berapa saat yang lalu Jimin tiba-tiba mengingat aktifitas terakhir yang ia lakukan dengan Taehyung sesaat sebelum Jungkook memecahkan guci dengan wajahnya yang luar biasa terkejut.


Jimin langsung menduga satu kesimpulan yang mungkin mengakibatkan pemuda bergigi kelinci di depannya ini sampai mati-matian menghindarinya sejak tadi siang. Dan kesimpulan Jimin adalah,


Jungkook sedang salah paham.


Itulah sebabnya Jimin berniat mendatangi Jungkook langsung ke divisi kerjanya mendekati jam pulang kerja seperti sekarang, agar ia bisa bicara dengan pemuda itu tanpa mengganggu aktifitasnya. Tapi belum juga sampai, dari kejauhan Jimin melihat pemuda Jeon itu masuk ke pantry dengan wajah dongkol. Jimin berubah pikiran dan memilih diam-diam mengikuti jungkook sampai ke pantry.


Dari gumaman Jungkook yang Jimin dengar sejak pemuda itu masuk ke sana, semakin membuat Jimin yakin kalau dugaannya benar. Jungkook sedang salah paham padanya dan Taehyung. Tapi bagaimanapun juga, Jimin tetap ingin mendengarnya langsung dari bibir Jungkook.


"Yakin tidak mau jawab nih? Padahal aku yang sedang bertanya loh." Tanya Jimin lagi setelah hening yang cukup lama.


"Baiklah kalau begitu. Sepertinya kau lebih suka di tanya langsung oleh Kim Daepyeonim." Lanjut Jimin sambil menyeringai. Dan Jungkook cukup pintar untuk tahu dia sedang diancam.


Jimin baru saja hendak melangkah pergi saat tiba-tiba Jungkook menahan lengannya dengan kuat.


"Aku tidak akan bilang." Ujar Jungkook dengan napas memburu.


Sumpah, Jungkook hanya ingin menyelesaikan magangnya dengan damai. Ia tidak mau mengecewakan Yoo Ra yang telah berjuang membiayai kuliahnya, bahkan di saat gadis itu juga harus menabung untuk biaya pernikahan. Jika karena hal ini Jungkook sampai gagal, lebih baik dia bunuh diri saja.


"Aku janji tidak akan memberitahu siapapun kalau sebenarnya kalian berdua adalah g--gay." Jungkook kembali menyakinkan dengan kata terakhirnya yang hampir tak terdengar.


Jimin melotot karena luar biasa tak percaya. Ia tahu kalau Jungkook salah paham padanya. Tapi dia tidak menyangka kalau pemuda itu sungguh berani mengatainya dengan sevulgar itu.


“Jadi tolong biarkan aku bekerja dengan tenang. Kumohon!” Jungkook terlihat memohon dengan mata yang berkaca.


Jimin mengernyit melihat Jungkook bersikap demikian. Urung sudah niatnya untuk memukul kepala Jungkook yang telah berani mengatai dirinya dengan semena-mena. Melihat mata pemuda itu yang berkaca-kaca membuat Jimin hampir melepaskan Jungkook begitu saja. Tapi pemuda bergigi kelinci yang bahkan lebih tinggi darinya itu malah mengucapkan kalimat yang membuat Jimin berubah pikiran.


"Aku akan lakukan apapun yang Anda mau. Sungguh. Aku janji!"


"Benarkah?" Nah kan, Jimin sudah tergoda dengan tawaran Jungkook.


"iya."


"Apapun?"


"Apapun!"

__ADS_1


Dan Jimin kini tersenyum puas karena baru saja mendapatkan angin segar untuk melancarkan rencananya.


To be Continued...


__ADS_2