
Kim Taehyung melangkah masuk begitu pintu rumah terbuka. Setelah melepas sepatu dan menaruhnya di rak, Ia langsung menghampiri sofa ruang tamu dan menghempaskan diri di sana. Diikuti Jimin yang juga melakukan hal serupa, tepat di hadapannya.
“Jimin-ah.”
“Hm?”
“Terima kasih sudah menemaniku ke rumah sakit. Dan terima kasih sudah membiarkanku menjenguk Harabeoji, tadi.”
“Jangan begitu. Justru harusnya aku minta maaf karena hanya memberimu waktu sebentar.”
“Tidak masalah. Yang terpenting aku sudah memastikan Harabeoji baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup. Lagipula, aku tahu statusku yang masih belum berubah.” Taehyung berdecih mengingat kebebasannya kini tak ubahnya sebuah omong kosong. “Aku masih harus sembunyi karena para penjahat itu belum tertangkap. Aku tahu itu.”
Untuk beberapa saat tak ada pembicaran apapun lagi. Taehyung juga sudah terlihat mengantuk, efek obat yang diminumnya setelah makan siang bersama Jimin tadi. Ia bahkan hampir tertidur andai suara Jimin tak menginterupsi, memaksanya kembali membuka mata.
“Taehyung,”
“Apa?”
“Jangan tidur sambil duduk begitu. Masuklah dan tidur di dalam.” Kata Jimin yang tiba-tiba berdiri membuat Taehyung harus mendongak untuk menatapnya.
“Aku harus ke kantor sekarang. Ada beberapa berkas yang perlu kau tinjau ulang. Nanti akan kubawakan berkasnya sepulang dari kantor.” Jimin menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat Taehyung suarakan.
“Kau yakin sudah sembuh? Padahal aku mengizinkanmu mengambil cuti sampai benar-benar sehat.”
“Jangan berlebihan, Tae. Aku bahkan mengantarmu ke rumah sakit barusan. Aku sangat sehat sekarang. Sungguh.” Jimin menyambar kunci mobil yang sebelumnya ia taruh di atas meja.
“Kau tidak bisa tinggal lebih lama lagi?”
“Untuk apa?” tanya Jimin sementara ia masih membungkuk, sibuk memakai sepatu. “Kau butuh sesuatu?”
“Tidak. Hanya saja… bukankah semalam kau bilang ingin bicara denganku?”
Jimin sempat mematung beberapa saat. Tidak menyangka kalau Taehyung masih ingat apa yang dia katakan semalam. And yeah, Jimin tahu betul kalau setelah ini Taehyung akan membombardirnya dengan pertanyaan sampai ia mau bercerita. Sayangnya, Jimin benar-benar sedang tidak ingin membahasnya. Dia telah memutuskan untuk bertahan lebih lama lagi tanpa harus membongkarnya dihadapan Taehyung.
Dan beruntung, ia sedang memunggungi Taehyung sekarang. Jadi sahabatnya itu tidak sempat melihat ekspresi kagetnya barusan. Dan keberuntungan itu jelas memperlancar rencananya untuk berpura-pura bodoh. Jimin berbalik sambil menelengkan kepala seolah sedang berusaha mengingat sesuatu.
“Aku bilang begitu?”
“Ya. Semalam kau bilang ingin bicara hal penting denganku. Tidak ingat?”
Dahi Jimin berkerut semakin dalam untuk meyakinkan Taehyung bahwa dia tidak mengingat apapun. “Sepertinya kau salah dengar, Tae.”
“Maksudmu aku tuli?”
“Bukan, bukan begitu.” Andai Jimin tidak melihat gurat serius di wajah Taehyung, mungkin ia sudah tertawa keras sekarang. “Baiklah, anggap saja aku yang melantur gara-gara sakit kepala.”
“Kau hanya sakit kepala. Bukan amnesia. Jadi jangan coba beralasan.”
Oke. Jimin sadar dia sedang menghadapi siapa. Kim Taehyung tidak akan menyerah begitu saja. Jimin tahu itu. Jadi dia harus lebih pintar agar bisa lolos.
“Jim, aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu. Sekarang duduk, dan katakan-“ suara Taehyung terhenti saat tiba-tiba Jimin membuat gestur tangan untuk meminta Taehyung diam sebentar.
Jimin kemudian merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel untuk kemudian ia tempelkan ke telinganya. Bagus, sekarang Jimin berakting seolah ponsel di sakunya bergetar karena seseorang meneleponnya.
Setelah berbicara sebentar dengan seseorang di seberang -yang sebenarnya tidak ada, Jimin kemudian menatap Taehyung dengan ekspresi menyesal. “Maaf Tae, aku harus pergi sekarang. Ada klien kita yang tiba-tiba datang ke kantor. Aku tidak boleh membuat mereka menunggu terlalu lama atau mereka akan kecewa dua kali karena yang ingin mereka temui sebenarnya adalah kau, bukan aku.”
Jimin sudah memegang gagang pintu saat ia kembali berujar “Password rumahmu masih sama, kan? Aku akan ke sana sebentar setelah pulang kerja untuk mengambilkan beberapa pakaian ganti untukmu. Tidak enak kalau pakai baju Jungkook terus. Ingin kuambilkan barang lain?”
“Jimin, dengar-“
“Oke, aku anggap tidak ada. Aku buru-buru, Tae. Maaf. Sampai jumpa nanti malam.”
“Hei!!” Taehyung berteriak, sungguh ingin mengumpat pada Jimin karena sama sekali tidak memberinya waktu untuk bicara. Tapi percuma saja, pria itu bahkan sudah hilang di balik pintu. Jadi, Taehyung hanya bisa membuang napas kasar untuk meluapkan emosinya. Tolong ingat kalau Jimin masih sekretaris Taehyung. Bawahan mana yang berani bersikap kurang ajar begitu pada atasannya? Tidak ada. Kecuali Park Jimin, tentu saja.
Di satu waktu, Jimin bisa bersikap sangat profesional sebagai bawahan. Tapi di waktu lain, ia bisa jadi kurang ajar seperti sekarang. Oh, God! Taehyung jadi menyesal kenapa dulu ia meminta Jimin untuk bersikap santai layaknya sahabat jika tidak ada orang yang melihat. Jadinya begitu kan?! Jimin jadi kebablasan. Sekarang jadi tidak ada bedanya mana yang Daepyeonim, mana yang sekretaris.
__ADS_1
“Akan kubuat kau jadi pengangguran, Park Jimin.” Gumam Taehyung yang kini menyandarkan kepalanya pada punggung sofa sambil memejamkan mata. Memilih pasrah saja pada kelakuan ajaib Jimin dan memutuskan menyerah pada rasa kantuk yang kini semakin menderanya.
💜💜💜
Bukan tanpa alasan Jimin meminta Taehyung untuk tidak tidur dalam kondisi duduk di sofa. Salah satunya adalah karena saat bangun nanti, ada kemungkinan badan terserang pegal jika posisi tidurnya tidak nyaman. Dan Taehyung merasakannya sekarang. Ia menyesal tidak mengikuti saran Jimin, karena sekarang lehernya terasa sangat sakit dan sulit digerakkan.
Taehyung mengangkat tangannya ke depan wajah dan memeriksa arlojinya untuk mengetahui pukul berapa sekarang. Matanya sukses melebar saat menyadari ia baru tidur sekitar tiga puluh menit saja. “Hanya tiga puluh menit tapi leherku rasanya mau patah? Luar biasa sekali sofa Jeon Yoo Ra ini.” Gumam Taehyung sembari tangan kirinya memijat pelan leher dan bahunya.
Omong-omong tentang Jeon Yoo Ra, Taehyung jadi heran kenapa gadis itu belum pulang juga. Padahal Yoo Ra pergi sejak pagi sekali setelah selesai sarapan. Dan sekarang sudah hampir sore, tapi gadis itu belum kelihatan batang hidungnya.
“Memangnya kencan bisa selama itu? Apa saja yang mereka lakukan? Buang-buang waktu.” Gumam Taehyung dengan nada ketus yang tak jelas apa penyebabnya. Yang jelas, Taehyung lupa kalau kencan bisa membuat seseorang lupa waktu. Oh, oke, bukan lupa, tapi tidak tahu. Taehyung memang tidak pernah pergi kencan, jadi maklum saja kalau dia tidak tahu.
Tapi tunggu dulu, tidak pernah kencan bukan berarti tidak laku. Andai Taehyung adalah barang dagangan, ia jelas masuk dalam kategori limited edition yang high class. Dan sudah pasti banyak kaum hawa di luar sana yang menginginkannya. Masalahnya ada pada Taehyung sendiri. Si limited edition ini sendiri yang tidak mau dirinya dimiliki oleh siapapun.
Dan mengenai Jeon Yoo Ra, terus terang saja Taehyung masih ragu. Ia sedang berusaha memperjelas apa yang ia rasakan pada gadis itu saat ini. Apa itu sungguhan cinta, atau hanya perasaan sesaat yang akan hilang dengan sendirinya. Perasaannya pada Yoo Ra belum menemui titik terang. Masih abu-abu.
Tapi ada satu perasaan yang kini sudah bisa Taehyung kenali dan ada sangkut pautnya dengan Yoo Ra. Apa lagi kalau bukan perasaan kesal. Seperti sekarang, rasa kesalnya seolah tak bisa ia kendalikan begitu mengingat gadis itu tidak ada di rumah dengan alasan pergi kencan.
Kencan.
Oh, tolong jangan bahas hal itu sekarang.
Taehyung mendesah kasar, membuyarkan lamunan tentang Yoo Ra beserta kencan sialannya. Ia memilih fokus meregangkan otot-ototnya yang kaku saat tiba-tiba pintu di sebelah kanannya terbuka, membuatnya sedikit berjingkat dan harus susah payah menoleh ke sumber suara.
“Oh, kau di rumah, Taehyung-ssi? Bukankah hari ini kau ada jadwal ke rumah sakit? Tidak jadi ya?” tanya seseorang yang baru saja memasuki rumah. Itu Jeon Yoo Ra. Gadis itu kini membuka sneakers-nya dan menaruhnya di rak sepatu.
“Kau sendiri baru pulang?” bukannya menjawab, Taehyung malah balik bertanya. Melihat gadis itu datang dengan wajah berseri-seri seolah menggelitik otaknya untuk mengingat kalimat ‘kencan menyenangkan’ yang tadinya ingin ia buang jauh-jauh.
“Iya, aku ada urusan sebentar tadi.”
“Sebentar, katanya?”
Taehyung otomatis melihat jam tangannya. “Enam jam tiga puluh dua menit, kau bilang sebentar?”
Yoo Ra mengernyit. Ia jelas merasa aneh dengan pertanyaan Taehyung. Jangan lupakan tatapan garang dan nada bicara Taehyung yang terdengar sinis. Yoo Ra jadi merasa seperti anak perawan yang tertangkap basah pulang tengah malam oleh ayahnya.
“Masalah satu-satunya adalah kau pergi kencan sedangkan aku justru menunggumu seperti orang bodoh di sini.”
“Masalahnya? Kau seperti tuan rumah yang tidak punya tata krama karena meninggalkan tamunya sendirian selama berjam-jam tanpa meninggalkan sesuatu yang bisa di makan.”
Oh, demi apapun itu adalah alasan konyol. Tapi lebih konyol lagi jika Taehyung jujur kalau dirinya sedang kesal setengah mati karena Yoo Ra pergi kencan sampai berjam-jam dan pulang dengan wajah sumringah seolah dunia dan isinya adalah miliknya, berdua dengan pacarnya tentu saja. Ough!
Sementara itu, Yoo Ra masih berdiri dengan wajah bingung. Hanya sebentar, karena detik berikutnya gadis itu langsung tertawa keras di depan Taehyung. “Jadi intinya, kau sedang lapar? Begitu, Taehyung-ssi?”
Taehyung tidak menjawab. Ia hanya berdehem kecil untuk mengiyakan. Meski sebenarnya ia tidak benar-benar lapar karena tadi ia sudah sempat makan siang bersama Jimin.
“Harusnya kau bilang dari tadi, Taehyung-ssi. Jangan malah berputar-putar begitu.” Kata Yoo Ra di sela tawa kecilnya. “Tunggu sebentar, akan kubuatkan sesuatu untukmu.”
Taehyung menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Baiklah, tidak terlalu buruk. Lebih baik disangka marah karena kelaparan daripada kedapatan marah karena sesuatu hal lain. Cemburu misalnya. Terlebih jika cemburu saat perasaannya bahkan bertepuk sebelah tangan. Sangat memalukan.
Taehyung menggelang pelan, membuyarkan lamunan singkatnya, lalu menyeret kedua kakinya mengekori langkah Yoo Ra menuju dapur. Sesampainya di sana, Taehyung melihat Yoo Ra sudah sibuk mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas. Gadis itu telah menanggalkan sweater yang tadi dipakainya dan menggantinya dengan apron masak bergambar salah satu boygrup kesukaannya. Apa itu namanya? Oh ya, BTS.
Hah! Lucu sekali. Gadis itu amnesia berapa umurnya.
“Nasi goreng kimchi, tidak masalah?” Yoo Ra berbalik sebentar, bertanya pada Taehyung yang sudah duduk manis di meja makan sambil bertopang dagu.
“It’s okay.”
Tak ada lagi yang bersuara. Yoo Ra maupun Taehyung lebih memilih diam dan fokus pada kegiatan masing-masing. Yoo Ra yang sibuk memasak dan Taehyung yang sibuk memperhatikan Yoo Ra.
Tak lama kemudian, kesibukan Taehyung harus berhenti begitu Yoo Ra menghampiri meja makan dengan sepiring nasi goreng kimchi ditangannya. Gadis itu lalu meletakkan nasi goreng buatannya di hadapan Taehyung. Bau harum masakannya sukses membangkitkan kembali rasa lapar di perut Taehyung.
“Kau tidak makan?” tanya Taehyung begitu melihat Yoo Ra duduk tenang di depannya tanpa melakukan apapun.
“Tadi aku sudah makan siang.”
__ADS_1
“Ohh.”
“Eum... Taehyung-ssi?”
“Hm.”
“Suka?”
“Apanya?” kutuk saja mulut Taehyung yang licin itu. Ya sudah tentu nasi goreng kimchinya lah... Apa lagi?
“Nasi goreng kimchinya... Apa lagi?”
Nah, kan.
“Biasa saja.”
Oke. Yoo Ra tak bertanya lagi. Ia sudah mulai terbiasa mendengar komentar Taehyung yang begini. Ia artikan sendiri jawaban ‘biasa saja' barusan dengan ‘enak sekali’ setelah melihat sendiri pria di depannya ini memakan nasi gorengnya dengan lahap meskipun dibalut dengan sikap makannya yang tenang. Tipikal orang kaya yang sudah dua hari tidak makan, tapi tetap mengedepankan table manner demi menjaga image-nya. Kim Taehyung sekali.
“Hari ini kalian berdua jadi ke rumah sakit?” tanya Yoo Ra begitu Taehyung menghabiskan separuh nasi gorengnya.
“Hm, Jadi.”
“Oh ya? Lalu bagaimana hasilnya?”
“Minggu depan baru bisa lepas perban.”
“Oh..”
Hening sejenak.
“Taehyung-ssi?”
Taehyung tidak menyahut, tapi Yoo Ra tahu pria itu mendengarnya.
“Itu... Bukankah luka tidak boleh terlalu lama tertutup? Nanti tidak cepat kering.”
Berbeda dari sebelumnya, kini Taehyung melemparkan tatapan pada Yoo Ra yang kurang lebih artinya “Kalau itu aku juga tahu! Jangan coba-coba mengajariku! Memangnya aku anak TK?!”
“Lukanya hanya ditutup saat beraktifitas. Kalau malam lukanya akan dibiarkan terbuka.”
Taehyung baru akan meyuap kembali nasi goreng ke mulutnya saat tiba-tiba Yoo Ra kembali bersuara “Tapi kalau di buka saja tanpa diberi obat juga bisa infeksi loh...”
Terpaksa Taehyung harus meletakkan kembali sendoknya sambil memutar bola matanya malas. “iya... Tahu. Itulah kenapa dokter memberikan salep dan obat lain juga agar lukanya tidak terkena bakteri saat dibuka. Sudah? Haruskah kujelaskan juga cara memakai salepnya?!”
Bibir Yoo Ra mengerucut sebal. Padahal ia hanya mencoba mengingatkan. Tapi respon Taehyung dingin sekali. Yoo Ra jadi penasaran, Taehyung manusia tulen bukan sih? Atau jangan-jangan Taehyung itu siluman beruang musim dingin yang sedang menyamar?
“Aku duluan.” Ujar Yoo Ra sambil melepas apron masaknya.
“Mau ke mana?”
“Mandi.”
“Mandi?” Taehyung mendorong piringnya yang kini sudah kosong lalu beralih melihat arlojinya. “Seawal ini? Sekarang baru pukul tiga.”
Yoo Ra tidak langsung menjawab. Tidak tahu kenapa pertanyaan Taehyung membuatnya langsung mengingat Seokjin. Ia jadi harus berusaha keras menyembunyikan senyum lebar akibat perutnya yang seolah menyimpan ratusan kupu-kupu yang beterbangan.
“Soalnya... Tunanganku akan menjemputku sebentar lagi.”
“Ohh... “ Taehyung mengangguk dua kali. Namun kemudian ia mendadak merasa memiliki gangguan pendengaran akut. Apa Taehyung salah dengar?
“Apa tadi katanya?”
Detik berikutnya, dengan kondisi jantung yang berdegup menyakitkan, dan wajahnya yang sulit diartikan, Taehyung menatap wajah Yoo Ra yang kini justru bersemu merah.
“Apa barusan kau bicara tentang... Tunangan?”
__ADS_1
To be continued...