Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
LIMA


__ADS_3

“..... Jadi Oppa sungguh tidak bisa datang?..... Oh, benarkah?..... Ah tidak, aku hanya sedang masak banyak makanan, jadi ku pikir akan menyenangkan kalau Oppa bisa datang dan makan malam bersama..... Begitu?..... Baiklah tidak apa-apa, mungkin lain kali..... Hm? Tidak kok. Aku tidak marah..... Iya, aku mengerti. Oppa juga jangan terlalu capek..... Baiklah, jaga kesehatan Oppa..... Sampai jumpa.”


Yoo Ra mendengus pasrah. Ia memandang layar ponselnya dengan wajah merana. Sudah beberapa hari ini tunangannya sulit sekali diajak bertemu. Kalau hanya sekedar menelepon sih bisa tiga sampai lima kali sehari. Masih sama seperti biasanya. Tapi hanya mendengar suaranya saja sepertinya tak cukup membuat Yoo Ra puas.


Padahal pria yang ia cintai itu juga sering menyempatkan diri melakukan panggilan video di sela waktu luangnya, tapi entahlah, bahkan wajah tampannya yang terpampang jelas di layar ponsel tidak cukup ampuh mengusir rasa rindu yang kepalang menggunung di hati Yoo Ra.


Obat rindunya hanya satu. Bertemu.


Tapi sepertinya pria yang setahun lalu menyematkan cincin pertunangan di jarinya itu tak memiliki perasaan rindu sebesar yang Yoo Ra rasakan sekarang. Pria itu terlalu sibuk dengan dunianya.


Yoo Ra tau akan jadi begini. Sejak sepuluh tahun yang lalu saat pria itu memutuskan mengejar mimpinya menjadi seorang dokter, Yoo Ra yakin situasi seperti sekarang lambat laun akan ia rasakan. Tapi meskipun sudah mempersiapkan hati sebaik mungkin, perasaan sedih karena di nomor dua-kan tetap membuatnya sesak.


“Ini adalah mimpiku, Yoo Ra. Lagipula aku juga ingin menjadi lelaki mapan saat nanti melamarmu menjadi istriku. Aku ingin membuatmu dan Jungkook hidup bahagia nantinya. Keluarga kecil yang bahagia. Percayalah, aku sedang menata masa depan kita sekarang. Ku mohon bersabarlah, aku akan selalu mencintaimu.”


Jika ingat kalimat itu, Yoo Ra tak akan bisa lagi menawar. Bahkan kata ‘berkencan’ harus rela ia buang jauh dari otaknya setiap kali harus bertarung dengan kata ‘sibuk’, ‘banyak pasien’ atau ‘operasi’. Karena sudah pasti Yoo Ra akan kalah.


Buktinya sekarang. Yoo Ra sudah memasak berbagai macam makanan untuk menarik minat tunangannya. Setidaknya ia berharap lelaki itu akan kasihan melihat perjuangannya dan merasa sungkan untuk menolak.


Tapi?


Rencana sempurna Yoo Ra itu lagi-lagi harus dilumpuhkan oleh ‘operasi cito’.


Yoo Ra mendengus. Melempar pandangannya ke meja makan yang sudah penuh dengan makanan. Mau diapakan makanan sebanyak itu? Dia dan Jungkook belum tentu bisa menghabiskan semuanya.


Dan bicara soal Jungkook, Yoo Ra seketika melihat jam dinding di ruang makan. Hampir jam tujuh malam tapi si tengil itu belum juga pulang. Masa iya, pemagang yang baru pertama masuk kerja mendapat perintah lembur?! Tidak masuk akal.


Baru saja Yoo Ra berniat menelepon Jungkook, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Ia segera berlari untuk membukakan pintu. Yoo Ra yakin itu adiknya. Dan jika benar, ia berniat menyeret bocah itu langsung ke meja makan. Pokoknya makanan yang ia masak harus habis. Jika tidak, ia sudah sesumbar dalam hati untuk mogok memasak selama seminggu!


Persetan. Dia sudah terlanjur kesal.


Begitu pintu terbuka, Jungkook langsung menghambur pada Yoo Ra. Memeluk kakaknya itu dengan sangat erat. Mengayunkan tubuh Yoo Ra ke kanan dan ke kiri layaknya seorang anak yang lama tak bertemu orang tuanya.


“Noona-ku tersayang..... Aku rindu sekali...!”


Mata Yoo Ra mengerjap lucu. Jungkook baru magang sehari dan sudah bilang rindu?


“Kau habis melakukan kesalahan apa di tempat kerjamu? Atau kau begini karena ingin meminta sesuatu?” Tanya Yoo Ra yang sudah hafal dengan kelakuan adiknya.


Jungkook memejam erat. Tebakan kakaknya selalu tepat sasaran. Tapi belum sempat ia membela diri, ia sudah dikejutkan oleh suara Yoo Ra dan Taehyung yang memekik bersamaan.


“KAU??!!!”


“KAU LAGI??!!!”


Jungkook langsung melepas pelukannya pada Yoo Ra dan menemukan kakak perempuannya itu sedang menunjuk wajah Taehyung yang berdiri berdampingan dengan Jimin di belakangnya. Tak hanya Yoo Ra, Taehyung pun melakukan hal serupa dengan ekspresi terkejut yang sama.


“Noona dan Daeyeonim sudah saling kenal?” Tanya Jungkook seraya menurunkan tangan Yoo Ra yang masih menunjuk wajah Taehyung. Tidak sopan sekali pikirnya. Bagaimanapun juga Taehyung adalah atasannya, meskipun sekarang mereka sudah tidak lagi berada di kantor.


“Bukan kenal, hanya tidak sengaja bertemu tadi pagi.” Jimin yang menjawab dengan senyum kikuk, merasa sungkan lantas menurunkan tangan Taehyung yang masih dengan arogan menunjuk wajah Yoo Ra.


Senyum Jimin mendadak hilang saat mendapat tatapan tajam dari Taehyung dan Yoo Ra. Mereka kesal karena Jimin mengungkit kejadian di lobby tadi pagi.


“Sedang apa kau di sini?” Tanya Taehyung pada Yoo Ra dengan tetap bersikap stay cool.


Yoo Ra mendecih, “Harusnya aku yang tanya begitu. Ada urusan apa datang ke rumahku?”


“Rumahmu?”


“Ya. Rumahku!”


Taehyung memelototi Jimin meminta penjelasan. Tapi pria itu hanya menggeleng cepat seolah mengatakan “maaf, aku tidak tahu soal ini.”


Jungkook berdehem mencairkan suasana yang mulai tegang, “Begini saja, kita bicarakan di dalam. Daepyeonim, sekeretaris Park, silakan masuk.” Ujarnya sambil mendorong pelan bahu Yoo Ra memasuki rumah, memberi jalan untuk dua tamunya.


“Silakan duduk. Tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri.” Ujar Jungkook dengan senyum lebar dan setelahnya langsung melesat ke arah dapur.


Yoo Ra mendelik tak terima mendengarnya. Dan semakin tak terima lagi saat melihat Taehyung dan Jimin justru menjatuhkan bokong mereka dengan santainya di sofa ruang tamu seakan menyambut baik kata-kata Jungkook barusan.


“Jimin-ah, kau yakin menyuruhku tinggal di sini?” Tanya Taehyung sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah dengan pandangan tidak suka. Terkesan meremahkan.


Jimin tidak menjawab. Matanya justru melirik ke arah Yoo Ra yang berdiri tak jauh dari sofa. Wajah gadis itu kelihatan dongkol setengah mati mendengar kalimat Taehyung yang terkesan menghina.


Yoo Ra bahkan tak sadar barusan Taehyung mengatakan akan tinggal di rumahnya. Gadis itu terlalu fokus pada tingkah Taehyung yang menyebalkan dan sok kaya. Meski orang buta pun akan tahu kalau Taehyung sungguhan kaya raya cukup dengan mencium aroma tubuhnya saja. Parfum mahalnya bisa jadi seharga tempat tidur milik Yoo Ra.


Masih bisa tertangkap jelas di mata Yoo Ra saat Taehyung merebahkan punggung di sandaran sofa lalu detik berikutnya pria itu kembali ke posisi semula sambil menepuk punggungnya seolah baru saja terkena kotoran akibat menyenderkan punggung di sana.


Juga ketika pria itu mencolek nakas kecil di samping tempat duduknya dengan jari telunjuk lalu langsung membersihkannya sambil memasang wajah jijik. Seolah meja kecil tempat menaruh lampu duduk itu mengendapkan debu setebal tiga sentimeter.


Tengil sekali.


“Kau tahu peternakan Harabeoji yang di New Zealand? Bahkan kandang sapinya saja lebih bagus dan bersih daripada rumah ini.” Taehyung kembali bicara. Kali ini dengan suara rendah di dekat telinga Jimin.

__ADS_1


Sukses membuat Jimin menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya komat kamit menyumpahi Taehyung tanpa suara sambil melirik ke arah Yoo Ra. Kali ini ia harus rela menumbalkan diri menjadi tameng jika nanti gadis itu tiba-tiba kalap dan melempar sofa single di depannya ke muka Taehyung.


Dan benar saja. Detik berikutnya terdengar suara Yoo Ra menggelegar seperti petir di siang bolong. Sampai-sampai Jungkook yang baru datang dari dapur, hampir saja menjatuhkan nampan berisi dua cangkir teh yang ia bawa karena saking kagetnya.


“Apa kau bi-LANG BARUSAN DASAR PRIA MESUM!!!”


💜💜💜


“Kau sudah gila?!”


“Ayolah Noona, menambah satu orang lagi di rumah ini tidak akan membuat kita mati kekurangan oksigen ka- Akh!!” Jungkook menggosok ujung kepalanya yang baru saja digampar Yoo Ra.


Mereka berdua ada di kamar Jungkook sekarang. Yoo Ra hampir saja meneriakkan seluruh nama hewan di kebun binatang ke wajah Taehyung jika saja Jungkook tidak lebih dulu membekap mulutnya dan menyeretnya menjauh dari ruang tamu. Menyisakan dua orang pria di sana yang terlihat syok melihat tingkah bar-bar Yoo Ra.


“Di mana otakmu sampai bisa-bisanya berpikir membawa pria asing untuk hidup satu atap bersama kakak perempuanmu, hah?”


“Dia bukan pria asing Noona, dia Daepyeonim di tempat kerjaku. Dia adalah Kim Taehyung, cucu semata wayangnya tuan milyader Kim Ho Jin. Dia itu adalah salah satu kandidat pewaris kerajaan bisnis HOJIN Group. Nenek penjual pisang di persimpangan gang pun juga pasti tahu siapa itu Kim Taehyung. Asal usulnya sangat jelas, Noona. Dia bukan orang asing.”


Yoo Ra memijat pangkal hidung, pusing sendiri mendengar kalimat panjang adiknya. Percuma saja ia menyekolahkan Jungkook tinggi-tinggi kalau adiknya itu masih saja berotak udang.


“Maksudku bukan begitu bodoh. Dia itu pria dan aku wanita. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?”


Jungkook menepuk jidatnya pelan lalu mendekati Yoo Ra yang duduk di tepi ranjang. “Terjadi apa-apa yang bagaimana?Kan barusan aku sudah ceritakan semuanya, Noona.” Ia menjeda kalimatnya lantas melirik ke arah pintu, memastikan daun pintunya tertutup rapat dan dua pria di luar sana tidak dapat mendengar suaranya.


“Kedua pria itu bukan jenis pria yang tertarik dengan wanita. Mereka berdua adalah se-pa-sang ke-ka-sih. Andaikan Noona telanjang di depan Kim Taehyung pun, dia tidak akan tergoda.” Bisik Jungkook di telinga Yoo Ra.


Yoo Ra hampir saja memukul kepala Jungkook lagi, tapi pemuda itu sudah lebih dulu menghindar sambil cengengesan.


“Jadi bagaimana, Noona? Tidak apa-apa ya? Sekretaris Park bilang, itu tidak akan lama. Katanya hanya sampai kakek Daepyeonim menyejutui hubungan mereka. Ku dengar tuan Kim Ho Jin sedang dirawat di rumah sakit. Kasihan kakek tua itu, mungkin dia syok mengetahui hubungan terlarang cucunya. Apa Noona tidak bersimpati?” Tanya Jungkook sambil melirik kakaknya yang terlihat berpikir.


“Tapi kenapa harus kau? Kenapa harus kita yang membantu mereka? Kenapa... Kenapa harus di rumah kita, Jungkook?!”


“Karena itu salahku. Aku yang memergoki mereka, Noona. Aku satu-satunya manusia di kantor yang tahu hubungan gelap mereka. Mungkin itulah sebabnya sekretaris Park memilih meminta bantuanku dibanding orang lain.”


Yoo Ra mengerang tertahan. Kenapa harus Jungkook sih? Kalau begini kan dia jadi ikut terseret. Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya kalau mengijinkan pria bernama Kim Taehyung itu tinggal di rumahnya.


Pasalnya belum apa-apa sikap Taehyung sudah membuat Yoo Ra kesal setengah mati. Kejadian buruk tadi pagi saja belum hilang dari otaknya. Dan pria itu sudah menambah kekesalan Yoo Ra lagi dengan mengatai rumah Yoo Ra tidak lebih baik dari kandang sapi. Sial!


Bertemu satu hari saja Taehyung sudah berani membandingkan rumah Yoo Ra dengan kandang sapi. Besok bukan tidak mungkin pria itu akan membandingkan Yoo Ra dengan penghuni kandangnya sekalian.


Tapi bagaimanapun juga, meski jengkel luar biasa, Yoo Ra tetap bukan tipe gadis yang acuh pada penderitaan orang lain. Terlebih jika orang lain itu membutuhkannya dan dia bisa membantunya. Yoo Ra tidak sedang membicarakan Taehyung, tapi kakeknya.


Maka dengan berat hati, Yoo Ra melempar pandang pada Jungkook yang masih senantiasa menunggu jawaban darinya.


Detik berikutnya Jungkook menghembuskan napas lega saat melihat kakaknya menganggukkan kepalanya dengan pasrah.


💜💜💜


“Sumpah Tae, aku tidak tahu kalau Jeon Jungkook adalah adiknya gadis lobby tadi pagi.”


“Kau bilang sudah memeriksa latar belakangnya. Bagaimana bisa tidak tahu?”


“Aku kan hanya membaca, bukan melihat foto. Mana aku tahu kalau kakak Jungkook yang bernama Jeon Yoo Ra adalah gadis yang sama yang tadi pagi mempermalukanmu.”


“Ap- Apa kau bilang? Mempermalukanku?!”


“Memang iya kan? Kau mempermasalahkan ini karena masih malu mengingat insiden ritsleting tadi kan?” Desak Jimin sambil mengulum senyum.


“Tutup mulutmu!” Taehyung melengos menyadari alasannya terlalu mudah dibaca oleh Jimin. Siapapun yang berada di posisi Taehyung pasti merasakan hal yang sama. Malu dan canggung luar biasa.


“Aku tidak suka rumahnya. Bahkan tidak lebih bersih dari- “


“Dari kandang sapi di peternakan New Zealand milik Harabeoji?” Sela Jimin cepat membuat Taehyung berdehem salah tingkah.


Jimin tak habis pikir kenapa Taehyung bilang begitu. Sebenarnya rumah Jungkook cukup nyaman ditinggali. Juga tidak sekotor yang Taehyung bilang tadi. Hanya saja memang luasnya tak seberapa dan perabotannya terbilang sederhana untuk pria sekelas Taehyung yang terbiasa dengan kemewahan.


“Jangan mengulang kalimat itu lagi Tae. Atau kau tidak akan selamat untuk yang kedua kalinya. Kakaknya Jungkook terlihat menyeramkan kalau sedang marah.” Bisik Jimin membuat Taehyung berdecih.


“Dan rumah yang kau bilang tidak lebih bagus dari kandang sapi ini akan jadi tempat tinggalmu beberapa waktu ke depan. Jadi cobalah untuk membiasakan diri.”


“Tapi-“


“Tak ada tempat lain yang lebih cocok menjadi tempat persembunyian sementara untukmu kecuali rumah ini, Tae. Tapi aku janji, begitu Namjoon hyeong menemukan tempat lain yang lebih sesuai dengan seleramu, aku akan segera memindahkanmu dari sini. Untuk sekarang percayalah kalau rumah ini adalah tempat bersembunyi sementara yang paling aman untukmu.”


“Jim-“


“Tidak ada tawar menawar, Tae. Titik!”


Taehyung menghembuskan napas pasrah. Bagaimanapun juga ini adalah keputusan yang sudah dipikirkan matang-matang oleh Jimin, Namjoon, dan Yoongi.


Mereka pasti sudah bekerja keras untuk berusaha melindungi dirinya dari kejaran para penjahat yang mengincar nyawanya. Sebagai orang yang berusaha dilindungi, bukankah seharusnya dia menurut dan bekerja sama?!

__ADS_1


Ada sekitar lima menit ruang tamu itu mendadak sepi dari perbincangan. Sampai ketika suara pintu kamar terbuka membuat Jimin dan Taehyung yang tadinya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, otomatis bersamaan melihat ke arah sumber suara.


Jungkook keluar dari kamar dengan senyum mengembang, disusul Yoo Ra yang berjalan dibelakangnya dengan raut wajah masam. Perangai bar-bar Yoo Ra sudah hilang entah kemana membuat Jimin bernapas lega.


Mereka akhirnya bisa berbicara serius setelah tiga puluh menit duduk bersama di ruang tamu. Jimin bersyukur tidak ada insiden cakar mencakar atau sejenisnya antara Yoo Ra dan Taehyung. Ia berhasil meyakinkan Taehyung, dan Jungkook sepertinya juga berhasil membujuk Yoo Ra.


Tepat pukul sebelas malam Jimin pamit pulang setelah memastikan Taehyung tidur dengan nyaman di kamar Jungkook. Ia sengaja menunggu hingga sahabatnya itu terlelap dan tidak merepotkan orang rumah dengan permintaan yang aneh-aneh.


“Terimakasih sudah mengantar. Sebenarnya tidak perlu. Ini sudah malam dan udaranya dingin.” Ujar Jimin ketika Yoo Ra mengantarnya sampai ke depan pagar.


“Tidak masalah. Sweeterku cukup hangat”


Senyum Jimin mengembang sekilas. Pria itu kemudian mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana, lantas melangkah dan membuka pintu mobil yang terparkir tepat di depan rumah Yoo Ra.


Tapi Jimin tak segera masuk. Ia memilih menutup kembali pintu itu dan berbalik menatap Yoo Ra yang mengernyit bingung.


“Ada yang tertinggal?”


“Ku rasa Taehyung yang tertinggal.” Jawab Jimin sambil tertawa kecil.


“Dia tidak tertinggal. Kau yang sengaja meninggalkannya.”


“Maaf.”


Yoo Ra mengangkat bahu, “Tidak apa-apa. Aku cukup minta pertanggung jawabanmu kalau dia macam-macam.”


Jimin mengangguk masih sambil tersenyum lebar.


“Terima kasih juga untuk makan malamnya. Masakanmu enak. Dan juga,...” Jimin menjeda sebentar “Maaf, gara-gara Taehyung, kau harus repot memanaskan kembali semuanya. Dia tidak terbiasa makan makanan dingin.”


“Tidak masalah. Aku akan memakluminya malam ini saja. Lagipula aku berhutang pada kalian berdua karena membantuku menghabiskan semuanya.”


“Kau biasa masak sebanyak itu setiap hari?”


“Tidak juga. Hanya...” Yoo Ra mendadak kesal karena teringat kembali pada tunangannya yang super sibuk.


Jimin menyadari perubahan ekspresi di wajah Yoo Ra. Gadis itu terlihat murung. Mungkin terjadi sesuatu dan Jimin memutuskan untuk tidak ingin ikut campur.


“Yoo Ra-ssi?”


“Ya? Ah maaf, aku jadi melamun.”


Jimin kembali tersenyum. Membuat matanya yang kecil berubah menjadi garis lurus. “Aku hanya ingin minta maaf mengenai sikap Taehyung yang keterlaluan. Ku mohon jangan diambil hati.”


“Sayang sekali aku sudah terlanjur tersinggung. Tapi baiklah, aku akan memaafkannya kali ini. Tapi Jimin-ssi, sepertinya kau akan lebih sering meminta maaf padaku kedepannya kalau sikap pacarmu masih saja begitu.”


Seketika Yoo Ra menutup mulutnya yang keceplosan membahas soal hubungan Jimin dan Taehyung. Membahasnya terang-terangan mungkin bisa menyinggung perasaan Jimin. Dan wajah terkejut Jimin adalah jawabannya.


Baru saja Yoo Ra berniat minta maaf, wajah terkejut Jimin sudah berubah menjadi senyuman lebar. Bahkan senyum itu dengan cepat tergantikan dengan ledakan tawa yang membuat Yoo Ra semakin bingung.


“Sepertinya adikmu sudah menceritakan semuanya.” Ujar Jimin di sela tawa yang berusaha ia redam. Bagaimanapun ini sudah malam dan dia tidak ingin mengganggu waktu istirahat para tetangga.


“Tolong jangan salahkan Jungkook. Dia pasti terpaksa menceritakannya karena tahu kalau aku tidak akan mungkin setuju menerima Taehyung-ssi jika ia adalah pria normal yang doyan wanita.”


“Maksudmu kami ini tidak normal?”


Baiklah, Yoo Ra salah bicara lagi. Gadis itu gelagapan sambil mengusap tengkuknya, salah tingkah.


“Maaf Jimin-ssi, maksudku bukan begitu. Aku... hanya-“


“Tidak apa-apa Yoo Ra-ssi. Semua orang pasti berpikir seperti itu tentang kami. Itu wajar. Tapi, boleh aku minta tolong sesuatu padamu?”


“Ya, tentu saja. Katakanlah.” Jawab Yoo Ra mantap. Ia terlalu merasa bersalah untuk menolak permohonan Jimin.


“Tolong rahasiakan ini dari siapapun. Dan jangan mengungkitnya juga di depan Taehyung. Aku mungkin sudah terbiasa, tapi dia tidak. Aku tidak ingin Taehyungku terluka.” Ujar Jimin dengan wajah yang ia buat seserius mungkin, meski perutnya bergejolak menahan tawa yang luar biasa menggelitik.


Yoo Ra mengusap wajahnya. Kalimat Jimin menegaskan bahwa ia sudah benar-benar salah bicara. “Baiklah, aku mengerti. Sekali lagi, maafkan aku.”


Jimin mengangguk lantas berbalik dan masuk ke mobil. Yoo Ra menunduk sekilas ketika pria itu menurunkan kaca mobil sambil tersenyum.


“Aah.. Ini menggelikan!” Gumam Jimin sesaat setelah melajukan mobil meninggalkan rumah Yoo Ra. Tawanya tak bisa lagi dibendung mengingat konyolnya ia saat harus melakoni peran sebagai seorang gay di depan Yoo Ra. Terlebih lawan mainnya adalah Taehyung. Dia bisa mati dicincang kalau sampai pria itu tahu rencana gilanya.


Jangankan Taehyung, Jimin sendiri sampai tak habis pikir bagaimana bisa dirinya memutuskan bersandiwara menjadi seorang penyuka sesama jenis hanya untuk melancarkan rencananya demi melindungi keselamatan Taehyung.


Salahkan Jeon Jungkook, karena kesalahpahaman pemuda itulah yang membuat Jimin akhirnya mencetuskan ide gila menjadi seorang gay.


Bicara soal Jungkook, Jimin jadi tiba-tiba mengingat wajah Yoo Ra. Jimin jadi yakin kalau Yoo Ra hanya terlihat garang di luarnya saja. Sesungguhnya gadis itu memiliki hati yang terlampau baik. Begitupun, Jungkook. Jimin jadi merasa bersalah harus menyeret mereka berdua juga dalam kasus Taehyung. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur basah. Jimin tidak bisa berhenti.


“Maafkan aku, Yoo Ra-ssi...”


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2