
Sayup suara gerimis memasuki ruang dengar Yoo Ra saat dirinya mulai terjaga. Hal pertama yang dilihatnya begitu membuka mata adalah jam digital di atas nakas yang masih menunjukkan angka lima. Ia menggeliat kecil, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri.
Masih terlalu dini untuk memulai hari. Apalagi di luar sana, cuaca seolah mencegah siapapun untuk beranjak dari perduannya. Begitupun dengan Yoo Ra. Ia tergoda untuk kembali menenggelamkan diri dalam hangatnya selimut tebal yang kini membungkusnya hingga dada.
Tapi tunggu sebentar,
Selimut?
Bukankah semalam ia tidur di sofa?
Kenapa bisa ada selimut?
Bahkan sekarang, ia sedang ada di kamarnya sendiri. Bukan di ruang tv.
Mungkinkah...
Yoo Ra bangkit bangun, menyingkap selimut yang tadi melingkupinya lantas berjalan cepat keluar kamar. Hal pertama yang dilihatnya begitu membuka pintu adalah Kim Taehyung yang sedang tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.
Yoo Ra mengernyit. Garis kerut di dahinya semakin jelas saat otaknya mengingat kejadian semalam, ketika Taehyung dengan santainya menerima tawaran basa-basinya untuk tidur di kamar. Membiarkan dirinya tidur di sofa ruang tv yang dingin, sendirian, tanpa bantal dan selimut.
Lalu sekarang, begitu bangun kenapa yang terjadi malah kebalikannya? Mungkinkah makhluk menyebalkan itu yang telah memindahkannya ke kamar? Tapi benarkah? Rasanya sulit dipercaya mengingat hubungannya dengan Taehyung tak sebaik itu.
Tapi jika memang benar bagaimana? Bagaimana ia harus bersikap pada pria itu nanti? Haruskah ia berterima kasih? Atau marah saja? karena bagaimanapun Taehyung adalah orang asing yang telah lancang berani menyentuhnya.
Sempat ada kobaran api di mata Yoo Ra saat membayangkannya. Namun hanya sebentar, lalu hilang begitu saja ketika telinganya mendengar geraman rendah dari mulut Taehyung. Pria itu bergerak kecil memeluk lututnya sendiri dengan masih menutup mata. Taehyung kedinginan. Yoo Ra tahu itu.
Dengan tergesa Yoo Ra masuk ke kamar lalu kembali dengan selimut tebal di tangannya. Setelah mematikan lampu utama, Yoo Ra melangkah pelan mendekati Taehyung. Menyalakan lampu duduk di atas nakas dan mematikan televisi yang masih menyala. Setelah itu ia menyelimuti tubuh Taehyung yang kedinginan dengan selimut yang dibawanya.
Melihat Taehyung yang tertidur membuat senyum kecil Yoo Ra terbit begitu saja. Taehyung yang kini dilihatnya sama sekali berbeda dengan Taehyung yang biasa ia lihat dalam kondisi bangun.
Taehyung yang dingin, menjengkelkan, dan tak banyak bicara seolah hilang terkubur oleh wajah polosnya ketika terlelap. Matanya yang terpejam membuat wajah tampannya semakin mempesona.
Ah!
Yoo Ra memukul kecil kepalanya yang mulai berpikiran ngawur. Setelah memastikan deru napas Taehyung kembali teratur, Yoo Ra lantas berjalan menuju dapur. Meneguk air dingin lalu mulai berkutat dengan alat memasak untuk membuat sarapan.
💜💜💜
“... Benarkah?... Hm... Iya... Baiklah aku akan mengurusnya.. Tidak, tidak. Daepyeonim masih berada di luar negeri untuk urusan lain. Aku yang akan menghandle masalah ini sendiri. ... Iya, terima kasih sudah banyak membantu,...”
Jimin mendesah, melempar asal ponselnya ke kasur lalu memijit pelipisnya yang mulai kembali berdenyut. Ia bukan pemimpin perusahaan, tapi pekerjaan sudah silih berganti menghantuinya sejak pagi buta seolah dirinyalah calon penerus tahta HOJIN Grup yang sebenarnya.
Andai Jimin tahu seperti ini rasanya menjadi sekretaris seorang Kim Taehyung, dia pasti akan lebih memilih meneruskan jejak ayahnya menjadi seorang pengacara. Tapi tentu saja pengacara yang bebas. Bukan seperti jalan yang dipilih ayahnya yang malah menjadi kuasa hukum keluarga besar Kim Ho Jin. Itu sih sama saja namanya.
Ketukan lirih di pintu membuat Jimin mengalihkan atensi ke sumber suara. Setelah mengatakan “masuk.”, pintu itu berayun terbuka dan menampilkan sosok Jeon Yoo Ra yang membawa nampan berisi sarapan untuknya.
“Wah.. Kau sudah bangun rupanya.” Kata Yoo Ra begitu melihat Jimin sudah duduk bersandar pada headboard, meski tubuh bawahnya masih terbungkus selimut.
“Aku terbiasa bangun pagi setiap hari.”
“Bahkan saat sedang sakit?”
“Tidak juga, ada telepon penting barusan, dan... Ah..kenapa kau membuatkan aku bubur, Yoo Ra-ssi?” Tanya Jimin begitu melihat Yoo Ra meletakkan nampan berisi semangkuk bubur yang masih mengepul, segelas air putih, dan secangkir minuman yang warnanya mirip dengan larutan madu.
“Karena kau sedang sakit, tentu saja. Boleh ku periksa suhu tubuhmu dulu?”
Jimin mengangguk. Membiarkan Yoo Ra menempelkan termometer pada kening dan liang telinganya. “Tapi aku tidak suka bubur saat sedang sakit.”
__ADS_1
“Karena kau lebih suka memakannya waktu dalam kondisi sehat?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena aku juga begitu.” Jawab Yoo Ra sambil terkekeh. “Ternyata ada orang lain yang sama anehnya denganku. Tapi tenang saja Jimin-ssi, kau akan menyukai bubur buatanku meskipun kau sedang sakit.”
“Kenapa?”
“Karena bubur buatanku enak dan... gratis!” Jawab Yoo Ra penuh semangat yang langsung berhasil menerbitkan tawa di bibir Jimin.
“Ku pikir karena kau akan menyuapiku Yoo Ra-ssi?!”
“Maaf, tapi ku rasa kita tidak seakrab itu sampai aku harus menyuapimu.”
“Apa semua tenaga medis di rumah sakit harus akrab dulu dengan pasiennya sebelum mereka memberi pertolongan?”
“Apa perlu ku panggilkan tenaga medis yang kau sebut itu ke sini untuk menyuapimu, Jimin-ssi?”
Jimin dan Yoo Ra tertawa, perdebatan aneh mereka pagi ini cukup bisa mencairkan suasana. Entah kenapa mereka merasa lebih akrab satu sama lain. Seperti dua orang yang telah berkawan lama.
“Aku akan menyuapimu tapi kau harus janji untuk tidak berpikir macam-macam.”
“Macam-macam yang bagaimana maksudmu?”
“Kau tau betul apa maksudku.” Ujar Yoo Ra seraya mengambil mangkuk bubur dari atas nakas dan menyendoknya sedikit di bagian tepi. “Aku akan menyuapimu seperti seorang perawat yang menyuapi pasiennya. Tidak lebih. Jadi, buka mulutmu sekarang.”
Jimin tersenyum simpul. Sebenarnya ucapannya yang minta disuapi itu hanya sebatas lelucon. Ia sama sekali tidak menyangka Yoo Ra akan dengan mudah menyanggupinya.
“Jimin-ssi, jangan berharap disuapi oleh pacarmu, dia masih tidur sekarang. Jadi berhenti menatapku dan buka mulutmu! Aaaaaa...?”
Jimin kembali tersenyum lantas mengikuti instruksi Yoo Ra untuk membuka mulutnya. Padahal sebelum itu, sempat terjadi tarik ulur dalam hatinya. Antara mau atau tidak disuapi oleh gadis cerewet di depannya. Bisa saja ia menolaknya dan mengatakan ‘minta disuapi' yang barusan tak lebih dari sekedar candaan. Tapi Jimin tak melakukannya dan memilih mengikuti kemauan Yoo Ra.
Tapi entah mengapa ada sesuatu yang aneh begitu ia berhadapan dengan Yoo Ra. Segala yang berhubungan dengan Yoo Ra selalu menarik baginya. Semua prinsip dan batasan-batasan yang ia buat seolah menguap begitu saja.
Aneh.
Padahal jika dipikir-pikir, Yoo Ra bukan gadis spesial layaknya putri bangsawan, atau konglomerat pewaris tahta seperti Kim Taehyung. Bahkan dia juga bukan gadis berotak cemerlang yang menakhlukkan dunia dengan teori barunya. Dia juga bukan aktris sekelas Song Hye Kyo yang hebat dalam karier dan kecantikannya tak termakan usia.
Yoo Ra bukan itu semua. Yoo Ra hanya gadis biasa yang seluruh kesederhanaannya sudah Jimin ketahui sejak awal. Latar belakang Yoo Ra dari A sampai Z sudah Jimin kantongi melalui dokumen yang didapatnya dari Namjoon, saat mereka memutuskan rumah Yoo Ra sebagai tempat persembunyian sementara untuk Taehyung.
Tapi kenapa?
Kenapa Yoo Ra yang sangat sederhana itu justru mampu meruntuhkan kokohnya prinsip Jimin yang susah payah dibangunnya sejak dulu?
“Selesai.” Ujar Yoo Ra setelah memasukkan suapan bubur terakhir ke mulut Jimin lalu mengulurkan segelas air putih begitu Jimin menelan kunyahan terakhirnya. “Sekarang katakan apa yang ingin kau tanyakan.”
“Hm? Maksudmu?” Tanya Jimin, meletakkan gelas air putih yang isinya tinggal separuh ke sebelah mangkuk bubur yang isinya telah tandas tak bersisa.
“Dari awal sampai akhir, kau terus menatapku sambil melamun. Ada yang ingin kau tanyakan padaku, bukan?”
Ada. Ada banyak hal yang ingin Jimin tanyakan. Tentang bagaimana kehidupan Yoo Ra sebelum menjadi penyiar radio? Bagaimana seorang gadis yatim piatu sepertinya bisa membiayai sekolah adiknya sampai ke perguruan tinggi, bahkan di saat ia dan adiknya pernah mengalami apa yang disebut ‘kelaparan’? Bagaimana seorang anak gadis yang seharusnya duduk manis di rumah kala remaja harus menukar waktu bermainnya dengan menjadi perkerja part time di lebih dari tiga tempat berbeda? Bagaimana seorang Jeon Yoo Ra remaja bisa tumbuh menjadi dewasa, kuat, dan hebat seperti sekarang?
“Kenapa kau baik sekali?”
“Apa?”
“Kenapa kau baik sekali, Yoo Ra-ssi?” Ulang Jimin.
__ADS_1
Yoo Ra terlihat berpikir, tak lama kemudian kepalanya mengangguk-angguk seolah mengerti maksud Jimin. “Jadi sekarang kau sedang terharu karena barusan aku menyuapimu?”
Jimin terkekeh. “Bukan itu saja. Kau baik di segala hal. Dan aku iri padamu.”
Yoo Ra kembali terdiam. Otaknya berusaha menangkap apa yang sebenarnya sedang disampaikan oleh Jimin. Dan Yoo Ra berada pada satu kesimpulan bahwa Jimin hanya sedang melankolis karena dilanda sakit. Kasihan sekali Park Jimin ini.
“Mau ke mana?” Tanya Jimin melihat Yoo Ra bangkit membawa kembali nampan berisi mangkuk dan gelas air putih ditangannya.
“Tidak perlu minum obat lagi, demam mu sudah turun. Sebagai gantinya, minumlah air jahe merah dan madu yang ku bawakan itu. Kau akan lekas pulih setelah meminumnya. Dan jika kau masih penasaran aku mau ke mana," Yoo Ra mengangkat nampan di tangannya. “Aku harus mengembalikan ini ke dapur. Dan ya, ada dua pria dewasa lagi sepertimu di luar, yang masih perlu ku urus.”
Jimin terkekeh tapi tetap mengangguk. Membiarkan punggung Yoo Ra semakin menjauh dan hilang di balik pintu.
💜💜💜
Di meja makan, tak ada satupun yang bersuara. Hanya bunyi alat makan saja yang sesekali terdengar bersahutan.
Taehyung yang terlihat kesulitan menggunakan sumpitnya dan akhirnya menyerah. Meletakkan sumpitnya dan lebih memilih menggunakan sendok agar lebih mudah.
Sedangkan Yoo Ra, Ia terlihat menyantap sarapannya dengan tenang sambil berdoa agar waktu berjalan lebih cepat. Ia sudah tidak sabar menantikan waktu kencannya nanti sore.
Jungkook beda lagi. Ia justru berdoa agar waktu bisa di slow motion sebentar saja, agar ia bisa menghabisakan sarapannya sebelum Jin Goo datang. Ya, temannya itu baru saja mengiriminya pesan kalau sedang di jalan untuk menjemputnya berangkat ke kantor bersama.
“Kau sedang dikejar hantu atau bagaimana sih?” Tanya Yoo Ra yang gerah sendiri melihat Jungkook makan sambil berulangkali melihat arloji di pergelangan tangannya.
Jungkook mengangguk, menelan makanannya dengan buru-buru. “Jin Goo sebentar lagi datang menjemputku Noona.”
“Kalau begitu harusnya kau bangun lebih awal.”
“Dia yang terlambat menawariku tumpangan.”
“Lalu lintas di pagi hari cukup padat. Mungkin kau punya waktu sedikit lebih lama sampai mobil temanmu tiba.” Kata Taehyung yang kemudian meneguk air putih entah untuk ke berapa kali. Ia masih belum terbiasa menjadikan nasi sebagai menu sarapan.
Yoo Ra menggeleng takjub mendengar kalimat Taehyung. Tuan muda itu berpikir semua pegawainya berangkat menggunakan mobil pribadi setiap hari? Ya ampun...
Jungkook terkekeh, memilih menuangkan kembali air putih di gelas Taehyung yang hampir kosong. “Temanku bukan orang kaya Hyeong, dia menjemputku dengan motor, bukan mobil.”
“Naik taxi kalau begitu. Jadi kau bisa sarapan dengan tenang tanpa harus dikejar waktu.”
Jungkook kembali tertawa, “Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar, Hyeong?”
Kini Taehyung yang jadi geleng-geleng kepala melihat dua kakak beradik itu melakukan high five sambil cekikikan. Seperti dua orang yang memiliki visi dan misi hidup yang sama. Kalau bisa untung, kenapa harus memilih rugi?
Sesuai perkiraan, tak berselang lama, terdengar bunyi klakson motor dari luar rumah. Membuat Jungkook seketika bangun sambil menyambar tas kerjanya.
“Noona, Hyeong, aku berangkat dulu.”
“Tunggu sebentar.” Yoo Ra ikut berdiri, meraih bahu Jungkook lalu membenahi kerah kemeja, dan dasi adiknya.
Pemandangan yang pernah Taehyung lihat sebelumnya ketika di lobby kantor. Ia tersenyum simpul mengingat interaksi inilah yang saat itu membuatnya salah paham, mengira Yoo Ra adalah kekasih Jungkook. Salah mereka sendiri yang terlalu mesra untuk ukuran kakak beradik.
Meraih gelas miliknya, Taehyung masih tersenyum lebar mendengar percakapan Yoo Ra dan Jungkook yang saling memberi kalimat penyemangat di pagi hari. Semua kalimat itu menyenangkan untuk di dengar.
Sampai ketika sebuah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Jungkook berhasil masuk ke ruang dengarnya, mencekat lehernya dan membuat air putih yang ditelannya seolah berhenti di tenggorokan.
“Semoga kencanmu hari ini menyenangkan, Noona.”
Hanya itu. Kalimat pendek yang berhasil membuat Taehyung terbatuk-batuk, menyemburkan kembali air putih yang ada dalam rongga mulutnya ke udara.
__ADS_1
To Be Contiued...