
Kim Taehyung adalah salah satu perwujudan dari kata ‘sempurna'. Dia pria mapan yang memiliki latar belakang luar biasa dalam hal finansial. Pengusaha muda yang terkenal dengan kecerdasan dan otaknya yang cemerlang. Tak ada pengusaha sukses di korea selatan yang tak mengenalnya.
Seolah belum cukup, Taehyung masih membiarkan dirinya tenggelam dalam ‘kesempurnaan' lain. Apa lagi kalau bukan parasnya yang memesona. Matanya jernih namun tajam secara bersamaan, alis tebal, hidung mancung, garis rahang yang kokoh, bibir berisi yang seksi dan deretan giginya yang rapi, pun juga senyumnya yang mampu meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya. Bahkan orang buta pun akan tahu pria itu begitu tampan, cukup dengan meraba wajahnya.
Sikapnya yang tak banyak bicara dan terkesan dingin justru menegaskan betapa karismanya sebagai lelaki idaman tak bisa lagi dibantah.
Sayangnya, semua kesempurnaan itu seolah tak bisa menyentuh kisah asmaranya. Latar belakangnya yang seperti itu tak bisa menjamin dirinya beruntung dalam hal wanita.
Bukan. Bukan karena Taehyung tidak laku. Ia jelas sosok pria dengan paket komplit yang digilai para gadis beserta orang tuanya yang ingin menjadikan Taehyung pasangan hidup dan menantu idaman.
Masalahnya ada pada Taehyung sendiri yang tak bisa semudah itu ‘disentuh'. Hatinya sudah lama tertutup untuk sekedar menerima, dan terlalu lelah untuk sekedar memberi. Otaknya selalu mengingatkan bahwa dirinya masih tak mau dimiliki oleh siapa pun.
Kecuali oleh gadis dari masa lalunya. Gadis yang menjadi alasannya bernapas sampai detik ini. Gadis yang selalu dirindukannya setiap malam. Gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi juga yang meninggalkannya di hari pertama ia jatuh cinta.
‘Masa lalu’ yang masih begitu melekat di batok kepala itu menjadi alasan utama bagi Taehyung untuk menutup rapat hatinya, tak membiarkan seorang pun mengusik kenangan singkatnya yang manis bersama sang gadis yang sampai detik ini tak ia ketahui di mana keberadaannya. Namun, Taehyung yakin, selama gadis masa lalunya belum kembali, ia tidak akan jatuh cinta lagi.
Tidak akan.
Dan tidak mau.
Tapi siapa sangka, keyakinannya justru mulai terusik saat ia mengenal Jeon Yoo Ra. Nyatanya cinta adalah masalah hati. Tidak bisa ditebak kapan datang dan perginya. Tidak pula bisa direncanakan atau dikendalikan pada siapa ia akan berlabuh. Cinta tetaplah cinta, yang cara kerjanya jauh di luar kuasa manusia.
Hari ini, melalui seorang gadis bernama Jeon Yoo Ra, ia meyakini satu hal. Bahwa dirinya, seorang Kim Taehyung, telah jatuh cinta lagi.
Sebenarnya Taehyung sempat tak mempercayai fakta bahwa yang berhasil mengusik hatinya justru gadis sejenis Jeon Yoo Ra. Seorang gadis yang memiliki halo effect cukup buruk di awal pertemuan mereka. Tapi Taehyung bukan pria bodoh yang tak bisa mengenali perasaannya. Meski sempat dihadapkan pada keraguan, tapi kini ia sepenuhnya yakin dengan perasaannya.
Keyakinan yang disadarinya tepat di hari ini.
Hari di mana ia —dengan sialnya— malah menemukan fakta mengejutkan lain tentang Jeon Yoo Ra. Fakta yang membuatnya bagai tersambar petir di siang bolong. Separuh dunianya tiba-tiba lenyap dan hanya menyisakan kekosongan di hatinya yang mendadak hampa.
Seolah belum cukup dengan kejutan bahwa Yoo Ra sudah punya kekasih, kini ia harus kembali dibuat terperangah karena kenyataannya justru lebih dari itu, Jeon Yoo Ra adalah tunangan orang.
Tunangan orang! Tolong garis bawahi.
Dan tunangan orang itu juga yang telah mematahkan hati Taehyung di hari pertama pria itu menyadari perasaannya.
Taehyung memejamkan kedua kelopak matanya erat-erat. Menyadari bahwa ia sedang mengulang kisah cinta yang sama. Takdir sepertinya sedang ingin bermain-main dengannya saat ini.
Jika memang dunia sedang membuat sebuah lelucon untuknya, percayalah, ini sama sekali tidak lucu!
Taehyung membuka kembali kedua matanya sambari menghembuskan napas perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah pintu kamar Yoo Ra yang tertutup rapat. Beberapa saat yang lalu gadis itu masuk ke sana dengan alasan bersiap-siap untuk pergi kencan.
Oh, ya. Kencan.
Jika bisa, Taehyung ingin menghilangkan kata itu selamanya dari muka bumi. Kembali menghela napas panjang, Taehyung mengusap kasar wajahnya saat menyadari dirinya sudah semakin tidak waras.
"Taehyung-ssi, kau baik-baik saja?"
Seolah tersihir, Taehyung kembali mendongak, menegakkan punggungnya begitu menyadari Yoo Ra sudah berdiri di depannya. Ia terlalu larut dalam perasaannya yang kacau hingga tak tahu kapan gadis itu keluar dari kamarnya, lengkap dengan pakaian yang— oh, Taehyung hampir tersedak ludahnya sendiri begitu melihatnya. Tolong ingatkan pria ini agar tidak lupa menarik napas.
__ADS_1
"Kau mau pergi kencan dengan pakaian seperti itu?" tanya Taehyung yang tidak mau repot-repot menjawab pertanyaan Yoo Ra.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Salah. Sangat salah!"
"Kau tidak punya baju lain? Ya ampun. Mataku sakit melihatnya." Taehyung memalingkan wajah dramatis sambil memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.
"Apa maksudmu?" Yoo Ra menunduk, memperhatikan penampilannya yang entah kenapa terlihat begitu salah di mata Taehyung.
"Bajumu itu kurang bahan atau memang belum selesai dijahit?! Pakailah baju yang sopan, ini masih sore!" Taehyung mulai naik pitam. Ia tidak bisa membayangkan Yoo Ra pergi kencan dengan pakaian seperti itu. Bagi Taehyung, off shoulder blouse polos berwarna merah maroon dan bawahan mini skirt putih yang jauh di atas lutut itu sama sekali tidak cocok untuk Yoo Ra. Yoo Ra memang cantik mengenakannya. Sangat. Tapi tidak dengan berkeliaran di luar dengan mengumbar bahu dan kaki jenjangnya yang mulus begitu.
"Hei, ini yang disebut mode."
"Mode? Kau bilang mode?!" Taehyung menatap Yoo Ra sebentar, namun kemudian kembali melempar pandangannya ke arah lain. Ya ampun, bahu dan kaki itu, Taehyung rasa ia tidak akan kuat melihatnya lagi.
"Kau tahu? Sekarang masih sore, di jalan pasti banyak anak-anak yang baru pulang dari sekolah. Bayangkan kalau mereka semua yang kebanyakan masih di bawah umur melihatmu berpakaian seperti itu. Kau jelas mengotori mata dan pikiran polos mereka." Jelas Taehyung masih dengan memalingkan muka.
Yoo Ra melongo. Matanya mengerjap beberapa kali. Ia bingung menentukan mana yang lebih mengejutkan sekarang. Hujatan Taehyung, atau sikap pria itu yang tiba-tiba aneh. Maklum, selama tinggal di rumah Yoo Ra, baru kali ini Taehyung bicara panjang lebar begitu.
"Kau masih di situ? Tidak berniat mengganti bajumu?"
Dan mungkin Yoo Ra-lah yang justru paling aneh di sini. Karena entah dorongan dari mana, ia akhirnya menuruti keingainan pria yang belum lama dikenalnya itu. Mungkin juga Yoo Ra menyadari kalau mini skirt-nya memang terlalu pendek. Padahal seingatnya, dulu tak sependek itu saat ia membelinya. Masa iya sih, ia masih bertambah tinggi? Konyol sekali.
"Serius dia itu. Apa yang dia pikirkan sebelum memakai pakaian tidak senonoh begitu?!" Taehyung meraup oksigen banyak-banyak sambil mengelus dadanya berulang kali. "Dia tidak sadar kalau penampilannya itu bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas."
Taehyung masih terus menggerutu sampai
"Serius ya, kau tidak punya baju lain yang bisa menutup tubuhmu dengan benar?" tanya Taehyung dengan kedua mata menyipit tak suka.
"Apa?! Apa lagi yang salah? Lihat ini! Aku bahkan menggunakan kemeja berlengan tiga per empat!" sungut Yoo Ra yang kini mulai kesal.
"Lenganmu memang tertutup. Tapi lihat itu." Taehyung menunjuk ujung rok Yoo Ra dengan dagunya. "Kau memang niat sekali ingin pamer paha ya?"
Halus tapi menusuk. Begitu kiranya komentar Taehyung untuk baju kedua yang dipilih Yoo Ra.
"A-apa kau bilang?"
"Ya sudah, pakai saja. Tidak perlu diganti lagi." Taehyung bersandar pada punggung sofa sambil menyilangkan tangan di dada. "Kecuali kau benar-benar berniat ingin merusak generasi muda bangsa kita." Lanjutnya.
Kesal. Demi Tuhan, Yoo Ra ingin menarik mulut Taehyung, meremas dan membuangnya ke tong sampah.
"Sungguh, aku yakin tidak pernah memasukkan cabai ke semua masakan yang kubuatkan untuknya. Tapi kenapa makin hari mulutnya makin pedas saja." Gumam Yoo Ra dengan suara yang cukup keras untuk didengar Taehyung.
Meski sedang sama-sama kesal, namun gumamam Yoo Ra barusan berhasil membuat Taehyung menahan tawa. Ia jelas merasa puas karena gadis itu akhirnya mengikuti keinginannya. Meski tentu saja harus dengan mengatakan kalimat pedas yang jujur saja Taehyung sendiri tidak ingin mengucapkannya.
Bagaimanapun, Taehyung menyukai Yoo Ra. Berkata keterlaluan pada gadis yang disukainya jelas bukan pilihan yang bagus. Tapi Taehyung tidak keberatan melakukannya jika itu bisa membuat Yoo Ra lebih menghargai dirinya. Percayalah, Yoo Ra akan tetap terlihat cantik meski tanpa pakaian-pakaian terbuka itu.
Tak sampai sepuluh menit, Yoo Ra sudah kembali menampakkan diri dengan menggunakan pakaian yang berbeda. Kali ini gadis itu mengenakan blouse tertutup berlengan tiga per empat dengan motif floral dan casual jeans berwarna gelap yang cocok dengan atasannya.
__ADS_1
"Kenapa cemberut begitu?" tanya Taehyung begitu Yoo Ra sudah berdiri di hadapannya dengan wajah masam.
"Kalau menurutmu yang seperti ini masih salah, lebih baik aku pergi tanpa memakai baju saja. Itu lebih cocok dengan kalimatmu yang mengataiku merusak generasi bangsa."
Taehyung tertawa kecil. Sungguh, Yoo Ra lucu sekali kalau sedang merajuk. Taehyung jadi gemas dan harus mati-matian menahan diri untuk tidak mencubit pipinya.
"Kau ini kenapa pemarah sekali sih?" Taehyung lantas menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Yoo Ra duduk di sampingnya. "Sepertinya kau suka sekali motif bunga-bunga begitu."
Yoo Ra memutar bola matanya. "Ini musim semi tuan Kim Taehyung yang terhormat. Aku hanya sedang menyesuaikan dengan musim saja."
"Benarkah? Tapi itu pilihan yang bagus. Kau cocok memakainya."
Yoo Ra berpaling menghadap Taehyung yang kini juga sedang menatapnya. Apa barusan Taehyung memujinya? Atau ia hanya salah dengar?
Dan entah ini hanya perasaan Yoo Ra saja atau memang apa yang dilihatnya nyata. Kim Taehyung, si beruang musim dingin itu sedang menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Senyum tipis yang terukir di bibir pria itu membuat Yoo Ra merasa sedang berhadapan dengan sosok lain. Kesan dingin, cuek, dan acuh seolah telah hilang, tergantikan dengan kehangatan yang terpancar dari sorot matanya yang teduh.
"Kau cantik, Jeon Yoo Ra. Sangat."
Kendatipun jantung Yoo Ra saat ini sedang bergemuruh, tapi telinganya masih berfungsi dengan baik untuk menangkap kalimat Taehyung barusan. Ini pertama kalinya pria itu menyebut namanya. Dan itu pun untuk memujinya— Cantik?
Tak perlu menunggu waktu lama sampai Yoo Ra merasakan ratusan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Otaknya mendadak kosong, Darah di dalam nadinya berdesir cepat menimbulkan sensasi luar biasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yoo Ra tak tahu kenapa bisa begitu. Kenapa kalimat pendek itu begitu mempengaruhi kinerja organ vitalnya. Jantungnya berdebar keras, dan Ia sungguh berharap Taehyung tak mendengarnya.
Mereka masih saling beradu tatap sampai ketika suara klakson dari luar rumah mengagetkan keduanya. Seketika itu mereka menatap jendela besar di ujung ruangan. Dari balik gorden putih di sana, Taehyung bisa melihat SUV silver terparkir di depan pagar rumah Yoo Ra.
"Tunanganmu sudah datang." Ujar Taehyung yang berusaha keras menarik senyum, kendati tenggorokan seperti tersayat saat mengucapkannya.
Yoo Ra mengangguk kecil. Menyampirkan tali tas ke bahunya lalu bergegas meninggalkan ruang tengah dengan langkah tergesa. Ia bahkan lupa berpamitan pada Taehyung.
Persetan. Yoo Ra hanya ingin segera lari dari hadapan pria itu. Berlama-lama dengannya malah menghadirkan perasaan asing yang entah kenapa membuat Yoo Ra merasa sangat bersalah pada Seokjin.
Yoo Ra tidak tahu seberapa besar dosanya saat tadi beradu tatap dengan Taehyung. Yang Yoo Ra tahu, saat melakukannya tadi, ia sama sekali tak mengingat Kim Seokjin. Ia melupakan tunangannya dalam sepersekian detik dan menggantinya dengan sosok Kim Taehyung dengan senyum manisnya memenuhi seluruh isi kepala. Yoo Ra tahu itu salah. Ia tahu dirinya mungkin sudah gila. Dan kegilaan itu menuntun langkahnya lebih cepat pada Kim Seokjin yang berdiri di depan pagar rumahnya. Menubruk dan memeluk pria itu terlampau erat sambil merapalkan kata maaf berulang kali dalam hati.
"Hei... Ada apa ini? Kau merindukanku?" Tanya Seokjin yang langsung Yoo Ra jawab dengan anggukan kepala.
"Tapi kita baru bertemu beberapa jam yang lalu, cantik."
Yoo Ra menggeleng dan makin menenggelamkan kepalanya di dada Seokjin, hingga membuat pria itu terkekeh geli. "Baiklah, baiklah. Aku tahu. Aku juga merindukanmu."
Yoo Ra terdiam. Merasakan jemari Seokjin mengusap lembut kepalanya. Membuatnya merasakan kembali kehangatan yang tadi sempat hilang dan ia lupakan. Benar, inilah yang seharusnya terjadi. Memang hanya Seokjin yang harusnya ada di pikirannya. Hanya Seojin yang harusnya memenuhi isi kepalanya. Bukan orang lain.
Sayangnya, orang lain itu adalah Kim Taehyung. Pria bodoh yang berdiri di sisi jendela hanya untuk menyaksikan gadis yang ia cintai berada di pelukan pria lain. Merasakan sesak di dadanya saat pria itu mencium kening Yoo Ra dengan penuh kasih sayang.
Taehyung memejam. Merasakan getir serupa seperti yang beberapa tahun lalu pernah menyapanya. Kisah cinta yang sama. Rasa sakit yang sama.
Melihat senyum Yoo Ra ketika sang tunangan menggenggam tangannya, Taehyung tahu ia sama sekali tak memiliki kesempatan untuk mencoba. Gadis itu telah bahagia bahkan jauh sebelum ia datang.
"Jadi, seharusnya aku tidak mengusikmu, bukan?" gumam Taehyung saat mobil yang ditumpangi Yoo Ra bergerak pelan meninggalkan pelataran.
Meninggalkan hatinya yang juga remuk redam.
__ADS_1
To be continued...