
Bagai hunian kosong. Begitulah kesan pertama yang Jeon Jungkook rasakan begitu dirinya memasuki rumah. Suasananya begitu sunyi. Bahkan belum ada satu pun lampu yang dinyalakan, padahal sekarang sudah pukul delapan malam.
"Apa tidak ada orang di rumah?" pikirnya. Tapi bukan Yoo Ra yang ia maksud. Ia jelas tahu ke mana kakak perempuannya itu berada sekarang. Setiap pergi kencan, Yoo Ra baru akan pulang paling cepat pukul sembilan malam. Bukan pula Jimin, karena pria itu baru saja pamit pulang setelah mengantarnya sampai depan pagar. Yang Jungkook maksud adalah Kim Taehyung. Ke mana Daepyeonim-nya itu pergi?
Setelah meletakkan dua kotak makan malam —yang Jimin beli di perjalanan pulang tadi— ke atas meja makan, Jungkook lantas melangkah meninggalkan dapur. Ia penasaran ada di mana Taehyung sekarang. Pria itu tak terlihat di ruang tamu, ruang tengah, bahkan di dapur sekalipun.
"Apa ia sedang tidur? Bisa jadi, kan? Mungkin saja ia ketiduran dan tak menyalakan lampu rumah." Pertanyaan itu masih berada di kepala Jungkook sampai ketika ia membuka pintu kamarnya dan tak menemukan Taehyung di sana.
"Atau mungkin sedang mandi?" Meski kemungkinannya kecil, Jungkook tetap membawa langkahnya menuju kamar mandi. "Hyeong, kau di dalam?" Ia mengetuk dan memanggil Taehyung berulang kali tapi tak ada jawaban dari dalam. Dan itu membuatnya panik, berpikir mungkin Taehyung jatuh atau terpeleset di dalam. Pikiran itu pula yang membuatnya memutar knop pintu dan mendorongnya dengan tergesa. Begitu melihat kamar mandi dalam keadaan kosong, Jungkook mendadak lega. Pikiran buruknya tidak terjadi.
Sayangnya, kecurigaan lain malah datang begitu menyadari Taehyung tak terlihat di mana pun. "Mungkinkah orang suruhan kakeknya menemukannya bersembunyi di sini lalu menyeretnya pulang? Kakeknya pasti belum merestui hubungan terlarang cucunya."
Pikiran Jungkook itu jadi semakin nyata saat ia mencari ke kamar Yoo Ra dan kamar tamu, tapi tidak juga menemukan Taehyung di sana.
"Ya ampun. Ini buruk!" Jungkook bergumam, mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia harus menghubungi Jimin. Tadi pria itu sempat membeli makan malam untuknya dan Taehyung, jadi dia pasti belum tahu kalau pacarnya hilang.
"Ayolah, Hyeong. Angkat... " Jungkook mengedarkan pandangan cemas sambil menunggu Jimin mengangkat teleponnya. Di saat itulah tanpa sengaja sepasang maniknya melihat pintu belakang yang sedikit terbuka. Ia buru-buru mematikan sambungan telepon lalu mendekat ke sana.
"Hyeong, kau di sana?" bisik Jungkook sambil mendorong pintu lebih lebar. Meski lampu belakang juga belum dinyalakan, tapi cahaya bulan cukup menjadi penerang bagi Jungkook untuk menemukan sosok Kim Taehyung. Pria itu sedang duduk sendiri di antara kursi dan meja hias yang terbuat dari kayu, di bawah pohon zelkova berukuran sedang, pohon kesayangan Yoo Ra.
"Hyeong." Panggil Jungkook pelan, begitu berada di sebelah Taehyung.
Pria itu sempat terkejut menyadari kehadiran Jungkook, tapi kemudian ia buru-buru tersenyum. "Oh, kau sudah pulang rupanya."
"Iya. Baru saja. Hyeong sedang apa di sini?"
"Aku... " Taehyung terlihat berpikir. Meski ia sendiri juga tidak yakin dengan alasannya, tapi ia tetap menjawab. "Entahlah, tadinya aku hanya sedang mencari angin segar. Lalu aku menemukan taman kecil ini."
"Angin segar? Tapi sekarang sudah malam. Masuklah, Hyeong. Kau pasti belum makan malam."
"Kau duluan saja. Aku masih ingin di sini. Boleh kan, kupinjam tamanmu sebentar?"
Jungkook tidak langsung menjawab. Ia masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Taehyung yang malam ini terlihat berbeda. Meski kondisi sekitar tidak terlalu terang, tapi ia bisa melihat senyum Taehyung terkesan dipaksakan. Pria itu seperti sedang menyembunyikan kesedihan. Pasti ada sesuatu yang menggagu pikirannya. Tapi apa?
"Hyeong butuh teman? Kalau iya, aku tidak keberatan menemanimu di sini."
"Kau? Memangnya tidak capek? kau kan barusan pulang kerja."
"Tidak kok. Sebenarnya belakangan ini aku sering sakit kepala. Mungkin aku juga butuh angin segar."
"Apa magang di perusahaanku membuatmu setertekan itu?"
"Aku tidak bilang begitu. Tapi... Maaf sebelumnya, Hyeong. Kalau boleh jujur, magang di HOJIN HILL memang membutuhkan tenaga ekstra. Rasanya lebih berat daripada bekerja menjadi badut penyebar brosur iklan."
Jungkook memang berkata jujur. Tapi caranya menyampaikan yang terkesan lucu justru membuat Taehyung tertawa, alih-alih tersinggung. Sepertinya bukan ide buruk membiarkan Jungkook bergabung dengannya. Ia memang butuh seseorang untuk mengembalikan mood-nya yang hancur. Ia lalu menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Jungkook duduk di sampingnya. "Kau pernah menjadi badut iklan?"
"Pernah, dulu. Di tahun pertama masuk universitas. Saat-saat di mana aku butuh banyak uang, dan sadar kalau pendidikan tidak semurah yang kubayangkan."
"Bukankah kau mahasiswa penerima beasiswa selain Yeo Jin Goo?" Taehyung yakin pernah membacanya di profil karyawan magang beberapa hari yang lalu.
"Iya itu benar. Tapi mahasiswa penerima beasiswa sepertiku tetap membutuhkan dana lain untuk mengerjakan tugas yang biaya pengerjaannya tidak di-cover oleh kampus. Dan itu tidak sedikit. Lagi pula aku juga tidak ingin terus meletakkan bebanku pada pundak Yoo Ra Noona. Dia sudah mengalami banyak kesulitan selama ini."
__ADS_1
Wajah Jungkook berubah sendu saat membahas tentang Yoo Ra. Taehyung pun begitu. Hatinya seperti dicubit, menimbulkan rasa nyeri yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata begitu nama Yoo Ra disebut. Jeon Yoo Ra, gadis itu membuatnya menyadari satu hal. Bahwa patah hati ternyata masih sama rasanya. Masih begitu menyiksa.
"Tapi kau tahu di mana letak lucunya, Hyeong?" suara Jungkook kembali terdengar bersemangat. Pemuda itu lalu membuat gestur menjewer telinganya sendiri. "Aku ketahuan oleh Noona. Ia menyeretku pulang sambil menarik telingaku seperti ini. Saat itu ada banyak orang yang melihat dan menertawai kami. Itu hal paling memalukan di sepanjang aku hidup sampai detik ini. Aku sudah menjadi mahasiswa saat itu, tapi Noona memperlakukanku seperti anak usia tujuh tahun. Belum lagi saat sampai di rumah, ia menendang bokongku keras-keras sambil mengomel semalaman. Aku baru bisa tidur setelah menyumpal telingaku dengan kapas. Tidurku juga harus sambil tengkurap karena tulang ekorku rasanya mau patah."
"Kakakmu tidak mengizinkanmu bekerja part time?" tanya Taehyung di sela tawa kecilnya. Oke, Taehyung baru tahu kalau mendengarkan curahan hati orang lain bisa mengubah mood-nya menjadi lebih baik. Atau hanya Jungkook saja yang bisa mengubah pembahasan tentang Yoo Ra jadi seringan ini?
"Ya. Noona paling tidak suka melihatku bekerja part time. Ia ingin aku konsentrasi saja pada kuliahku." Jungkook baru akan melanjutkan ceritanya saat tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. "Dari Jimin Hyeong." katanya sambil memperlihatkan layar ponsel pada Taehyung.
Jungkook langsung mengusap simbol hijau di ponselnya setelah ia melihat Taehyung mengangguk sebagai kode mempersilakan.
"Ya, Hyeong? ..... Oh, tidak apa-apa, tadi itu aku hanya sedang panik saja. Kupikir Taehyung Hyeong hilang tadi, maaf." Jungkook melirik sekilas ke arah Taehyung sambil meringis, menggaruk tengkuknya. " ..... Tidak, tidak. Aku sudah menemukannya. Dia ada di sampingku, kau ingin bicara dengannya?"
Taehyung sudah bersiap menerima telepon dari Jimin. Sudah tidak sabar juga ingin memberi pelajaran pada pria satu itu karena telah meninggalkannya begitu saja di ruang tamu tadi siang tanpa memberikan penjelasan apa pun. Tapi ia harus kecewa saat Jungkook berkata — "..... Oh,, begitu..... Baiklah, nanti akan aku sampaikan." — lalu memutus sambungan teleponnya.
"Jimin Hyeong sedang agak repot sekarang. Katanya dia akan menghubungimu sendiri nanti." Kata Jungkook sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.
Dalam hati Taehyung mengumpat. Ia tahu betul kalau Jimin hanya mencari alasan untuk melarikan diri. "Biarkan saja. Dia hanya sedang menghindariku."
Jungkook tidak tahu pasti apa arti kata 'menghindari' barusan. Tapi ia bisa menarik kesimpulan kalau Taehyung dan Jimin sedang ada masalah. Sepasang kekasih itu mungkin sedang bertengkar.
"*Jadi ini sebabnya Jimin Hyeong tidak mampir dulu dan langsung pamit pulang?!"
"Rupanya ini alasan Taehyung Hyeong tiba-tiba butuh angin segar."
"Pantas saja dia menyendiri di sini. Ternyata mereka berdua sedang bertengkar*."
"Kau mau kutunjukkan sesuatu yang menakjubkan, Hyeong?" tanya Jungkook akhirnya, setelah barusan sibuk dengan pikirannya sendiri. Sisi kemanusiaannya membuatnya merasa perlu menghibur Taehyung yang sekarang terlihat sedih. Setidaknya, ia ingin mencoba mengalihkan pikiran pria itu dari Park Jimin untuk sementara waktu.
"Tunggu sebentar." Jungkook beranjak meninggalkan Taehyung yang masih keheranan.
Tak lama setelah Jungkook pergi, Taehyung langsung dikejutkan dengan empat buah lampu besar di setiap sudut taman yang tiba-tiba menyala. Selanjutnya, lampu-lampu hias berukuran kecil di dinding tinggi yang mengitari taman juga ikut menyala. Lampu-lampu kecil itu merambat sampai ke ranting-ranting pohon zelkova di atas kepalanya. Berkedip-kedip bergantian menaburkan warna putih terang, seolah sedang menggantikan tugas bintang yang tak muncul Satu pun malam ini. Untuk sesaat Taehyung merasa seperti remaja yang baru mendapatkan birthday surprise atau sejenisnya. Menggelikan sekali. Tapi entah kenapa Taehyung menyukainya. Ia masih menengadah, memperhatikan dedaunan hijau di atasnya yang kini terlihat terang benderang.
"Bagus, kan?" Jungkook sudah kembali. Duduk di sebelah Taehyung sambil ikut melihat keadaan taman yang sekarang menjadi begitu berbeda seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
"Bagus. Tapi jelas bukan kau yang membuatnya." Jawab Taehyung yang disambut kekehan kecil pemuda di sampingnya.
"Ibu dan kakakku. Dua wanita paling hebat di dunia yang membuatnya."
Pantas saja Taehyung menyukainya. Padahal dia sama sekali bukan tipe melankolis yang menyukai hal-hal seperti itu, ternyata alam bawah sadarnya seolah sudah menebak bahwa ada sentuhan tangan Yoo Ra di dalamnya. Taehyung mendengus sebal. Merasa makin hari kewarasannya makin menipis saja.
Ada keheningan yang melingkupi keduanya dalam beberapa saat, Jungkook yang menikmati suasana dengan senyum lebar di bibirnya dan Taehyung yang sibuk menatap si pemuda Jeon dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dada.
"Ibumu... Ada di mana?" Taehyung rasanya ingin menenggelamkan diri dalam kubangan lumpur sekarang. Dari sekian banyak pertanyaan yang ada di otaknya, kenapa harus pertanyaan itu yang akhirnya ia ucapkan? Ia merasa seperti orang jahat yang baru saja membuat goresan baru di atas luka lama seseorang. Ia tahu persis di mana ibu Jungkook dan Yoo Ra sekarang, itu salah satu informasi yang Jimin berikan sebelum ia menjadikan rumah Yoo Ra sebagai tempat persembunyian. Ia tahu kenyataan itu tapi mulutnya dengan kurang ajar justru mengungkitnya.
"Ibuku sudah meninggal." Di luar dugaan, Jungkook menjawabnya dengan ringan. Seolah tak ada beban apa pun yang sedang ia pikul atas meninggalnya sang ibu. Atau, Jungkook saja yang pandai menutupi perasaannya?
"Maaf."
"Tidak apa-apa, Hyeong. Itu sudah lama."
"Kau tidak sedih?" pertanyaan bodoh lain, dan Taehyung jadi ingin melakban mulutnya sekarang juga.
__ADS_1
"Sedih, tentu saja. Sampai sekarang pun kesedihan itu sama sekali belum hilang. Perginya ibu menjadi awal datangnya badai yang berhasil merusak segalanya. Aku tidak mungkin lupa kesulitan apa saja yang harus kami alami setelah ibu pergi. Kami seperti anak ayam kehilangan induknya. Persis seperti itu." Jelas Jungkook panjang lebar dengan tawa kecil yang ia sematkan di akhir kalimat. Tawa yang lebih mirip seperti rumah yang ia gunakan untuk menyembunyikan perasaan sesungguhnya.
Perasaan yang sangat jelas untuk Taehyung terjemahkan. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi Jungkook atau Yoo Ra. Meski tidak persis sama, setidaknya Taehyung pernah berada di posisi mereka. Kehilangan orang tua bukanlah perkara yang mudah untuk dijalani. Bahkan untuk Taehyung sekalipun. Ia harus mengalami hari-hari yang cukup berat selepas kedua orang tuanya meninggal dunia. Satu hal yang Taehyung syukuri setelah masa sulit itu berlalu adalah sang kakek yang akhirnya bisa kembali menerima kehadirannya setelah melewati waktu yang cukup lama. Tapi bagaimanapun juga, ia masih lebih beruntung dibanding kakak beradik Jeon yang sampai saat ini masih sebatang kara.
Alasan itu pula yang akhirnya membuat Taehyung memutuskan untuk tak lagi membahas tentang masa lalu di obrolannya bersama Jungkook. Pemuda itu mungkin masih butuh lebih banyak waktu untuk berdamai dengan masa lalu.
"Jam berapa biasanya kakakmu pulang setelah pergi dengan... Tunangannya?" Taehyung baru tahu kalau menyebut kata 'tunangan' saja bisa seberat ini. Sepertinya ia sudah salah memilih topik.
"Hm, biasanya jam sembilan paling cepat. Mungkin dia butuh waktu sedikit lebih lama karena beberapa minggu terakhir mereka sama sekali tidak bertemu."
"Kenapa?"
"Calon kakak iparku terlalu sibuk dengan pekerjaannya."
"Pengusaha?" entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja. Kedengarannya seperti Taehyung sedang membandingkan tunangan Yoo Ra dengan dirinya. Atau, ia memang sedang menjadikan dirinya sendiri sebagai standar terbaik, lelaki sukses yang harusnya dipilih oleh gadis mana pun, termasuk Jeon Yoo Ra.
"Bukan, Hyeong. Dia dokter."
"Dokter..."
"Spesialis bedah."
"Spesialis?"
"Iya." Seolah bisa membaca apa yang dipikirkan Taehyung, Jungkook pun menambahkan, "Belum tua, Hyeong. Dia masih muda. Hanya Beberapa tahun lebih tua darimu."
Taehyung mengangguk mengerti. Memang penampakan itu yang Taehyung lihat tadi sore. Wajah tunangan Yoo Ra memang tak terlihat, tapi dari postur tubuh dan caranya memperlakukan Yoo Ra, Taehyung bisa menilai kalau pria itu belum terlalu tua. Lagi pula, ada banyak orang pintar yang semasa sekolah mengikuti program akselerasi. Mungkin tunangan Yoo Ra adalah salah satunya, yang tak butuh waktu lama untuk memperoleh gelar dokter spesialis di usia muda.
Taehyung juga tak menanyakan dari mana Jungkook tahu berapa usianya. Namanya dan sang kakek memang sering muncul di internet, majalah bisnis, atau televisi. Mungkin Jungkook pernah melihat biografi dirinya di salah satu media itu.
"Terdengar seperti kakak ipar yang sempurna."
"Sempurna?" tawa Jungkook meledak begitu mendengar pendapat Taehyung barusan tentang calon kakak iparnya. Baginya, Kim Seokjin terlalu 'konyol' untuk menyandang gelar 'sempurna'. Meski jauh di dalam hati ia sungguh mengagumi sosok itu.
"Kenapa? Tebakanku salah?"
"Tidak, tidak... Bukan begitu." Ujar Jungkook di sela tawanya. "Dia tampan, mapan, dan punya banyak sekali sifat baik yang membuatnya pantas disebut pria idaman. Tapi untuk 'sempurna', rasanya terlalu berlebihan. Dia itu konyol, Hyeong. sungguh." Jungkook mulai memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa. "Kadang ia seperti anak umur lima tahun yang terperangkap dalam tubuh pria dewasa. Sangat kekanakan. Belum lagi hobinya yang suka membuat lelucon. Sayangnya semua leluconnya tidak ada yang lucu. Kalau sifat-sifat ajaibnya itu kambuh, dia bisa sangat merepotkan."
Taehyung tersenyum menatap Jungkook yang mulai mengusap sudut matanya yang berair karena kebanyakan tertawa. "Kelihatannya kau sangat mengenal calon kakak iparmu."
"Lebih tepatnya, kami tahu segalanya tentang dia. Seperti dia yang tahu segalanya tentang kami."
"Kalian pasti sudah saling bercerita banyak hal."
"Tidak Hyeong. Kami saling memahami bukan melalui cerita. Tapi karena memang kami mengalami semuanya bersama."
"Tunggu. Maksudmu, kalian... "
"Ya. Sepuluh tahun. Waktu yang cukup lama untuk saling memahami satu sama lain, bukan?"
To be continued...
__ADS_1