
Jeon Yoo Ra berdiri mematung di depan gedung perkantoran di depannya. Rambutnya yang hitam sedikit di bawah bahu itu bergerak-gerak diterpa angin musim semi. Kepalanya mendongak membaca huruf-huruf kapital yang tergantung angkuh di bagian atas gedung. HOJIN HILL INTERNATIONAL CORP.
Sudah hampir dua menit gadis itu hanya berdiri sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Tidak perduli pada tatapan karyawan yang melewatinya sambil terkikik geli melihat ekspresi wajah Yoo Ra yang terus menyiratkan kekaguman pada gedung pencakar langit di hadapannya.
Jangan salahkan Yoo Ra. HOJIN HILL memang bukan perusahaan sembarangan. Jika ingat HOJIN Elektronics yang bergerak di bidang pembuatan elekteonik, HOJIN Insurance yang bergerak di bidang asuransi, HOJIN Central Property yang bergerak di bidang peroperti dan pengembangan real estate, maka HOJIN HILL adalah induk dari seluruh perusahaan milik HOJIN Group tersebut.
Yoo Ra hampir terus melongo jika saja ia tidak keburu ingat dengan alasannya datang ke sana. Gadis itu akhirnya bergegas ke lobby untuk menemui orang yang memintanya datang.
Tidak butuh waktu lama bagi Yoo Ra untuk menemukan sosok pria jangkung dengan kemeja putih, celana hitam, dan dasi berwarna senada, sedang duduk di kursi melingkar yang di tengahnya berdiri artificial tress berukuran besar, di ujung kiri lobby.
Lagi. Yoo Ra dibuat kagum dengan interior kantor yang terkesan mewah. Lobby-nya saja sebesar ini. Sangat berbeda dengan lobby kantor tempat Yoo Ra bekerja. Yoo Ra masih sibuk mengedarkan pandangannya mengagumi interior, saat atensinya kembali tertuju pada sosok pria yang kini sedang menunggunya.
Yoo Ra mendesah kesal. Ia merogoh saku blazer nya, mengeluarkan sebuah ID card yang menjadi alasan utamanya datang.
Sedang Jeon Jungkook, pria pemilik ID card itu rupanya tidak sadar dengan presensi Yoo Ra yang telah berdiri di sampingnya.
“Yah.” Panggil Yoo Ra dengan malas-malasan.
Tapi sepertinya Jungkook sedang berada dalam mode ‘tuli’ sekarang. Ia sama sekali tak merespon panggilan Yoo Ra.
“Jungkookie..”
“...”
“Jungkook-ah,”
“...”
“JEON JUNG-“ Yoo Ra hampir saja meneriaki Jungkook, namun urung ketika matanya melihat kaki jungkook yang bergerak-gerak gelisah, bibirnya bergumam seperti orang yang sedang merapalkan doa, dan kedua tangannya mencengkeram ujung tas kerja di pangkuannya. Membuat Yoo Ra spontan memalingkan wajah ke arah lain sambil mati-matian menahan senyum.
Ya ampun. Jungkook-nya sedang gelisah sekarang. Dan itu sungguh manis.
“Yah! Jungkook-ah!” Yoo Ra menepuk keras bahu Jungkook. Membuat empunya berjingkat kaget sambil mengelus dadanya naik turun.
“Y-ya ampun, Noona¹! Kau mengejutkanku, tahu!” Jungkook menggerutu sambil berusaha menetralkan kembali napasnya yang tersengal.
Yoo Ra? Gadis itu malah tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
“Yah! Bocah! kau masih saja gugup? Apa yang kau khawatirkan sebenarnya, huh?” Tanya Yoo Ra sambil terus tertawa, lantas menyodorkan ID card di genggamannya yang langsung diterima oleh Jungkook.
“Ini hari pertamamu magang di HOJIN HILL, by the way. Bukankah harusnya kau senang? Kenapa malah gelisah begitu? Hm?” Jungkook mengalungkan ID card di lehernya sambil terus memberengut kesal. Tak menjawab pertanyaan kakaknya yang lebih seperti candaan baginya.
Merasa tak direspon, Yoo Ra-pun berhenti menggoda adiknya. Sejujurnya ini bukan hanya tentang ID card Jungkook yang tertinggal di hari pertama magang, tapi lebih dari itu. Adiknya itu sedang cemas.
Jika perusahaan biasa-biasa saja yang menjadi tempat Jungkook magang, mungkin adik Yoo Ra itu tak akan sekhawatir ini. Tapi ini HOJIN HILL. Tak perlu tanya alasannya. Bahkan Yoo Ra-pun juga akan begitu jika jadi Jungkook.
Yoo Ra tahu betul yang dibutuhkan adiknya saat ini adalah sedikit perhatian darinya. Maka, dengan penuh kasih sayang, Yoo Ra meraih kedua bahu Jungkook. Mengajak pria jangkung yang masih terlihat kesal itu untuk berdiri menghadapnya.
“Jungkookie... Kau sudah dewasa sekarang.” Tangan Yoo Ra terulur merapikan kerah kemeja Jungkook.
“Meskipun tingkahmu masih sering seperti anak-anak, tapi itu bukan masalah.” Lanjutnya yang kini beralih membenahi dasi sang adik.
“Kau adalah adikku satu-satunya. Aku memahamimu lebih dari siapapun di dunia ini.” Lanjut Yoo Ra sambil kedua tangannya membetulkan letak ID card yang terkalung di leher Jungkook, melirik adiknya yang sudah tak lagi kesal.
“Kau pasti bisa. Kau hanya perlu menambah sedikit semangat dan semuanya akan beres. Oke?” Yoo Ra menepuk kedua bahu Jungkook lalu merematnya pelan. Seolah menunjukkan betapa ia bangga pada adiknya itu.
Jungkook masih menunduk. Mencoba mendoktrin otaknya untuk membenarkan kalimat Yoo Ra.
“Aku bahkan meninggalkan ID cardku di hari pertama bekerja. Rasanya tak ada yang lebih konyol dari itu.” Jungkook berujar seolah mematahkan kalimat kakaknya.
“Siapa bilang? Apa kau lupa?” Yoo Ra mendekati telinga Jungkook lalu berbisik, “Aku bahkan pernah buang gas ketika sedang wawancara kerja. Dan semua orang di ruangan harus keluar karena ulahku.” Jungkook spontan tertawa mendengar cerita Yoo Ra. Membuat gadis itu juga ikut tertawa.
“Sekarang, yang perlu kau lakukan adalah tarik napasmu dalam-dalam...” Yoo Ra mempraktikkan sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan Jungkook, mengajak adiknya melakukan hal yang sama. Dan berhasil.
“Lalu buang pelan-pelan. Buang juga semua kekhawatiranmu bersama itu.” Yoo Ra menghembuskan napas perlahan yang langsung diikuti Jungkook setelahnya.
“Bagaimana? Sudah baikan?” Tanya Yoo Ra sambil menaik turunkan alisnya menggoda Jungkook.
Jangan sebut ia Jeon Yoo Ra jika tidak bisa menjadi mood booster bagi Jeon Jungkook. Meski kakak beradik itu lebih sering bertengkar, tapi mereka selalu bisa saling menghibur di waktu-waktu tertentu.
__ADS_1
“Atau kau ingin aku menyanyikan lagu ‘bahagia’ kita di sini untuk menghiburmu? Hm? Hm?”
Lagu ‘bahagia’ yang Yoo Ra maksud adalah lagu anak-anak berjudul tiga beruang yang dinyanyikan dengan gestur tubuh menyesuaikan liriknya dan wajah yang dibuat konyol.
Bayangkan saja Lee Young Jae yang melakukan hal konyol itu untuk menghibur Han Ji Eun di serial drama Full House.
Dua kakak beradik inipun juga melakukan hal yang sama jika salah satu dari mereka sedang merajuk atau dalam mood yang buruk. Jangan tanya hasilnya, karena meski itu tak akan berpengaruh bagi sebagian orang, tapi percayalah itu sangat ampuh untuk mereka berdua.
Lantas, dibumbui kekehan panjang ala Jungkook, lelaki itu mengangguk mengiyakan penawaran kakaknya yang terdengar mustahil baginya. Jangan lupa bahwa mereka masih di lobby kantor sekarang. Jungkook tidak percaya kakaknya akan melakukannya di sini. Kecuali gadis itu sudah gila.
“Kau yakin? Baiklah kalau begitu.”
Persis seperti itu. Yoo Ra agaknya sudah gila sekarang. Karena gadis itu mulai mengangkat tangannya. Bibirnya sudah terbuka hendak menyanyikan bait pertama lagu ‘bahagia’ miliknya dan Jungkook, membuat Jungkook mengernyit. What the?!
“Gom sema-“ Jungkook mendelik dengan mulut terbuka tepat ketika Yoo Ra menurunkan tangannya hingga pinggang, hendak menirukan gaya konyol Lee Young Jae ketika menyanyikan lagu yang sama.
Dengan secepat kilat Jungkook menghambur pada Yoo Ra. Memeluk kakaknya itu dengan sangat erat sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Takut-takut kalau ada yang melihat kegilaan kakaknya. Beruntung lobby sudah semakin sepi dari karyawan yang lalu lalang. Membuat keduanya yang sempat terdiam akhirnya sama-sama melempar tawa. Konyol.
Jungkook akhirnya melepaskan pelukannya pada Yoo Ra setelah beberapa detik sebelumnya terus mengatai kakaknya dengan kalimat “Kau gila?!” atau “Kau benar-benar gila!”
“Sudah Noona, kita hentikan ini. Aku hampir terlambat. Aku harus segera naik.” Ujar Jungkook setelah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Baiklah. Semoga sukses. Kita rayakan hari pertamamu ini setelah pulang kerja, oke?” Jungkook mengangguk dan menghadiahi kakaknya dengan senyum menawan sembari berlari menjauh.
Jungkook sempat melambaikan tangannya sekilas pada Yoo Ra, sesaat sebelum tubuhnya hilang di balik lift karyawan.
Yoo Ra? Gadis itu tersenyum simpul melihat adiknya yang terlihat tergesa-gesa pergi. Ia juga sempat melambaikan tangannya membalas lambaian Jungkook. Ia tahu Jungkook mungkin akan mengalami beberapa kesulitan hari ini, tapi Yoo Ra sangat yakin jungkook mampu mengatasinya.
Terlalu fokus memperhatikan Jungkook membuat Yoo Ra tak sengaja menubruk seseorang saat baru beberapa langkah menuju pintu lobby. Gadis itu bahkan sempat mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh.
Beruntung seseorang dengan sigap menarik lengan Yoo Ra dan menyangga punggung gadis itu hingga ia kembali ke posisi semula.
“Kau baik-baik saja Nona?” Tanya si penolong yang kini berdiri di samping Yoo Ra.
“O'oh i-iya, eum, aku baik-baik saja. Terima kasih.” Yoo Ra membungkuk sekilas pada pria yang kini tersenyum ramah padanya. Manis sekali. E-eh, bukan. Maksudnya ramah sekali.
Atensi Yoo Ra kini beralih pada pria yang berdiri tepat di hadapannya. Pria yang barusan tak sengaja ditubruknya hingga ia sendiri hampir terjatuh. Tapi pria di depannya ini malah tetap berdiri tegak, tak bergeser sedikitpun dari tempatnya.
tunggu! Apakah barusan ada kata ‘sexy’ yang terlintas di otak Yoo Ra?
Sepersekian detik tatapan mereka beradu. Menimbulkan efek aneh di perut Yoo Ra. Jantung Yoo Ra seperti di pukul. Terasa sakit tapi anehnya juga menyenangkan.
Oh, Shit!
Yoo Ra menggeleng cepat. Menghilangkan apapun itu perasaan aneh yang membuat otaknya lumpuh seketika. Ia susah payah mempertahankan kesadaran dengan terus merapalkan kalimat yang sama di benaknya ‘ingat bodoh! Kau sudah bertunangan!’
“Eum, maaf, aku sungguh tidak sengaja. Barusan aku terlalu fokus melihat-“
“Melihat pacarmu?” Potong pria itu yang entah sejak kapan sudah memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Membuat wajahnya yang tampan jadi terlihat angkuh secara bersamaan.
“Y-ya?”
“Park Jimin-ssi” panggil pria itu pada rekannya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Yoo Ra.
“Ya, Daepyeonim².” Jawab si pria penolong yang baru Yoo Ra ketahui bernama Park Jimin.
“Kau yakin semua karyawan yang diterima bekerja disini adalah orang-orang pilihan?”
“Benar, Daepyeonim.”
“Kalau begitu mereka tentu sudah paham dengan attitude kerja dan peraturan perusahaan, bukan?”
“Benar sekali, Daepyeonim.” Jawab Jimin yang kini sedang berusaha menahan senyum.
“Bagus. Pastikan bahwa mereka tak hanya mengerti tapi juga melaksanakannya. Siapapun dan seperti apapun mereka ketika di luar kantor, mereka tetap harus menjadi karyawan yang berattitude ketika sudah ada di dalam lingkup perusahaan. Berlakukan itu pada semua karyawan tanpa terkecuali.” Sang Daepyeonim menjeda kalimatnya, menatap tepat ke iris Yoo Ra sebelum kembali berucap dengan penuh tekanan, “Terutama pada KARYAWAN MAGANG.”
Jimin sempat terkejut sebentar tapi akhirnya pria manis itu malah terlihat mati-matian menahan tawa. Meski sulit, pria itu tetap berusaha profesional dengan merespon perintah atasan yang juga sekaligus sahabatnya ketika di luar jam kerja.
“Baik, Daepyeonim. Akan saya laksanakan.”
__ADS_1
Berbeda dengan Jimin yang nampak terbiasa dengan kondisi serupa, Yoo Ra justru kebalikannya. Gadis itu sempat melongo mendengar ucapan pria bertitel Daepyeonim di depannya.
Kawan, jika kalimat-kalimat itu keluar dari atasan Yoo Ra di kantor, mungkin Yoo Ra akan menerimanya. Tapi ini? Lelaki ini baru bertemu dengannya sekali dan sudah menyindirnya dengan apa? Attitude?
Yoo Ra mengepalkan kedua tangannya di samping paha. Menyesal sekali tadi sempat memberi nilai plus pada lelaki angkuh di depannya. Pahatan sempurna? Sexy? Tampan? What the hell!
Kekesalan Yoo Ra makin terpancing saat sang Daepyeonim berdecih dan melewatinya begitu saja. Membuatnya mau tak mau harus memutar tubuhnya pula. Ini belum berakhir. Ada yang perlu diluruskan!
“Permisi!"
Kedua pria yang baru beberapa langkah menjauh itu kembali berbalik.
“Maaf, tapi, apa barusan anda sedang menyindirku?”
“Apa ada orang lain di sini?” jawab sang Daepyeonim yang seolah membenarkan kalimat Yoo Ra.
Baiklah. Darah Yoo Ra mendidih sekarang. Meski sempat melihat Jimin yang memberi isyarat untuk tidak melanjutkan perdebatan, tapi mengingat bagaimana sang Daepyeonim membawa-bawa ‘karyawan magang' tadi membuat Yoo Ra seketika mengingat Jungkook. Instingnya sebagai seorang kakak yang tidak rela adiknya dicemooh membuat sisi penyabar Yoo Ra sebagai wanita, sirna seketika.
Yoo Ra tertawa sarkastik lantas membuang pandangannya ke arah lain. Gadis itu lalu memindai sang Daepyeonim dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Lalu dari ujung sepatu sampai ritsleting ce-
tunggu! Ritsleting?
Yoo Ra seketika berdehem lalu kembali membuang pandangannya ke arah lain.
Sumpah demi Bangtan Sonyeondan yang sedang berada di puncak kegemilangannya, Yoo Ra tadinya hanya ingin meluruskan tentang attitude dengan laki-laki ini.
Tapi salahkan otak Yoo Ra yang kadang lebih bobrok dibanding otak Jungkook, gadis itu jadi ingin meluruskan hal yang lain sekarang. Bagi Yoo Ra, meluruskan sesuatu tentang ritsleting celana saat ini jauh lebih- Ah! Ya Tuhan! Entahlah.
“Maaf Daepyeonim yang terhormat, sepertinya sebelum anda membahas mengenai attitude dengan orang lain, ada baiknya anda bercermin saja lebih dahulu.”
Mata Jimin yang sudah sipit jadi makin menyipit mendengar kalimat yang dilontarkan Yoo Ra pada sahabatnya itu. Meski begitu, Jimin masih bisa melihat dari sudut matanya, kalau pria yang berdiri di sebelahnya itupun sedang sama bingungnya. Hanya saja sahabatnya itu tetap berusaha terlihat cool.
“maksudmu?” Tanya sang Daepyeonim akhirnya.
Yoo Ra kembali melirik ritsleting celana sang Daepyeonim yang separuh turun. Dan semakin terlihat saja karena kancing jas nya yang dibiarkan terbuka. Apalagi pria itu malah dengan angkuhnya menyingkap satu sisi jasnya ke belakang dan menggamitnya di sela tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana. What?!
What's wrong with him?!
Apa dia mau pamer?
Jika tidak, bagaimana seorang pria bisa seceroboh itu? So hard to believe!
Bahkan Yoo Ra saja malu mengatakannya.
Tapi juga ingin. Ah!
“Tidak ada. Hanya saja, kusarankan agar anda segera mencari cermin sekarang.”
Alis Taehyung menyatu. Sama sekali tak mengerti.
Yoo Ra menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan anggun. Lantas maju selangkah sambil menggumamkan sesuatu yang masih bisa di dengar oleh kedua pria di depannya.
“Semoga burung peliharaan anda tidak keburu lepas, tuan Daepyeonim."
To be continued...
¹ Noona : Kakak perempuan.
² Daepyeonim : Wakil Direktur.
Wow! 2,2 K words.
Nggak kerasa sihh... Kepanjangan ya?hehe.
Pokoknya terima kasih buat yang udah baca.
Semoga kalian suka.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Annyeong.... 🤗