Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
SEBELAS


__ADS_3

“Semoga kencanmu hari ini menyenangkan, Noona.”


“... Kencan... “


“... Menyenangkan... “


“... Hari ini... ”


“... Kencan... “


Taehyung mengusap kasar wajahnya, sekuat tenaga menahan gejolak aneh di hatinya yang meletup-letup. Dadanya panas, seperti terbakar api tak kasat mata yang entah bagaimana memadamkannya.


Kalimat Jungkook tadi pagi sukses membuat harinya berantakan. Sudah berulang kali Taehyung mencoba mengalihkan pikirannya pada hal-hal lain, tapi nihil. Fokus otaknya secara otomatis selalu kembali ke sana. Pada kata ‘kencan’ yang sialnya justru makin memenuhi tiap ruang di kepalanya hingga rasanya mau pecah.


Mau mengelak dengan alasan salah dengar juga rasanya terlalu naif. Karena kalimat itu sungguh masuk ke ruang rungunya dengan sangat jelas.


Yoo Ra akan berkencan hari ini. Dan orang bodoh pun juga pasti tahu kalau kalimat itu sekaligus menegaskan bahwa Yoo Ra bukan gadis single.


Jeon Yoo Ra memiliki kekasih.


Kenyataan itu mau tak mau membuat Taehyung gusar. Dia bahkan sudah menerka-nerka seperti apa wujud kekasih Yoo Ra. Apa pekerjaannya, tinggal di mana, kelebihannya apa, dan hal menakjubkan apa yang telah dilakukannya hingga bisa membuat Yoo Ra jatuh hati.


Ough! Taehyung bahkan tidak mau menyebut itu ‘jatuh hati'. Membayangkannya saja membuat perutnya mual.


Mendadak Taehyung ingat kejadian tadi malam ketika tiba-tiba Yoo Ra melompat-lompat kegirangan di atas sofa setelah mendapat pesan dari seseorang yang kemungkinan besar adalah pacarnya. Jadi itu sebabnya? Dia berubah jadi gadis setengah gila begitu cuma karena mau pergi kencan?


Taehyung berdecih, menyadari kenyataan bahwa Yoo Ra begitu menggilai pacarnya. Sedangkan sikap gadis itu padanya bisa berbeda seratus delapan puluh derajat. Yoo Ra hampir selalu bertingkah menyebalkan, cuek dan garang seolah dirinya adalah musuh bebuyutan.


“Ish!” Taehyung memekik kesal begitu menyadari otaknya kini sudah dipenuhi oleh segala ***** bengek tentang Jeon Yoo Ra. Tidak tahu saja dia kalau suaranya barusan cukup keras, membuat Jimin yang duduk di ujung ruangan sampai terkejut dan hampir menjatuhkan ponsel yang dipegangnya.


Bahkan tak hanya Jimin, seorang asisten dokter yang sedang memberi perawatan untuk luka di tangannya, ikut berjingkat kaget. “Maaf, apa aku melukaimu, Tuan?” tanyanya.


Pertanyaan itu sekaligus menarik kesadaran Taehyung kembali ke dunia nyata. Ia menggeleng cepat sebagai respons. “Tidak, tidak. Bukan seperti itu. Maaf, sudah membuat terkejut.”


Sementara Taehyung mengumpat dalam hati karena baru saja melakukan hal memalukan gara-gara seorang gadis, Kim Seokjin, dokter muda yang khusus menangani Taehyung sejak hari pertama pria itu terluka, menghampiri dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Dokter tampan yang usianya sedikit di atas Taehyung itu kini duduk di kursi yang tadi ditempati asistennya. Mengambil alih tugas membebat tangan Taehyung setelah sebelumnya ia menyuruh asistennya untuk istirahat lebih dulu karena sebentar lagi masuk jam makan siang.


“Sepertinya Anda sedang banyak pikiran, Tuan Kim?”


Taehyung menoleh. Mendapati Kim Seokjin sedang membereskan alat-alat medisnya sambil tersenyum ramah. “Hanya sudah tidak tahan dengan ini.” Kilah Taehyung seraya mengangkat tangannya yang baru selesai dibebat ulang, membuat Seokjin tertawa renyah.


“Bersabarlah sebentar lagi, Tuan Kim. Lukanya sudah mulai tertutup. Jadi, perkiraan minggu depan perbannya sudah bisa dilepas.”


“Apa setelah sembuh lukanya akan berbekas, Dokter?” tanya Jimin seraya mendekat, berdiri di samping tempat duduk Taehyung.


“Tentu iya. Mengingat luka Tuan Kim cukup dalam. Tapi jangan khawatir. Aku punya obat yang cukup bagus untuk menghilangkan bekasnya. Minggu depan akan aku resepkan, setelah memastikan lukanya tertutup sempurna.”


Seokjin mengulurkan selembar kertas kepada Jimin yang langsung diterima pemuda itu. “Kubuatkan resep yang berbeda dari dua hari yang lalu, karena kondisi lukanya juga sudah berbeda. Anda bisa menebusnya setelah dari sini.”


Pandangan Seokjin beralih dari Jimin ke Taehyung. “Pastikan Anda tetap meminum obatnya, Tuan Kim. Dan jangan melakukan aktivitas berat dulu karena meskipun lukanya sudah mulai tertutup, tetap tidak menutup kemungkinan luka itu kembali terbuka jika terkena tekanan atau benturan.”


Taehyung mengangguk. “Akan selalu kuingat. Terima kasih sudah meluangkan waktumu, Dokter Kim. Kami permisi dulu.”


Berbeda dari Taehyung yang sudah lebih dulu melangkah keluar, Jimin justru sebaliknya. Ia masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi bingung harus memulai dari mana.


“Ada yang ingin Anda sampaikan, Tuan Park?”


“Eum, iya.” Jimin mengurut dagunya dengan telunjuk dan ibu jari. Memilah kalimat yang tepat untuk disampaikan pada Seokjin. “Begini, masih sama seperti dua hari yang lalu Dokter Kim, aku minta tolong untuk merahasiakan kedatangan kami ke rumah sakit hari ini, pada siapa pun.”


Seokjin tersenyum. “Hanya itu?”


“iya”

__ADS_1


“Masih sama seperti dua hari yang lalu juga, Tuan Park. Tanpa Anda minta pun, aku pasti akan melakukannya. Itu tugasku sebagai dokter untuk menjaga privasi pasienku.”


“Baiklah, aku mengandalkanmu, Dokter Kim.”


“Tentu.”


Setelah membalas salam Jimin dan memastikan pria itu hilang dibalik pintu, Seokjin melepas stetoskop yang terkalung di lehernya lalu menaruhnya di meja. Berniat meninjau kembali rekam medis para pasien yang ditanganinya sejak pagi. Tapi, baru lima menit berkutat, konsentrasinya teralihkan oleh suara ketukan di pintu. Detik berikutnya, seorang gadis cantik yang belakangan ini sangat amat ia rindukan, menyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil tersenyum lebar.


“Seokjin Oppa, apa aku mengganggu?”


Hanya pertanyaan biasa saja sebenarnya. Tapi secara ajaib mampu membuat segala penatnya hilang seketika. Bahkan cukup dengan mendengar gadis itu menyebut namanya saja membuat jantungnya berdegup kencang dan bibirnya secara otomatis menyunggingkan senyum.


“Ya. Kau sangat mengganggu. Kau satu-satunya pengganggu yang mengecohkan pikiranku beberapa hari belakangan ini, Jeon Yoo Ra.”


💜💜💜


Jeon Yoo Ra mungkin bisa mendeklarasikan diri sebagai satu-satunya gadis paling bahagia di seantero kantin rumah sakit sekarang.


Raut lelah di wajah para tenaga medis yang mendominasi kantin untuk makan siang, seolah berbanding terbalik dengan suasana hati Yoo Ra saat ini. Aura cerah di wajah Yoo Ra sama sekali tak bisa disembunyikan.


Ia sedang bahagia. Dan itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan.


Alasannya?


Tentu saja karena Kim Seokjin. Tunangan super sibuknya itu akhirnya ada di hadapannya. Meluangkan waktu sejenak untuk makan siang bersama di sela waktu berharganya. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat rasa senang di hati Yoo Ra membuncah.


“Jadi, apa yang membuat tunanganku yang cantik ini datang jauh-jauh menemuiku ke rumah sakit?” tanya Seokjin pada Yoo Ra, bersamaan dengan datangnya seorang wanita paruh baya membawakan dua porsi salad buah pesanan mereka dan menaruhnya di meja. Waktu yang tepat untuk Yoo Ra menyembunyikan wajahnya yang tersipu.


“Terima kasih.” Kata Seokjin disertai senyum ramah pada bibi kantin yang juga melemparkan senyum serupa padanya sesaat sebelum berlalu pergi. Setelahnya, pandangan Seokjin kembali terangkum untuk Yoo Ra yang kini sibuk mengaduk salad buah miliknya. “Hai, cantik. Tunanganmu sedang bertanya padamu. Tidak ingin menjawabnya?”


Baiklah, pertahanannya ambyar seketika. Kepala Yoo Ra makin menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya yang menghangat.


“Halooo... Chubby cheeks-ku...Kau yakin tidak ingin menatap wajah tunanganmu?” tanya Seokjin. Ia memiringkan kepala sambil menekan-nekan pipi kiri Yoo Ra dengan jari telunjuknya. Sengaja ingin mendapatkan atensi gadisnya.


Tapi bukannya mendongak, Yoo Ra malah makin menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Apa yang dilakukan Seokjin justru makin membuatnya tersipu malu.


“Tidak kok! Aku sungguhan rindu.” Jawab Yoo Ra buru-buru. Takut Seokjin marah dan meninggalkannya dengan alasan ‘sibuk’, lagi. Kapala Yoo Ra pun mendongak cepat menatap wajah Seokjin yang kini menyemburkan tawa setelah berhasil membuat sang kekasih menatapnya.


“Iya iya. Aku tahu.” Kata Seokjin disertai gerakan tangannya mencubit gemas pucuk hidung Yoo Ra. “Aku juga sangat merindukanmu, Jeon Yoo Ra.”


Yoo Ra hampir kembali tersipu jika ia tidak keburu mengingat apa yang dikatakan Seokjin barusan seolah berbanding terbalik dengan kenyataan.


“Pembohong. Kau tidak terlihat seperti orang yang sedang merindukan tunanganmu, Oppa. Kau lebih mencintai pekerjaanmu.”


Meskipun mengatakannya sambil tersulut kesal, tapi Yoo Ra jelas tak bisa sepenuhnya marah pada Seokjin. Bagaimanapun rasa rindunya lebih besar ketimbang rasa kesal yang sedang menggelayuti setengah dari egonya.


Lagi pula, Seokjin bukan sengaja menghilang dari zona deteksi Yoo Ra. Pria tampan yang berstatus sebagai tunangannya itu hanya sedang sibuk. Super sibuk, lebih tepatnya.


“Kau tahu itu tidak benar, Yoo Ra.” Sanggah Seokjin sambil memindahkan potongan stroberi dari mangkuknya ke dalam mangkuk salad milik Yoo Ra. Kebiasaan yang sudah sejak dulu Seokjin lakukan mengingat Yoo Ra begitu menyukai buah stroberi. “Aku sangat merindukanmu. Tapi aku punya kewajiban lain yang tidak bisa begitu saja kutinggalkan.”


Yoo Ra ingin marah. Sungguh. Lagi-lagi dia harus menjadi nomor dua. Tapi rasa marahnya menguap tak bersisa begitu Seokjin meraih tangan kirinya yang bebas di atas meja lantas menggenggamnya erat.


“Yoo Ra, tolong dengarkan aku. Saat ini, menjadi seorang dokter bukan lagi sebatas cita-cita atau pekerjaan. Bagiku, menolong pasien yang membutuhkan keahlianku adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa begitu saja kutinggalkan.”


Habis sudah. Rasa kesal, marah, dan kecewa yang selama ini bercampur aduk dan menumpuk di ujung kepala, sudah hilang bagai tersapu angin. Yoo Ra bisa merasakan keseriusan dalam kalimat yang diucapkan Seokjin. Yoo Ra bisa melihatnya, melalui sorot mata pria itu yang kian teduh dan genggaman tangannya yang makin kuat.


Melihat prianya begitu mencintai pekerjaannya dan begitu bertanggung jawab atas pilihannya, secara perlahan membangunkan rasa kagum dan bangga di hati Yoo Ra. Terlebih, apa yang dipilih Seokjin bukanlah jalan yang buruk.


Bukankah menjadi dokter adalah tugas mulia? Setidaknya itulah yang kini dipikirkan Yoo Ra.


“Maafkan aku, Oppa.” Kalimat itu keluar mewakili rasa bersalah Yoo Ra yang selama ini sering berpikir buruk dan kesal setiap kali Seokjin membatalkan janji mereka, menolak untuk bertemu, atau memutuskan sambungan telepon begitu saja. “Kupikir selama ini aku tak lebih berharga daripada karier Oppa.”


Seokjin sempat terperangah. Namun kemudian ia menghela napas panjang. “Jadi selama ini kau berpikir begitu?”

__ADS_1


Yoo Ra mengangguk lemah sambil menundukkan kepala. “Maaf.”


Hening sempat menyelimuti. Yoo Ra bahkan berpikir mungkin saat ini Seokjin sedang kecewa padanya. Pria itu mendadak diam dan tak merespon apapun, meski tangan kanannya masih setia menggenggam erat tangan Yoo Ra. Yoo Ra jadi ingin mendongak untuk memastikan apa yang Seokjin lakukan. Namun rasa bersalahnya membuatnya takut, meski hanya untuk bertemu pandang sekalipun.


Sampai ketika satu tangan Seokjin yang lain meraih dagu Yoo Ra, menuntun gadis itu untuk memandangnya.


“Jangan minta maaf. Aku yang salah karena selama ini kurang peka pada perasaanmu. Maafkan aku.” Kata Seokjin yang langsung membuat Yoo Ra menggeleng kuat. Yoo Ra ingin menyanggah, namun Seokjin sudah lebih dulu menambahkan. “Kurasa mengajakmu berkencan nanti sore adalah keputusan yang benar.” Kata Seojin dengan disertai senyum lebarnya.


“Memangnya Oppa sudah buat rencana untuk kencan kita nanti? Kita akan pergi ke mana?”


“Belum. Kali ini kau saja yang tentukan.” Kata Seokjin sambil menyuapkan potongan stroberi ke mulut Yoo Ra. “Tugasku hanya memastikan kalau aku tidak akan lagi membatalkan rencana kencan kita kali ini.”


“Oppa yakin kencan kita kali ini akan berhasil?” tanya Yoo Ra begitu ia menelan kunyahan stroberi di mulutnya.


“Harus.”


“Oh ya? Kenapa”


“Karena aku tidak mau mengecewakan chubby cheek-ku lagi kali ini.” Jawab Seokjin diikuti gelak tawa mereka berdua.


“Kau belum menjawab pertanyaanku, Yoo Ra.”


“Yang mana?”


“Apa yang membuatmu datang jauh-jauh ke sini? Padahal nanti sore kita akan bertemu.”


“Hanya memastikan saja kalau Oppa tidak berencana melarikan diri lagi.”


“Yoo Ra-“


“Bercanda.” Sahut Yoo Ra sambil tertawa lebar. “Aku hanya mampir sebentar karena kebetulan lewat.”


“Mampir? Dari mana memangnya?”


“Dari rumah Hoseok Oppa. Sekalian ke supermarket sebentar lalu mampir ke apartemen Oppa untuk menaruh bahan makanan di kulkas. Jangan sampai telat makan, Oppa. Seorang dokter harus tetap sehat agar bisa melayani pasiennya.”


Seokjin tak mendengarkan kalimat panjang Yoo Ra. Fokusnya teralihkan begitu Yoo Ra bilang baru pulang dari rumah Hoseok.


“Yoo Ra,”


“Ya?”


“Kau masih menitipkan uang setiap bulan pada Hoseok?”


Yoo Ra mengangguk, memasukkan potongan stroberi lagi ke mulutnya. Tak menghiraukan raut wajah Seokjin yang berubah sendu.


“Bukankah sudah kukatakan berulang kali, berhentilah mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan kita. Kau tidak percaya kalau keuanganku sekarang sudah jauh lebih baik daripada dulu? Aku seorang dokter, Yoo Ra. Kau masih tidak yakin aku bisa menghidupimu dan Jungkook setelah kita menikah?”


“Tidak, bukan begitu-“


“Lalu?”


“Oppa-"


“Berhentilah, kumohon. Jangan bekerja paruh waktu lagi. Aku tidak melarangmu untuk tetap menjadi penyiar radio karena itu adalah hobimu. Tapi lepaskanlah pekerjaan paruh waktumu. Kau harus menikmati hidupmu juga, Yoo Ra. Kau sudah terlalu lama hidup menderita. Biarkan aku yang menanggung sisanya.”


“Oppa,” Yoo Ra meraih kedua tangan Seokjin dan menatap lekat matanya. “Saat aku melihatmu, aku seperti sedang bercermin. Kita memiliki nasib hidup yang tak jauh berbeda. Aku kehilangan orang tuaku saat usiaku masih kecil. Dan ya, aku memang menderita setelahnya. Tapi bahkan yang menimpamu tak lebih baik dariku, Oppa. Kau bahkan tidak tahu dan tidak pernah melihat seperti apa orang tuamu. Kau sudah bersahabat dengan kesulitan jauh sebelum aku merasakannya. Jadi, biarkan aku melakukannya.”


Seokjin bungkam. Sama sekali tak menyangka Yoo Ra berpikir sejauh itu.


“Lagipula, ini bukan cuma pernikahanmu, Oppa. tapi pernikahanku juga. Pernikahan kita berdua. Jadi, biarkan aku ikut pemperjuangkannya. Hm?”


Tak ada sanggahan lagi. Seokjin terlalu larut dalam rasa bangga dan haru yang bergumul menjadi satu begitu mendengar pola pikir Yoo Ra.

__ADS_1


Seokjin jadi semakin yakin. Dia tidak salah memilih calon istri.


To be continued....


__ADS_2