Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
TUJUH


__ADS_3

“Jimin-ssi?”


Yoo Ra terkejut saat lift yang membawanya ke lobby telah terbuka dan langsung menampilkan sosok Park Jimin sedang tersenyum manis ke arahnya.


Padahal baru semenit yang lalu Jungkook mengatakan lewat telepon kalau Jimin sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya, tapi lelaki itu sudah muncul bahkan sebelum Yoo Ra keluar dari lift.


Jadi, Jungkook yang telat mengabarinya, atau Jimin yang punya kekuatan super semacam... Teleportasi?


“Kau sungguh datang Jimin-ssi? Ku pikir Jungkook sedang bercanda.”


“Dia memberitahumu?”


“Ya, barusan dia meneleponku.”


“Ahh..begitu. Hmm iya, aku ingin makan malam bersama dengan kalian lagi malam ini. Kau tidak keberatan kan Yoo Ra-ssi?”


“Tentu. Di mana dia sekarang.”


“Jungkook? Tadi aku mengantarnya duluan ke restoran. Mungkin dia sedang sibuk memesan sekarang.”


“Tunggu Jimin-ssi.” Yoo Ra menyadari ada yang salah dengan Jimin.


“Hm? Ada apa?”


“Itu... Kenapa-“ Yoo Ra menunjuk rambut dan setelan kerja Jimin yang agak basah.


“Di luar hujan.” Jawab Jimin sambil mengimbangi langkah Yoo Ra menuju pintu keluar gedung. Tangannya sesekali menyugar kasar rambutnya ke belakang, menghilangkan sisa air yang masih tersisa.


“Benarkah? Padahal sudah beberapa hari tidak turun hujan.”


“Iya, hujannya tiba-tiba turun waktu baru keluar dari mobil. Padahal aku terlanjur memarkirkan mobilku di luar karena ku pikir tidak akan lama. Tahu begitu lebih baik parkir di basement saja.”


Yoo Ra tertawa melihat ekspresi kesal Jimin yang justru terlihat lucu. Ditambah hujan deras yang menyapa begitu keluar dari gedung serta mobil Jimin di seberang yang sudah basah kuyup, membuat Yoo Ra tertawa makin kencang.


“Kenapa?” Tanya Jimin yang bingung di mana letak lucunya. Kebingungannya bertambah saat Yoo Ra tiba-tiba berjongkok menggulung sedikit celana jeansnya lalu berdiri lagi sambil menaikkan shoulder bagnya ke atas kepala.


“Kau tidak bawa payung kan Jimin-ssi?! Aku juga sama. Jadi, apa boleh buat?!”


Wajah bingung Jimin hilang tergantikan pekikan kecil, ketika Yoo Ra tiba-tiba berlari menerobos hujan yang makin deras sambil berteriak memanggilnya untuk menyusul.


Lagipula hanya hujan air, bukan hujan batu. Begitu kira-kira pikiran sederhana Yoo Ra yang masih membawa kakinya berlari menuju mobil Jimin. Sampai ketika sebuah lengan merengkuhnya membuatnya terkejut.


Ternyata Jimin sudah berada di sampingnya. Merentangkan jas yang tadi dia pakai ke atas kepala mereka berdua. Mereka kini berlari berdempetan di bawah jas Jimin yang melindungi tubuh atas mereka dari guyuran hujan. Ironis memang, karena barang mahal itu harus berubah fungsi menjadi pengganti payung.


Setelah membukakan pintu untuk Yoo Ra, Jimin mendorong pelan bahu gadis itu untuk masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Baru setelah itu Jimin berlari berputar arah menuju kursi kemudi.


Setelah masuk ke mobil, Jimin langsung menaruh jasnya yang basah di sudut jok belakang. Sementara Yoo Ra sibuk melepas blazer nya yang juga basah di beberapa bagian.


“Biar kubantu.” Kata Jimin yang langsung mengambil blazer Yoo Ra untuk di taruh di jok belakang bersama dengan jasnya. “Tasmu, sepertinya juga harus dipindahkan ke belakang Yoo Ra-ssi.”


“Hm? Kenapa?” Tanya Yoo Ra yang merasa bingung, namun tetap menyerahkan tas dipangkuannya pada Jimin.


“Karena aku harus menggantinya dengan ini.” Jawab Jimin sambil merentangkan sebuah selimut tebal dan meletakkannnya di pangkuan Yoo Ra hingga menjuntai menutup kaki.


“Aku tidak tahu apa kau memang terbiasa berlarian di bawah hujan atau bagaimana. Tapi kusarankan agar kau tidak melakukannya terlalu sering Yoo Ra-ssi. Jika sistem imunmu sedang buruk, kau bisa kena flu.” Celoteh Jimin seraya mengeluarkan handuk kecil dari laci dasboard lalu menyampirkan handuk itu di atas kepala Yoo Ra dan menyuruh gadis itu untuk mengeringkan ujung rambutnya yang basah.


“Ada apa?” Tanya Jimin melirik sekilas ke arah Yoo Ra yang tak juga mengeringkan rambutnya, malah menatap Jimin yang sedang mengatur penghangat mobil dengan kondisi tubuh yang sudah basah kuyup.


“Apa kau selalu bersikap semanis ini pada semua wanita yang belum lama kau kenal?” Tanya Yoo Ra sambil mengembalikan handuk kecil itu pada Jimin. “Kau lebih membutuhkannya Jimin-ssi. Kau basah kuyup.”


Jimin tersenyum. Menerima handuk itu lalu mengeringkan rambutnya dengan cepat. “Pakai seatbeltmu Yoo Ra-ssi. Kita jalan sekarang. Takut adikmu menunggu lama.” Kata Jimin yang langsung melajukan mobilnya membelah jalanan yang tidak begitu ramai karena hujan deras.


“Jimin-ssi?”


“Ya?”


“Kau belum jawab pertanyaanku.”


“Yang mana?” Tanya Jimin sambil menyunggingkan senyum.


“Seingatku aku hanya memberimu satu pertanyaan.”


“Oh... Itu... “ Jimin mengendikkan bahu, “Entahlah. Aku tidak yakin. Kenapa memangnya? Ada yang salah jika aku memperlakukan wanita dengan manis?”


“Ada, tentu saja. Sikapmu yang terlalu manis bisa membuat mereka salah paham.”


“Oh ya?”


“Ya.”

__ADS_1


“Apa kau juga begitu?”


“Apa maksudmu? Tentu saja tidak.”


“Kenapa?” Tanya Jimin sambil menoleh ke arah Yoo Ra.


“Karena kau adalah Park Jimin. Pacar Kim Taehyung.” Yoo Ra menjeda sebentar lalu membalas tatapan Jimin dengan pandangan penuh peringatan. “Jadi jangan memberi harapan palsu pada semua wanita jika kau tidak bisa membalas perasaan mereka. Mereka hanya akan terluka jika tahu kalau kau... Tidak menyukai wanita, Jimin-ssi.”


Jimin kembali fokus ke jalanan di depannya. Sempat tertegun sebentar tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak sambil sesekali memukulkan tangannya pada kemudi.


Entahlah, Jimin juga tidak tahu kenapa ia tertawa. Padahal wajar jika Yoo Ra berpikir begitu, mengingat Jimin sendiri yang menjejalkan cerita ‘gay’ tersebut di kepala Yoo Ra. Tapi tetap saja, ekspresi Yoo Ra setiap membicarakan hal itu selalu saja terlihat lucu, membuat Jimin tak bisa menahan tawanya.


Sedangkan di kursi penumpang, Yoo Ra sedang dibuat heran mengapa Jimin malah menanggapinya begitu, padahal barusan ia berkata serius. Tapi Yasudahlah, Yoo Ra tidak mau ambil pusing. Toh dia sudah berusaha mengingatkan.


Kini Yoo Ra memilih fokus melemparkan pandangan ke luar jendela. Melihat derasnya hujan yang kini telah berganti dengan gerimis, tepat ketika mobil Jimin menepi dan berhenti di depan sebuah restoran yang terlihat besar dan mewah.


Yoo Ra mengenal restoran itu. Bukan karena ia pernah mampir ke sana. Tapi karena letaknya yang searah dengan rumahnya, dan dia jelas melewatinya setiap hari saat berangkat atau pulang kerja.


Meski begitu, tidak pernah satu kalipun ia membayangkan akan masuk ke dalam dan makan malam di sana. Jadi, tidak heran jika kini bibir Yoo Ra sudah tersenyum lebar, membayangkan Jimin akan mentraktirnya dengan makanan yang bisa memanjakan cacing-cacing di perutnya yang kini sedang bersorak riang.


Bahkan ia sudah menyalakan ponselnya untuk memberitahu Jungkook kalau dia sudah ada di depan restoran dan akan segera menyusulnya masuk.


“Yo Ra-ssi, kau tunggu di sini saja ya.”


Yoo Ra mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidak mengerti saja. Maksudnya hanya Jimin dan Jungkook saja yang akan makan malam di dalam dan dia menunggu di mobil? Atau... atau bagaimana?


“Kenapa? Maksudku, kenapa aku harus menunggu di mobil?”


“Karena kita tidak akan makan malam di sana Yoo Ra-ssi. Jadi kenapa kau harus ikut turun?”


“APAA?!!!!!!”


Jimin yang sudah membuka pintu mobil sampai terlonjak kaget dan kembali ke posisinya semula saat tiba-tiba Yoo Ra berteriak kencang seperti baru saja kehilangan barang berharganya.


“Ada apa???” Tanya Jimin dengan wajah terkejutnya.


“A-ahh... Maaf... i-ini... Aku menyalakan ponsel dan mendapat berita kalau BTS baru saja merilis album barunya. Mengejutkan sekali kan?! Hahaha...”


Jimin mengernyit heran. Jadi hanya karena itu Yoo Ra sampai menjerit histeris?


“Tunggu di sini Yoo Ra-ssi. Aku tidak akan lama.”


Sedangkan Yoo Ra melihat Jimin menjauh dari dalam mobil sambil mendumal tak karuan.


“Kenapa sih dia? Apa dia kesal karena tadi aku melarangnya terlalu baik dan manis pada wanita, jadi dia memperlakukanku begini?”


“Dan karena itu dia sekarang menyuruhku hanya tinggal di mobil dan menunggunya makan?”


“Waahh!! Park Jimin benar-benar...!!”


Yoo Ra mencebik kesal. Sirna sudah kesempatannya untuk makan malam di restoran mewah. Dan bisa dipastikan ia harus segera masak makan malam sesampainya di rumah.


Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi? Yoo Ra menyandarkan punggungnya, berusaha untuk tidur. Lumayan untuk merilekskan tubuhnya yang lelah setelah seharian bekerja. Sehingga saat bangun nanti, ia akan bersemangat untuk membuat makan malam.


Begitulah... Yoo Ra pasrah. Bagaimanapun Ia masih seorang Jeon Yoo Ra yang sama yang harus tetap membuat makan malam seumur hidupnya. Bahkan dua pria kaya yang muncul tiba-tiba di hidupnya itu tidak akan bisa merubahnya.


💜💜💜


“Yoo Ra-ssi, bangun...”


Yoo Ra menggeliat kecil saat Jimin menepuk pelan bahunya. Matanya terbuka perlahan dan menemukan Park Jimin berjongkok di sebelahnya.


“Em...mh... Kita sudah sampai? Maaf aku ketiduran.” Yoo Ra menegakkan tubuhnya berusaha mengumpulkan kesadaran. Ia menoleh ke belakang dan tak menemukan Jungkook di sana. Bahkan tas dan blazernya pun sudah tidak ada.


“Mencari tasmu ya? Itu, Jungkook sudah membawanya masuk.” Jelas Jimin sambil menunjuk arah rumah.


“Ayo, ku bantu turun.” Jimin sudah merubah posisi menjadi berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Yoo Ra turun dari mobil. Yoo Ra masih setengah sadar dan Jimin ingin membantunya agar tidak jatuh. Itu saja.


Tapi rupanya Yoo Ra tak menerima bantuan dari Jimin. Nyatanya ia tak membalas uluran tangan itu dan malah mendorong pelan dada Jimin agar mundur untuk memberinya jalan. Asal tahu saja, dia masih kesal karena ditinggal sendiri di depan restoran. Lebih tepatnya, kesal karena tidak jadi ditraktir makan malam.


“Sudah ku bilang jangan bersikap terlalu manis pada wanita.”


Jimin terkekeh saat Yoo Ra melewatinya begitu saja dengan wajah ditekuk. Layaknya anak kecil yang dilarang orang tuanya makan permen.


Setelah melepas dan menaruh sepatunya di rak, Yoo Ra langsung menuju dapur untuk bersiap membuat makan malam. Tapi kakinya berhenti melangkah saat melihat pemandangan di depannya.


Di sana, di ruang makan yang menyatu dengan dapur kecilnya, sudah ada jungkook dan Taehyung yang duduk manis di kursi mereka. Tapi bukan itu yang membuat Yoo Ra terkejut. pemandangan di atas meja makanlah yang justru membuatnya shock bukan main.


Meja kecil itu sudah dipenuhi berbagai jenis makanan yang tidak bisa disebut ‘sederhana’. Bahkan makanan-makanan itu tetap terlihat mahal meskipun sudah disajikan di atas piring-piring murah milik Yoo Ra. Yang lebih mengejutkan lagi, ada satu meja tambahan di sebelah meja makan, yang juga dipenuhi makanan.

__ADS_1


“Duduklah Noona.” Jungkook tersenyum lebar sambil menggeserkan kursi di sebelahnya untuk Yoo Ra.


Gadis itu hanya melangkah mendekati meja dengan tatapan bingung. Bahkan Jimin yang tadi berjalan di belakangnya kini sudah lebih dulu duduk di samping Taehyung.


“Mau sampai kapan kau berdiri di sana dan membuat kami menunggu?”


Suara Taehyung menyadarkan Yoo Ra dari keterkejutannya. Meski pria itu bicara tanpa memandang ke arah Yoo Ra sedikitpun dan lebih fokus melihat layar ponsel di tangannya.


“Kenapa harus beli makanan di luar? Aku bisa membuatkan kalian makan malam.” Kata Yoo Ra yang kini telah duduk di samping Jungkook, berhadapan langsung dengan Jimin.


Percayalah, Yoo Ra hanya sedang basa-basi. Sesungguhnya dia sangat senang sekarang. Lihat saja air liurnya sudah hampir menetes melihat makanan makanan mewah ala restoran itu tertata rapi memenuhi meja makannya.


“Dan aku akan merasa tidak enak karena merepotkanmu berulang kali?” Jawab Jimin sambil menopangkan dagu, menatap wajah Yoo Ra yang tersipu.


“Tidak juga. Lagipula aku sudah terbiasa memasak makan malam setiap hari.”


Bohong. Tentu saja yang Yoo Ra katakan itu adalah kebohongan. Andaikan ada alat tes kejujuran di sana, dia pasti ketahuan kalau sedang berdusta. Yang benar adalah, Yoo Ra ingin berguling-guling di lantai merayakan hari liburnya membuat makan malam hari ini.


Jimin terkekeh, “Baiklah, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah bersedia menerima Taehyung di rumah kalian.”


“Oo... Jadi ini semua karena si Kim Taehyung itu?” Batin Yoo Ra. Ia melirik sekilas ke arah Taehyung yang masih terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya. “Benar Juga, pasti Jimin-ssi melakukan semua ini karena kekasihnya. Dia pasti ingin membuat kekasihnya itu senang dengan makan malam yang mahal dan enak. Tapi tidak apa-apa. Yang penting aku libur memasak malam ini. Hahaha... “


“Aku dengar loh, Noona.” Jungkook menyenggol lengan Yoo Ra sambil tertawa.


“Dengar apa?”


“Kata hatimu. Barusan Noona sedang bersorak karena bisa makan makanan mahal dan tidak perlu sibuk membuat makan malam. Iya kan?!” Jungkook masih tertawa sambil menaik turunkan alisnya menggoda Yoo Ra.


Jimin seketika menyemburkan tawa, membuat Yoo Ra malu bukan main karena ketahuan berbohong. Sial, sejak kapan sih Jungkook bisa membaca pikiran orang? Dasar adik tidak tahu diuntung!


“Itu tidak benar, jangan dengarkan dia.” Kata Yoo Ra sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara.


“Jangan bohong Noona, tanpa ku jelaskanpun, sekretaris Park juga pasti tau apa yang Noona pikirkan. Wajah Noona sudah menggambarkan semuanya. Hahaha”


Yoo Ra otomatis menyentuh kedua pipinya. Berpikir apakah benar wajahnya sungguh terlihat demikian. Sedetik kemudian ia memukul keras lengan Jungkook karena sadar baru saja dibodohi.


“Aww...!! Sakit Noona... “ Jungkook meringis mengusap-usap lengannya yang baru saja dianiaya oleh kakaknya.


“Rasakan! Kenapa? Mau lagi, Hah?” Yoo Ra sudah sibuk membombardir tubuh Jungkook dengan pukulan-pukulan kecil, sedangkan Jungkook sibuk mengaduh sambil berusaha menghindari pukulan kakaknya.


Interaksi kedua kakak beradik itu membuat Jimin tersenyum lebar. Ada selimut kasat mata yang menghangatkan hatinya. Entahlah, Jimin sendiri bingung bagaimana mendeskripsikan perasaannya sekarang. Yang jelas, ia senang bisa berada di antara meraka berdua.


“Tidak apa-apa Yoo Ra-ssi.” Jimin membuka suara setelah beberapa saat terdiam. “Lagipula aku justru senang kalau yang Jungkook katakan itu benar. Itu tandanya ucapan terimakasihku berhasil, kan?”


Yoo Ra berhenti memukuli Jungkook. Kini atensinya beralih pada dua meja yang dipenuhi makanan mahal di depannya. “Tapi ini berlebihan Jimin-ssi. Baiklah, aku senang karena hari ini tidak memasak makan malam. Tapi ini... Menu nya banyak sekali. Ini berlebihan.” Yoo Ra benar, kali ini ia berkata jujur.


“Tidak masalah. Tapi jika kau merasa sungkan, cukup undang aku untuk ikut makan malam bersama kalian lagi besok. Bagaimana?”


“Ohoo... Jadi inikah tujuanmu sebenarnya Jimin-ssi??”


Kalimat Yoo Ra disambut gelak tawa ketiganya. Ya, hanya mereka bertiga. Mereka lupa ada satu orang lagi di meja makan itu yang sedang diam seribu bahasa.


Benar, Kim Taehyung masih ada di sana. Menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Terlebih saat netranya terkunci pada wajah Yoo Ra yang sedang sibuk tertawa.


Ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan melihat gadis itu tertawa lebar. Taehyung merasa musim semi tahun ini terjadi pula di hatinya. Bunga-bunga bermekaran memenuhi dadanya tanpa jelas apa penyebabnya.


Jika di luar sana kuncup-kuncup bermekaran karena tersiram hujan, benarkah bunga-bunga di hatinya bermekaran cukup dengan melihat wajah cantik Jeon Yoo Ra yang di penuhi tawa?


Oh... Siapapun... Tolong katakan kalau saat ini Taehyung sedang bermimpi...


To Be Continued.....


Ini ekspresi Jimin yang lagi menopang dagu menatap Yoo Ra yang tersipu malu karena dapet makanan mewah dan nggak perlu masak makan malam.👇😅**




*Lupakan dulu soal makan malam mewah.


Jimin lagi makan mie tuhh. 👆 Ada yang mau nemenin???😍


**Haiii...😍


Yeye lagi goodmood nih. jadi update nya lumayan cepet.😁


semoga kalian suka yaaa🤗


Jangan lupa klik tombol SUKA dan Favorite ya.. biar nggak ketinggalan update an 'Boss With Love' selanjutnya.😊

__ADS_1


Tinggalkan jejak di kolom komentar juga biar Yeye bahagiaaaa😆😆😆***


__ADS_2