Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
DELAPAN


__ADS_3

Makan malam telah usai. Hal selanjutnya yang Yoo Ra lakukan adalah mencuci piring lalu pergi ke kamar tamu untuk bersih-bersih. Karena kamar itu nantinya akan ditempati oleh Kim Taehyung selama pria itu tinggal di rumahnya.


Jungkook dan Jimin ada di ruang tv. Menonton acara random sambil berbincang hal sederhana.


Sedangkan Taehyung?


Sejak makan malam selesai, Taehyung langsung menenggelamkan diri di kamar Jungkook. Semua orang berpikir pria itu sudah lebih dulu tidur. Tapi tidak. Nyatanya kedua matanya masih terjaga. Rasa kantuk belum bisa menyentuhnya sama sekali.


Yang ia lakukan hanyalah duduk diam di pinggir ranjang sambil berpikir serius tentang sesuatu yang salah dalam dirinya.


Sejak awal hingga akhir, selama makan malam berlangsung, entah kenapa Taehyung selalu mencuri pandang ke arah Yoo Ra. Ia merasa terus terjebak dalam senyum dan tawa Yoo Ra yang anehnya terlihat begitu mempesona di matanya.


Setiap kali tawa dari mulut gadis bermarga Jeon itu terdengar, maka secara otomatis Taehyung akan melihat ke arahnya. Atau paling tidak, ia akan mencuri pandang melalui ekor matanya, berpura-pura menatap Jimin padahal objek utamanya tetaplah Yoo Ra.


Itu yang terus terjadi hingga makan malam usai. Sesungguhnya Taehyung sendiri sangat ingin menghindarinya. Tapi nyatanya, senyum Yoo Ra mampu meruntuhkan pertahanannya bahkan di detik pertama ia mencoba. Seolah senyum Yoo Ra memiliki magnet yang selalu bisa menarik perhatiannya.


Pertama kali melihat tawa Yoo Ra di bingkai foto tadi siang, Taehyung sudah merasakan sesuatu yang tidak biasa. Jantungnya berdebar tidak normal. Tapi ia yakin perasaan aneh itu akan hilang dengan sendirinya. Sayangnya, melihat tawa itu langsung dari bibir Yoo Ra justru membuat debaran itu makin parah saja.


Taehyung bukan pria bodoh yang tidak bisa menebak perasaannya. Ia bahkan sudah sempat menyimpulkan kalau dirinya sedang jatuh cinta. Tapi akal sehatnya masih menolak untuk percaya.


Satu sisi hatinya menolak yakin kalau yang ia rasakan adalah cinta. Bagaimanapun, ia baru saja mengenal Yoo Ra. Dua hari adalah waktu yang terlalu singkat bagi seseorang untuk jatuh cinta, bukan?


Tapi sisi hatinya yang lain meyakini kalau cinta bisa datang kapan saja tanpa bisa dikendalikan oleh waktu. Bahkan ada sebutan love at the first sight yang menunjukkan betapa waktu tidak akan berdaya menghalangi tumbuhnya cinta.


Tapi benarkah?


Benarkah seorang Kim Taehyung jatuh cinta pada gadis seperti Jeon Yoo Ra?


Baiklah, tak ada yang salah dengan Yoo Ra. Semua orang, bahkan Taehyung pun mengakui kalau Yoo Ra adalah gadis yang baik. Sejauh ini, hanya dengan melihat dari cara Yoo Ra menjaga adiknya, bagaimana gadis itu perduli pada masalah orang lain, juga bagaimana ia bertanggung jawab terhadap tugas rumah dan pekerjaannya, cukup dengan melihat itu, Taehyung yakin Yoo Ra gadis yang baik.


Hanya saja,


kenapa harus Yoo Ra?


Gadis baik yang seperti itu kan banyak di luar sana.


Lalu, kenapa harus Yoo Ra?


Seorang gadis kelewat sederhana yang bahkan memiliki momen buruk dengannya di awal pertemuan. Gadis yang memepermalukannya di insiden ritsleting waktu itu. Ah!... Mana mungkin Taehyung bisa jatuh cinta pada gadis bar-bar sejenis Yoo Ra?!


Sedangkan pria sekelas Kim Taehyung harusnya bisa mendapatkan gadis yang tak cuma baik hati saja, tapi juga anggun, lemah lembut, sopan, dan berkelas. Bukan seperti Yoo Ra.


“Tidak mungkin! Pasti ada yang salah! Aku harus buktikan sekali lagi!” batin Taehyung.


Ia beranjak dari tempat tidur dan berniat keluar dari kamar. Ia ingin bertemu dengan Yoo Ra dan memastikan sesuatu.


Tapi belum sempat ia meraih gagang pintu, daun pintu itu sudah lebih dulu berayun terbuka hingga membuat Taehyung terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Gadis yang ingin ia temui ada di sana. Berdiri di ambang pintu dengan membawa nampan berisi segelas air putih.


Untuk beberapa saat mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain. Hingga akhirnya Taehyung yang bahkan hampir terkena serangan jantung dadakan itu berinisiatif membuka suara lebih dulu.


“Ke-kenapa kau datang k-ke kamarku?”


“Sial! Sejak kapan aku jadi gagap begini?!”


“Kamar adikku lebih tepatnya.” Jawab Yoo Ra lalu melangkah masuk melewati Taehyung begitu saja.


Taehyung berbalik, melihat Yoo Ra meletakkan nampan berisi air putih itu di atas nakas di sebelah tempat tidur lalu membuka setiap lacinya untuk mencari sesuatu.


“Tapi ada aku juga di kamar ini sekarang. Jadi harusnya kau ketuk pintu dulu sebelum masuk. Kau tidak pernah belajar bagaimana menghargai privasi orang lain?!” Taehyung tersenyum bangga karena dia masihlah seorang Kim Taehyung yang pandai mengontrol diri lebih cepat dari siapapun. Buktinya, suaranya yang keluar tak lagi gagap dan memalukan seperti tadi. Anggap saja yang tadi itu kecelakaan.


“Yaaa... Ya... Aku minta maaf...” Jawab Yoo Ra santai sambil terus fokus mencari sesuatu.

__ADS_1


Pandangan Taehyung kini jatuh pada gelas berisi air putih yang dibawa Yoo Ra. Ia kembali tersenyum karena berpikir air putih itu untuknya.


Tapi senyum itu segera hilang saat Yoo Ra bangkit dan membawa kembali air putih itu bersama dengan kotak kecil yang Yoo Ra ambil dari dalam laci nakas.


“Tunggu. Mau kau bawa ke mana air itu?” Tanya Taehyung sambil menghadang Yoo Ra keluar dari kamar.


“Ini? Memangnya kenapa?”


“Bukankah air itu untuk... Untuk... Jungkook? Kenapa kau bawa keluar lagi?”


Yoo Ra mengernyit, “Siapa bilang untuk Jungkook? Air ini untuk Jimin-sii.” Jawab Yoo Ra lalu kembali melangkah. Tapi baru dapat dua langkah, Taehyung sudah menghadangnya lagi.


“Apa lagi... ??”


“Kenapa? Kenapa kau menyiapkan air untuk Jimin?” Tanya Taehyung dengan nada tidak sabaran.


Yoo Ra mendesah tak habis pikir dengan kelakuan Taehyung. Tapi ia tetap menjawabnya. Bahkan dengan senyum manis, meski terkesan dipaksakan. “Tuan Daepyeonim yang terhormat, paca-... maksudku temanmu, tuan Park Jimin sedang demam. Sepertinya karena hujan hujanan tadi sore. Jadi, sebagai pemilik rumah yang baik, aku membawakan air putih dan kotak obat ini untuknya. Sudah jelas??”


Taehyung mengerjap beberapa kali. Mencoba bernapas dengan normal. Bukan apa-apa, barusan Yoo Ra tersenyum, dan itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Setelah sepenuhnya sadar, Yoo Ra sudah tidak ada di sana. Sepertinya gadis itu pergi saat Taehyung masih sibuk menormalkan kembali detak jantungnya.


Baru saja Taehyung berniat untuk menyusul, tiba-tiba Jungkook datang dengan langkah tergopoh.


“Permisi Daepyeonim.” Katanya sambil berlalu melewati Taehyung yang keheranan.


Apa lagi sekarang?


“Kau sedang apa?” Tanya Taehyung melihat Jungkook membuka lemari pakaiannya, tapi kemudian hanya diam tanpa melakukan apapun.


Jungkook menoleh pada Taehyung dengan wajah bingungnya kemudian berkata,


“Daepyeonim, maaf merepotkan. Bisakah Anda pilihkan baju ganti untuk sekretaris Park?”


Sementara di kamar tamu, Jimin sedang duduk bersandar pada headboard sambil memperhatikan Yoo Ra yang sibuk mengobrak-abrik kotak kecil di pangkuannya mencari obat demam.


“Sudah ku bilang kan tadi, harusnya kau ganti baju dulu. Bukannya langsung makan, Jimin-ssi.”


“Sudah tidak tahan. Keburu lapar.” Jawab Jimin sambil menyunggingkan senyum.


“Ini, pilih sendiri.” Yoo Ra mengulurkan beberapa jenis obat penurun demam pada Jimin.


“Terima kasih. Ha-..hatchiiihhh!!!” Jimin mengucek hidungnya yang terasa gatal setelah bersin.


Melihat itu, Yoo Ra segera meraih kembali obat di tangan Jimin lalu memasukkannya lagi dalam kotak obat.


“Sudah ku duga kau kena flu. Jangan minum obat demam. Minum obat flu saja.” Gumam Yoo Ra lalu menyerahkan obat yang dimaksud pada Jimin.


“Aku hanya punya itu. Tapi jangan khawatir, itu cukup ampuh untuk menangani gejala flu. Kau tidak punya alergi obat kan Jimin-ssi?” Tanya Yoo Ra yang dijawab gelengan kepala oleh Jimin.


“Kalau begitu lekas minum itu.” Yoo Ra memberikan pula segelas air putih yang ia bawa pada Jimin.


“Baik dokter... “ Jawab Jimin sambil tersenyum lebar menerima gelas air pemberian Yoo Ra lalu menenggak obatnya dengan cepat.


“Sulit dipercaya kau orang yang sama yang menceramahiku tenteng sistem imun tadi sore.” Gumam Yoo Ra sambil sibuk membereskan kotak obat di pangkuannya.


Jimin jadi gemas sendiri melihat sisi keibuan Yoo Ra yang begini. Tangannya bahkan sudah terangkat ingin sekali mencubit pipi Yoo Ra. Hingga suara Taehyung yang berdehem membuat Jimin mengurungkan niatnya.


Taehyung dan Jungkook sudah ada di sana ngomong-ngomong. Taehyung menyandarkan bahunya pada kusen pintu sambil bersedekap. Sedangkan Jungkook berdiri di samping Taehyung, membawa baju ganti untuk Jimin.


“Terima kasih. Wahh... Aku suka pilihanmu.” Kata Jimin ketika baju yang dibawa Jungkook sudah berpindah ke tangannya.


“Taehyung Hyeong yang memilihkannya, bukan aku.”

__ADS_1


“Ahh.. Terima kasih Tae.” Jimin melambaikan tangannya dan dibalas senyuman oleh Taehyung.


“Hyeong, kau ingin ganti pakaian sekarang? Aku bisa mengantarmu ke kamar mandi.” Kata Jungkook.


“Tunggu sebentar... Kau bilang apa barusan?Hyeong?? Kau memanggil mereka berdua... Hyeong?” Tanya Yoo Ra pada Jungkook yang langsung mengangguk mantap.


“Yah! Jeon Jungkook! Sejak kapan kau jadi tidak sopan begitu pada kedua atasanmu?!” Teriak Yoo Ra.


Jungkook gelagapan karena Yoo Ra melayangkan tatapan membunuh ke arahnya. Ia melirik Jimin dan Taehyung bergantian berharap mereka mau menolongnya.


“Jangan marahi dia Yoo Ra-ssi. Aku yang menyuruhnya.” Kata Jimin sambil terkekeh. Jimin memang menyuruh Jungkook untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Hyeong’ saja saat tadi mereka berdua sedang ngobrol di ruang tv.


“Kenapa?”


“Karena ini bukan kantor. Tidak perlu terlalu formal. Nanti malah jadi canggung.” Kali ini Taehyung yang menjelaskan.


Tadi, saat memilihkan baju ganti untuk Jimin, Taehyung juga menyuruh Jungkook untuk bicara santai saja mulai dari sekarang. Rasanya aneh jika bicara terlalu formal dengan orang yang hidup bersama dalam satu rumah. Begitu menurutnya.


“Mari ku antar ke kamar mandi, Hyeong.” Jungkook mengulurkan tangan, namun Jimin menolaknya dengan menggeleng lemah.


“Aku pusing sekali. Ganti bajunya di kamar saja. Takut terpeleset di kamar mandi.”


“Begitu lebih baik. Nanti letakkan saja baju kotornya di keranjang. Oh iya Jimin-ssi, malam ini menginap saja. Kau bisa tidur di kamar ini dulu untuk sementara.”


“Hm? Bukankah kamar ini untuk Taehyung? Ahhh... Jadi maksudmu, kami boleh tidur berdua di kamar ini?” Tanya Jimin dengan nada menggoda.


Taehyung mengernyit, tidak mengerti dengan maksud perkataan Jimin. Sedangkan Jungkook sudah salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Beda lagi dengan Yoo Ra, gadis itu sudah menatap horor ke arah Jimin seolah berkata “Jangan coba macam-macam di rumahku, atau kalian berdua akan ku habisi sekarang juga!”


“Maaf. Aku hanya bercanda.” Kata Jimin yang susah payah menahan tawa melihat ekspresi mereka bertiga.


Yoo Ra lantas bangkit dan menggamit lengan Jungkook untuk segera keluar dari kamar. Sedangkan Taehyung memilih melangkah masuk mendekati Jimin yang kini menyandarkan kepalanya pada headboard sambil memejamkan mata.


“Ku pikir tak ada yang bisa membuatmu sakit. Ternyata air hujan yang menyenangkan justru dengan mudah menumbangkanmu.” Kata Taehyung yang disambut gelak tawa Jimin yang masih menutup rapat kedua kelopak matanya


“Istirahatlah. Telepon aku jika kau butuh sesuatu.” Kata Taehyung sambil meletakkan ponsel Jimin di atas nakas. Taehyung menemukannya tertinggal di sofa ruang tv barusan.


“Tae...” Jimin menahan lengan Taehyung saat pria itu hendak pergi.


“Hm?”


“Aku ingin bicara denganmu.”


“Tentang?”


“Sesuatu yang penting.”


Hanya itu. Jimin lantas terdiam cukup lama tanpa mengatakan sepatah katapun lagi. Matanya menatap kosong ke arah Taehyung yang masih menunggu Jimin meneruskan kalimatnya.


Setelah beberapa saat mereka hanya tenggelam dalam diam, Taehyung akhirnya menghela napas panjang lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengembil tangan Jimin yang masih memegang erat lengannya lalu menaruh tangan itu pada pangkuan Jimin sambil menepuk punggung tangan yang lemah itu beberapa kali.


“Ganti bajumu lalu istirahatlah. Kita bicarakan besok setelah kau baikan.” Kata Taehyung lalu beranjak pergi. Ia sempat menoleh memastikan kondisi Jimin dulu sebelum akhirnya menutup pintu untuk membiarkan sahabatnya itu beristirahat.


Saat pintu itu tertutup, Jimin tersenyum getir. Sekali lagi. Sekali lagi ia harus menanggung masalahnya seorang diri. Bahkan mulutnya yang terbiasa bicara bebas pun kini bungkam tak mampu berucap. Bahkan pada Taehyung sekalipun.


Perlahan tangan Jimin meraih dompet yang tergeletak sampingnya. Membukanya perlahan lalu mengeluarkan sebuah foto usang yang menampilkan sosok seorang wanita berwajah cantik sedang tersenyum lebar.


Tanpa terasa, air mata turun membasahi kedua pipinya. Pun itu menjadi bukti betapa dirinya tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan sedih. Park Jimin yang ada di atas ranjang sekarang bukan lagi Park Jimin yang selalu terlihat bahagia dan periang seperti yang seringkali dilihat oleh banyak orang.


Dan seperti biasa. Untuk beberapa saat Ia hanya akan diam membiarkan liquid bening itu membanjiri pipinya tanpa suara. Membiarkan kesedihan itu menguasai tiap sudut hatinya untuk sementara. Setelahnya, ia akan mengusap sendiri kedua pipi dan matanya yang sembab seraya berkata,


“Sudah cukup. Saatnya kembali menjadi Park Jimin yang periang.”


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2