Boss With Love (Kim Taehyung)

Boss With Love (Kim Taehyung)
LIMA BELAS


__ADS_3

“Terima kasih, Oppa. Hari ini kau menepati janjimu.” Yoo Ra membuka percakapan begitu mobil Seokjin yang ditumpanginya berhenti di depan rumah.


“Tunggu sebentar, ucapanmu terdengar seperti aku tidak pernah menepati janjiku selama ini.”


“Oh, kau baru sadar? Mohon maaf Dokter Kim Seokjin yang tampan, tapi itu kenyataan.” Jawab Yoo Ra yang disambut tawa renyah Seokjin.


“Oke, oke. Maafkan aku. Setelah ini aku akan sering-sering mengajakmu pergi kencan.”


“Kau sedang membuat janji baru lagi?”


Seokjin kembali tertawa. Tangan kanannya mengusap pucuk kepala Yoo Ra dengan sayang. “Baiklah, lupakan. Aku tidak akan banyak berjanji mulai sekarang.”


Bukannya senang, Yoo Ra justru merengut, mulutnya sudah terbuka siap mengajukan protes, tapi Seokjin sudah lebih dulu menambahkan. “Besok sore kujemput di Joymart. Akan kuantar langsung ke kantor KBC setelah itu. Kau akan langsung siaran setelah pulang part time di Joymart kan?”


“Oh? I-iya.”


“Ada apa? Kenapa reaksimu begitu?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut Oppa masih hafal jadwal kerjaku.”


“Ohooo.... Jadi sekarang kau sedang tersentuh, Nona Jeon? Padahal itu baru perhatian kecil loh. Aku masih punya yang lebih besar.”


“Oh ya?”


Seokjin mengambil sesuatu dari laci dashboard lalu mengulurkannya pada Yoo Ra. “Untukmu.”


Yoo Ra sampai terkejut. Sekarang di tangannya ada sebuah roti yang sama seperti yang Hoseok berikan untuk Jungkook kemarin. Hanya saja yang ini bukan rasa pisang, tapi stroberi. Rasa kesukaan Yoo Ra.


“Kamarin Hoseok memberikan satu untuk Jungkook. Jadi aku berikan itu untukmu supaya kau tidak iri.”


“A-Apa?!”


“Hahaha... Tidak, aku hanya bercanda. Aku memang sudah menyiapkannya khusus untukmu.”


“Kenapa?”


“Jungkook mendapatkannya dari Hoseok karena berhasil magang di perusahaan bagus, kan? Jungkook sudah dewasa dan impiannya sedikit demi sedikit mulai tercapai. Aku bersyukur sekali untuk itu. Dan untuk roti yang kau pegang sekarang, aku memberikannya untukmu karena kau adalah kakaknya. Setiap keberhasilan yang Jungkook raih pastilah ada campur tanganmu, sekalipun jika itu hanya sebatas doa atau dorongan, tapi kau selalu ada di sampingnya. Bagiku, peranmu sangat luar biasa. Kalian berdua luar biasa. Kau sudah berkerja keras selama ini. Kau kakak yang baik Jeon Yoo Ra. Aku beruntung berada di tengah kalian berdua.”


Seperti kehabisan kata-kata, Yoo Ra hanya tetap diam menatap Seokjin yang kini berubah serius. Tak ada lagi wajah konyol atau candaan garingnya yang sering kali muncul di waktu yang tidak tepat. Seokjin yang terlihat sekarang sepenuhnya berbeda. Kalimat panjang yang Seokjin katakan adalah bentuk rasa syukur, tapi ekspresi yang terlihat justru... Entahlah. Walaupun hanya sesaat, Yoo Ra melihat ada gurat kesedihan di wajah tampan tunangannya. Mungkin Seokjin sedih lantaran mengingat perjuangan Yoo Ra dan Jungkook ketika masih berada dalam masa-masa sulit. Ataukah... Ada alasan lain?


“Sudah malam. Masuklah.”


Tidak ada bantahan. Meski Yoo Ra masih merasa ada yang mengganjal di hatinya, tapi ia tetap melangkah keluar saat Seokjin membukakan pintu mobil untuknya. Jika bukan sekarang, Seokjin pasti akan menceritakannya suatu saat nanti. Toh selama ini tidak pernah ada rahasia di antara mereka. Begitu pikirnya.


“Yoo Ra.” Suara Seokjin kembali terdengar saat tangan Yoo Ra sudah menyentuh pagar rumah. Pria itu mendekat, lantas berjongkok di depan Yoo Ra. Tangannya meraih tali sepatu Yoo Ra yang lepas, lalu mengikatkannya kembali dengan telaten. Yoo Ra sama sekali tidak terkejut karena hal seperti ini sudah sangat sering terjadi.


“Kau selalu mengkhawatirkan orang lain, tapi tidak pernah khawatir pada diri sendiri.” Kata Seokjin mengomentari kebiasaan Yoo Ra yang sering sekali mengacuhkan tali sepatunya yang lepas.


“Kau boleh memperhatikan orang-orang disekitarmu sebesar yang kau mau. Tapi sebelumnya, cobalah untuk memperhatikan dan menyayangi dirimu sendiri lebih dulu.” Ucap Seokjin begitu ia kembali berdiri berhadapan dengan Yoo Ra. “Dan aku tidak akan pernah bosan mengingatkan hal ini padamu. Mengerti?”


Yoo Ra mengangguk. Membiarkan Seokjin mengecup pucuk kepalanya lalu melangkah mundur sambil melambaikan tangan.


“Selamat malam Oppa.”


“Selamat malam. Semoga mimpi indah.”


“Oppa juga.”


“Sampai ketemu besok.”


“Iya. Sampai ketemu besok.”


Itu kalimat terakhir yang Yoo Ra ucapkan sebelum meninggalkan Seokjin yang masih berdiri di depan pagar. Seokjin selalu begitu. Pria itu tidak akan pergi sebelum memastikan Yoo Ra memasuki rumah dengan selamat. Memang terdengar berlebihan sih, tapi Yoo Ra menyukainya. Menurutnya itu manis. Apalagi jika pria setampan Seokjin yang melakukannya.


Ahh. Yoo Ra bahkan sudah merindukan pria itu sekarang. Andai dia punya kesempatan meminta satu permohonan yang pasti akan terkabul, ia akan berdoa agar Seokjin segera melamarnya. Ia ingin segera menjadi nyonya Kim secepatnya. Jika itu terjadi, maka kebahagiaannya akan lengkap. Dan—


“Noona sudah pulang?”


“Ya Tuhan!” Yoo Ra berjingkat kaget saat suara adiknya langsung terdengar begitu ia memasuki ruang tengah. Buyar sudah semua khayalannya tentang pernikahan gara-gara Jungkook mengejutkannya. Dan apa lagi ini? Kenapa Jungkook duduk sendiri di sana tanpa penerangan? Apa bocah itu sedang bertapa?


“Apa yang kau lakukan di situ?” tanya Yoo Ra sembari menyalakan lampu, meletakkan tasnya di karpet, lalu mendudukkan dirinya di samping Jungkook.


“Sepertinya kencan Noona berjalan lancar.”


“Bagaimana kau tahu?”


“Tertulis di sana.” Jawab Jungkook sambil menunjuk kening kakaknya. “Apa saja yang kalian lakukakan hari ini?”


“Kenapa tanya? Apa itu tidak tertulis juga di sini?” Tanya Yoo Ra, menunjuk keningnya sendiri.


“Mana mungkin? Kening Noona tidak akan muat untuk menulis apa saja yang kalian kerjakan hari ini.”


“Jangan suka penasaran dengan urusan orang dewasa.”


“Aku juga sudah dewasa omong-omong. Tapi ya sudah, yang penting Noona terlihat sangat senang hari ini. Jadi aku akan pura-pura tidak tahu saja.”


Yoo Ra hanya terkekeh. Ia kemudian beranjak memasuki kamar lalu keluar lagi dengan sebungkus roti sobek di tangannya. Begitu duduk kembali, ia langsung meletakkan roti itu di atas pangkuan adiknya. “Untukmu.”


Sesuai perkiraan, ekspresi Jungkook hampir sama dengan Yoo Ra saat kemarin menerima roti itu. “Dari Hoseok Oppa. Dia menitipkannya untukmu kemarin. Katanya itu hadiah untuk satu cita-citamu yang sudah bisa kau capai. Maaf baru sempat kuberikan sekarang.”


Jungkook mendadak diam. Dipandangnya roti itu dengan perasaan campur aduk. Dia masih ingat, saat masih sekolah dulu Hoseok pernah memberinya roti itu juga saat dirinya memenangkan lomba memanah. Seokjin pun begitu. Pria itu juga selalu memberinya roti yang sama setiap ia bisa mendapatkan peringkat satu di kelasnya.

__ADS_1


“Kau terharu?”


Jungkook mengangguk. Ia memainkan roti berselai pisang di tangannya. “Haruskah aku bagi dua? Tapi roti ini rasa pisang.”


“Tidak usah. Aku punya yang stroberi. Seokjin Oppa yang memberikannya. Dia bilang aku sudah berhasil merawatmu dengan baik. Jadi dia juga memberiku satu.”


“Ya Tuhan... Jadi mereka berdua masih mengingat janji itu?” Tanya Jungkook sambil tertawa.


“Ya. Janji kalau setiap kita berdua meraih satu keberhasilan, maka harus ada roti ini untuk merayakannya.”


“Itu janji kita berdua, omong-omong.”


“Tapi kita membuat janji itu di depan mereka. Jangan lupa kalau mereka juga tumbuh bersama kita, Jungkook. Jadi mereka tidak mungkin melupakannya.”


“Itu sudah lama sekali. Tapi mereka masih mengingatnya.”


“Bagaimana bisa lupa kalau kejadiannya sangat memorable?! Mereka pasti ingat kalau dulu ada seorang anak laki-laki bertubuh kecil dan kurus rela menjadi kuli angkut di pasar ikan demi bisa membeli roti ini.” Ujar Yoo Ra dengan nada menyindir yang sangat jelas.


“Oh ya? Tapi anak kurus itu melakukannya hanya supaya ia bisa memberikan roti itu untuk kakak perempuannya yang bodoh.” Balas Jungkook tak mau kalah.


“Apa kau bilang?”


“Kenapa? Itu kan kenyataan. Si kakak bodoh itu selalu berpura-pura kenyang untuk memberikan jatah makannya untuk adiknya yang kurus. Dan karena kebodohannya itu ia harus dirawat di rumah sakit karena kekurangan gizi. Tolong garis bawahi. Ke-ku-rang-an gi-zi!”


Sungguh, Yoo Ra ingin sekali memukul Jungkook, tapi entah kenapa ia malah tertawa sendiri mengingat dirinya memang pernah mengalami malnutrisi saat masih remaja dulu. Tapi yang membuat miris bukan itu, Yoo Ra memilih kabur dari rumah sakit karena tahu Seokjin akan mengorbankan uang kuliahnya demi bisa membayar tagihan rumah sakit untuknya. Karena kejadian konyol itulah akhirnya Jungkook dan Yoo Ra saling berpelukan dan menangis semalam suntuk di rumah pohon milik Hoseok. Disitulah janji —saling mendukung melalui roti— itu dibuat, di depan Hoseok dan Seokjin.


“Noona.”


“Hm?”


Hening beberapa saat. Bahkan Jungkook yang berniat mengatakan sesuatu jadi bungkam lagi. Pemuda itu ingin mengutarakan kemelut di hatinya, tapi terlalu takut untuk memulai. Ia takut salah bicara. Ia takut memperburuk suasana. Ia takut membuka kembali kenangan lama yang bisa membuat ia dan kakaknya kembali terluka. Tapi memendamnya sendirian bertahun-tahun lamanya membuat Jungkook tidak tahan lagi. Ia ingin bercerita pada Yoo Ra tapi—


“Jungkook... Apa yang sedang kau pikirkan?”


“Tidak ada.”


“Apa kita memikirkan hal yang sama?”


Seketika Jungkook menatap Yoo Ra. Sepertinya kakaknya itu tahu apa yang sedang menyita pikirannya. Atau mungkin mereka berdua memang sedang memikirkan hal yang sama sejak tadi?


“Ingin berbagi denganku?”


Jungkook tidak berkomentar. Ia kembali menatap roti ditangannya sambil mengusap pelan plastik pembungkusnya. Perlahan kedua maniknya mulai memanas. Ia menengadahkan kepala untuk mencegah cairan bening keluar dari matanya. “Apa yang sebenarnya Hoseok Hyeong pikirkan saat menitipkan roti ini untukku?” Gumam Jungkook dengan senyum getir di bibirnya.


“Kenapa? Dia membuatmu ingin menangis? Dasar cengeng.”


“Woah. Lihat siapa yang bicara ini. Aku yakin Noona bahkan sudah lebih dulu menangis sesenggukan di belakangku.”


“Aku juga. Tapi memangnya umur bisa jadi patokan untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh menangis?”


“Jadi kau mengakuinya? Kau ingin menangis kan?”


Jungkook tak menjawab. Ia kembali menunduk memperhatikan roti berukuran sedang yang masih terbungkus plastik di tangannya. Lalu tanpa disadari setetes air jatuh mengenai bungkus roti yang ia pegang. Rupanya air matanya tak bisa diajak kompromi lagi.


“Sial.” Jungkook mengumpat kecil sambil menyeka kasar sudut matanya yang basah.


Sudah cukup rasanya menggoda Jungkook. Yoo Ra akhirnya tersenyum, menarik Jungkook untuk lebih dekat padanya. Memberi waktu untuk pemuda itu meluapkan emosi dan kesedihan yang telah dipendamnya entah berapa lama. Meski konsekuensinya Yoo Ra harus membiarkan bahunya basah oleh air mata sang adik semata wayang.


Tidak masalah. Yoo Ra sama sekali tidak keberatan. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya. Sebelah tangannya mengusap lembut kepala Jungkook, sedang tangan satunya sibuk menepuk-nepuk pelan punggung pemuda yang beberapa tahun lebih muda darinya itu sambil terus membusikkan kalimat semacam; "Tidak apa-apa. Aku di sini bersamamu."


Tak lebih dari sepuluh menit, Jungkook sudah mulai terlihat tenang. Punggungnya sudah tidak bergetar. Pun bahunya tak lagi naik turun menandakan tangis tanpa suara pemuda itu telah reda.


“Kau sangat merindukan Eomma?” tanya Yoo Ra begitu Jungkook menarik diri dari pelukannya.


“Mungkin tak lebih besar dari rasa rindu Noona padanya.”


“Sepertinya aku harus berterima kasih lagi pada Hoseok Oppa. Karena roti itu kau jadi sangat jujur pada perasaanmu sekarang. Aku tahu kau sudah lama memendamnya. Selama ini kau selalu mengingatnya. Kau hanya berpura-pura sudah lupa.”


“Bagaimana dengan Noona? Aku yakin kalau kenangan itu bahkan lebih kuat melekat di ingatan Noona. Tapi kenapa hanya aku yang menangis di sini?”


“Aku sedang tidak ingin menangis. Mungkin kau benar, aku sudah terlalu banyak manangis di belakangmu. Jadi sekarang aku tidak ingin melakukannya lagi.”


“Pembohong.”


“Aku serius.”


“Bohong.”


“Jung—“


“Kenapa aku tidak pernah melihat Noona menangis lagi? Noona memendam semua masalah sendirian lagi?”


“Tidak.”


“Lalu?”


“Karena memang tidak ada yang perlu ditangisi, Jung. Aku sudah sangat bahagia sekarang. Kehidupanku sempurna. Jadi kenapa aku harus menangis?”


“Noona tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?”


“Tidak.”

__ADS_1


“Sungguh?”


“Kau tidak percaya padaku?”


Jungkook lalu terdiam. Ia meletakkan kepalanya pada punggung kursi sambil menengadah, menatap langit-lagit yang terlihat bersih di atas kepalanya. Mencoba memikirkan kalimat yang tepat untuk ia sampaikan pada Yoo Ra.


“Noona, menurutmu kenapa Eomma meninggalkan roti ini untuk kita sebelum ia pergi?”


Itu? Itukah yang selama ini mengganggu pikiran Jungkook? Seorang anak laki-laki pasti sangat dekat dengan ibunya. Begitupun Jeon Jungkook. Pemuda itu pasti sangat terpukul dengan kepergian sang ibu. Ia adalah anak kecil yang dulu menangis pilu di samping jenazah sang ibu yang pergi dengan hanya meninggalkan sebungkus roti sobek berselai pisang untuknya. Dan inikah yang dipikirkannya?


“Entahlah. Mungkin agar kita tidak kelaparan.” Jawab Yoo Ra sambil menghapus sisa air mata di pipi Jungkook dengan punggung tangannya.


“Kalau begitu harusnya ia meninggalkan kita pabriknya saja.”


“Menurutmu Eomma sekaya itu? Kau juga tahu kalau ia harus bekerja keras untuk bisa menghidupi kita. Eomma adalah ibu yang sangat mencintai kedua anaknya. Eomma bahkan masih memikirkan keadaan perut kita sebelum ia pergi."


“Kira-kira apa Eomma bisa melihat apa yang kita lakukan sekarang? Apa dia bahagia melihat hidup kita sudah jauh lebih baik?”


“Entahlah. Itu juga menjadi pertanyaanku belakangan ini. Tapi mungkin, jika Eomma masih hidup, ia akan sangat bangga pada kita.”


“Menutut Noona begitu?”


“Ya.”


“Syukurlah. Aku senang mendengarnya.”


Sama. Yoo Ra juga senang melihat Jungkook-nya kini mulai tersenyum kembali. Yoo Ra lega, ia perlahan mengikuti Jungkook meletakkan kepalanya ke punggung kursi. Kini mereka menatap langit-langit rumah yang sama. “Tapi aku yakin dengan satu hal, Jung.”


“Apa?”


“Eomma pasti sangat malu punya anak lelaki dewasa yang cengeng sepertimu.”


Jungkook tidak menyanggahnya. Ia malah ikut tertawa seperti Yoo Ra. Ia bersyukur memiliki waktu bicara dari hati ke hati dengan kakaknya. Setidaknya bebannya sedikit berkurang. Ia yakin malam ini dirinya akan tidur nyenyak.


“Nona, terima kasih.”


“Hm. Sama-sama. Aku juga lega.”


Mereka kembali terdiam. Tetapi tak lama kemudian Yoo Ra kembali bersuara. “Kau sudah makan, Jung?”


“Kakak macam apa yang sudah malam begini baru menanyakan adiknya sudah makan malam atau belum?”


“Maaf tapi aku hanya basa-basi. Aku tahu kau sudah makan. Jimin sempat mengirimiku pesan tadi.”


“Jimin Hyeong? Dia sungguh mengirimimu pesan?”


“Ya.”


“Ahhh aku jadi ingat sesuatu.” Jungkook lantas menegakkan punggungnya untuk menghadap Yoo Ra. “Kau tahu, Noona? Hari ini tumben sekali Jimin Hyeong langsung pulang dan tidak ikut makan malam bersama.”


“Aku tahu. Sudah kubilang dia mengirimiku pesan tadi.”


“Bukankah itu agak aneh? Biasanya dia selalu semangat setiap makan malam di rumah kita. Tapi malam ini tidak.”


“Aneh kenapa? Bisa saja Jimin-ssi punya urusan lain yang perlu segera diselesaikan.”


“Begitukah?” Jungkook terlihat berpikir. “Noona, boleh aku tanya sesuatu? Tapi... Ini agak sensitif.”


“Katakan.”


“Apa... Pasangan gay juga bertengkar layaknya pasangan normal lainnya?” tanya Jungkook dengan sedikit berbisik.


“Hei. Kenapa bertanya hal seperti itu sih?!”


“Jawab saja, Noona. Aku penasaran. Apa cara mereka bertengkar juga sama seperti pasangan pada umumnya?”


“Mana aku tahu, dasar bodoh!” Yoo Ra ikut menegakkan punggungnya, mendekati telinga Jungkook untuk ikut berbisik. “Apa ini tentang mereka berdua?” tanya Yoo Ra sambil menunjuk kamar tamu dengan dagunya.


“Iya.”


“Apa yang terjadi?”


“Tadi sepulang kerja aku melihat Tae Hyeong di taman belakang.”


“Dia ke sana? Apa yang dia lakukan?”


“Tidak ada. Dia hanya duduk sendirian sambil melamun. Sepertinya ia punya masalah. Dan saat kuberitahu kalau Jimin Hyeong tidak ikut mampir, dia terlihat biasa saja. Dia bilang Jimin Hyeong memang sedang menghindarinya. Aku yakin mereka berdua sedang bertengkar. Jadi aku berusaha menghiburnya. Kami banyak bercerita tentang masa lalu. Dan Noona, ada satu hal yang menurutku aneh.”


“Apa?”


“Tae Hyung sangat antusias saat aku bercerita tentang masa lalu kita. Tapi begitu aku membahas tentang Noona dan Seokjin Hyeong, dia terlihat sedih. Dia bahkan sangat kaget saat mendengar hubungan kalian sudah ada sejak sepuluh tahun yang lalu. Dan kalau diingat lagi, saat sarapan kemarin, Tae Hyeong juga sangat terkejut saat mendengar Noona akan pergi kencan, iya kan?”


“Iya. Lalu?”


“Lalu apa lagi? Masa Noona tidak bisa menebaknya?”


“M-Menebak apa?”


“Tae Hyung, sepertinya dia...”


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2