
Hai... perkenalkan namaku Marsya Maharani, aku seorang mahasiswi ,sekarang sudah semester tujuh. Pada semester ini aku akan melakukan praktek lapangan karna mata kuliah ini memang wajib diikuti untuk syarat lulus dengan gelar S,Pd . jurusan yang aku ambil adalah jurusan pendidikan Biologi.
Aku berasal dari dari kampung, tepatnya didaerah Sumatera Barat, salah satu daerah yang tempat wisatanya banyak dikunjungi baik warga lokal maupun warga luar. Kalian pasti tahu kan?? π€π€
Ibuku hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga, sedahkan ayah, adalah PNS.
Aku tiga bersaudara, dua perempuan dan satu laki-laki. Yang pertama kakak perempuan ku, namanya Kanaya Safitri, ia berumur dua puluh lima tahun dan sudah bekeluarga, dan memiliki dua anak yang tampan dan cantik, namanya Aska dan Kiara. Tapi sekarang dia tidak tinggal bersama kami, karena ikut suaminya yang bekerja di kota metropolitan JAKARTA.
Jarak antara umur ku dan kak Naya hanya tiga tahun. Satu lagi saudara laki-laki ku, yaitu adik ku yang bernama Rendi. Jarak antara aku dan Rendi hanya dua tahun. Aku dan Rendi kalau sudah ketemu pasti seperti Tom dan Jerry. Ada saja yang kami perdebatkan, bahkan ibu sampai kewalahan kalau sudah melihat kami bikin ulah.ππ
Dah... segitu dulu perkenalannya, kita kembali ke topikππ
********
"Huufff ... perjuangan dimulai" ucap Marsya tanpa sadar dengan cara berteriak yang menggaetkan semua orang yang berada disekitar papan pengumuman.
"Eh, kamu kenapa Cha? kesambet? teriak-teriak kayak dihutan aja!" ujar Dina yang bingung melihatnya.
"Hehe, nggak papa kok cuma aku nggak sabar aja pengen cepat-cepat praktek". jawab Ica sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oo, ya udah, yuk kita ke ruangan PPL dulu sambil liat tempat praktek kita dimana?" ajak Dina sambil menarik tangannya
Dina dan Icha pergi ke ruangan PPL dimana di situ sudah antri para mahasiswa yang akan melakukan PPL. Perjuangan para mahasiswa tingkat akhir ini terlihat sangat antusias, karena perjuangan mereka sebentar lagi dalam mengejar gelar sarjana akan berakhir.
"Cha! kita satu tempat praktek" kata Dina sambil bersorak riang, karena memang! dia menginginkan ditempat yang sama prakteknya.
"SMA apa SMP?" tanya Icha mengedarkan pandangan ketempat pengumuman yang ditunjuk Dina.
"SMA (sambil menyebut sekolah yang memang banyak diminati dikota ini). Kamu tahu nggak, Cha! itu sekolah terfavorit dikota ini, disana yang sekolah orang tajir semua. Kalau ada yang miskin kayak kita! pasti jalur beasiswa. Dan disana anak-anak nya cakep-cakep lagi."
"Kamu tahu dari mana? memang nya kamu pernah ke sana?"
"Nggak, aku denger aja gitu dari teman- teman kita." jawabnya hehe.
"Yaa udah yuk, kita kekantin aku lapar," ajak Icha.
Mereka berduapun pergi kekantin, sambil mengedarkan pandangan melihat tempat duduk yang kosong. Karena hari ini kampus terlihat lebih padat dari biasanya. Mungkin hari ini adalah pengumuman tempat praktek para mahasiswa, baik yang jurusan pendidikan maupun non pendidikan.
"Kita duduk dimana?" tanya Icha sambil memperhatikan tempat duduk kosong .
"Disana saja." Tunjuk Icha.
"Haa ... disana? kamu yakin? kita duduk disana?" tanya Dina.
"Yakin lah! memang ada tempat lain yang kosong? Sumatera tengah ku sudah berontak dari tadi, aku lebih memilih ngamuk samak orang-orang dari pada ngamuk sama cacing dalam perut. Lagian anggap aja nggak ada mereka disitu." Icha tidak peduli dengan pertanyaan sahabatnya ini.
"Ya sudah, nanti kamu jangan terbawa perasaan ya Cha!" ucap Dina meyakinkan.
"Iya ... sayang yakin seratus persen. Ayok, aku laper nih!" rengeknya sambil memegang perut.
Icha dan Dina pergi kemeja yang dilihatnya tadi. Tetapi sepang kekasih yang satu meja dengan mereka terlihat kaget siapa yang berada disebelah mereka saat ini.
"Maaf, boleh duduk disini kan? soalnya tidak ada lagi tempat yang kosong."
__ADS_1
Dua orang itu hanya bisa mengangguk kan kepala. suara mereka tiba-tiba saja hilang.
Makanan yang mereka pesan telah sampai. Makan dalam keadaan tanpa ada yang berani memulai percakapan.
Tapi... hanya beberapa menit, Dina mendekatkan wajahnya "Cha! ngerasa nggak sih? seperti dikuburan! sepi!"
Icha hanya tersenyum mendengar perkataan Dina, yang langsung dicubit sama Dina "Aww, sakit Din!"
"Habisnya dibilangin, malah senyum, aku serius tau!"
Tapi beda dengan pasangan yang ada dekat mereka yang terlihat salah tingkah. Mereka berdua tidak tau harus memulai percakapan dari mana. Karena memang, sudah tidak bertemu sejak tiga bulan lalu, mungkin karena terlalu sibuk. Tapi hari ini mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang sangat membingungkan.
Dina berdiri dari tempat duduknya sambil melangkah kekulkas kantin yang tidak jauh dari tempat duduk mereka "Cha! kamu mau minuman dingin?"
"Nggak."
Terdengar nada dering HP diatas meja, yang ternyata itu HP si pria yang berbunyi.
"Sayang, aku angkat telpon dulu." pamitnya dan dijawab anggukan
Deg...
Ada perasaan sakit ketika mendengar laki-laki berkata (sayang). Tapi ... sudahlah! bukankah itu bukan masalah buatnya, lagi? Bukankah dia sudah move on?
Sekarang tinggallah Icha dan perempuan itu. Sedang kan Dina setelah mengambil minuman dingin, sempat pamit untuk ke toilet sebentar.
Sebenarnya Icha dulu berteman baik dengan wanita yang ada dihadapannya sekarang "Vani" cukup dekat, tapi tidak seperti pertemanan nya dengan Dina yang sudah dianggap keluarga. tapi sejak kejadian tiga bulan lalu, membuat hubungan mereka jadi renggang.
Terdengar deheman yang membuat Icha mau tidak mau melihat kearahnya.
"Maafin aku Cha!" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Vani.
Sambil menyendok nasi goreng kemulutnya, Icha hanya menjawab dengan tersenyum
"Kamu mau kan! maafin aku Cha?" katanya sungguh-sungguh.
Terdengar helaan nafas berat dari mulut Icha, dia tidak tau harus mulai dari mana. Apakah ia harus mengingat kejadian masalalu? yang dengan susah payah dilupakannya. Kebohongan, perselingkuhan? bahkan dia melihat dan mendengar sendiri percakapan dan perbuatan mereka. Apakah dia bisa memaafkan? setelah apa yang mereka lakukan? dia seperti orang bodoh yang hampir satu tahun di bohongi.
"Ntah lah, Van? jujur! untuk saat ini aku belum bisa melupakan semua yang kalian lakukan padaku, tapi dibalik itu aku sudah memaafkan kalian."
"Jadi? kita bisa berteman kembali? tanya Vani lagi.
"Maaf Van, kita cukup seperti ini saja!" sambil berdiri dari tempat duduk mengambil tas dan HP yang berada di atas meja, melangkahkan kaki untuk keluar dari kantin.
Dina yang baru keluar dari toilet, hendak menghampirinya pun kaget melihatnya. sambil berlari mengejar Icha yang mana langkah nya makin terlihat cepat.
"Woi... Cha! tungguin dong," panggilnya
Icha membalikkan badan. Tertawa melihat sahabatnya lari dengan nafas ter engah-engah.
"Kamu ya? dari tadi dipanggil nggk nengok-nengok? sesak nafas ku tau, ngejar-ngejar kamu. lagian kenapa sih? jalan nya tergesa-gesa begitu?"
"haa ... aku tau, kamu pasti baperkan? ya kan?" godanya
__ADS_1
Cckck ... Icha berdecak "munafik kalau aku nggk baper! munafik, kalau aku nggak marah! Icha menjeda perkataannya "Tapi buat apa? aku sudah berusaha melupakan semua itu, Alhamdulillah! aku bisa melewatinya. Lagian! untuk saat ini aku fokus sama kuliah saja, berusaha untuk cepat wisuda."
3 bulan yang lalu
Hari ini Icha dengan penuh semangat berjalan kearah kos kekasih hatinya. Laki-laki yang bernama Rio telah berhasil menaklukkan hati seorang "Icha". Setelah enam bulan melakukan pendekatan terhadap sang gadis.
Dan ... hari ini adalah bertepatan hari jadian mereka. Icha yang biasanya kalau ketempat Rio memberitahu terlebih dahulu, tapi untuk hari ini pengecualian, karna ia akan memberikan surprise pada Rio. Berdandan secantik mungkin, dan memasakan makanan kesukaan sang pangeran.
Sesampai dikos Rio, ia membuka pintu gerbang, melangkahkan kaki untuk masuk pintun kamar dengan hati berdebar-debar, sesekali ia memegang dadanya. Karena ini adalah hari pertamanya menginjakan kaki ke kamar Rio, dan selama kurang lebih dua tahun pacaran dia tidak pernah masuk kamar Rio. Paling cuma diluar duduk sambil bercerita dan makan cemilan. bahkan jalan keluar atau nongkrong dikafe bisa di hitung dengan jari.
Pas hendak memegang handel pintu terdengar suara berbicara, yang bisa dipastikan Icha itu adalah suara laki-laki dan perempuan. Mereka seperti sedang tertawa dan bercanda. eehh tapi..?? tunggu! seperti nya dia mengenal suara itu, untuk memastikan Icha mendekatkan telinganya.
"Kapan kamu akan memutuskan Icha? sudah setahun hubungan kita, aku tidak mau seperti ini? main kucing-kucingan. Dan kalau aku kesini selalu seperti maling, aku capek Rio."
"Kamu bilang dia membosankan! tapi kamu pacaran sama dia udah lebih dari dua tahun." ujar perempuan itu sinis.
""Sabar sayang! secepat nya aku akan memtuskan dia." Jawab Rio sambil memeluk dan mencium kening sang gadis.
Dan semua perkataan dan interaksi yang terjadi didalam disaksikan sendiri oleh Icha. Dengan perasaan campur aduk, ia memberanikan diri membuka pintu kamar.
"Wow ...!" sambil bertepuk tangan.
Kedua pasutri itu kaget melihat siapa yang membuka pintu, apa lagi si laki-laki, melihat Icha yang hari ini tampil cantik, dan membawa rantang.
ah sial
"Kenapa aku bisa lupa hari ini?" pikirnya.
"Kalian membodohi ku selama satu tahun ini? aku begitu percaya padamu, pada kalian, yang kukira hanya berteman, tapi ternyata?"
"Cha! ini tidak seperti yang kamu pikirkan? aku bisa jelas kan semuanya?"
"Jelaskan seperti apa? kalian mau mulai dari mana? oohh aku tau! kalian akan mulai dari awal kalian selingkuh? dan membicarakan kalau aku itu wanita bodoh, membosankan? bukan begitu?"
"Cha? kini Vani angkat suara.
"Apa? kalian pikir aku ini anak-anak, yang bisa kalian bujuk, dan setelah itu luluh dan memaafkan kalian? berusaha menjeda, agar emosi didadanya bisa ditahan, apa lagi sampai mengeluarkan air mata. "jawabannya tidak? dan kau? sambil menunjuk muka si wanita "Aku sudah menganggap mu sahabat ku, tapi ini balasannya? dan semua stempel dilehermu itu adalah ... kalau kalian sama-sama menjijikan."
praaaank.....
"Kau ibarat gelas pecah ini, tidak ada harganya."
Icha melangkah kan kaki untuk keluar kos Rio sambil mengambil rantang yang tadi ia letakan di meja. dan sebelum keluar ia juga mengatakan "Kita putus."
Berjalan sambil memeluk rantang berisi masakan.
Mengusap air mata yang membasahinya. Air mata yang ditahan sedari tadi akhirnya keluar juga, ia tidak mau didepan penghianat itu menangis. Ia tidak mau terlihat menyedihkan. Tapi disatu sisi ia masih bisa tersenyum, karena sudah mengetahui tentang hubungan yang mereka simpan selama ini.
"Untung saja nih rantang tidak ku lempar kemereka, bisa tekor banyak aku! dah rugi hati, rugi perasaan. rugi air mata, masa iya mau rugi duit! Dan Alhamdulillah, lumayan buat dua hari nggak masak." gumamnya sambil mengelus rantang yang sekarang sudah di peluk.
***********
dukung aku ya kakak2 yg baik hatiπ₯°π₯°ππ
__ADS_1