
Marsya dan Dina sudah memasuki kos mereka, hari ini mereka akan membuat mie rebus, setelah menyiapkan bahan-bahan nya, mereka pergi ke dapur, selesai memasak Dina dan Marsya pergi ke teras kos untuk menyantap mie rebus yang mereka buat tadi, sedang asyik menyantap mie rebus Dina pun bertanya.
"Kamu ngerasa nggak Cha! kalau Farel itu suka sama kamu?"
"Maksudnya?"
"Ya! kalau dilihat cara dia natap kamu, tuh! beda banget,"
"Masa siih? perasaan biasa aja."
"Serius, teman-teman yang lain juga bilang gitu."
"Teman yang mana?"
"Disekolah Bu! teman-teman yang sama prakteknya dengan kita."
Marsya tidak menanggapi ucapan Dina. Ia lebih memilih menyendok mie rebus yang terlihat sudah mengembang dan memasukan kemulut
Ckck.... Dina berdecak. Dia kesal melihat sikap acuhnya Marsya.
"Kamu dengerin aku kan, Cha?"
"Iya! dengar,"
"Terus menurut kamu bagaimana?"
"Bagai mana apanya?"
"Ya Allah, Marsya! jadi dari tadi aku ngomong, nggk kamu dengerin?"
Marsya menarik nafas dan menghembuskan perlahan. "Biarin aja! biarkan mereka berkembang asalkan jangan berkembang biak, sebelum halal." Hahaha
"Ish, capek ngomong sama kamu! enggak nyambung," seloroh nya dan berdiri dan membawa mangkok yang masih berisi mie rebus, meninggalkan Marsya yang msih tertawa.
"Lho kok pergi? katanya mau buat media?"
"Enggak jadi. Besok aku UH (ulangan harian)." Jawab Dina yang sudah berada diruang tamu sambil menyetel TV yang memang sudah di fasilitasi oleh pihak kos.
xxxxxxxxx
Farel
Semester ini adalah yang paling dia tunggu-tunggu. Karena sebentar lagi cita-cita nya segabai abdi negara mungkin akan terwujud. Ya! Farel memang bercita-cita masuk Akpol. Walau pun kedua orang tuanya sangat menentang dengan keinginannya.
Hari ini entah kenapa ia datang kesekolah pagi-pagi sekali. Biasanya ia datang pas waktu bel sudah berbunyi.
__ADS_1
Mobil Farel telah parkir di tempat biasa, secara bersamaan tiga sahabatnya juga datang. Asik tertawa dan bercanda tiba-tiba saja pandangannya teralih pada dua wanita yang duduk dipos satpam. Farel hanya fokus pada satu wanita yang rambutnya lewat sebahu sedang tertawa dan kadang terlihat memanyunkan bibirnya menggemaskan, lucu dan cantik. Sontak kata itu keluar saja dari mulutnya dan membuat tiga sahabatnya nya Afdo, Ragil dan Sandi pun menoleh kearah yang dilihatnya.
"Giilaa! cantik banget tuh, cewek!" ucap Sandi yang memang terkenal playboy disekolah di anggukan oleh Afdo dan Ragil tanda setuju.
"Dia bagian gue," ultimatum dari Farel hanya bisa membuat melongo tiga sahabatnya. Biasanya Farel tidak pernah menanggapi cewek-cewek yang mencoba menarik perhatian, ini hanya pertama kali bertemu dengan wanita langsung saja jatuh cinta? impossible. Seorang Farel Wiratama yang terkenal sebagai Bad boy disekolah ini.
"Gue rasa lu enggak bisa naklukin dia deh Rel? terlihat senyum licik diwajah Sandi.
"Lu, ngeraguin gue?"
"Begini saja, bagaimana kalau kita taruhan?"
"Maksudnya?"
"Seperti biasa! yang menang akan dapat imbalan."
"Taruhannya apa dulu nih?"
"Mobil."
"Gila lu! itu pembelian bokap gue, nggak lah," elaknya.
"No debat."
"Yang lain saja!" jawab Farel lagi.
"Setuju." Jawab mereka bersamaan.
"Kalau lu mundur, berarti lu Cemen!"
Ckck... Farel bedecak. "Jangan mobil lah! bagaimana kalau uang saku gue aja, semua gue kasih buat kalian." ujarnya sambil bernegosiasi.
"No debat, kalau oke! kita deal." Sandi sudah mengulurkan tangan kanannya ke Farel.
Berpikir sejenak. Dan membalas uluran tangan Sandi, "Oke, deal," dengan wajah kesal.
Sejak saat itu Farel tak henti henti-hentinya mencoba mendekati dan menarik perhatian Marsya, dari gombalan bahkan mengirim kata-kata romantis lewat WhatsApp tapi tak satu pun di balas.
Dan sekarang sudah masuk tiga minggu berbagai cara yang dilakukan Farel dan tetap hasilnya Nol. Biasanya Farel akan dengan mudah menaklukan wanita, tapi kalau dengan Marsya? perempuan itu seperti diluar jangkauan.
Sebenarnya bagi Farel tidak masalah kalau ditolak oleh Marsya, tapi ini? taruhannya mobil. Pembelian orang tuanya. Ia masih ingat waktu meminta mobil ini sama Papa nya, dengan perjanjian, harus dijaga, kalau sampai terjadi sesuatu maka! apapun keinginan orang tuanya harus dituruti korbannya adalah cita-cita Farel masuk Akpol.
"Bagaimana? suda menyerah?" tiba saja Sandi merangkul bahunya yang sedang duduk santai ditaman belakang sekolah.
"Enggak lah? waktunya masih panjang."
__ADS_1
"Nah gini! baru sahabat gue."
Farel mencibir "Sahabat apaan? lu musuh dalam selimut, tahu nggak? mana ada sahabat menjerumuskan sahabatnya sendiri."
"Apa jangan-jangan, lu kerja sama dengan bokap gue?" tebaknya.
Sandi tergelak. Dia tidak menjawab pertanyaan Farel hanya memberi semangat agar tidak kalah sebelum berperang "Perang belum usai, man! kan, seperti lu bilang tadi, waktu masih panjang. Tetap semangat." Mengepal kan jari yang berbentuk tinju seperti memberi semangat.
"Dia seperti bunga kaktus, susah dipegang. Dan seperti daerah yang nggak ada signal nya, diluar jangkauan." Kata itu lolos saja dari mulut Farel sambil menerawang.
Wkwkwk....
"Seperti nya lu beneran jatuh cinta, deh Rel? Sandi tertawa.
"Sialan lu." sambil memukul bahu Sandi.
Farel tak menampik perkataan sahabatnya. Memang! ada sedikit ketertarikan pada Bu guru cantik itu. Kadang ia seperti orang gila, bila sehari saja tidak menjahili Marsya. Apakah ini bisa disebut cinta? atau hanya obsesi nya saja? atau! karena ia takut kalah taruhan? Entahlah? biar waktu yang menjawab
xxxxxxxxxxxxx
Marsya
Benda pipih yang berada didekat nya terus saja berbunyi.
"Maunya apasih?"
📲 Hay ( dengan memakai emot ciuman)
"Astagfirullah, benar-benar nih, bocah! didiemin malah ngelunjak!" umpatnya. Sambil memegang handphone dan melihat isi WhatsApp tanpa berniat untuk membalas.
📲 *Kenapa cuma di read doang?
📲 Balas dong, pliiiiiisssss (emot memohon dan emot sedih*)
Dia hanya menghela nafas kasar. Jengkel, marah semua perasaannya yang tidak bisa diungkapkan semua jadi satu. "Mau nya apasih, nih anak? enggak disekolah dirumah selalu aja ganggu, udah kayak setan, wujudnya nggak ada tapi.... ih! kok aku ngeri sih?"
"Makanya, balas tuh pesan dia" tiba-tiba saja Dina sudah duduk disampingnya sambil membawa cemilan yang dibeli di minimarket tadi. "Enggak dipandangin kayak begitu!" ujarnya lagi.
"Tapi tunggu deh! Kamu kan tiap hari ketemu dia, enggak pernah ngomong?"
Dia menggeleng.
"Really?"
Hanya mengangguk.
__ADS_1
"Wow, menarik sekali kalian," memberikan tepuk tangan buat Bad boy and Miss jutek sambil tertawa.
Memang disekolah sebelum mulai mengajar terlebih dahulu akan mengingatkan para siswa.Perempuan itu hanya menanggapi setiap pertanyaan atau pun jawaban yang berhubungan dengan mata pelajaran nya, kalau pertanyaan sudah mengarah ke ranah pribadi, dia? no comen. Itulah Marsya. Ia akan terlihat ramah apa bila tidak menyangkut hal pribadi, tapi kalau sudah diluar batas dia akan berubah jadi singa yang siap menerkam.