
"Kita berhenti dulu dimasjid depan, ya! saya mau sholat magrib dulu."
Farel menggangguk sambil membelokkan motor sport nya ke arah sebuah masjid.Setelah memarkir, Azan Magrib terdengar sedang berkumandang. Farel dan Marsya berjalan kearah tempat dimana orang-orang sudah antri untuk mengambil wudhu. Marsya menuju tempat wudhu perpuan, sedangkan Farel menuju tempat wudhu laki-laki.
Setelah selesai shalat magrib berjamaah, Farel dan Marsya menuju parkiran mesjid, untuk mengambil motor.
"Habis ini kita kemana?" Farel bertanya, sambil memasang helm ke kepalanya.
"Pulang!"
"Loh, kok pulang sih Bu? muter-muter dulu lah? atau kita nongkrong di kafe itu!" sambil menunjuk sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari masjid.
"enggak, kita pulang! kalau kamu tidak bisa antar saya, saya bisa pulang sendiri." Marsya sudah mengeluarkan benda pipih yang berada dalam tas, dan hendak memesan ojek online.
"oke! gue antar lu pulang," Farel sudah kesal. Terlihat dari mukanya yang merah karena menahan amarah.
Apakah perempuan disampingnya ini tidak bisa sedikit saja bersikap manis? atau cukup bilang terimakasih karena sudah menolongnya? Tapi harapannya tidak sesuai kenyataan, Marsya selalu saja menjaga jarak. Ya, Tuhan apa yang harus aku lakukan?
***************
Farel sudah menjalankan motornya tanpa bicara apa-apa. Begitupun dengan Marsya, dia tidak mau memberi celah sedikitpun pada Farel, walaupun Farel sudah berniat menolong.
Motor Farel sudah parkir di depan gerbang kos nya Marsya, setelah turun Marsya berniat untuk langsung masuk setelah mengucapkan terimakasih.
"Kamu boleh pulang! terima kasih sudah mengantar saya dengan selamat." ujarnya yang hendak melangkah pergi.
"Apa begini, cara memperlakukan orang sudah yang sudah menolong mu?"
Marsya tak menjawab, dia memilih diam. Wanita itu tahu perlakuan terhadap anak didiknya ini memang sedikit keterlaluan. Tapi apa boleh buat, seharusnya memang seperti itu bukan? Seharusnya dia dan Farel bisa menempatkan posisi mereka masing-masing. Disisi lain, hati terasa sakit. Apa benar sudah ada sedikit perasaan untuk bocah tengil itu? Entahlah! Biar waktu yang menjawab.
"Saya mau istirahat," alasannya.
Terlihat sedikit senyum di wajah Farel. Dia tahu perempuan yang berada dihadapannya ini hanya memberi alasan.
__ADS_1
"Apa segitunya ibu benci sama saya?" tanyanya penuh selidik.
Benci? Kata macam apa itu? Eh ... tunggu, mungkin bisa dibilang dia benci! Ya, Marsya benci Farel selalu mengganggunya, benci karena Farel sudah seperti bayangan nya.
Menarik nafas dan menghembuskan perlahan, mencoba, mencari kata-kata yang tepat, agar anak didiknya ini tidak salah paham.
"Bisa kah kita bersikap layak nya seorang guru dan murid?"
"Oke, kalau itu mau mu, maaf selama ini telah menjadi benalu di hari-hari mu, Bu Marsya Maharani! saya permisi pulang." Farel menghidupkan motor nya, menggas, dan melaju sangat cepat.
Marsya melongo. Ada perasaan aneh yang menjalar setelah melihat kepergian Farel. Sakit! Yah perasaan itulah. Tapi! Apakah salah perkataan nya? seharusnya memang seperti itu bukan? Dia dan Farel memang harus selayaknya guru dan siswa.
Marsya telah melangkahkan kaki menuju pintu kos nya. Memegang handel pintu sedikit menekan, membuka dan menutup kembali. Marsya menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan mata. "Hari yang lelah," gumamnya dalam hati
**************
Tidak lama setelah Marsya sampai, Dina pun sudah berada di depan kos yang diantar oleh Nindy.
"Enggak mampir dulu Nin?"
"Oke! hati-hati ya! makasih udah nganterin!"
Dina melangkahkan kaki kerah pintu kamarnya dan Marsya. "Sepertinya Marsya sudah pulang!" gumamnya. Karena melihat lampu kamar mereka masih menyala. Membuka pintu kamar, dan memang Marsya sudah pulang dan tertidur dengan lelapnya.
"Cha, lcha! kamu sudah shalat isya, belum?" Dina mencoba membangunkan Marsya
Hmhm...
"Baru pulang Din? Sudah jam berapa sekarang?"
"Sudah jam 09.30."
"Astagfirullah, yang benar Din?"
__ADS_1
"Nih, kamu liat aja." Sambil menyodorkan jam weker yang ada diatas meja belajar.
"Aku kekamar mandi dulu, bersih-bersih, terus wudhu."
Dina memperhatikan Marsya, yang sudah melangkah kearah kamar mandi. "Tumben, biasanya tidak pernah telat!"
Setelah selesai bersih-bersih dan berwudhu, Marsya mengambil sajadah dan membentangkannya, tak lupa memakai mukena yang bermotif bunga-bunga berwarna hijau muda. Setelah selesai menghadap Sang khalik, ia melepas mukena dan melipatnya dan menggantung menggunakan hanger serta meletakan di balik pintu kamar.
"Tumben, kamu sholat nya telat?" Dina mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang ada di pikirannya sejak tadi.
"Capek banget!" jawab Marsya.
"Capek? emangnya tadi kamu kemana sama Farel?"
""Nggak kemana-kemana. hanya ke panorama, shalat habis itu pulang." Jawab nya santai tapi wajah Dina terlihat tak percaya apa yang di ucapkan nya barusan.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Marsya kesal.
"Lalu farel?"
""Aku suruh pulang." jawabnya tanpa beban.
"Astaga Icha. Hei, itu anak orang! yang sudah menolong mu, tidak bisakah kau bersikap baik sedikit padanya?"
"Kamu lupa Din! dia itu siswa kita, aku tidak mau kasih harapan padanya! status aku dan dia banyak perbedaan nya."
"Terserah kamu, yang penting aku sudah mengingatkan,"
"Oh, ya satu lagi, Farel itu adalah sepupunya Nindy!" Dina sudah melangkahkan kakinya kekamar di mandi.
Benarkah? Apa aku cari tahu lewat Nindy? Tapi, kok aku kelihatan murahan banget! Atau jangan-jangan aku beneran suka sama tu bocah? Ahh... tidak boleh Marsya! Ingat dia itu siswa kamu! Apa kata orang-orang kalau kamu pacaran sama brondong, Ingat tujuan kamu kekita ini buat apa? Jadi jangan coba macam-macam. mencoba bermonolog dalam hati, seraya mengingat kan diri sendiri.
********
__ADS_1
mainkan jarinya kakak cantik 😍😍 untuk komen like dan vote nya😁😁
terimakasih 🥰🥰🥰