Bu Guru Cantik I Love You

Bu Guru Cantik I Love You
Damn it


__ADS_3

Farel


Sudah hampir setiap hari Farel mendekati Marsya tapi hasilnya tetap nihil. Laki-laki yang mana bulan depan, sudah memasuki umur delapan belas tahun itu terlihat frustasi. Dia tak menyangka akan sesulit ini untuk menaklukkan hati Marsya, guru cantik yang selalu diganggu nya akhir-akhir ini. Deadline taruhan dengat sahabatnya, hampir habis.Kalau sampai pada masa yang mereka sepakati tiba, maka Farel harus siap dengan segala resikonya, bukan hanya mobil kesayangan, tapi juga cita-citanya yang sudah di impikan sejak lama. Biasanya sangat mudah bagi Farel untuk menaklukan hati perempuan, tapi... berbeda dengan Marsya, perempuan itu seperti tidak tertarik dengannya. Bahkan! ia pernah berfikir, apakah perempuan itu normal?


Hari ini Farel akan berkumpul dengan teman-teman nya disebuah kafe yang tengah viral akhir-akhir ini. Memilih tempat duduk yang mengarah kelaut dimana disana terlihat matahari bersinar dengan indahnya, yang lambat laun akan terbenam.


"Lo dimana? gue udah nyampe nih? Ucap Farel, yang berbicara lewat telpon genggam yang di dekatkan ketelinga.


"Sabar! lo kayak cewek, nyinyir." Jawab diseberang sana.


"Gue udah setengah jam nunggu kalian semua. Buruan enggak pakem lama." Perintahnya dengan tegas.


"Ish, Lo nggak sabaran banget! mending lu cuci mata dulu. Siapa tahu ada yang nyangkut hahah." Goda temannya di seberang sana sambil tertawa.


"Nyangkut apaan? emang gue mau mancing ikan?"


"Mancing cewek maksudnya Rel! dari pada lu nungguin ibu guru yang cantik disekolah." Godanya lagi


Farel menekan warna merah yang berada di benda pipih nya. Wajahnya terlihat kesal akibat godaan sahabatnya itu. Farel mengarahkan pandangannya kearah laut, dimana matahari terlihat sangat cantik. Sambil mengambil ponsel dan mengarahkan kearah barat tapi pergerakan tangannya terhenti sesaat, mencoba meng-zoom dengan objek yang ia lihat. Benarkah? mengucek mata berkali-kali untuk mastikan bahwah apa yang dilihatnya itu tida salah.


Benar itu dia. Wanita yang akhir-akhir ini membuat dunianya kacau.


************


Seorang wanita berjalan dengan sangat anggun masuki sebuah kafe.


"Farel." Terdengar suara perempuan memanggilnya, bersamaan dengan keterkejutannya melihat seseorang.


Perempuan itu langsung saja duduk disamping Farel serta merangkul bahunya.


"Kamu apa kabar Rel? kok sekarang jarang main kerumah?" menghempaskan badan disofa berwarna abu tua.


"Sibuk." Jawabnya ketus.Tapi pandangannya tetap fokus terhadap seseorang.


"Sibuk apaan? sibuk dengan koleksi cewek-cewek kamu.


"Apa sih kak? sana deh? gangguin gue aja!" dan pandangannya tetap fokus kearah segerombolan orang-orang yang sedang tertawa.


"Kamu lihat apa sih? dari tadi mata kamu lihat kesana terus?"


"Ckck ... jangan kepo! sana deh, kak! gabung sama teman-teman kamu." Memonyongkan bibirnya kearah teman siperempuan.


Perempuan itu bernama Nindy. Anak dari kakak ibunya ini memang sangat dekat dengannya. Tapi beberapa hari ini Farel tidak kerumah sepupunya itu, biasanya tuh anak akan selalu mengadu apa bila kedua orang tua nya sudah membahas tentang keinginan orang tuanya.


Nindy tak mengindahkan perkataan nya. Jiwa kepo perempuan yang berumur 21 tahun meronta-ronta untuk mencari sesuatu. Dia lalu mengalihkan pandangan dimana adik sepupunya ini dari tadi selalu melihat ke arah laut.


"Bukannya itu, Icha?" serunya. "Tadi aku ajak keluar katanya nya males! kok malah disini?" gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Farel.


Seketika Farel mengalihkan pandangannya kearah Nindy. Berfikir sejenak dan mastikan kalau sepupunya ini memang kenal dengan perempuan yang ada di depan mereka.


"Kakak kenal dia?"


"Siapa." Tersenyum jahil, padahal dia tahu siapa yang di maksud.

__ADS_1


"Kakak!" terlihat dari raut wajahnya yang sudah kesal.


"Apa Farel sayang? kamu gemes deh!" ujarnya sambil mencubit kedua pipi Farel.


"Tapi bagi aku kamu masih anak kecil." Jawabnya tak mau kalah.


"Ish... terserah kakak. Kakak kenal sama dia?" beonya lagi tapi dengan wajah yang sudah menahan amarah.


"Mau tahu? apa mau tahu banget?"


"Kak! gue serius." Matanya sudah menatap tajam pada sepupu yang paling menyebalkan baginya.


"Iya iya, aku jawab. Hmhmhm... Dia itu Marsya, kami biasanya manggil dia Icha. Anak nya pintar, kamu tahu! dia itu sebenarnya masih umur 20 tahun, kalau nggak salah dia waktu Sekolah Dasar dulu dia pernah naik kelas lompatan gitu."


"Maksudnya?"


"Waktu itu Icha ikut lomba cerdas cermat antar sekolah di daerahnya, dan secara tidak sadar panita salah ngasih soal, sebenarnya soal nya untuk anak kelas 6, dan bukan untuk anak kelas 4. Hanya Icha yang bisa menjawab semua pertanyaan itu. Nah dari situ pihak sekolah mencoba tes ulang kembali. Hasilnya tetap sama, makanya Icha dari kelas 4 langsung ke kelas 6." Nindy mencoba menjelaskan.


"Benarkah?"


"Ya... yang aku tau secara garis besarnya memang b begitu. Kok kamu nanya-nanya tentang dia? jangan bilang kalau Icha target kamu."


"Target apaan sih kak? enggak lah! dia itu guru PL di sekolah aku."


"Sekaligus bahan taruhan kita, buat dapetin dia. Siapa yang kalah siapkan imbalannya." Yang menjawab seseorang yang baru datang dan langsung duduk didepan Farel. "Sorry, gue telat, macet, biasalah malam Minggu!"


"Alasan."


"Maksud kalian apa? jangan gila kamu Farel."


"Taruhannya apa?"


"Mobil." Jawab Sandri dan Farel hampir bersamaan.


"Apa? kamu gila Rel? kalau pak etek tahu, bisa habis digorok leher mu."


"Jangan sampai papa tahu lah kk."


Diam sejenak. Nindy mencoba memahami perkataan Farel dan sahabat sepupunya itu.


"Yakin bisa naklukin dia?"


"Kakak nantangin gue?" wajahnya melongos mendengar penuturan sepupu.


"Bukan nantangin."


"Terus? kalau nggak nantangin apa? coba?"


Hmhm... Nindy berfikir sejenak, mencoba bagaimana cara menjelaskan padak adik nya ini. Karena Marsya bukan perempuan yang biasa ditaklukan oleh adiknya. Tidak semudah itu!


"Marsya itu beda dengan cewek-cewek yang biasa kamu dekati. Dia itu berbeda dari permpuan diluar sana." Menjeda sejenak. "Dikampus, banyak laki-laki yang mau jadi pasangannya. Tapi Marsya tapi Marsya tidak pernah menanggapi." Mengambil minuman yang ada didepan nya, dan menarik sedotan dan mengarahkan kemulut. "Segar."


Dua laki-laki yang ada dihadapannya mencolos melihat tingkahnya.

__ADS_1


Farel meringis. "Itu minuman gue!" sarkasnya "Kalau mau minum pesan, sana! main serobot aja."


Hehe... "Aku haus." ujarnya meringis .


"Lanjut ceritalu."


"Eh... masih mau dengar?" tanyanya.


Hanya dijawab dengan anggukan oleh kedua pria itu.


"Ckck... cepetan dong kak."


"Kamu lihat pria itu?" Nindy mengarahkan telunjuknya kearah yang dituju. "Dia itu mantan nya Marsya.


Farel dan Sandri kaget dengan penuturan Nindy barusan. Karena selain melihat mantan Marsya mereka juga memperhatikan seorang wanita yang bergelayut manja di lengannya


"Namanya Rio Baskoro. Mereka pacaran dua tahun lebih,tapi ketahuan selingkuh makanya putus dan disampingnya itu adalah pacarnya," menjedak sejenak. " Dan .... itu? cowok yang duduk disampingnya itu cinta diamnya."


"Maksudnya?"


"Ya ... laki-laki yang berada disampingnya itu adalah cinta terpendamnya Marsya, selama disekolah dulu dan sampai sekarang.


"Hah ... serius kak?" kelihatan Sandri belum yakin dengan penjelasan sepupu sahabatnya ini.


"Kok lu bisa tahu?" Farel mencoba yakin dengan sepupunya.


"Ya iyalah! aku kan sahabatnya, cuma beda fakultas. Siplanet dan Dina ngambil jurusan Pendidikan aku Non pendidikan."


Really, Farel tak percaya kalau sepupunya ini tahu bahkan kenal dekat dengan Marsya.


"Kenapa? wajah lu kok kusut gitu? mau nyerah?" Sandri mencoba menggodanya.


"Enggak lah! tidak ada kata menyerah dalam kamus gue." Elaknya. Padahal dalam hati ada sedikit asa was was.


"Kamu jangan macam-macam sama sahabat aku, Rel?"


Perdebatan mereka terhenti karena terdengar sedikit keributan tak jauh dari tempat mereka duduk. Terlihat seorang wanita dengan pakaian sangat seksi sedang memaki. Sontak membuat pengunjung yang berada disekitar melihat kearah sumber suara. Begitupun Farel, Sandri dan Nindy.


Damn it.


Farel mengumpat dalam hati. Dia melihat siapa yang sedang dimaki gadis berbaju seksi itu. Tanpa sadar kakinya melangkah kearah dimana sumber suara keributan.


"Sayang! maaf aku telat."


Kata yang keluar begitu saja, bahkan membuat semua orang disana terperangah. Tak terkecuali kakak sepupu dan sahabatnya Sandri yang tersenyum simpul padanya.


**********


Hay kak... bantu like komennya😁😁


walaupun enggak ada yang baca insyaallah aku akan tetap lanjutin novel ini😒😒


happy reading πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


semangat buat diri sendiri 😍😍πŸ’ͺπŸ’ͺ


__ADS_2