
Farel
Farel sudah berada di ruangan BK. Sesuai yang dijanjikan guru cantik yang selalu menjadi bahan menarik baginya apabila bertemu. Dan sudah beberapa hari ini ia kurang bersemangat. Penolakan secara halus yang disampai kan Marsya kemaren, membuat pikirannya sedikit terganggu. Bagai mana dengan masa depan ku? Hal itu yang selalu mengganggunya.
Flass back
Hari ini entah mengapa pas di pelajaran Marsya dia kurang bersemangat mengikuti. Dari pada tidur ia labih baik bermain game, mengambil handphone yang berada didalam tas, membuka layar. Tapi disaat asik memainkan handphone Marsya mengetahui apa yang dilakukannya.
"Stst ... Rel!" ujar Ragil.
"Hmhm..."
"Rel! dari tadi Bu Marsya meratiin lu, mending simpan tu handphone dari pada nanti kena sita." Ragil berusaha mengingatkan.
"Berisik. Gue lagi malas,"
"Gue cuma ngingetin. Tapi Rel? Ragil menjeda sejenak ucapannya "Bu Marsya memang mau jalan kesini, mending lu simpan deh! cepetan Rel!" Ragil sudah terlihat panik. Karena Marsya sudah berjalan kearah tempat duduk mereka.
"FAREL WIRATAMA. Kamu sedang apa?" Marsya sudah kesal melihat Farel. karena dari tadi ia memanggil tapi tidak di dengarkan. Bahkan semua siswa diruangan itu kaget mendengar suara keras Marsya, biasanya guru cantik yang bernama lengkap Marsya Maharani itu tidak pernah bersuara sekeras ini.
Farel hanya melihat sekilas. dan lanjut memainkan benda pipih bewarna hitam ditangannya. Dia terlihat tidak peduli dengan teriakan Marsya, bahkan seperti menganggap Marsya tidak ada didekatnya.
Dengan cara kasar Marsya merebut handphone berada ditangan Farel.
"Ponsel kamu saya sita!" mengambil, dan melangkah lagi kedepan kelas.
"Buk?"
"Kamu tahu kan? peraturan saat belajar di jam saya? ataaauuu....?? perlu saya sebutkan lagi, apa-apa saja peraturan yang pernah kita sepakati waktu pertemuan diawal semester?"
Farel tak berani menjawab. sebenarnya niat nya hanya untuk menarik perhatian Marsya. Karena sudah beberapa hari ini Marsya seperti tidak mau bertegur sapa dan lebih tepatnya mendiamkannya.
"Dan temui saya diruangan BK pas waktu istirahat nanti."
__ADS_1
"Oke, Bu guru cantik." Farel melangkahkan kakinya menuju pintu kelas, karena juga bertepatan dengan bunyi bel istirahat.
Tapi yang namanya Farel, tidak akan kehabisan akal. Sebelum benar-benar melangkah keluar ruangan kelas dia masih saja sempat untuk menggoda Marsya, dan... seperti biasa Bu guru selalu kesal dengan tingkahnya.
.
.
.
Diruangan BK
"Masuk!" satu kalimat yang dikeluarkan Marsya dari mulutnya, dan dia tahu siapa yang sudah mengetuk pintu.
Tapi beberapa guru yang berada di ruangan BK kaget melihat Farel. Ada apa dengannya? Sudah dua kali ia memasuki ruangan itu. Biasanya tidak pernah. Farel adalah siswa berprestasi di sekolah ini. Dia tidak pernah berurusan dengan guru BK untuk kelakuan buruk. Apa ada masalah lagi? Berbagai macam pertanyaan yang ada dipikiran guru-guru yang memang sudah lama mengenal Farel.
"Farel! ada urusan apa kamu kesini! sudah dua kali dalam semester ini, kamu masuki ruangan BK. Apa ada masalah?" tanya salah satu seorang guru pada Farel.
"Saya ada urusan sama Bu Marsya Bu!" jawabnya sambil melihat kearah Marsya.
"Iya Bu!"
"Oke." Seru guru BK yang bernama Sari. Sambil menepuk pundak nya dan berkata "Jangan cari masalah Farel, kamu sudah kelas dua belas. Dan sebentar lagi akan ujian akhir."
"Iya Bu," jawab nya sambil tersenyum.
Sedangkan Marsya, memperhatikan dari tadi interaksi antara Farel dan ibu sari. Sejenak ia berfikir apakah Farel hanya dengan nya saja bertingkah menyebalkan? Entahlah!
Marsya menghampiri Farel, dan melihat tajam kearahnya. Farel tidak berani menatap Marsya. Bukan berarti ia takut , tapi dia tidak mau membuat Marsya bertambah kesal padanya.
"Apa alasan kamu?" Marsya mulai mempertanyakan apa yang sedari tadi ada didalam pikiran nya.
"Alasan apa?"
__ADS_1
Marsya telihat gusar, perempuan cantik itu mengusap mukanya sambil menhembus kan nafas secara kasar.
"Alasan kenapa kamu main handphone waktu pelajaran saya?" bentaknya.
"Saya sedang kesal Bu!"
"Kesal?" Marsya menautkan alisnya, bingung?
"Ya!"
"Sama siapa?"
Farel menatap wajah Marsya. Mata bulat dengan iris bewarna hitam serta alis tebal, dan bibir tipis mungil. Hmhm... sangat menggemaskan. Ish... apa yang kupikirkan? Farel mulai berfantasi dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sambil menggelengkan kepala, dan membuat Marsya mengerutkan keningnya yang terlihat bingung.
"Aw.. sakit Bu!" kesal Farel. Marsya sudah memukul kepala nya dengan buku cetak yang memang sudah dipegangnya dari tadi.
"Jawab."
"Saya kesal karena ibu selalu menghindari saya." Jawabnya sarkas.
"Maksud kamu?" tanya Marsya bingung.
"Yah... saya kesall kenapa ibu selalu menghindari saya? Apakah salah kalau seorang murid menyukai gurunya?" jujurnya. Karena lebih baik jujur bukan?
"Kamu?" Suara Marsya sudah naik satu oktaf. "Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan? kamu tahu, tidak! perbedaan kita? saya ini guru kamu! tidak pantas seorang murid berbicara seperti itu pada gurunya." Suara Marsya sudah melunak, karena ia tidak mau ada yang mendengar apa yang telah di ungkapkan Farel barusan.
"Tidak ada yang salah Bu! Saya menyukai bahkan jatuh cinta, perasaan ini datang begitu saja. Apakah salah?" jelas Farel.
Marsya melongo. Wajahnya terlihat gusar, kejujuran Farel membuatnya berfikir bagaimana kalau ada yang mendengar? apakah ia akan dikeluarkan? dan kalau keluar, bagaimana dengan kuliahnya? Bagaimana dengan kedua orang tuanya? Ah... tidak-tidak ini tidak boleh terjadi. pikiran nya sudah dihantui dengan kejadian-kejadian yang aneh.
"Bagaimana? ibu terima cinta saya?" Farel membuyarkan lamunan Marsya.
"Kamu sudah gila! Kamu sadar kan, dengan perbedaan kita?"
__ADS_1
"Ya... anggap saja seperti itu! saya tergila-gila sama ibu." jawabnya meyakinkan agar Marsya mau menerimanya. Sebenarnya ia tidak ada bermaksud berbicara seperti itu, tapi mengingat batasan taruhan yang sudah dekat membuatnya harus bertindak cepat. setidaknya... pacaran sementara. Mungkin?