
"Buk...? bagai mana?"
"Apanya?"
ck.. Apa perlu saya ulang lagi! ungkapan perasaan saya sama ibuk, kalau saya benar menyukai ibuk!"
huffff... Marsya mendesah, dia tidak tahu bagaimana lagi cara menjelaskannya pada Farel.
"Begini, Farel! saya akui saya salut sama keberanian kamu, mengungkapkan perasaan kamu pada saya. Tapi... kamu harus tahu batasannya. Dan saya yakin kamu pasti paham maksud saya. Dan satu lagi menyukai bahkan mencintai seseorang itu tidak salah, tapi... jaman sekarang jatuh cinta itu harus pake logika Farel. Perjalanan kamu masih panjang, jadi saya harap ini adalah hari pertama dan terakhir, saya mendengar kata-kata kamu tadi." Ujar Marsya lembut namun terdengar tegas.
Hening sejenak.
"Baiklah, saya mengerti! tapi bolehkah saya nanti malam main ke kosan ibuk."
Marsya melihat Farel dan mengangguk. "Oke! saya tunggu nanti malam!" Marsya sudah berdiri dan meletakkan ponsel Farel diatas meja, lalu melangkahkan kaki keluar dari ruangan BK, namun tiba-tiba...??
"Buk, Marsya!"
"Ya..."
"Terimakasih. Dan saya pasti akan datang!"
Marsya tersenyum. "Saya tunggu!" lalu berjalan meninggalkan Farel yang bengong melihat senyum Marsya yang menawan.
Huuuffff "Sebaiknya gue jujur saja nanti malam pada Bu Marsya." Gumamnya dalam hati.
.
.
.
. 89
Dalam kelas
"Bagaimana hanpone, lu?" Tanya Ragil.
Farel mengeluarkan benda pipih dalam saku celananya, dan mengibas-ngibaskan ke muka Ragil.
"Hebat! trus, urusan lu deketin dia lancar nggak?"
Farel mengangkat bahunya, dan Ragil mengerti reaksi yang dilakukan Farel.
"Lu serius?" Ragil menautkan alisnya "masih jalan ditempat?"
"Hmhm..."
"Oh... come on Farel!" ujar Ragil tak percaya.
"Gue nggk percaya! seorang Farel Wiratama ditolak mentah-mentah?" hahaha... "Ini akan mengukir sejarah kegantengan lu! ternyata, tidak berlaku sama Bu Marsya." Katanya lagi sambil tertawa.
__ADS_1
issshhh "Sialan lu. Bukannya bantuin gue!" Farel menatap Ragil, tak suka. "Tapi lu tenang aja, nanti malam gue udah janji main ke kosannya, dan ini adalah perjuangan gue yang terakhir, kalau gagal lagi gue pasrah." Jawabnya yang terlihat kurang semangat.
"Emangnya udah dibolehin?"
"Udah dong! syukur-sukur nanti malam dia mau gue ajak leluar!"
"Gue doa in! semoga nanti malam acaranya sukses." ujar Ragil sambil menepuk pundak Farel serasa memberi semangat.
Eheemmmm.....
Farel dan Ragil memalingkan wajah mereka kerah sumber suara. Dan dia adalah Karisa. Manta pacar Farel entah yang keberapa, Karisa yang tidak mau diputuskan oleh Farel, selalu mencari celah untuk menarik perhatian farel kembali.
"Gue keluar dulu ya Rel!" ujar Ragil dan berdiri.
"Mau kemana lu?" tanya Farel sambil menarik tangan Ragil. Dia tidak mau ditinggalkan berdua saja dikelas dengan Karisa. Karena Farel sangat tahu maksud dari Karisa menemuinya.
"Gue mau beli minuman, gue haus!" jawab Ragil sambil berlari kecil keluar kelas menuju kantin, karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
Karisa dan Farel
"Rel! ujar Karisa memulai percakapannya. Karena dari tadi Farel hanya diam dan terlihat asik memainkan ponselnya.
"Hmhm..." jawab Farel tapi masih sibuk dengan game yang ada di hanpone.
"A... aku mau kita balikan kayak dulu lagi Rel!" ujar Karisa hati-hati. Dia takut Farel akan marah lagi seperti beberapa waktu lalu.
Dan, Farel yang mendengar langsung memberhentikan, permainan gamenya, dan melihat sekilas kearah Karisa. Sambil mendengus kesal "Sudah berapa kali gue bilang! gue nggak mau balikan sama lu!"
"Tapi... aku beneran cinta sama kamu Rel! a__ aku nggak bisa lupain kamu, semakin berusaha buat aku lupain! hati ku semakin sakit!" jawab Karisa sambil menangis. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya, agar Farel kembali padanya.
"Perjalanan kita masih panjang Karisa! kita ini belum lulus sekolah, dan satu lagi gue nggak mau ambil pusing masalah cinta. Bagi gue no time for love."
Tapi disaat perdebatan antara Karisa dan Farel, tiba saja pintu kelas di ketuk.
tok
tok
tok
Farel dan Karisa melihat kearah sumber suara secara bersamaan.
"Maaf mengganggu! saya hanya mau memberikan buku ini ke sekretaris kelas ini, karena hari ini Bu Yati izin tidak masuk karena sakit.
Tapi sebelum menjawab, Karisa sudah berdiri, sambil mengusap sisa air matanya yang masih menempel dipipi. Dan berjalan keluar kelas.
Marsya menautkan alisnya melihat sekilas raut muka Karisa yang terlihat sedih.
"Apa kamu yang buat dia menangis?" Tanya Marsya.
"Tidak!"
__ADS_1
Marsya menghembuskan nafasnya. "Ya sudah! nanti tolong kamu berikan ini kepada Jihan. Dan catat dan catat dari halaman 31 sampai halaman 34, bilang sama Jihan untuk diringkas. Dan kamu, selaku ketua kelas saya tugaskan harus menjaga keamanan kelas ini agar tidak ribut." Kata Marsya yang sambil memberikan buku cetak sama spidol ke Farel.
Marsya berjalan keluar kelas
"Tunggu buk!" Farel menghentikan langkah Marsya.
Marsya membalikan badannya "Ada apa?" tanya Marsya.
"Hmhm... untuk masalah tadi? saya harap ibuk tidak salah paham."jawab Farel sambil memperhatikan wajah Marsya. Tepatnya memperhatikan ekspresi wajah wajah Marsya.
Marsya tersenyum miring. "Memang apa yang saya pikirkan?"
"Karisa. Saya tidak ada hubungan apa-apa dengannya."
"Bukan urusan saya, farel!" jawab Marsya.
"Sudah tidak ada lagi kan? saya mau balik ke ruang guru dulu." Tapi sebelum Marsya membalikan badan Farel memanggilnya kembali.
"Tunggu buk!"
"Apa lagi?"
"Untuk nanti malam? eeemmm... saya bolehkan main ke kosan ibuk." Farel bertanya hati-hati.
"Boleh!" jawab Marsya sambil tersenyum. "Saya tunggu nanti habis magrib." Melangkahkan kaki keluar kelas.
.
.
.
.
.
Malam hari dikosan Marsya
"Saya sudah di gerbang kos ibuk." Farel memberitahukan pada Marsya melalui WhatsApp, bahwa ia sudah tiba .
ting....
"Oke.. tunggu sebentar lagi saya akan keluar." Balasan Marsya. dan itu membuat Farel tersenyum membaca nya.
Marsya keluar dari kamarnya dan menuju pintu kos lalu melangkahkan kaki kearah dimana Farel yang sudah menunggu.
Sekilas Farel terpana melihat penampilan Marsya. Memakai celana jens warna denim dengan baju kaos berwarna tulang, serta menguncir rambut nya dan terlihat leher jenjang putih Marsya yang membuat Farel salah tingkah.
"Kok bengong?" tanya Marsya sambil menautkan alisnya.
"Saya terpesona dengan penampilan Ibuk." jujur Farel dan membuat Marsya tertawa mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Jadi jalan kan? atau mau ngobrol disini?" tanya Marsya.
"Jadi kok buk!" jawab Farel cepat sambil memberikan helem pada Marsya.