
Marsya dan dina sudah sampai di kos mereka , Marsya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan tidak lupa untuk berwudhu.
"Din! mandi dulu, baru tidur! kata Marsya pada Dina yang terlihat memejamkan matanya.
"Iyaa, bentar?" jawab Dina malas.
"Ayo, Din! kamu belum shalat kan? nanti keburu habis ashar nya!"
"Iya bawel." Jawab Dina sambil berdiri dan langsung pergi ke kamar mandi.
Marsya sudah selesai melaksanakan sholat nya dan pergi keteras sambil membawa buku pelajaran Biologi, dimana seperti hari-hari biasanya Marsya akan membuat media pembelajaran buat besok. Perempuan berambut panjang yang melewati bahu itu selalu semangat, karena baginya perjuangan untuk mendapatkan gelar sarjana sudah didepan mata, gelar Sarjana Pendidikan selangkah lagi akan ia dapat. Perempuan yang masih berumur 20 tahun itu terlihat memainkan benda pipih yang berwarna silver, ditangannya. Ia terlihat sibuk membuka aplikasi geogle untuk mencari materi yang akan diajarkan besok kepada siswa dan siswinya.
Sedangkan dikamar kos dina terlihat sudah menyelesaikan ritual, mandi dan sholat ashar, melangkahkan kaki keteras untuk menghampiri Marsya yang selalu terlihat sibuk setiap hari. Apa lagi? kalau bukan membuat media pelajaran. sebenarnya Dina pun demikian, selalu membuat bahan ajar, tapi! untuk hari ini sangat malas.
" Cha! lapar!"
Perempuan yang dipanggil hanya medongakkan kepala, dan tidak berkomentar sedikit pun.
"Cha! aku lapar? kamu kok diam saja?"
Marsya menghembuskan nafas dengan kesal.
"Kalau lapar, makan lah! kok minta sama aku?" dengan nada yang agak sedikit marah karena mengganggu aktivitas nya.
"Aku mau makan mie rebus! mie buatan kamu, kan! enak," sambil senyum.
"Kok, mie lagi? kemaren kan udah! tidak baik makan mie tiap hari?" nasehatnya yang sudah seperti ibunya dikampung.
"Sekali ini aja, Cha! besok nggk lagi, deh! janji!" sambil melihatkan menaikan jari telunjuk dan jari tengah yang berbentuk huruf V.
"Oke, tapi? kamu yang pergi beli bahan-bahannya, ya! jawab Marsya.
"Yah... berdua dong? masa sendiri? males ah? apa lagi lewat kos kosan cowok disitu!" elak Dina .
"Kamu kan bisa lihat, aku lagi ngapain! kerjaan aku lagi banyak nih?" elak Marsya juga yang tak mau kalah.
"Cha, ayo dong! aku laper nih! masa kamu tega aku jalan sendirian kesitu? apa lagi tu cowo-cowok lagi pada ngumpul, kan males di gangguin." alasan nya lagi. Tapi sebenarnya itu bukan alasan. Memang benar apa yang dibilang Dina, para laki-laki itu akan menggoda setiap anak kos yang perempuan yang belalu lalang dihadapan mereka.
"Ish, iya! bentar aku beres kan ini dulu." jawab Marsya malas.
Marsya dan Dina melangkah keluar kos. Mereka berdua berdoa agar tidak diganggu sama cowok yang memang lagi duduk santai sambil bercanda diteras kos mereka.
"Hay... Marsya! Dina!" sapa mereka.
Marsya dan dina hanya membalas sapaan mereka dengan senyum. Sambil berjalan cepat.
"Maukemana, nih?" tanya mereka
"Marsya!"
"Ya!"
"Pacaran, yuk!"
Marsya hanya bengong, tak mau menjawab pertanyaan konyol dari salah satu laki-laki yang menurutnya sangat gila. Dan dia mendapat satu lemparan sandal dari temannya.
__ADS_1
"Salah ya?" tanya nya tanpa dosa.
"Eh! Ferguso! anda sugguh terlalu! masa langsung nembak aja, yang ada! orang pedekate dulu! nah elu? langsung gas pool. Mending diterima! kalau nggak?"
"Hancur hati Abang! dek!" jawab teman-teman nya secara bersamaan dengan tertawa.
"Ah... sialan! kalian itu teman gua atau apa sih? seharusnya kalian tu kasih dukungan!"
"Bagaimana, Marsya? apakah lamaran babang Andes diterima?" tanya salah satu temannya.
"Nggak! mending kuliah yang benar! wisuda, terus pilih salah satu, tuh! yang terjebak rayuan kamu." jawab Marsya. Membuat semuanya kaget mendengar. Yah! Marsya sangat tahu dengan laki-laki yang bernama Andes. Cowok playboy yang cewek nya berceceran di setiap fakultas. Memang diakui Andes memiliki wajah yang lumayan tampan, badan tinggi, putih anak orang kaya dan siapapun yang melihatnya pasti tertarik, tapi tidak bagi Marsya. Laki-laki itu bukan tipenya, apalagi untuk saat ini dia tidak memikirkan cinta lagi, karena sudah cukup baginya dikecewakan. Dua perempuan itu melangkah pergi. Mereka tidak mau mendengar ocehannya lagi.
"Waduh! kasihan? ditolak sebelum berjuang, sabaaaar!" nasehat temannya yang bernama Ari.
"Tapi lu tau nggak kalau Marsya itu mantan nya Rio? anak fakultas teknik," ucap Doni.
" Rio yang pacar nya Vani? yang satu jurusan sama dia?" Andes menyakinkan ucapan Doni
"Yap! benar banget, Vani cewek seksi yang... "
"Gila! kemana aja gua selama ini? pantesan gua telpon nggak pernah diangkat lagi sama tuh cewek? sudah ada mainan baru! hmhm menarik!"
"Maksud lu?" tanya Ari
"Dia kan mantan gue waktu SMA! sempat putus, dan dua bulan yang lalu kita balikan, terus...."
"Putus lagi!" hahaha ledek teman-temannya.
Andes hanya menggerutu melihat ledekan teman-temannya.
"Ndes...! lu beneran suka sama Marsya?" tanya Ari
"Gua nggak mau lu nyakitin dia! secara kan! lu terkenal playboy! cewek lu tiap hari ganti, mulu! sudah kayak ganti baju,"
"Lu udah kenal ya sama dia? tanya Fandi
" Sudah dari orok kali! dia kan sepupu gue" ucap Ari
"Hah, serius! lu bisa kan? comblangin gue sama dia?"
"Terus, cewek lu yang di fakultas Bahasa mau lu kemanain?"
"Gue udah putus," ucap Fandi meyakinkan.
"Tidak percaya! perasaan gue baru lihat tadi siang lu mojok sama dia? saran gue jangan Marsya!" Ari berkata sambil menatap Andes dengan tajam.
"Sudah-sudah kok malah bahas soal cewek sih! jadi nggak nih main futsal?" sahut teman Ari dan Andes.
"Jadi lah!" Andes dan Ari menjawab bersamaan.
************************
Sementara di warung terlihat Marsya dan dina asik memilih bahan untuk membuat mie.
"Cha! nggak sekalian beli bahan buat masak besok? tanya Dina
__ADS_1
"Nggakk lah? bahan yang lama masih ada, ntar busuk lagi! kalau lama-lama kita simpan." jawab Marsya.
"Telur sama mie nya lebihan ya, Cha! tapi mie nya kita beli yang rebus sama yang goreng, besok kita bawa mie goreng aja kesekolah."
"Boleh," jawab Marsya.
Setelah selesai memilih bahan-bahan yang mereka perlukan, mereka pun membayar ke penjaga kedai .
"Bara sadonyo, uda (berapa semua)?" tanya Dina.
" tujuh belas ribu lima ratus diak (dek).
"Kopitih nyo uda (ini uangnya Uda), terimakasih."
"Yo! samo-samo diak (ya, sama-sama dek)."
"Cukupin dua puluh ribu aja! biar bagi nya enak," sahut Marsya
"Tenang! kali ini aku yang bayarin," menarik turunkan alisnya saat melihat Marsya.
"Serius! tumben! lagi dapat kiriman ya?"
"Enggak! kemaren kan, kamu yang beli bahan makanan buat kita , sekarang giliran aku dong." Jawab Dina.
"Alah.... aku kira kamu lagi dapat uang yang banyak.
"Ya, sudah, nggak ada lagi kan?" tanya Marsya.
Dina menggelengkan kepala. Semua bahan sudah dibeli, mereka berdua melangkahkan kaki untuk berjalan ke kos. Mereka berdua bernapas lega karena pas melewati kos cowok, Marsya dan Dina tidak melihat para cowok-cowok yang menjahili mereka tadi sudah tidak ada
"Alhamdulillah, mereka sudah pergi!" ucap marsya dalam hati
Tapi waktu dalam perjalan tiba-tiba benda pipih yang dipegang Marsya berdering, tanda sebuah pesan masuk.
📲 hay .....
Marsya hanya melihat isi wa tersebut. Baginya sudah biasa sebuah pesan dari nomor yang berbeda, sudah hampir tingga Minggu ini selalu saja, ada yang mengirim pesan-pesan yang tidak jelas padanya, dan! sebenarnya Marsya tahu siapa yang sering mengirim chat itu padanya.
"Siapa Cha?" tanya Dina.
"Nggak tahu?"
"Sinih!" Dina mengambil handphone yang ada ditangan Marsya. dua alisnya terlihat beradu seperti memikirkan sesuatu, dan mengembalikan benda pipih milik sahabat nya itu "Fans kamu, mungkin?"
Wanita itu tak menjawab, hanya mengangkat bahu dan terus bejalan mendahului Dina yang masih terlihat berfikir.
"Seperti nya di foto profil aku tahu deh?" ujar Dina sambil berlari kecil untuk mengejar Marsya yang sudah berjalan mendahului nya.
"Benarkah?" tanya Marsya.
"Iya, seperti mobil Farel? masih ingatkan waktu kita diberi tumpangan tadi! mobilnya persis sama." jawab Dina.
"Mobil yang kayak gitu kan banyak Din! sudahlah! ayo! katanya lapar?"
"Ya sudah! ayo." Ajak Dina sambil merangkul tangan Marsya.
__ADS_1
##################
bersambung 🤗🤗🤗