Bu Guru Cantik I Love You

Bu Guru Cantik I Love You
Tidak sengaja bertemu


__ADS_3

Dua bulan sudah Marsya praktek. Dan selama itu pula Farel belum berhasil menaklukkan hatinya. Marsya tidak memberi ruang ataupun kesempatan pada Farel, jangan kan mengajak jalan, main ke kos nya saja tidak pernah diizinkan. Semakin hari tugas nya semakin bertambah, apalagi akhir-akhir ini ia harus bolak balik antara kampus - kos - sekolah, untuk menyelesaikan proposalnya agar bisa seminar dengan cepat setelah itu bisa lanjut dengan skripsi. Dia harus mengejar target untuk lulus tahun ini.


Handphone yang ia letakan di atas nakas dikamar kosnya berbunyi. Sebuah pesan masuk! seperti nya dari group chat SMA nya.


Group SMA


Nia (kuliah di Jogja)


📲 Guys besok reunian, yuk? mumpung aku lagi di (menyebutkan nama kota dimana sekarang Marsya dan Dina tinggal)


Fajar (angkatan darat yang lagi tugas di Papua)


📲 Waahh seru, kayak nya tuh! ayo lah, guys ,mumpung gue lagi cuti juga nih.


Clara (kuliah kedokteran tapi masih satu kota dengan Marsya dan Dina)


📲 Boleh (dengan emot bahagia).


Sandri ( kuliah dibandung)


📲 Ikut.


Andri (polisi tapi dinas diluar kota masih propinsi yang sama dengan Marsya dan Dina)


📲 Gue ikut.


Febi (masih satu kampus tapi beda jurusan)


📲 Aku juga ikut.


Dina


📲 Aku sama Icha, juga ikut.


Marsya


📲 Kapan aku bilang setuju ( emot marah)


Fajar


📲 Masih jutek aja, teman kita yang satu ini.


Marsya

__ADS_1


📲 Berisik (emot marah)


Clara


📲 Jangan ada yang CLBK (cinta lama belum kelar) dan ( emot tertawa).


📲 Tidak ada yang bawa pasangan dan juga perasaan.


Febi


📲 Eh... maksudnya apatuh? enggak boleh bawa perasaan?


Marysa hanya tertawa melihat peringatan terakhir Clara. Pasangan? perasaan? dia bahkan sudah jomblo selama delapan bulan ini. Eits ... bukan ia tidak laku, tapi memang untuk saat ini pikirannya hanya fokus belajar, belajar dan belajar.


Begitulah rentetan isi group chat SMA nya, dan mereka ada yang PNS, kuliah dan Bekerja. Ada yang bisa datang dan ada yang tidak.


Kesepakatan sudah diterima. Bahwa mereka akan bertemu di sebuah kafe dikota ini. Tepat jam empat Marsya dan Dina memesan taksi online melalui aplikasi. Walau sedikit kesal, Marsya tetap mengikuti acara yang baginya sangat ingin ia hindari saat ini. Terpaksa! itulah, kata yang paling tepat, karena paksaan dari Dina, dan ceramah nya yang panjang melebihi ceramah Mamah Dedeh, kalau Mamah Dedeh ceramahnya enak didengar, tapi kalau ini! bikin kuping sakit.


Karena macet, hampir setengah jam mereka berada baru sampai ditempat yang dituju. Biasanya hanya waktu lima belas menit sudah sampai. Mungkin disebabkan karena hari ini adalah weekend, apalagi bertepatan malam Minggu, mendadak semua jalanan macet dan tempat favorit yang biasa didatangi anak-anak muda menjadi rame.


Marsya dan Dina datang terlebih dahulu, karena mereka yang bertugas mencari tempat duduk yang terlihat strategis. Mereka berdua memilih di lantai atas yang duduk nya langsung terlihat pantai yang sangat indah, apalagi sebentar lagi mereka akan melihat matahari terbenam.


Dan satu persatu mereka telah datang. Bersalaman bagi laki-laki dan cipika-cipiki bagi berempuan. Dan yang terakhir datang adalah Andri


Deg...


"Hay... Cha? apa kabar?" sapa Andri padanya.


"Baik." Jawabnya singkat dan padat.


"Wooii, yang lu sapa cuma, Marsya? terus kita-kita lu anggap obat nyamuk kalian?" kebiasaan Fajar yang selalu bikin gaduh dan di sambut gelak tawa yang lain.


"Iya, nih! merakyat dong." seru Clara. "Kan, sudah dibilang, tidak boleh bawa pasangan apalagi perasaan." Ujarnya lagi mengingatkan.


"Siapa yang bawa pasangan?" ada sedikit rasa nyeri dihatinya


"Jangan baper? biasa aja!" nasehat Dina, sahabatnya yang satu ini sangat tahu keadaan nya sekarang. Padahal waktu putus sama Rio dulu tidak pernah ada perasaan gugup sedikitpun kalau berpapasan dengannya dikampus. Tapi! dengan Andri? perasaan nya berubah jadi tiga ratus enam puluh derajat.


Oke, fix Marsya kamu memang masih mencintainya. Perasaan yang dulu telah lama mati, kini hadir kembali. Eh... ralat tidak pernah mati. Perasaan itu masih ada sampai saat ini.


Mereka memulai percakapan dengan saling menanya kabar, bercanda dan tertawa. Memang situasi seperti inilah yang sangat mereka ridukan, masa jaman putih abu-abu, jaman mereka nakal-nakal nya.


Lantunan lagu dengan suara yang sangat merdu sangat enak didengar dan meresap dalam hati

__ADS_1


*Aku punya niat yang baik


Coba ku ungkapkan padamu


Berharap kamu kan menjadi


Rencana besar dihidupku


Tapi kau bilang, pergi sana


Kamu tak mau melihat diri ini


Selamanya....


Awas nanti catuh cinta


Cinta kepada diriku


Jangan-jangan ku codoh mu


kamu terlalu membenci


Membenci diriku ini


Awas nanti jatuh cinta


Padaku....


(Armada____ Awas jatuh cinta*)


Saat sedang asik, terdengar suara seseorang memanggil salah satu dari mereka.


"Lho, Abang kok disini? ngapain? Abang selingkuh ya?" mata perempuan itu terlihat memerah dan menatap tajam padanya.


Nada suara yang keras membuat semua berada disekitar melihat kearah mereka. Terlebih pasangan yang duduk tidak jauh dari tempat mereka Rio dan Vani. Dan memang saat ini keberuntungan tidak berpihak padanya. Dimana Andri, memang duduk disebelah nya tadi, bahkan sangat dekat. Wajar saja pacarnya Andri marah dan untuk saat ini ia terlihat sangat menyedihkan. Tatapan tajam dari pengunjung seperti meintimidasi.


"Kamu! apa-apaan? siapa yang selingkuh? aku lagi reuni sama teman-teman aku! apa itu salah?"


"Kenapa Abang nggk izin dulu sama aku?"


"Iya iya aku salah! aku minta maaf," sambil memegang tangannya. Andri malas memperpanjang masalah, ia malas berdebat dengan perempuan dihadapannya ini.


"Din," Marsya memanggil Dina dengan berbisik.

__ADS_1


"Apa?"


"Biasa," sambil memegang handphone dan mengarahkan ke Dina. Dina yang sudah paham dengan situasi seperti ini dengan sigap mengambil benda pipih nya yang berada didalam tas (panggilan bohongan). Tapi sebelum melakukan pagilan Dina tersenyum melihat siapa yang barusan datang dan langsung saja menarik tangan Marsya "Sayang, maaf aku telat." Perempuan yang dipanggil hanya melongo, sedangkan yang lain menatap takjub dengan melihat wajahnya yang sangat tampan.


__ADS_2