Bukan Istri Sementara

Bukan Istri Sementara
Tak dapat pergi


__ADS_3

Tiga hari sudah Mitha di rawat, dan kini kondisinya juga sudah mulai membaik, obat dan perawatan yg terbaik dokter berikan untuk pemulihan Mitha, itu semua atas perintah Michel. namun setelah Mitha siuman Michel tak terlihat datang mengunjungi Mitha kembali.


"Aku harus pergi dari sini, jika aku terus bersama pria psikopat itu, aku akan mati karena siksaannya. "Gumam Mitha. Karena Merasa aman, Mitha pun mencabut jarum infusan yg menancap di lengannya, kemudian ia pergi dengan cara mengendap-ngendap..


"Tuhan tolong aku, tolong bebaskan aku dari pria kejam itu, aku mohon tuhan.. "Mitha terus merapal doa disetiap langkahnya, melihat sekitar terlihat aman ia langsung pergi meninggalkan gedung kesakitan itu, ia terus berjalan, yg ada di benaknya saat ini, menjauh dari rumah sakit dan dari kediaman Michel, setelah itu baru ia akan pikirkan langkah berikutnya.


*


*


Sedangkan di tempat lain, Michel terlihat sedang menahan amarah, bagaimana tidak, wanita yg ia beri penanganan yg bagus dirumah sakit telah melarikan diri, dan lebih membuatnya kesal, rasa kasihan yg ia berikan pada wanita yg saat ini menjadi istrinya itu ternyata dimanfaatkan oleh Mitha dengan melarikan diri. "Wanita sialan, beraninya kau pergi dariku! "Ucapnya marah.


"Bawa dia padaku sekarng juga, jika sampai kau gagal, akan ku bunuh kau! "Perintah Michel dengan amarahnya.


Mendapat perintah dari bosnya, anak buah Michel langsung bergerak, memantau dari CCTV yg berada disekitar, dan dapat melihat kearah mana Mitha pergi.


Mitha kelelahan, napasnya tersenggal-senggal, ia berlari sudah cukup jauh hingga membuatnya kehausan, "Aku harus mencari tempat yg aman untuk bersembunyi, berjaga-jaga bila ada anak buah pria kejam itu yg akan mengejarku. "Ucap Mitha pelan.


Tiga jam berlari tanpa arah dan tujuan membuat Mitha sangat-sangat kelelahan, matahari yg terik membuat ia begitu ke hausan, "Kemana aku harus pergi? aku juga sangat haus. "keluhnya mengadahkan kepala melihat langit yg memancarkan sinar matahari yg terik.


Mitha tersenyum senang saat melihat warung di pinggir jalan, mudah-mudahan si pemilik warung memiliki hati yg dermawan, Mitha akan meminta minum kepada si pemilik warung itu, namun sungguh di luar dugaan sebelum ia melangkah, ada tangan kokoh mencengkram tangannya.


"Kau pikir kau bisa pergi dariku dengan mudahnya! "Suara bariton yg bagaikan malaikat pencabutnya nyawa itu berdengung menyakitkan di indra pendengaran Mitha, bagaimana tidak, suara itu, adalah suara yg ia ingin hindari, yg tidak ingin ia dengar, namun mengapa suara itu kembali ia dengar, setelah merasa senang dapat pergi dari pengawasannya.


Tarikan tangan Michel membuat tubuh Mitha terduyung hingga mengikuti kemana langkah Michel menariknya. Mitha meronta meminta dilepaskan, namun bukan Michel namanya jika dia melepaskan.


"Ternyata ucapanku kau jadikan isapan jempol semata ya. "Michel tersenyum sinis, kemudian wajahnya berubah menjadi dingin dan menggelap.


Seketika tubuh Mitha bergetar takala melihat wajah gelap suaminya, Mitha menelan ludahnya berulang-ulang, "Ma-maafkan saya, say--

__ADS_1


"Braakkk. "Michel mendorong tubuh Mitha masuk kedalam Mobil, setelah berada didalam, Michel langsung mencekik leher Mitha hingga Mitha memberontak, wajah Mitha memerah dan tak lama wajahnya memucat, kakinya nampak kaku takala ia susah untuk ber napas .


"Buuk. "Kembali Michel mendorong tubuh Mitha hingga terbentur ke pintu mobil belakang pengemudi.


"Ohok-ohok.. "Mitha terbatuk saat cekikan tangan Michel terlepas.


"Jangan pernah berani bermain-main denganku jika kau masih berharap melihat hari esok. "Ucap Michel bernadakan ancaman.


Mitha mengangguk patuh, takut, itulah yg ia rasakan, berharap terlepas dari jeratan Michel, namun ternyata takdir tidak mengijinkannya, ia harus menelan pahit karena harus kembali ke dalam penjara yg disediakan Michel, diam di apartemen seperti burung didalam sangkar.


"Maaf "Hanya satu kata maaf yg dapat keluar dari mulut Mitha.


"Maaf. "ulang Michel. Michel tersenyum sinis kemudian Michel menarik rambut Mitha dengan keras, hingga sang pemilik menjerit kesakitan. "Kau sudah membuatku marah, sekarang kau mengatakan maaf! jangan harap setelah ini aku akan memperlakukanmu dengan baik. "kembali Michel mendorong tubuh Mitha, dan tak tanggung-tanggung kali ini Michel membenturkan kepala Mitha hingga mengeluarkan darah.


Sesampainya di apartmen Michel kembali menarik tangan Mitha, bukan menarik, namun lebih Kepada menyeretnya. "Masuk, "dan lagi-lagi Michel mendorong tubuh Mitha hingga terpental.


"Dan kalian, "Michel menatap anak buahnya penuh aura kegelapan, "Terus awasi wanita sialan ini, jika dia berani kabur lagi, bunuh saja dia saat itu juga. "perintah Michel, yg berhasil membulatkan mata Mitha.


"Baik tuan. "jawab anak buah Michel bersamaan.


Dan setelah berpesan sebuah perintah, Michel pergi meninggalkan apartemennya. rasa marah begitu memenuhi dirinya, hingga membuat ia memutuskan pergi, karena ia tidak bisa menjamin Mitha akan hidup sampai besok jika ia masih berada dekat dengan Mitha.


*


*


*


Hari tanggal dan bulan telah berlalu, Empat bulan sudah Mitha berada di apartemen milik Michel, dan ia juga sudah terbiasa dengan sikap dingin, dan pemarah Michel, dan sekarang Mitha juga sudah dapat menyesuaikan keadaan Michel disaat marah dan senang.

__ADS_1


"Mana makanannya.? "Seperti biasa hanya kata makanan yg Michel ucapkan selama berada di apartemennya.


"Sebentar, "Jawab Mitha, Sewaktu Michel sangat laparan, dulu Mitha berinisiatif membuatkan makanan untuk Michel.


Dan hari itu juga Michel mencicipi masakan Mitha tanpa ragu, waktu itu saat pagi setelah ia mabuk, ia tertegun kala merasakan masakan yg Mitha buatkan untuknya pasalnya masakan yg Mitha buat rasanya mirip seperti masakan yg ibunya masakan untuknya dahulu. dan mulai dari waktu itu Michel terus meminta Mitha untuk memasak untuknya.


"Bahan-bahan di dalam kulkas telah habis, dan ini bahan terakhir yg saya masak. "Lapor Mitha


Michel menatap kesal pada Mitha, "Sudah ku katakan jika persedian di kulkas hanya tinggal sedikit kau harus bicara. dasar tidak berguna! "Bentak Michel marah.


"Maaf..


"Maaf-maaf selalu itu yg kau bilang, apa kau tidak bisa berucap kata lain selain kata maaf! aku benar-benar tidak mengerti dengan wanita pembawa sial sepertimu.


"Dan aku lebih tidak mengerti denganmu wahai pria kejam, bagaimana bisa kau tinggal bersama manusia pembawa sial sepertiku hingga selama ini? jika aku pembawa sial, seharusnya kau menjauh dariku, jika tidak kau membiarkan aku pergi, tapi apa ini, kau mengurungku bersama denganmu di sangkar ini. "Ucap Mitha dalam batin.


"Dasar sialan. "kembali mengumpat tanpa sebab, kemudian melemparkan sisa-sisa makanan beserta piringnya kepada Mitha, hingga kembali membuat lukisan diwajah bersih milik Mitha.


Hanya ringisan kecil yg Mitha dapat lakukan, perlakukan seperti itu seakan telah menjadi santapan Mitha setiap hari. "Pergi atau tetap diam disini sama saja, karena pada akhirnya aku juga akan mati di tangannya. jika ada kesempatan aku akan kabur dari sini, aku sudah tidak tahan, seandainya sekali saja aku pernah berjumpa dengan ayah dan ibu kandungku, aku tidak akan menunda kematianku hingga hari ini, karena rasanya aku sudah tidak kuat. "Ucap Mitha dalam hati, tatapannya menjadi sayu, ia benar-benar lelah dan ingin menyerah.


"Brakk. "kembali Michel membanting peralatan makanan hingga mengenai Mitha, kemudian ia pergi meninggalkan apartemennya begitu saja.


Mitha menangis pilu, ia terduduk dilantai, ia tidak menyangka akan ada cerita seperti ini di dalam kehidupannya. bahagia, senang, selalu ia rasakan sejak ia kecil, bahkan kedua orang tua angkatnya memperlakukannya dengan baik, apapun yg ia inginkan selalu terpenuhi, bahkan setelah mendapat kasih sayang yg tak terhitung dari orang tuanya, ia kembali mendapat kebahagian dengan mendapatkan kekasih yg baik dan sangat pengertian.


Namun karena kecelakaan yg dialami kekasihnya waktu itu merubah semuanya, ya semua penderitaan itu bermula dari kekasihnya mendapat musibah. dan setelah itu Mitha bertemu dengan Michel, bertemu bersama Michel selalu dalam pertemuan yg di anggap kesialan kecil menurut Mitha namun tanpa ia sadari ternyata persolan kecil bersama Michel akan berbuntut panjang seperti ini, tidak ia sadari kesalahan kecil yg ia lakukan menjadi perkara besar unuknya hingga saat ini.


Mitha memunguti satu persatu serpihan piring yg pecah akibat amarah Michel, dengan air mata berlinang ia terus memungutinya.


"Nyonya Mitha, tuan Michel memerintah nyonya untuk membeli semua kebutuhan di apartemen ini. jadi tolong untuk tidak melakukan hal yg akan memancing kemarahan tuan Michel. "Jelas anak buah Michel, mengingatkan Mitha agar tak memiliki rencana untuk kabur lagi.

__ADS_1


Mitha tersenyum samar, "Apakah ini jawaban atas doa-doa ku selama ini?. "Ujar Mitha dalam hati.


__ADS_2