Bukan Istri Sementara

Bukan Istri Sementara
Kebenaran yg menyakitkan.


__ADS_3

Mitha menangis sesegukan dikamarnya, ia tidak menyangka jika kedua orang tua yg sangat ia sayangi dengan teganya akan menikahkan dirinya dengan pria yg tak ia kenal, bukan, bukan pernikahan pada umumnya, ini adalah sebuah transaksi pelunasan hutang lebih tepatnya orang tuanya telah menjualnya.


Di tempat yg sama namun diruang yg berbeda, kedua orang tua Mitha nampak terdiam, bukannya mereka tega melihat putri mereka menangis, namun apa daya demi perusaha keluarga mereka harus mengorbankan putri kesayangan mereka, hanya putrinya yg dapat menyelamatkan perusahaan mereka.


Ayah Mitha berdiri, ia melangkah menuju daun pintu.


"Apa yg ingin papa lakukan? "mama Mitha bertanya ketika tangan suaminya hendak memutar handle pintu.


"Papa akan mencoba bicara kembali kepada Mitha. "jawab ayah Mitha sendu.


"Biarkan dia sendiri dulu pah, dia butuh sendiri. nanti kita bicara kembali setelah dia tenang. "cegah mama Mitha sedih..


Terkesan egois, mungkin. namun apa daya, bukan ibu Mitha tega melihat putrinya menangis, namun dunia sosialita yg melekat pada dirinya tidak mungkin ia tinggalkan begitu saja, sosialita adalah kihidupan keduanya, jika ada pilihan mempermalukan diri atau kehilangan dunia sosialitanya, ia pasti lebih memilih mempermalukan diri.


Namun harus diketahui satu hal, ibu Mitha adalah orang yg paling menyayangi Mitha, bahkan walau pun Mitha bukan terlahir dari rahimnya namun ia tidak pernah memberi kasih sayang palsu, semua kasih sayang yg ia berikan adalah mutlak, karena ia sangat menyayangi Mitha, dan karena saking takut kehilangannya kedua orang tua Mitha tidak pernah mengatakan tentang kebenaran akan siapa Mitha sebenarnya.


*


*


*


Masih menangis hingga matanya terlihat merah dan sembab, Mitha berusaha memejamkan matanya, namun rasa pusing seakan tak mengijinkannya untuk memejamkan mata, hingga ia terbangun dan kembali mengingat kembali kata demi kata yg kedua orang tuanya ucapkan beberapa saat lalu.


"*Papamu memiliki hutang yg cukup besar, dan hutang-hutang yg menumpuk itu karena papamu selalu memanjakanmu, hutang-hutang itu ada karena pembayaran sekolah dan kuliahmu, kau tahu betul bukan, jika sekolah yg papa dan mama berikan padamu adalah universitas yg sangat bagus, dan kau juga tahu, jika untuk masuk ke universitas yg kau inginkan itu membutuhkan biaya yg sangat banyak. dan demi memenuhi semua keinginanmu itu, papamu telah berhutang kepada salah satu perusahaan.


*Dan hari ini, perusahaan itu meminta pengembalian hutang yg telah papa pinjam, namun saat ini perusahaan sedang mengalami kendalaan soal keuangan. papamu tidak dapat membayar hutang-hutang itu, dan sebagai gantinya, perusahaan itu meminta perusahaan kita, jika kita tidak memberikan perusahaan kita kepada orang itu, papa mu akan masuk penjara*.

__ADS_1


"Apa! mah apa tidak ada solusi lain untuk membayar hutang-hutang papa? apa mereka tidak bisa memberi waktu untuk kita, sampai kita dapat mengumpulkan uang dan membayarnya? "tanya Mitha.


"Mereka tidak bisa memberi waktu lagi, karena papamu sudah meminta waktu berulang kali, namun mereka memberi penawaran pada papa dan mama. pemiliki perusahaan itu ingin menikahimu, jika kamu mau menikah dengannya maka hutang-hutang papamu akan lunas. tolong menikahlah dengannya, hanya kamu yg dapat menyelamatkan perusahaan kita. "Mohon mama Mitha.


"Apa maksud mama? maksud kalian, kalian ingin melakukan penukaran hutang papa dengan menikahkan aku dengan pria yg tidak aku kenal dan tidak pernah ku lihat sebelumnya? kalian--- "Ucapan Mitha terhenti, lidahnya menjadi kelu, ia tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan setega ini*.


"Kenapa kalian begitu tega dan egois . "gumam Mitha menatap lurus dengan pandangan sendu.


*


*


*


Ke esokan harinya Mitha dan kedua orang tuanya duduk di meja makan, mereka sarapan tanpa ada yg mengeluarkan suara, semuanya makan dengan hikmat dengan pikiran masing-masing.


Mitha menatap tak percaya, ternyata ucapan ayah dan ibunya bukan hanya omong belaka, dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca Mitha menatap ibunya. "Ternyata kalian sudah tidak sabar ingin segera menjualku. "Ucap Mitha dengan bibir bergetar.


"Mitha maafkan papa. "Ucap papa Mitha benar-benar tak tega melihat keadaan putri kesayangannya itu.


"Pergilah ke kamar, "lanjut papa Mitha memerintah Mitha. tanpa menunggu lama Mitha langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


Setelah kepergian Mitha, ayah Mitha beralih menatap istrinya, "Mah, "Ayah Mitha memanggil istrinya.. "papa janji akan selalu memenuhi segala kebutuhan mama, papa janji tidak akan membiarkan mama menderita, tapi papa mohon batalkan perjanjian kemaren, papa janji akan mendirikan perusahaan keluarga kita kembali, papa janji. tapi tolong batalkan perjanjian itu" pinta ayah Mitha memohon.


"Pah, perusahaan itu adalah satu-satunya peninggalan keluargaku, dan sekarang papa dengan mudahnya akan memberikan perusahaan itu kepada orang lain, papa tidak tahu bagaimana perjuangan kedua orang tuaku mendirikan perusahaan itu, tapi kenapa dengan mudahnya papa ingin memberikan perusahaan itu kepada orang lain. "Jawab ibu Mitha marah, hingga terdengar kedalam kamar Mitha.


Mitha yg mendengar kegaduahan antara kedua orang tuanya langsung kembali menghampiri mereka. ia melihat perdebatan antara kedua orang tuanya, kembali ia meneteskan air mata, setelah dua tahun lalu rumah ini menjadi rumah yg menyeramkan untuk dirinya dan juga penghuni yg lainnya, semenjak dua tahun silam rumah yg selalu penuh kasih sayang dan tawa ini berubah menjadi rumah yg menyeramkan, pasalnya semenjak dua tahun yg lalu rumah ini seperti neraka, hanya ada perdebatan, pertengkaran, teriakan amarah, tangisan, dan saling menyalahkan. kemana kehangatan itu?, kemana perginya?

__ADS_1


Ibu yg selalu menjadi tempatnya bersandar, mengeluh, bercerita, sekarang menjelma menjadi sosok yg tidak ia kenali lagi, lembutnya kini berubah menjadi perkataan yg selalu menyakitkan, kasih sayangnya berubah menjadi kebencian, tawa hangatnya berubah menjadi bumerang kepecahan. apa sebenarnya yg terjadi? apakah ia melewatkan sesuatu?


"Mah, ada apa dengan mama? "tanya Mitha memberanikan diri untuk bertanya.


Mama Mitha memberhentikan perdebatan dengan suaminya kemudian beralih menatap putrinya. "Kamu ingin tau apa yg mama inginkan? dengarkan mama baik-baik, yg mama inginkan sekarang kamu menurut dan mengikuti apa yg mama katakan. "jawab mama Mitha serius.


"Mama egois, dua tahun yg lalu aku sudah menuruti keinginan mama, bahkan aku harus menderita selama dua tahun lamanya, dan demi mama aku rela, tapi tidak untuk sekarang mah, aku berhak menentukan pilihan yg aku inginkan dan tidak aku inginkan "Jawab Mitha tak kalah marah.


"Sejak kapan kau memiliki ketidak sopanan hah, "


"Sejak mama mulai mengajarkannya padaku dua tahun yg lalu.


"Plakk "satu tamparan mendarat tepat di wajah Mitha. "Dasar anak tidak tahu terima kasih. harus kau ingat beberapa hal Mitha, aku adalah ibu yg membesarkanmu, yg memberikanmu pendidikan, yg memberikan kehidupan tanpa kekuarangan apapun, kau harus mengingat itu!..


"Ya itu akan selalu aku ingat mah, tapi bukankah itu memang tugas kalian sebagai orang tua memberikan kehidupan yg baik untuk anaknya, apa kasih sayang dan kehidupan yg kalian berikan padaku itu kalian jadikan hutang untuk putri kalian sendiri? "tanya Mitha menggebu-gebu.


"Kau, kau berani membantah mama, kau harus sadar, jika bukan karena mama kamu tidak akan tumbuh seperti sekarang,


"Mah, itu memang tugas mama sebagai seorang ibu membesarkan dan memberi kasih sayang kepada putrinya, tidak ada yg salah dengan itu, "sahut Mitha mengulang ucapanya.


"Ya itu semua memang tugas seorang ibu, kepada putri kandungannya, tapi kau bukan putri kandung--


"Cukup Misya! "Potong ayah Mitha. "jangan melewati batasanmu. "Bentak papa Mitha marah


Mitha yg terlanjur mendengar perkataan mamanya memandang tak percaya, "Apa yg mama katakan itu benar mah? "tanya Mitha dengan menahan tangis.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah, "perintah papa Mitha

__ADS_1


"Tidak pah, katakan padaku, apa yg dikatakan mama itu benar, kalau aku bukanlah putri kandung mama dan papa? "Tanya Mitha memelas.


__ADS_2