
Menggerutu kesal karena telah gagal membuat minuman pertamanya, kini Michel kembali melihat gadget canggihnya, "Sekarang kau berani membohongiku hah! "Ia mengumpat dan menunjuk-nunjuk gadgetnya dengan kesal.
"Aku sudah melakukan semua cara yg kau ajarkan, tapi kenapa minuman itu menjadi sangat asin? "Michel sangat membenci kegagalan, ntah itu masalah sepele atau pun masalah besar, tetap saja ia tidak ingin kegagalan menghampirinya, setelah menyumpah serapah gelas dan gadgetnya ia berjalan kedapur dimana tadi ia membuat teh memeriksa semua bahan yg tadi ia gunakan.
"Oh **** "Kembali mungumpat setelah mencicipi serbuk yg tadi ia gunakan untuk membuat teh hangat untuk istrinya. "Dasar wanita sialan, kenapa dia menaruh garam disini? "Menyalahkan dan terus saja mengumpat setelah gagal membuat teh.
Suara pintu terbuka dengan keras sehingga membuat Mitha tejolak kaget, dua pasang mata Menatap Mitha dengan tajam sehingga membuat Mitha menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aa-ada, ada apa? "Tanya Mitha takut.
Michel tersenyum menyeringai "Apa kau saat ini sedang menertawakanku? "Tanyanya dengan sorot mata yg menakutkan.
"Hah-- "Mitha yg bingung dengan ucapan Michel hanya menjawab bingung.
"Apa kau sedang menertawakanku? "Ulang Michel berteriak.
Menggelengkan kepala dengan wajah polos yg tidak mengerti dengan kata menertawakan.
"Cih, aku tahu kau sengaja ingin membuatku kesal sehingga menaruh garam di meja itu. "Ucap Michel yg kesal.
Kembali terbengong dengan ucapan suaminya dan setelah beberapa saat Mitha memberanikan diri untuk menatap suaminya. "Aku selalu menaruh garam pada tempatnya. "Jawab Mitha pelan.
"Ikut aku, "tanpa memperdulikan keadaan istrinya yg sedang sakit dan lemas, Michel menarik paksa lengan istrinya dan menyeret paksa agar mengikutinya.
"Apa ini yg dinamakan di taruh pada tempatnya? "Tanya Michel dengan penuh kekesalan.
Mitha mengerutkan dahinya bingung, ia bingung dimana letak kesalahannya menaruh toples garam.
__ADS_1
"Kenapa diam, jawab! "teriak Michel.
"Dari awal aku disini, tempat garam memang disitu tidak pernah berpindah. "Jawab Mitha seadanya.
Gigi Michel beradu hingga terdengar oleh Mitha, sepertinya kini ia merasa malu sekaligus marah karena gagal membuat teh..
Bukan Michel namanya jika tidak marah-marah, menghempaskan lengan Mitha yg masih ia pegang kemudian pergi ke ruang tamu mengambil hanphonenya lalu pergi meninggalkan Mitha yg masih terpatung tak mengerti dengan kemarahan suaminya yg selalu di luar nalar.
"Jika aku kembali ke apartemen ini, apartemen ini masih dalam keadaan seperti ini, lihat saja kau! "Mengancam lalu pergi meninggalkan Mitha yg masih bingung dengan kemarahan suaminya yg selalu diluar nalar
Menghembuskan nafas lega setelah suaminya pergi, kemudian memuter kepalanya melihat kekacauan tempat tinggalnya yg kemaren di pora porandakan oleh ibu mertuanya. Duduk bersandar kembali memandang isi rumah yg berantakan.
"Tuhan.. akhirnya aku sampai dititik lelah, aku lelah tuhan, aku tidak sanggup lagi jika harus terus hidup seperti ini. "Ucap Mitha dibarengi dengan tangisan.
Menggelengkan kepala kemudian bangun dari duduknya, mencari air minum, namun sebelum ia mengambil gelas pandangannya teralihkan kepada sebuah toples berisi serbuk putih yg tadi digunakan oleh suaminya untuk membuat teh..
"Apa-apan dia berkata, aku menaruh garam bukan pada tempatnya? Dasar tukang marah-marah, memang dia tahu dimana diletakan semua benda-benda yg ada didalam rumah ini, dia datang ke apartemen ini hanya untuk makan. Minum, tidur dan kerja, itu pun semua aku yg melayaninya, kenapa dia marah-marah seakan aku yg salah.."Mitha menggerutu tak kala mengingat perdebatan tadi setelah kembali melihat garam yg menjadi inti berdebatan mereka tadi.
...****************...
...****************...
Ditempat lain Michel tampak marah-marah ia melempar seluruh kertas yg ada di atas meja kerjanya.. "Dia pasti sedang menertawakanku saat ini "Masih dengan amarah yg sama hingga tak sengaja ia melihat foto masa kecilnya di atas kertas yg berserakan..
Melihat foto masa kecilnya kembali ia mengingat bagaimana kebahagian masa kecilnya direnggut oleh wanita yg saat ini menjadi ibu tirinya.. "Wanita sialan. "Umpatnya lalu kembali pergi meninggalkan ruangannya yg sudah ia berantakan.
...****************...
__ADS_1
"Aku pikir Masion ini sudah hancur oleh dosa-dosa kalian. "Michel mengomentari rumah masa kecilnya yg dulu menjadi tempat tinggalnya.
"Wahh ada angin apa tiba-tiba kau datang kerumahku. "Jawab ibu tiri Michel tak suka.
"Ceek..aku pikir kau sudah berubah wanita tua "Ejek Michel, lalu ia berjalan menuju ruang keluarga, dimana ruangan tersebut adalah ruangan yg menjadi tempat favorit keluarganya dahulu. Menarik nafasnya dengan panjang lalu membuangnya dengan kasar.
Sepuluh tahun lebih tidak menginjakan kaki kerumah masa kecilnya membuat ia kembali mengingat masa-masa kecilnya dahulu, Senang, sedih, bahkan trauma ia dapatkan dirumah ini, bahkan keburukan untuk hidupnya pun ia dapatkan disini.
Datangnya wanita lain di kehidupan ayah dan Ibunya membuat keluarga penuh dengan kasih sayang itu menjadi bencana hebat, Ayah dan Ibunya setiap hari selalu bertengkar, dan ketika ayahnya memutuskan menikahi wanita yg saat ini menjadi ibu tirinya, Ibu kandung Michel melakukan bunuh diri, setelah ibunya pergi untuk selamanya wanita yg menjadi wanita simpanan ayahnya itu dengan bangga nya menempati rumah mereka wanita itu menjadi satu-satunya nyonya dirumah yg dahulu mempunyai banyak cinta dan kasih sayang.
Michel yg dahulu masih kecil kerap kali mendapat perlakuan yg tidak menyenangkan dari ibu tiri dan ayah kandungnya, ntah ramuan apa yg di berikan oleh ibu tirinya itu sehingga membuat ayahnya yg dahulu memiliki hati bak malaikat setelah menikahi wanita itu, ayahnya berubah menjadi pria kejam dan tak punya hati dan kasih sayang.
Michel tersenyum getir tak kala mengingat kembali masa-masa kecilnya yg penuh dengan penyiksaan mungkin jika ia tak memutuskan melarikan diri dahulu, mungkin saat ini ia hanya akan menjadi boneka ayah dan ibu tirinya.
"Prangg "Ia membanting guci yg terpajang cantik di ruang kesukannya dulu, dimana dulu, tempat itu menjadi tempat barang-barang kesayangan ibunya. "Kalian kemanakan barang-barang ibu ku? "Teriak Michel.
"Dasar anak tidak tahu diri, kau menghancurkan Vas kesayanganku! "Tidak kalah keras ibu tiri Michel berteriak tak terima.
"Setelah kau mengambil seluruh milik ibu ku, kini kau ganti semua vas kesayangan ibu ku dengan Vas murahan ini. Dimana vas dan barang-barang ibu ku? "tanya Michel dengan kemarahan.
"Sudah ku buang, karena barang-barang itu sudah tidak layak dan berguna lagi, dan lagi pula rumah ini bukan rumah antik yg harus di isi dengan barang antik dan murahan. "Jawab Ibu tiri Michel tak perduli dengan kemarahan Michel..
"Kurang ajar. "Mencekik leher ibu tiriny hingga tubuh ibunya mengudara, teriakan dari para pegawai yg terkejut akan apa yg dilakuan Michel menggema dirumah besar itu..
Ayah Michel yg berada didalam kamar terkejut mendengar teriakan seluruh pekerja sehingga dengan terburu-buru berlari menghampiri keramayan.
...****************...
__ADS_1
...****************...
Bersambung