Bukan Istri Sementara

Bukan Istri Sementara
Lari hanya membuat kematian semakin dekat


__ADS_3

"Cih..Bahkan aku sangat takut untuk melarikan diri, "Mitha bergumam dengan menyentak-nyentakan kakinya ke lantai, jika keberanian sedang berpihak padanya, ini adalah waktu yg tepat untuknya melarikan diri dari jeratan Michel, namun keberanian dan ketakutan lebih besar rasa takut.


...****************...


Michel yg memantau melalui anak buahnya dari kejauhan tersenyum menang saat mendengar Mitha tak terlihat memiliki niat untuk melarikan diri. "Ya. kau memang harus menjadi penurut agar kau tidak mati terlalu cepat, "Ia tersenyum menang.


Ntahlah apa yg sebenarnya Michel inginkan dari Mitha, namun kenyataannya ia tak ingin Mitha pergi dari pengawasannya, walau sering kali kata umpatan, hinaan, bahkan cacian hingga siksaan ia lakukan kepada Mitha, namun untuk melepaskan Mitha ia tak mau.


Di sebuah supermarket Mitha terlihat sedang memilih-milih buah-buah segar, ia nampak senang, mungkin karena ini hari kebabasanya dari sekian lama ia dikurung didalam apartemen, Ia terlihat bahagia, rasa takut, sedih seakan menghilang dari wajahnya.


"Tuhan.. Akhir-akhir ini aku tidak percaya padamu, bahkan belakangan ini aku sering memakimu, aku merasa kau tidak sayang lagi padaku, namun hari ini kau tunjukan rasa kasihmu untuk ku, Tuhan dengan melihat orang-orang berlalu lalar, bisa berlari di keramaian, bisa memilah bahan makanan tanpa di awasi laki-laki itu, ternyata ini kebahagian terbesarku saat ini, tuhan tetaplah berada disampingku, agar aku selalu kuat menghadapi pria pisikopat itu.. "Mitha tersenyum samar kemudian kembali memilih-milih bahan-bahan yg ia butuhkan untuk sehari-hari. Setelah semua kebutuhan telah ia beli ia pun memutuskan kembali pulang ke apartemen


"Eumm, Apa aku boleh membeli makanan itu "Mitha berijin kepada pengawal. "Ia melihat makanan kesukaan nya setelah keluar dari supermarket


"Silahkan beli apapun yg anda inginkan nyonya"jawab pengawal.


"Hah, kau serius? "Mata Mitha berbinar, senyuman manis terlukis di bibirnya. "Apa Michel tidak akan marah? "tanyanya memastikan.


"Beli apapun yg anda inginkan, asalkan anda tidak melakukan hal yg akan membuat tuan marah


"Tapi dia selalu marah-marah jika aku memakan makanannya, apa dia tidak akan marah aku membeli makanan kesukanku menggunakan uangnya?


"Lakukan apapun yg ingin anda lakukan, namun satu hal yg tidak boleh anda lakukan, ya itu kabur.


Mitha terlihat mengerutkan bibirnya hingga bibirnya memaju, "Aku pikir lakukan apapun yg aku inginkan kabur pun boleh, "Ucapnya sambil berjalan menuju tenant makanan yg hendak ia beli.


Di kejauhan Michel terlihat tersenyum samar, ia memutar vidio yg dikirim anak buah yg sedang menemani Mitha belanja, namun beberapa detik kemudian ia tersadar. "Sial apa yg aku lakukan, apa yg istimewa darinya, tidak ada yg istimewa darinya, dia hanya wanita pembawa sial, bahkan semenjak ada dia kewarasanku di uji olehnya. "Ucapnya kesal karena tersenyum melihat vidio yg dikirmkan pengawal Mitha.


...****************...

__ADS_1


Dengan hati senang Mitha membuatkan makanan untuk Michel, bahkan hari ini ia terlihat begitu bersemangat, senyuman terus mengukir bibirnya.


"Apa kau sudah tidak waras hingga terus tersenyum sendiri"Ucap Michel tiba-tiba


"Astaga.. Kau membuat ku kaget


"Mana makananku?


"Sedikit lagi siap.


"Kenapa kau sangat lamban"Cibir Michel lalu pergi kekamarnya. Masuk kedalam kamar ia tertegun pasalnya kamarnya saat ini terlihat lebih rapih dari sebelumnya sprei dan handuk baru dengan warna kesukannya,


"Aku pikir hanya rasa kesal yg akan dia berikan padaku, ternyata dia cukup pandai memilih barang dan warna kesukaan ku. "Kembali tanpa ia sadari senyuman itu terukir di bibirnya.


...****************...


"Hah "Mitha menatap Michel memastikan jika yg bicara padanya adalah Michel pisikopat yg ia kenal.


"Berani kau menatapku seperti itu "Umpat Michel dengan tatapan membunuh.


"Ah, bukan seperti itu, aku.. Aku hanya sedang berpikir apa yg bisa aku lakukan, sedangkan semua yg aku lakukan kau tidak menyukainya.


"Oh, ternyata kau tidak menyukai kebebasan yg ku berikan padamu, baiklah, tetaplah didalam apartemen ini tanpa melihat teriknya matahari diluar sana, "Jawab Michel kesal lalu melempar sendok dan garpu yg ia pegang untuk menyantap makanan yg dibuatkan Mitha.


Dengan rasa kesal ia kembali ke kamarnya tanpa memperdulikan perutnya yg sedang kelaparan, tanpa mencicipi masakan yg di buat Mitha Michel sudah jarang makan diluar, ia lebih memilih makanan yg dibuatkan oleh Mitha, karena makanan yg di buat oleh Mitha adalah seleranya.


"Kenapa dia selalu marah-marah, bahakan dia tidak mencicipi makanan yg ku buat, beberapa menit yg lalu dia marah-marah karena makanan belum tersedia, disaat makanan sudah tersedia bahkan dia tidak mencicipinya, dasar pria aneh. "Ucap Mitha menggerutu tidak menyadari kesalahan ucapannya.


Dan tepat pukul sepuluh malam, Mitha kembali mengecek makanan di meja makan, masih tetap pada posisi yg sama. "Apa dia benar-benar tidak makan? Pengawal bilang dia belum makan, tapi kenapa dia tidak makan, "Bahakan tiga jam berlalu tak membuat ia sadar jika kemarahan Michel disebabkan olehnya..

__ADS_1


Mitha berjalan menuju kamar Michel mengintipnya dari celah pintu yg terbuka sedikit, namun ia tak menemukan keberadaan Michel kemudia ia pun masuk kedalam kamar Michel, dan tidak ada tanda-tanda Michel berada di dalam kamar, ia lanjutkan berjalan kekamar mandi sama tak mendapatkan keberadaan Michel. "Kemana dia pergi?"Ucapnya bergumam


Mitha kembali keluar dari kamar Michel ia langsung berjalan ke ruang kerja, dengan hati-hati ia membuka pintu ruang kerja Michel, benar saja Michel berada diruangan tersebut namun dengan keadan sedang tertidur, Mitha mendekat kearah Michel, ia memperhatikan pahatan demi pahatan yg mengukir wajah suaminya itu.


"Tampan"tak sadar ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya.


"Astaga, apa yg aku katakan, dia pria pisikopat, pria jahat, tidak punya hati, tidak punya perasan, tidak, ucapanku tadi tidak nyata, aku ralat ucapanku tadi, itu tidak benar dan itu tidak nyata. Mitha merasa kesal dengan mulutnya yg berkata dengan refleknya mengatakan hal bagus untuk pria yg telah menyiksanya.


"Apa yg kau lakukan di ruang kerjaku" Suara barington mengagetkan Mitha yg tengah menyumpah serapah pria yg sedang bicara padanya.


"A-aku aku, itu..kamu belum makan, apa kamu tidak lapar? "Jawabnya terbata.


"Apa Kau yakin untuk menanyakan itu kepadaku?


"Ya, tentu saja.


"Cih..kau memang wanita pintar bersandiwara, "Cibir Michel lalu pergi meninggalkan Mitha, ia langsung berjalan menuju meja makan, rasa lapar mengalahkan egonya yg tadinya tidak ingin memakan makanan yg dibuat Mitha, namun apalah daya dari siang ia sudah melewatkan jatah makan siangnya.


"Besok pagi kau akan ikut bersama ku, ingat! Jangan melakukan hal bodoh atau hal yg akan membuatku marah.


"Pergi? Pergi kemana?


Hanya lirikan tajam sebagai jawaban menakutkan yg diberikan Michel untuk Mitha.


...****************...


...****************...


Hai-Hai semuanya, apa kabar kalian semua? teman-teman pembaca tulisan receh Othor, Othor kembali untuk meneruskan cerita Michel dan Mitha. Dengan segala pertimbangan akhirnya Othor akan melanjutkan cerita Ini. Selamat membaca kembali🤗

__ADS_1


__ADS_2