Bukan Istri Sementara

Bukan Istri Sementara
Kesepakatan


__ADS_3

Mitah pergi kedalam kamar setelah meluapkan amarahnya, ia kembali teringat akan ucapan-ucapan yg Raga lontarkan. "Ga, bolehkan aku egois untuk sekali ini saja. "Gumam Mitha sedih.


"Mitha buka pintunya, ada yg ingin mama bicarakan denganmu. "Mama Mitha mengetuk pintu kamar Mitha dengan perasaan cemas.


Tak ada jawaban, hanya isakan tangis yg terdengan samar dari celah kunci kamar Mitha. "Mitha, mama hanya ingin yg terbaik untukmu, mama tidak ingin kamu menderita, mama tidak ingin kamu mendapatkan malu karena memiliki suami cacat yg tidak berguna, itu semua mama lakukan untuk kebahagiaanmu, "lanjut mama Mitha ikut sedih. "Mama melakukan itu untuk kebahagiaanmu, "Ucap mama Mitha pelan.


*


*


*


"Tuan, saya membawa berita baik untuk tuan. "lapor salah satu anak buah Michel.


"Katakan. "Jawab Michel tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


"Kami melihat wanita yg dua tahun lalu tuan cari, sekarang wanita itu berada dirumah yg dulu pernah kami datangi. "lanjut anak buah Michel.


Michel langsung melarikan pandangannya kepada anak buahnya, rasa kesal kepada wanita yg telah membuat ia mendapat kesial berulang kali itu ternyata belum juga hilang, sikap pendendamnya begitu besar hingga ia tidak mudah melupakan apa yg telah terjadi.


"Dan satu lagi tuan, perusahan ayah dari wanita itu berhutang banyak kepada perusahaan tuan, dan besok waktu yg mereka janjikan telah habis. "Kembali anak buah Michel melaporkan berita yg menarik untuk ia dengar.


Michel menarik bibir atasnya membentuk senyum, "Hmm, siapkan tiket pesawat untukku malam ini juga.."perintah Michel.


*


*


*


Ke esokan harinya Michel sudah berada di perusahan milik keluarga Mitha, dengan santai ia duduk di sofa yg berada di ruangan ayah Mitha. "Jadi, apa kau sudah bisa membayar semua hutang-hutangmu? "tanya Michel to the point.


"Tuan Michel sewatu kehormatan bagi saya karena anda berkenan datang ke perusahaan kecil milik saya ini. "Sapa ayah Mitha ber basa basi dengan gugup.


Michel melirik angkuh kepada ayah Mitha.


"Glek.."ayah Mitha menelan ludahnya dengan susah payah. ia paham sangat paham dengan tatapan pria yg ada dihadapannya itu "Maafkan saya tuan, tolong beri saya waktu sebentar lagi, saya belum dapat mengumpulkan uang tersebut. "Lanjut ayah Mitha memohon sedikit waktu lagi.


"Aku tidak suka pengingkar, namun aku akan memberimu sebuah penukaran yg akan membebaskanmu dari hutang-hutangmu terhadap perusahaanku. "jawab Michel tersenyum menyeringai.


Ayah Mitha mendongkak berusaha mentap orang yg ia segani itu. "Penukaran seperti apa yg

__ADS_1


anda inginkan tuan? "tanyanya penasaran.


"Aku ingin putrimu, berikan dia padaku sebagai penebus hutangmu.


"Maksud tuan, tuan ingin membeli anak saya? "tanya ayah Mitha tak percaya.


"Anggap saja seperti itu.


"Putri saya bukan barang yg bisa anda beli, jika anda ingin saya membayar hutang-hutang itu, saya akan membayarnya saat ini juga, ambil perusahaan ini, saya lebih baik hidup menjadi gelandang dibandingkan harus menjual putri saya sendiri. "Jawab ayah Mitha marah.


"Baiklah, silahkan tinggalkan perusahaan ini, "Usir Michel santai.


"Tidak ! "Ibu Mitha datang "Apa yg papa lakukan? ini adalah perusahaan yg dibangun oleh orang tua ku dengan susah payah, tapi dengan beraninya papa memberikan perusahaan ini kepada orang lain, mama tidak akan mengijinkannya. "Seru ibu Mitha tiba-tiba.


"Mah, kenapa mama berada disini? dan sejak kapan mama berada disini ? "tanya ayah Mitha terkejut akan kedatangan istrinya.


"Atas dasar apa kau menginginkan putriku? "tanya ibu Mitha kepada Michel, tanpa memperdulikan pertanyaan suaminya.


"Aku tidak butuh alasan untuk menginginkan sesuatu yg aku inginkan. "jawab Michel acuh.


"Beri aku satu alasan saja, jika kau memberi satu alasan saja, maka aku akan memberikan putriku padamu--


Tidak menghiraukan ucapan suaminya, ibu Mitha kembali bertanya kepada Michel "Katakan satu hal yg dapat membuat aku memberikan putriku.


Tidak menjawab, namun senyuman menyeringai terpatri jelas di bibir Michel.


"Kenapa kau diam?


"Karena aku tidak suka dengan gayamu wanita tua. "jawab Michel angkuh


Tangan ibu Mitha menggembal keras, sebisa mungkin ia mengendalikan emosinya, kehilangan perusaha sama juga kehilangan seluruh kehidupannya, dan ia tidak ingin itu terjadi, jika memang ia harus kehilangan salah satu yg ia sayangi, yaitu ia harus merelakan putrinya. toh Mitha juga akan hidup bersama dengan pria kaya raya, dan ia yakin jika pria dingin yg ada dihadapannya saat ini akan menyukai putrinya yg cantik itu.


"Aku akan memberikan putriku padamu, tapi dengan satu syarat, kau harus menikahinya, dan memberinya status sebagai istri. "lanjut ibu Mitha memberi syarat.


"Baiklah, akan ku beri waktu untuk kalian menyiapkan semuanya. tiga hari waktu yg ku berikan. "Jawab Michel santai lalu pergi begitu saja meninggalkan kantor ayah Mitha.


"Apa kau tidak waras! apa kau sedang tak sadarkan diri, hingga dengan mudahnya memberi penukaran konyol seperti itu! dia putrimu, kau akan menjualnya pada pria dingin itu, apa kau tidak berpikir bagaimana kehidupan putri kita nanti? pria yg tadi kau ajak bernegosiasi bukan pria baik, dia pria kejam dan arogant, Mitha tidak akan bahagia hidup bersama pria itu, aku akan membawa Mitha pergi dari kota ini, aku tidak akan rela menjual putriku kepada pria itu. "Ucap ayah Mitha marah.


"Cukup pah, dia bukan putri kita, dia hanya anak yg tidak sengaja kita ambil dari pantiasuhan.


"Jadi karena itu kau ingin menjualnya? "tanya ayah Mitha menatap tajam pada istrinya. ibu Mitha diam ia terlihat kehabisan kata-kata.

__ADS_1


"Kenapa kau diam?" bentak ayah Mitha, "apa karena dia bukan putri kita sehingga dengan mudahnya kau ingin menjualnya? "lanjutnya mengulang kata-katanya.


"Aku tidak ingin mendapat cemohan, aku tidak ingin hidup miskin, aku juga tidak siap jika harus kehilangan kemewahan, aku tidak siap. "Jawab ibu Mitha menangis. "Semenjak kecil aku tidak pernah hidup susah, aku tidak ingin hidup susah, aku tidak ingin kehilangan semuanya, bukankah kau sudah berjanji kepada mendiang papa dan mamaku, jika kau tidak akan membiarkan aku hidup susah, tapi kenapa kau tadi lebih memilih menjadi gelandangan? apa kau ingin mengingkari janjimu terhadap mendiang kedua orang tuaku? "lanjut ibu Mitha menahan tangis.


Ayah Mitha menghela napas, bingung, marah, menjadi satu, "Tapi kita akan menyakiti Mitha, kita sudah menyakitinya dengan memisahkan dia dengan Raga, sekarang apa lagi, menikahkan dirinya dengan pria asing yg sama sekali tidak dia kenal, itu akan membuatnya menderita. "jawab ayah Mitha lemah.


Karena pada dasarnya ayah Mitha adalah sosok ayah dan suami yg sangat bertanggung jawab, namun karena hal ini ia harus memilih kebahagian putri atau istrinya. "Ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu kepada Mitha. "Lanjut ayah Mitha mengalah.


*


*


*


Kini Mitha dan kedua orang tuanya berada di ruang tamu, setelah perdebatan tadi, ayah dan ibu Mitha memutuskan langsung kembali ke kediamannya, dan setelah sampai mereka langsung memanggil Mitha yg sedang berada di dalam kamar.


"Kenapa mama dan papa terlihat begitu serius? "tanya Mitha heran.


"Mitha, usiamu sekarang sudah tidak muda lagi, ada baiknya kamu segera menikah. "Ujar ayah memulai pembicaraan.


Mitha mengerutkan dahinya bingung, kenapa kedua orang tuanya tiba-tiba membicarakan hal seperti ini? dan lagi wajah kedua orang tuanya terlihat begitu serius. "Menikah? "Mitha memaksakan senyum, "Mama dan papa ini kenapa sih tiba-tiba membicarakan hal seperti ini? aku belum kepikiran untuk menikah saat ini mah, pah. aku--


"Mitha, papa dan mama sudah tua, kami ingin melihat kamu menikah sebelum kami di panggil sang maha kuasa. maka dari itu kami sudah memilihkan calon suami untukmu. "potong ayah Mitha hati-hati.


Senyuman Mitha seketika menghilang, saat ayahnya mengatakan sudah menyiapkan calon suami untuknya bagaikan petir di siang bolong ucapan ayahnya benar-benar membuat ia terkejut, "Apa ini pah? "Mitha menggeleng lemah, matanya sudah berair, mulutnya seakan terkunci saat akan meneruskan kalimat penolakan.


"Mitha --


"Mitha "Ibu Mitha menyela ucapan suaminya. "ini semua kami lakukan untuk kebahagiaanmu, kami ingin kau bah--


"Ingin bahagia maksud kalian? "Potong Mitha kecewa "kebahagiaan macam apa yg ingin kalian berikan padaku? kalian sudah menghancurkan impianku untuk menikah dengan Raga, dan sekarang kalian ingin kembali menghancurkan kebahagian aku . orang tua macam apa kalian ini. "Mitha nampak tak terima dengan keputusan sepihak orang tuanya.


"Apa kau tidak bisa bersikap sopan terhadap orang tuamu? "Ibu Mitha terlihat tak terima dengan ucapan putrinya.


*


*


*


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2