
"Mas, beras sudah hampir habis. Anak-anak makan malam pakai apa nanti?" ucap Dinda saat melihat suaminya baru pulang kerja dari bengkel.
"Itu bukan urusanku. Harusnya kamu sebagai istri bisa mengatur keuangan dengan baik." ketus Bagas menjawab saat baru pulang dari bengkel.
Dinda hanya bisa menghela napas panjang dan hatinya terasa sakit. Memikirkan nasib anak-anak dan juga sifat suaminya yang mulai berubah menjadi kasar dan tidak selembut dulu saat awal pernikahan mereka.
Bagas adalah suami yang penyayang dan juga perhatian terhadap keluarga. Tetapi, karena hobinya ini Bagas seakan lupa bahwa ada anak dan istrinya yang selalu mendoakan rejekinya lancar dalam pekerjaannya.
Terkadang lembut dan terkadang kasar. Itulah yang dirasakan Dinda menghadapi suaminya yang suka plin plan. Semua berubah, semenjak Bagas hobi memancing dan berburu burung setiap libur bekerja. Bahkan untuk bermain dengan anak-anak saja tidak ada waktu.
Dinda pergi ke kamar, meraih tas dan melihat dompet ternyata masih ada sisa uang. Yang terpenting anak-anaknya makan sudah lebih dari cukup.
Kemudian, Dinda segera pergi ke warung terdekat untuk membeli beras dan bahan-bahan makanan untuk besok agar anak-anaknya tidak kelaparan.
Sekembali dari warung, Dinda segera memasak menu makanan untuk keluarga kecilnya.
Malam pun tiba, hidangan telah tersaji dan Dinda memanggil Dion juga Leni yang sedang berada di kamar.
"Dion, Leni, yuk, kita makan malam dulu!" ajak Dinda pada kedua buah hatinya yang masih kecil.
"Ayo, Bu."
"Kita makan seadanya saja dengan telur dan tumis sawi, ya!" kata Dinda tersenyum walau hatinya merasa sesak.
Dion dan Leni mengangguk bersamaan. Kemudian, Bagas datang bergabung dan duduk di kursi untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Mereka makan dengan tenang dan hanya suara sendok yang saling bersahutan. Selesai makan, Dinda membawa piring kotor ke dapur di bantu Leni. Sedangkan, Dion duduk bersama Bagas di ruang tamu.
"Ayah, besok belikan aku mainan ya? Aku ingin mainan mobil remot kontrol." ucap Dion sambil menatap wajah ayahnya.
"Iya, besok kalau ada rejeki, ayah belikan." ucap Bagas sambil membelai rambut putranya.
Selesai membersihkan piring kotor di dapur, Dinda segera mengajak Leni untuk tidur begitu juga Dion. Sebab, mereka harus ke sekolah.
"Dion tidur dulu ya, ayah! Jangan lupa besok belikan aku mainan." ucap Dion sambil berjalan menuju kamar.
Bagas hanya menganggukkan kepala saat mendengar permintaan anaknya tersebut.
Dion dan Leni tidur di kamar yang sama. Dinda, menyanyikan lagu anak-anak untuk pengantar tidur putra dan putrinya itu.
Setelah beberapa menit, akhirnya kedua anaknya tertidur terlelap. Lalu, Dinda mencium kening mereka bergantian.
Dinda kemudian keluar kamar dan melihat Bagas masih menonton acara televisi. "Mas, gak istirahat. Besok kerja dan ini sudah malam." ucap Dinda.
"Iya, sebentar lagi. Masih nanggung ini." ujar Bagas melihat acara bola di televisi tanpa melihat Dinda.
"Ya, sudah. Aku tinggal tidur dulu. Jangan lupa matikan lampu setelah selesai." ucap Dinda seraya berjalan meninggalkan Bagas di ruang tamu.
"Iya bawel." ketus Bagas.
Di dalam kamar, Dinda hanya bisa tersenyum getir akan keadaan rumah tangganya. Menatap langit-langit kamar membuat Dinda melamun dan memikirkan biaya kontrakan juga sekolah.
__ADS_1
Dinda dan Bagas mengontrak sudah setahun lebih. Hidupnya yang pas-pasan membuat rumah tangganya selalu terjadi kesalahpahaman diantara dirinya dan suaminya.
Daripada memikirkan hal yang membuatnya semakin stres, Dinda akhirnya memilih tidur lebih awal. Sebab, besok harus bangun pagi memasak, memandikan kedua anaknya dan mengantar sekolah.
Tak berselang lama, Dinda tertidur ke alam mimpinya yang indah. Sedangkan, Bagas masih menonton sepak bola di televisi.
Setengah jam kemudian, Bagas mulai menguap menahan kantuknya. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Untung saja acara sepak bola yang di favoritkan menang dan membuat senyum puas terhadap Bagas.
"Hooaaammm, sudah jam sebelas malam," ucapnya saat melihat jam di dinding.
"Lebih baik aku tidur. Besok berangkat kerja pagi-pagi."ucap Bagas sambil berdiri menuju kamarnya setelah mematikan televisi.
Bagas berjalan dan membuka kamar. Nampak, istrinya sudah terlelap tidur dengan nyenyak sekali.
Kemudian, Bagas merebahkan tubuhnya disamping Dinda dan tak berselang lama Bagas tidur menuju ke alam mimpi menyusul Dinda yang sudah tidur lebih awal.
*******
Hai semua 🙏 kembali lagi bersama Author Dina Dinul yang kalem dan selow 🤭
Perkenalkan ini novel kedua ku yang berjudul "Bukan Salahku Memilih Pergi"
Adapun novel pertamaku yang tentunya kalian sudah tau. Semoga dengan adanya novel keduaku ini, bisa membuat tulisan-tulisanku ini menjadi lebih baik. Bila ada typo atau salah penulisan mohon sarannya🙏.
Terimakasih untuk para reader yang sudah membaca karya recehku ini. Semoga dukungan kalian bisa membuat Author selow ini lebih semangat dalam berkarya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.😘
Selamat Membaca 🤗