Bukan Salahku Memilih Pergi

Bukan Salahku Memilih Pergi
Part 09


__ADS_3

Bu Widya lantas memeluk cucunya dan membelai rambut indah Leni dengan sayang.


"Lain kali hati-hati saat bermain sepeda." tutur Bu Widya lembut.


"Kalian menginap disini 'kan?" tanya Bu Widya yang sangat merindukan cucunya.


"Lain kali saja ya Bu, Dinda belum minta ijin sama Mas Bagas." kata Dinda.


"Baiklah, lain kali menginap disini ya? Nenek sangat senang dan merasa terhibur bila ada kalian cucu-cucu nenek." ujar Bu Widya.


"Iya Bu, pasti."


"Ehmm… Bu. Maksud kedatanganku kesini sebenarnya ada yang mau Dinda omongin." ucap Dinda merasa khawatir saat akan meminjam uang kepada Ibunya.


"Ada apa Din, ngomong saja. Kalau ada apa-apa mbok ya bilang, jadi Ibu bisa tahu masalahmu. Jangan kamu pendam sendirian." tutur Bu Widya menasehati anaknya.


Sungguh Dinda merasa bahagia, mempunyai orang tua yang masih begitu menyayanginya walau mereka terpisah jarak.


"Iya Bu. Ini baru juga Dinda mau ngomong." kata Dinda berharap semoga Ibunya mau meminjamkan uang.


"Begini Bu, Dinda mau buka usaha warung kecil-kecilan di depan rumah. Agar nanti pas Dion dan Leni pulang sekolah ada yang mengawasi. Jujur Bu, ekonomi Dinda lagi pas-pas an dan lagi butuh uang." terang Dinda menceritakan masalahnya pada Ibunya.


"Jadi, Dinda rencana mau minjam uang untuk modal usaha Bu. Apakah ada uang lima ratus ribu saja, Bu? tanya Dinda sambil meremas jari jemarinya.


Bu Widya yang mendengar cerita Dinda, cukup tau masalah yang dihadapi anaknya tersebut.


"Terus suamimu Bagas apa gak kasih modal kamu, sehingga kamu mau minjam ke Ibu!" ucap Bu Widya.

__ADS_1


"Maaf Bu." ucap Dinda seraya menundukkan kepalanya.


Bu Widya melihat sikap diam Dinda, seakan mengerti kalau Bagas tidak mau kasih modal usaha untuk istrinya itu.


Sebenarnya, keluarga Dinda cukup mampu untuk menghidupi Dinda dan juga untuk kedua cucunya. Akan tetapi, dulu pilihan Dinda yang lebih memilih Bagas untuk menjadi calon suaminya, membuat Bu Widya dan Pak Eko kecewa dengan Dinda.


Mau tak mau, Pak Eko dan Bu Widya terpaksa menerima lamaran Bagas demi kebahagiaan Dinda. Kini, kehidupan Dinda seakan berbanding terbalik saat sebelum menikah. Sekarang, kehidupannya yang lebih memilih tinggal di kontrakan bersama suaminya, membuat Bu Widya merasa sedih.


"Dinda, Ibu merasa sedih melihat kehidupanmu yang sekarang. Kenapa, kamu dulu tidak mendengarkan nasihat orang tua Din, dan malah lebih memilih Bagas daripada pilihan orang tuamu." ucap Bu Widya dengan wajah sendunya.


"Bu…"


"Sudahlah, toh itu sudah berlalu. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pernikahanmu." sahut Bu Widya.


"Ibu akan kasih uang lima ratus ribu untuk kamu buka usaha. Semoga dagangan kamu laris manis. Tapi, jika sampai ada apa-apa jangan lupa kembali pulang ke rumah orang tuamu ya Din. Pintu rumah Ibu akan selalu terbuka untukmu." tutur Bu Widya panjang kali lebar.


Kembali dari kamar, Bu Widya menyerahkan uang lima ratus ribu tersebut kepada Dinda untuk modal usaha.


"Terimakasih Bu, terimakasih." ucap Dinda seraya memeluk Ibunya dengan erat dan menangis dalam pelukan.


"Kamu yang sabar ya Din, hidup itu seperti roda. Terus berputar kemanapun langkah kita nanti berhenti, disitulah kita berhenti." ucap Bu Widya yang mengusap punggung Dinda untuk memberi kekuatan pada anaknya.


"Iya Bu, Dinda akan belajar bersabar juga ikhlas menjalani ini semua dengan senyuman dan juga tekad yang kuat demi anak-anak." kata Dinda yang mulai melepas pelukannya dan menghapus air matanya.


"Ya sudah, makan dulu sebelum kalian pulang. Ibu sudah masak banyak hari ini." ajak Bu Widya menuju meja makan.


Dinda dan Leni pun berjalan berdampingan menuju meja makan, dimana sudah tersedia berbagai menu masakan.

__ADS_1


Dinda dan Leni duduk diikuti Bu Widya. Dinda mengambil piring, nasi dan lauk untuk Leni, kemudian Dinda juga segera mengambil nasi dan lauk seadanya.


Bu Widya memandang anak dan juga cucunya dengan hati yang teramat sedih. Hanya senyuman yang nampak di wajah Bu Widya walau dalam hatinya ikut sedih merasakan hidup Dinda yang pilu.


Mereka makan dengan lahap. Selesai makan, Dinda dan Leni segera pulang, tak lupa Bu Widya juga membawakan makanan untuk Dinda makan malam di rumahnya.


"Kenapa Ibu repot-repot membawakan makanan. Di rumah juga ada makanan, nanti siapa yang akan menghabiskannya." kata Dinda berusaha menolak pemberian Ibunya.


"Sudah bawa saja, jarang-jarang Ibu ngasih kamu makanan. Ibu tidak ingin cucu-cucu Ibu hidup kekurangan." tegaa Bu Widya mengatakannya kepada Dinda.


"Bu, terimakasih untuk makanannya. Dinda pamit pulang, Bu." ucap Dinda seraya mencium tangan Ibunya, begitu juga Leni.


"Hati-hati di jalan ya Din. Ini, uang jajan untuk Dion dan Leni." ucap Bu Widya menyerahkan 2 lembar uang seratus ribu kepada Dinda.


"Iya Bu. Nanti, aku kasih ke Dion uangnya." ucap Dinda dengan memeluk Ibunya erat.


"Nek, sampaikan salamku kepada kakek dan juga Om Rio ya?" ucap Leni dengan wajah polosnya.


"Iya sayang, nanti disampaikan." ucap Bu Widya seraya mencium gemas kepada Leni.


Dinda kemudian segera mengayuh sepedanya untuk kembali pulang ke rumah sebelum suaminya pulang dari menjemput Dion di sekolah.


Jangan lupa like, komen dan vote.


Terus dukung karya author agar semangat dalam berkarya.


No boom like ya, nanti author kejang-kejang 😂

__ADS_1


Selamat Membaca ya🤗


__ADS_2