Bukan Salahku Memilih Pergi

Bukan Salahku Memilih Pergi
Part 07


__ADS_3

Keesokan harinya.


Dinda bangun pagi-pagi sekali untuk memasak ikan hasil pancingan suaminya. Memasak dan menyiapkan pakaian anak-anaknya untuk sekolah.


Kurang lebih satu jam Dinda menyelesaikan memasak untuk sarapan dan juga bekal Bagas, Dion dan Leni.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Saatnya membangunkan Dion dan Leni untuk bersiap-siap mandi.


Keduanya bangun saat Dinda membangunkan mereka berdua. Dion pun bergegas ke kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Dion selesai mandi dengan handuk yang membungkus badannya yang kecil karena kedinginan dan berlari ke kamar untuk memakai seragam sekolah.


Sedangkan Leni, tidak masuk sekolah karena sakit terjatuh dari sepeda.


Saat Dion sedang memakai seragam sekolah. Dinda beralih ke kamarnya untuk membangunkan Bagas supaya tidak terlambat lagi seperti hari kemarin.


"Mas, bangun dan mandi. Dion sudah siap dan sebentar lagi sarapan bareng-bareng." ucap Dinda sambil menepuk pelan bahu suaminya, agar tidak marah lagi.


"Hmmm…" Bagas menggeliat dan meluruskan otot-ototnya yang kaku akibat pergi memancing.


Bagas bangun, dan segera beranjak berdiri menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Bagas keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang basah. Agar, saat bekerja lebih semangat.


Bagas masuk ke kamar dan mengambil kaos juga celana panjang. Selesai memakai pakaian, Bagas meninggalkan kamar untuk menemani Dion putranya sarapan.


"Dimana Leni?" tanya Bagas duduk di kursi meja makan.


"Leni sakit, Mas. Jadi, untuk beberapa hari ini ijin tidak masuk sekolah." kata Dinda menimpali.


"Baiklah. Rawat dan urus anak dengan benar. Jangan kelayapan terus." kata Bagas dengan ucapan yang membuat Dinda seketika sakit mendengar penuturan dari suaminya.

__ADS_1


Lalu, ketigamya makan bersama tanpa ditemani Leni.


"Dapat ikan darimana Buk?" tanya Dion saat mengunyah makanannya ke dalam mulut.


"Bapak semalam memancing. Hasilnya, lumayan lah untuk beberapa hari kedepan.


"Enak dong Buk,"


"Iya sayang. Segera habiskan makanannya dan berangkat ke sekolah." ujar Dinda yang sudah menyelesaikan sarapannya.


Hampir saja Dinda kelupaan, kalau saja dirinya tidak mengatakan keinginannya.


"Mas, ada yang ingin aku bicarakan soal semalam." ucap Dinda.


"Soal apa!" kata Bagas yang sedang menyantap makanannya dengan lauk ikan hasil pancingannya semalam.


"Hmmm. Terus!"


"Terus, Mas bisa kasih Dinda modal untuk berjualan. Gak banyak Mas, lima ratus ribu saja." kata Dinda sambil menunduk.


"Gak ada. Kamu kira aku ini gudang uang apa! Hasil kerja bengkel, akhir-akhir ini sepi. Belum lagi membayar 2 karyawan. Aku pusing, pusing tahu." tegas Bagas yang sudah menyelesaikan sarapannya.


Dinda yang mendengar suami nya bahkan tidak punya uang. Hanya bisa pasrah dan juga sedih. Dirinya akan mengusahakan bisa berjualan, tanpa meminta uang lagi pada Bagas suaminya.


"Baiklah Mas, bila memang tidak ada. Aku akan pergi mencari uang sendiri, agar bisa berjualan." ujar Dinda.


"Terserah kamu!" ucap Bagas yang kemudian berdiri dan masuk ke kamar untuk mengambil tas, lalu berangkat kerja sekalian mengantar Dion.


Dion yang sudah menyelesaikan sarapannya, hanya diam menyaksikan perdebatan di antara kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sungguh miris hatinya, harus melihat kedua orang tuanya bertengkar hanya karena hal sepele.


"Dion, kalau sudah selesai segera memakai sepatu dan berangkat sekolah." pinta Dinda pada Dion.


"Baik Buk."


Dion beranjak berdiri dan berjalan menuju rak sepatu yang ada di dalam rumah.


Sedangkan Dinda, menyiapkan bekal makanan untuk Dion dan Bagas kemudian memasukkannya ke dalam tas mereka masing-masing.


Dion masuk ke kamar, dimana Leni sedang berbaring sakit.


"Dek Leni, Mas Dion berangkat sekolah dulu. Cepat sembuh ya!" ucap Dion yang mendoakan Leni sembuh dan berpamitan kepada adiknya.


"Iya Mas Dion. Hati-hati di jalan." ujar Leni yang berbaring di tempat tidur.


"Dion berangkat dulu Buk," ucap Dion sambil mencium tangan Dinda Ibunya.


Begitu pula Bagas yang sudah siap dengan keperluannya dan Dinda mencium tangan Bagas saat berangkat bekerja.


Dion naik ke motor dan Bagas menghidupkan mesin lalu melajukan kendarannya menuju sekolah Dion.


"Hati-hati dijalan."


Jangan lupa like, komen dan vote😘


Terus duku karya author agar tetap semangat dalam berkarya.


Selamat membaca🤗

__ADS_1


__ADS_2