
Keesokan harinya.
Dinda bangun pada saat subuh. Memasak untuk sarapan pagi dan juga bekal sekolah kedua anaknya serta Bagas suaminya.
Setelah selesai, Dinda segera membangunkan Dion dan Leni untuk mandi.
"Dion…Leni, bangun! Ayo mandi sudah jam 5 pagi." ucap Dinda.
Keduanya, segera bangun saat Dinda mengguncang bahu secara pelan.
"Ibu sudah siapkan air hangat di kamar mandi. Dion buruan mandinya ya? Setelah itu, gantian sama adikmu Leni." pinta Dinda seraya menata makanan ke meja makan.
Dion pun berjalan menuju kamar mandi dan menggosok gigi. Setelah beberapa saat, Dion keluar dari kamar mandi dan bergantian dengan Leni yang juga mau mandi.
Dinda sudah menyiapkan segala pakaian sekolah Dion dan Leni. Saat Leni sedang dimandikan Dinda, Dion memakai pakaian sekolah sendiri.
Dion dan Leni adalah anak yang mandiri dan kuat. Dinda mendidik kedua buah hatinya dengan baik selama ini. Dinda tidak ingin anak-anaknya menjadi anak manja dan selalu bergantung kepada orang lain.
Leni selesai mandi pun bergegas masuk ke dalam kamar. Dion sudah siap dengan seragam merah putihnya, sebab hari ini adalah hari senin. Dinda membantu memakai seragam sekolah Leni dengan terburu-buru.
Sedangkan, Bagas masih asik dengan dunia mimpinya. Padahal pagi-pagi sudah harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dan juga kedua buah hatinya.
"Bu, Bapak mana?" tanya Dion menanyakan keberadaan Bagas.
"Bapak masih tidur, sebentar Ibu bangunkan Bapak dulu ya! Kalian berdua sarapan dan habiskan." pinta Dinda tersenyum lalu meninggalkan Dion dan Leni ke kamar.
"Mas, bangun. Sudah pagi! Waktunya mengantar anak-anak sekolah," ucap Dinda menepuk pelan bahu suaminya.
Bagas yang merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya seketika terbangun dan mengerjapkan matanya.
"Jam berapa ini?" tanyanya saat duduk mengumpulkan tenaga setelah bangun tidur.
__ADS_1
"Jam 6 pagi Mas. Mas buruan mandi dan antar anak-anak ke sekolah." ucap Dinda seraya merapikan tempat tidur.
"Apaa! Sudah jam 6 pagi. Kenapa kamu tidak membangunkan aku hah!" bentak Bagas saat Dinda istrinya telat membangunkannya.
Dinda yang dibentak seketika terkejut dan terdiam. Dinda merasa sakit hati akan teriakan suaminya Bagas.
"Ya sudah, Mas buruan bangun, mandi dan sarapan." ucap Dinda yang berlalu dari hadapan Bagas.
Dion dan Leni yang sedang sarapan, seketika terkejut bersamaan mendengar teriakan Bapaknya kepada Ibunya.
"Kak, kenapa Bapak bentak Ibu ya? Apa salah Ibu?" tanya Leni kepada Dion.
"Sssttt… kita diam saja dek, jangan ikut campur urusan Bapak dan Ibu. Lebih baik kita selesaikan sarapan kita." kata Dion yang menenangkan adiknya.
"Iya kak." ucap Leni yang menghabiskan sarapannya.
Bagas keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi dengan terburu-buru dengan pakaian kerjanya.
Hatinya berdenyut sakit, Bagas suaminya sudah berubah dan seringkali membentak tanpa tahu apa salahnya.
Setelah hatinya tenang, Dinda segera menghapus air matanya dan keluar dari dapur untuk melihat apakah kedua anaknya sudah selesai sarapan.
Tak berselang lama, Bagas juga keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Kemudian, Bagas berjalan menuju meja makan bersama Dion dan Leni yang sudah selesai sarapan.
"Tunggu Bapak selesai sarapan dan setelah itu kita berangkat sekolah." ucap Bagas saat melihat Dion dan Leni bergantian.
Dinda segera mengambilkan nasi dan lauk pauk kepada suaminya dan meletakkan air minum di meja.
"Kamu tidak sarapan sekalian." ujar Bagas saat melihat istrinya tidak kunjung sarapan.
"Aku bisa nanti saja, Mas. Setelah Mas mengantar anak-anak sekolah." kata Dinda dengan senyum dipaksakan.
__ADS_1
"Ya sudah."
Dion dan Leni segera memakai sepatu sekolah, sambil menunggu Bapaknya selesai sarapan.
"Kalian tunggu disini ya! Ibu ambilkan bekal kalian di dapur." ucap Dinda yang berlalu meninggalkan Dion dan Leni yang ditanggapi anggukan kepala oleh mereka.
Di dapur Dinda menyiapkan bekal kedua buah hatinya dan Bagas dengan cekatan. Setelah itu, Dinda keluar dari dapur bertepatan dengan Bagas yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Ini Mas, bekal untukmu." ucap Dinda meletakkan bekal di meja.
Lalu Dinda meletakkan bekal kedua buah hatinya di dalam tas mereka masing-masing.
"Ingat, kalian jangan nakal dan turuti apa kata Bu Guru selama di sekolah ya!" tutur Dinda kepada Dion dan Leni.
"Iya Bu. Nasehat Ibu selalu kami dengar." ucap Dion dan Leni bersamaan.
"Yuk, kita berangkat." ajak Bagas kepada Dion dan Leni yang sudah bersiap-siap berangkat kerja dengan tas ransel yang berada di bahunya.
Kemudian, Dion dan Leni mencium tangan Dinda bergantian. Lalu, Dinda mencium tangan suaminya Bagas.
"Hati-hati di jalan ya, Mas. Semoga rejeki hari ini lancar." ucap Dinda mendoakan suaminya setiap berangkat bekerja.
"Aamiin."
Bagas menyalakan mesin kendaraan motornya, lalu Dion dan Leni segera naik di boncengan motor belakang. Kemudian, Bagas melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju ke sekolah.
Dion dan Leni melambaikan tangan kepada Dinda, begitu juga Dinda melambaikan tangan kepada buah hatinya.
Jangan lupa like, komen dan vote ya.
Dukung terus karya author agar semangat dalam berkarya.
__ADS_1
Selamat Membaca 😘