
Malam hari, Bagas telah bersiap pergi memancing karena telah dijemput temannya.
"Dek, Mas pergi memancing dulu. Temanku sudah datang menjemput." kata Bagas sambil mengambil peralatan memancing.
"Tapi Mas, ada hal yang ingin aku bicarakan!" ucap Dinda yang melihat Bagas meletakkan peralatan memancing di tas.
"Besok saja dibicarakan, Mas terburu-buru." ujar Bagas yang berpamitan pada Dinda ke depan.
"Hati-hati Mas dijalan."
Bagas dan temannya, lalu melajukan kendaraan menuju sungai yang jaraknya 5 kilometer dari rumahnya.
Dinda yang melihat kepergian suaminya hanya menghela napas panjang dan masuk ke dalam rumah, lalu mengunci pintu untuk menemani Dion dan Leni di kamar.
"Padahal aku ingin mengatakan jualan di rumah sambil mengawasi anak-anak saat bermain." gumam Dinda yang menatap langit-langit kamar.
Dinda mencium kening kedua buah hatinya bergantian. Tak lama Dinda ikut terlelap dengan memeluk anaknya.
Di sungai, Bagas dan Joko sudah sampai. Mereka meletakkan peralatan mancing dan juga umpan, agar malam ini bisa mendapat hasil yang lumayan gede.
Ternyata, di sana banyak juga yang memancing. Betapa senang Bagas saat melihat semuanya.
Hobi nya dari dulu adalah memancing disaat bila ada masalah atau suntuk, Bagas akan pergi kemanapun asal memancing.
Setelah menikah dan punya anak, Bagas tidak pernah memancing lagi, karena kesibukannya dalam bekerja.
Setelah bertahun-bertahun tidak pernah memancing, Joko tetangga yang suka memancing mengajaknya pergi dan Bagas menerima ajakan temannya itu.
Disinilah mereka saat ini.
Bagas dan Joko mengambil posisi yang tepat untuk memancing. Dinginnya malam tak mematahkan semangat mereka untuk mendapatkan hasil yang di dapat.
Tiga jam telah berlalu, Bagas dan Joko telah mendapatkan hasil yang memuaskan dengan hasil tangkapan mereka.
"Ko, kita dapat tangkapan lumayan banyak ini." ucap Bagas tersenyum senang.
"Iya, Gas. Lumayan lah untuk sampai 2 hari. Nanti kita bagi 2 hasilnya." kata Joko yang mulai kedinginan di sungai yang luas itu.
__ADS_1
"Gas, yuk pulang. Sudah malam juga ini. Kok, tiba-tiba merinding ya bulu kuduku!" kata Joko sambil melihat ke kanan dan ke kiri, melihat beberapa sudah mulai meninggalkan sungai.
"Iya, ayo kita pulang. Bisa-bisa kamu diomelin istri kalau pulang terlalu malam." ucap Bagas tersenyum mengejek sambil berdiri dan merapikan peralatan mancing.
"Halah, kayak kamu gak pernah di omelin istrimu aja Gas kalau pulang malam," ujar Joko yang menyahut perkataan Bagas.
"Istriku Dinda gak pernah ngomel-ngomel. Dia selalu mengerti apa yang aku mau." ucap Bagas bangga bahwa Dinda tak pernah marah akan apa yang dilakukannya.
"Kamu belum tahu aja, istri kalau banyak diam dan nurutnya itu pasti ada apa-apa!" kata Joko yang menceritakan bahwa istri pendiam dan cerewet itu beda tipis.
"Kok malah bahas soal istri pendiam dan cerewet! Aku percaya Dinda, bahwa dirinya tidak akan seperti yang kamu ceritakan." ucap Bagas yang meyakini Dinda tak akan berubah.
"Kita lihat saja nanti." ucap Joko yang mulai berjalan di belakang Bagas menuju motornya.
Lalu, keduanya mulai meninggalkan sungai untuk pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian, Joko sampai di depan rumah Bagas.
"Terimakasih, Jok. Kapan-kapan mancing lagi di tempat yang agak jauh." kata Bagas yang begitu semangat lagi untuk memancing lagi.
"Ini hasil tangkapan kita. Bawa dan berikan pada istrimu besok." ucap Bagas menyerahkan hasil pancingannya tadi.
"Oke. Aku pergi dulu, takut istriku ngomel-ngomel kalau telat pulang." ucap Joko yang langsung berpamitan dan melajukan kendaraannya.
"Dasar ISTI (Ikatan Suami Takut Istri)."
Setelah kepergian Joko, Bagas berjalan ke rumah.
"Dek, buka pintunya." ucap Bagas saat berada di depan rumah sambil menggedor pintu beberapa kali.
Dinda yang sedang tidur terlelap, segera bangun mengerjapkan matanya saat ada orang yang menggedor pintu rumahnya beberapa kali.
"Siapa sih, malam-malam menggedor pintu orang sembarangan. Gak sopan sama sekali!" gerutu Dinda beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu.
Saat mendengar suara yang dikenalinya adalah suaminya. Dinda cepat-cepat membuka pintu rumahnya.
Ceklek
__ADS_1
"Kenapa lama sekali buka pintunya!" bentak Bagas pada Dinda saat membuka pintu dan Bagas masuk ke dalam rumah menuju dapur.
"Dinda tidur Mas, capek. Mas juga sih pulangnya malam-malam." sahut Dinda yang menutup pintu rumahnya dan menyusul suaminya pergi ke dapur.
"Pinter jawab ya sekarang!" kata Bagas meletakkan ikan di dekat kompor.
"Urus ikan ini besok dan masak yang enak." ucap Bagas yang berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya, lalu pergi tidur.
"Iya Mas."
Dinda kemudian, mengambil ikan itu dan mengambil baskom besar untuk tempat menyimpan ikan agar lebih segar.
Bagas yang sudah membersihkan diri, masuk ke dalam kamar dan langsung tertidur pulas.
Sedangkan, Dinda selesai menyimpan ikan di baskom, pergi menyusul suaminya ke kamar.
Saat masuk, Dinda geleng-geleng kepala akan sikap suaminya.
"Mas…"
"Mas Bagas…"
Bagas yang baru saja terlelap tidur, merasa terganggu akan panggilan Dinda langsung membuka matanya.
"Ada apa sih, dari tadi manggil-manggil terus!" kesal Bagas yang terganggu oleh Dinda.
Dinda langsung tersentak kaget, saat Bagas membentaknya
"Gak jadi Mas, besok saja bicaranya." ucap Dinda sedikit gugup dan langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Bagas.
"Ganggu orang tidur saja, kamu." ucap Bagas yang melanjutkan tidurnya sambil memeluk guling.
Dinda yang tak bisa tidur lagi, langsung menangis dalam diam dan bertanya-tanya. Apa salahnya selama ini, kenapa suaminya mulai berubah kadang kasar dan kadang lembut.
Setelah merenung beberapa saat, Dinda ikut tertidur menuju ke alam mimpi.
Jangan lupa like, komen dan vote ya
__ADS_1
Terimakasih.