
Dinda masuk ke dalam rumah setelah mendengar apa yang di ucapkan Bagas tadi.
Setengah jam kemudian, Bagas memasukkan sangkar burungnya ke dalam rumah. Setelah itu, Bagas bersiap-siap keluar membelikan keperluan istrinya untuk jualan besok.
"Dek, Mas keluar dulu ya?" ucap Bagas berpamitan kepada Dinda yang sedang di dapur.
"Iya Mas, hati-hati di jalan." kata Dinda yang mengantar Bagas sampai di depan rumah.
Bagas keluar membawa motor kesayangannya itu membelah jalanan kota yang saat itu ramai pada saat sore hari.
Sedangkan Dinda membersihkan dapur yang baru saja di pakai untuk memasak.
Beberapa saat kemudian, Bagas sampai di toko dan masuk ke dalam memilih kursi yang sekiranya murah.
"Aduh kenapa aku bisa lupa tanya ke Dinda, berapa kursi yang dia minta?" gumam Bagas menyalahkan dirinya sendiri lupa bertanya pada Dinda.
"Halah, beli 4 sajalah. Di rumah 'kan ada kursi panjang di teras. Pakai itu saja." monolog Bagas sambil mengambil kursi itu.
Setelah memilih 4 kursi, Bagas menuju kasir untuk membayar dan segera berlalu pergi dari toko itu.
Saat sedang sibuk mengikat kursi di motor, ada teman Bagas datang menyapa.
"Bagas 'kan? Kamu beneran Bagas?" tanya Eko teman sekolah Bagas saat SMA.
"Kamu siapa?" tanya Bagas yang sedikit lupa akan teman lamanya itu.
"Aku Eko, masa kamu lupa sama aku Gas! Dulu kita sering nongkrong bareng di rumahku kalau bolos sekolah dan juga sering berburu burung saat di sawah." jelas Eko mengingatkan masa-masa sekolah dulu.
"Oh ya, kamu Eko Purnomo yang selalu usil saat cewek lewat di depan kelas dengan gaya sok cool 'kan!" Bagas yang mulai ingat akan keusilan temannya itu sambil tertawa.
"Ingat aja kamu kalau yang itu!" ujar Eko yang tertawa saat Bagas ingat keusilan mereka dulu.
Bagas dan Eko adalah teman sekelas dan terkenal usil di sekolah. Banyak cewek-cewek yang kesal akan tingkah mereka dulu. Kemudian, mereka berdua mengobrol saling berbagi info nomer telepon.
"Kamu mau kemana Gas? Rumah kamu dimana?" tanya Eko yang kebetulan sedang berada di tempat itu.
__ADS_1
"Ini mau pulang ke rumah, abis beli kursi untuk jualan istriku nanti. Rumahku agak jauh dari tempat ini, setengah jam dari toko. Mampirlah ke rumah kalau sempat. Kita sudah lama tidak kumpul bareng loh." kata Bagas yang sudah lama tidak bertemu setelah beberapa tahun.
"Kamu sendiri, sedang apa disini? Apa rumahmu daerah sini?" tanya Bagas pada Eko sambil melihat kanan dan kiri.
"Iya rumahku sekitar daerah sini, kebetulan pas lihat kamu disini aku datang menghampiri dan ternyata benar itu kamu Bagas teman sekolahku dulu." sahut Eko menimpali.
"Gak nyangka ketemu disini Ko," ujar Bagas yang senang bertemu dengan teman lamanya.
"Ya sudah, kapan-kapan aku telepon. Aku terburu-buru sebab ada keperluan." pamit Eko pada Bagas dan berlalu pergi.
"Oke terimakasih ya."
"Sama-sama."
Setelah kepergian Eko, Bagas segera pulang dan meninggalkan toko tersebut dengan perasaan gembira.
Setengah jam kemudian, Bagas sampai di rumah dan melepas tali yang mengikat kursi, lalu menurunkannya dan membawa ke dalam rumah.
"Kok lama sekali Mas!" cerca Dinda yang sudah membuka pintu untuk Bagas.
"Hmmm." Dinda hanya berdehem seraya mengambil kursi yang sudah di belikan oleh Bagas dan meletakkannya di dapur.
"Terimakasih Mas. Jangan lupa besok buatkan meja ya." pinta Dinda mengingatkan suaminya.
"Iya iya, ah bawel!" ucap Bagas yang kemudian mencuci kaki dan tangannya setelah bepergian.
***
Keesokan paginya, hari yang santai di hari minggu adalah hari bersama berkumpul keluarga.
Bagas bangun pagi-pagi sekali untuk membuat meja agar istrinya Dinda tidak mengganggunya lagi saat sedang santai nanti.
Kebetulan juga hari ini adalah hari minggu jadi anak-anak libur dan Bagas bisa santai mengerjakan keinginan Dinda itu.
Satu jam berlalu. Akhirnya meja yang telah dibuat pun jadi dari tangan Bagas sendiri.
__ADS_1
"Akhirnya jadi juga. Hmm, lumayan juga hasilnya." ucap Bagas saat melihat hasil karyanya membuat meja dengan bagus.
Saat sedang membersihkan meja yang kotor. Dinda datang membawa makanan dan juga kopi untuk suaminya.
"Ayo Mas sarapan dulu dan ini kopi untuk suami Dinda." ucap Dinda tersenyum agar hati suaminya tetap seperti ini setiap hari dan tidak mudah emosian bila sedang kumat bila sedang ada masalah.
"Terimakasih Dek," ucap Bagas tersenyum saat melihat istrinya itu.
Kemudian Bagas mengambil piring yang sudah terisi lauk pauk dan menyantap makanan itu dengan lahapnya.
"Mas, mejanya bagus juga loh? Pintar juga kamu buatnya." ujar Dinda yang melihat hasil karya suaminya sendiri dengan takjub.
"Siapa dulu dong yang buat. Bagas gitu loh," kata Bagas bangga dengan membusungkan dadanya sambil membawa piring di tangannya.
Dinda hanya menanggapinya dengan senyuman.
Tak berapa lama Dion dan Leni menyusul Dinda di belakang menemani Bagas.
"Wah Pak, bagus sekali mejanya? Mau dijual ya Pak?" tanya Leni dengan wajah polosnya.
"Iya Nak, meja ini untuk jualan Ibumu nanti di depan rumah." kata Bagas sambil mengunyah makanannya.
"Ibu mau jualan? Beneran Bu?" tanya Leni lagi pada Ibunya.
"Iya sayang. Tetapi jualannya setelah menunggu kalian pulang sekolah. Jadi, Ibu bisa tenang mengawasi kalian nanti." tutur Dinda sambil menjelaskan perihal jualannya kepada Dion dan Leni.
"Horeeee, Ibu bakal jualan di rumah. Jadi, nanti kita bisa punya uang yang banyak dong?" ucap Leni dengan perasaan senang bahwa Ibunya Dinda akan berjualan.
Maaf ya lama updatenya. Soalnya author juga habis sembuh dari sakit. Dan juga author ingin segera menyelesaikan novel karya author yang Suamiku Bukan Jodohku.
Terimakasih yang sudah mampir ke karyaku ini.
Jangan lupa like, komen, vote ya.
Selamat Membaca 🤗
__ADS_1