
Setelah kepergian suami dan kedua buah hatinya, Dinda masuk ke dalam rumah untuk makan dan juga membersihkan rumah yang kotor.
Dinda mengambil nasi dan juga lauk seadanya. Dirinya makan dengan hati yang berkecamuk, pikirannya berkelana kemana-mana.
Sungguh miris hidupnya, hidup di rumah kontrakan dan mempunyai suami yang mulai berubah sikap. Membuat Dinda merasakan sesak di dalam hati.
Dinda tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Dirinya ingin bangkit membantu perekonomian suaminya, namun siapa yang akan menemani Dion dan Leni saat pulang sekolah.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kemana aku harus mencari pekerjaan? Aku tak mungkin meninggalkan Dion dan Leni sendirian dirumah." gumam Dinda saat mengunyah makanannya.
"Lebih baik aku pikirkan nanti setelah membereskan rumah." gumam Dinda lagi berbicara pada dirinya sendiri.
Dinda kemudian menyelesaikan makannya dengan cepat. Sebab, pekerjaan dirumah sudah menunggunya.
Di sekolah Dion dan Leni telah tiba. Dion dan Leni turun dari motor, lalu mencium tangan Bagas bergantian.
"Akhirnya, sampai juga. Kalian belajar yang rajin ya! Bapak berangkat kerja dulu, nanti siang Bapak jemput." ucap Bagas menasehati Dion dan Leni.
"Baik Pak."
Bagas pun berlalu dari hadapan kedua anaknya menuju bengkel. Pekerjaan rutin yang Bagas jalani sehari-hari mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya.
Selesai makan, Dinda mencuci piring kotor yang menumpuk di dapur. Setelah beberapa saat, Dinda melanjutkan membersihkan rumah dan pekerjaan yang lainnya.
Satu jam kemudian, Dinda merebahkan tubuh lelahnya di kursi seraya mengipas-ngipaskan tangannya. Cuaca hari ini sungguh panas, membuat badan jadi lengket.
"Huufft…capeknya!" ucap Dinda saat berbaring di kursi panjang ruang tamu.
__ADS_1
"Hari ini masak apa ya? Uang pun mulai menipis," ucap Dinda dengan wajah sendunya.
Dinda menerawang, memikirkan nasib Dion dan Leni. Tak berselang lama Dinda segera bangun dan segera memasak untuk makan siang.
Setengah jam kemudian, Dinda telah menyelesaikan masakannya. Lalu, setelah selesai Dinda segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket.
Selesai dengan ritual mandi, Dinda keluar dengan wajah berseri-seri. Kemudian, Dinda berjalan ke kamar untuk berdandan seadanya dan memakai pakaian lengan panjang untuk berbelanja ke warung.
Setelah rapi, Dinda keluar kamar dengan membawa dompet yang berada di tangannya.
"Bismillahirrohmanirrohim."
"Semoga hari ini aku mendapatkan pekerjaan." ucapnya menyemangati diri sendiri.
Kemudian, Dinda mengunci pintu rumah dan berjalan menuju warung yang lengkap kebutuhannya dengan mengayuh sepeda.
"Selamat pagi, Pak Bagas!" ucap Riski dan Heri bersamaan.
"Selamat pagi juga."
Bagas kemudian berjalan masuk le dalam dan meletakkan tas ransel di meja. Lalu, mulai beraktifitas mengerjakan motor yang terparkir ditinggal pemiliknya karena rusak.
Bengkel milik Bagas sudah berjalan selama 2 tahun. Semua dijalaninya karena Bagas suka peralatan onderdil motor. Sekarang usahanya sudah berjalan lancar dan banyak yang suka servis ke tempat bengkel milik Bagas.
Di tempat lain, Dinda telah tiba di toko yang perlengkapan kebutuhan rumah tangganya lengkap.
Dinda berjalan masuk ke dalam toko dan membeli beberapa kebutuhan rumah selama beberapa minggu saja. Untuk selanjutnya, Dinda akan berusaha mencari pekerjaan sampingan yang bisa menemani Dion dan Leni dirumah.
Setelah membeli beberapa bahan, Dinda berjalan menuju kasir dan membayar. Dengan penuh kehati-hatian, Dinda bertanya kepada pemilik warung tersebut.
__ADS_1
"Bu apakah di toko ini membutuhkan karyawan?" tanya Dinda seraya tersenyum.
Pemilik toko tersebut langsung mendongakkan kepala melihat Dinda dari atas sampai bawah.
"Apakah kamu sudah menikah? Rumahmu mana? Kebetulan saya membutuhkan karyawan, karena toko saya begitu ramai," ucapnya kepada Dinda.
"Satu lagi toko saya buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Untuk istirahat, bisa disini selama satu jam. Bagaimana apakah kamu sanggup?" ucapnya sekali lagi memberitahu kepada Dinda peraturan bekerja di toko miliknya.
"Rumah saya jauh, jaraknya 2 km dari tempat ini dan akan saya pikirkan lagi." ucap Dinda seraya tersenyum kecut saat mendengar peraturan toko tersebut.
"Baiklah Bu, saya permisi dan terimakasih infonya." kata Dinda yang kemudian berlalu dari hadapan pemilik toko tersebut.
"Hah…badan kurus kerempeng begitu, gayanya mau masuk jadi karyawanku." ucap pemilik toko tersebut saat melihat Dinda keluar dari tokonya.
Dinda keluar toko kembali mengayuh sepedanya dan meletakkan barang tersebut di keranjang.
Dalam perjalanan, Dinda banyak berpikir mau usaha jualan apa yang bisa menghasilkan uang selama di rumah dan tetap bisa menjaga kedua anaknya.
Setelah beberapa saat, Dinda sampai di rumah dengan peluh di dahinya. Kemudian, masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi seraya meletakkan barang-barang di meja.
"Lebih baik, aku jualan saja dan bisa mengawasi Dion dan Leni selama dirumah. Nanti aku bicarakan hal ini dengan Mas Bagas. Semoga, Mas Bagas mau memberiku uang." ucap Dinda yang berharap suaminya mau membantunya dalam usaha berjualan untuk membantu perekonomian.
Setelah berpikir matang, Dinda berdiri dan mengambil barang belajaannya lalu meletakkannya di dapur.
Kemudian, Dinda pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangan setelah bepergian keluar membeli bahan-bahan dapur.
Lalu, selesai dari kamar mandi Dinda berjalan masuk ke dalam kamar untuk tidur seraya menunggu anak-anaknya kembali dari sekolah.
Masuk ke dalam kamar, Dinda merebahkan tubuh lelahnya setelah mencari pekerjaan ternyata sulit. Tak berselang lama, Dinda tidur terlelap dengan memeluk guling.
__ADS_1