
Keesokan harinya, Dinda telah menyiapkan segala kebutuhan anak - anak, suami dan juga jualan gorengan di depan rumah.
Semua Dinda lakukan demi membantu perekonomian yang semakin hari semakin mahal biaya hidupnya.
"Dion, Leni! Ayo berangkat, Bapak sudah siap nih!" teriak Bagas saat sedang memanasi motornya.
"Iya Pak!" sahut keduanya bersamaan.
"Bu, Dion dan Leni berangkat dulu!" ucap keduanya.
"Iya sayang, hati - hati di jalan." tutur Dinda.
Kemudian, mereka keluar rumah. Dinda hanya mengantar anaknya sampai halaman rumah saja.
Dion, Leni dan juga Bagas pun berpamitan kepada Dinda. Lalu Bagas melajukan kendaraan kesayangannya mengantar anak - anaknya ke sekolah.
Setelah kepergian suaminya, Dinda pun duduk di teras rumah seraya menunggu pembeli lewat.
"Bismillah semoga jualanku laris manis. Aamiin." ucapnya sambil berdoa agar diberi rejeki lancar dalam menjalankan usahanya.
Tak berselang lama, tetangga Dinda datang dan melihat warungnya.
__ADS_1
"Mbak Dinda sekarang jualan kopi dan beberapa jajanan juga. Ada gorengan dan mie instan, semoga laris manis ya mbak." ucap Siti tetangga dekat Dinda.
"Iya Siti daripada Mbak bengong dan gak melakukan apa - apa, mending Mbak jualan aja. Hitung - hitung bantu perekonomian suami." sahut Dinda tersenyum.
"Ya sudah Mbak, Siti beli gorengan delapan ya!" ujar Siti menunjuk tahu isi yang ada di piring.
"Siap Siti."
Setelah melayani Siti, Dinda masuk kerumah untuk membersihkan ruangan yang masih belum dibersihkan saat melayani kedua anak dan suaminya.
Kemudian, beberapa tetangga mulai berdatangan untuk mulai membeli gorengan atau jajanan di warung Dinda. Bahkan, ada yang sekedar mampir minum kopi untuk istirahat setelah bekerja.
Di sekitar rumah Dinda memang ada banyak beberapa orang yang pekerja proyek membangun rumah.
"Assallamualaikum," ucap Dion dan Leni bersamaan saat pulang kerumah. Untuk Bagas segera kembali bekerja karena banyak motor dibengkelnya yang harus diservis.
"Waallaikumsalam, eh sudah pulang. Cuci kaki, tangan dan ganti baju lalu makan ya!" pinta Dinda kepada kedua anaknya.
"Baik Bu,"
Dion dan Leni segera menuruti permintaan Ibunya.
__ADS_1
Selesai mencuci kaki dan tangan keduanya mengganti baju di kamar mereka masing - masing dan makan siang yang telah tersedia di meja.
Dinda dengan tekun mengambil nasi dan lauk untuk kedua anaknya. Mereka makan dengan lahap, Dinda menatap Dion dan Leni bergantian seraya tersenyum bahagia.
Selesai makan, Dinda meminta Dion dan Leni tidur siang agar badan segar dan sehat. Sedangkan Dinda membersihkan dapur dan menutup warungnya.
Dinda pergi membersihkan badannya yang lengket, karena sejak pagi aktifitasnya tiada henti membuat dirinya tak bisa beristirahat.
Saat Dinda sedang mandi, Bagas pulang dengan keringat membanjiri peluhnya. Hari ini aktifitas di bengkel cukup banyak dan Bagas menutup bengkelnya dengan cepat, sebab persediaan alat - alat bengkel mulai menipis.
Bagas berencana membeli peralatan bengkel besok saat mengantar sekolah kedua buah hatinya.
"Loh, Mas sudah pulang!" tanya Dinda saat baru keluar dari kamar mandi.
"Iya Dek, hari ini cukup banyak motor yang diservis. Jadi, Mas pulang cepat karena persediaan bengkel juga mulai menipis.
"Bagaimana hasil jualan gorengan dan kopi? Lancar?" tanya Bagas duduk di sofa melepas lelah sepulang kerja.
"Alhamdulillah lancar Mas," sahut Dinda tersenyum seraya memijat suaminya.
Haii semuanya, maaf ya baru up. Author sibuk menyelesaikan karya Suamiku Bukan Jodohku. Tapi kini, author akan berusaha semaksimal mungkin untuk up ya. Dikarenakan kesibukan dunia real mungkin up nya dadakanðŸ¤.
__ADS_1
Jangan lupa like komennya ya teman🤗 Terimakasih.😘