
Bagas sudah siap menjemput Dion dan Leni ke sekolah.
"Riski aku titip bengkel, nanti aku kembali setelah menjemput kedua anakku." ucap Bagas menitipkan bengkelnya pada karyawannya.
"Baik Pak."
Bagas kemudian melajukan kendaraannya menuju sekolah. Beberapa saat kemudian, Bagas sampai dan menunggu jam pelajaran sekolah berakhir.
Tak berselang lama, Dion dan Leni keluar berjalan bersama. Melihat Bagas, Dion tersenyum begitu pula Leni. Lalu keduanya segera naik ke motor dan pulang ke rumah.
"Pak, masih ingat pesanku semalam 'kan!" kata Dion mengingatkan Bapaknya perihal mainan yang diinginkan Dion.
"Iya, tentu Bapak masih ingat. Sekarang, kita ke toko mainan dan pilih sesuka hati." ucap Bagas untuk membahagiakan anak-anaknya.
"Kita kemana Pak?" tanya Leni yang tidak mengerti apa yang di bicarakan antara Kakak dan Bapaknya.
"Nanti Leni juga akan tahu." ucap Bagas saat memberitahu Leni selama dalam perjalanan.
Beberapa saat kemudian, Bagas dan kedua anaknya telah sampai di toko mainan. Lalu, mereka segera turun dari kendaraan dan berjalan menuju toko tersebut.
Dion dan Leni terperangah, melihat banyak mainan di pajang di etalase dan juga rak toko. Keduanya berjalan dan melihat-lihat mainan mana yang di sukai mereka.
"Kak, mainannya bagus-bagus ya?" ucap Leni yang berbinar menatap mainan di depannya.
"Iya Dek, ayo pilih mainan kesukaanmu dan nanti kita mainan bareng di rumah." ujar Dion yang langsung memilih mainan mobil perang-perangan.
Sedangkan Bagas, hanya mengikuti kemana Dion dan Leni melangkah. Setelah memilih mainan yang diinginkan, Bagas segera berjalan menuju kasir untuk membayar mainan tersebut.
"Terimakasih Pak," ucap Dion dan Leni bersamaan.
"Sama-sama," kata Bagas sambil membelai rambut kedua buah hatinya.
Lalu, ketiganya berjalan keluar dari toko mainan menuju dimana motor terparkir. Kemudian, mereka pulang dengan hati riang gembira.
Selama perjalanan, Dion dan Leni banyak bercerita kepada Bagas bahwa hari ini pelajarannya sangat menyenangkan dan seru. Bagas hanya tersenyum senang mendengar celotehan anak-anaknya.
Sampailah mereka bertiga di rumah.
__ADS_1
"Sampai disini saja ya? Bapak mau melanjutkan pekerjaan, soalnya banyak pasien motor masuk bengkel." ucap Bagas memberitahu kedua anaknya.
"Baik Pak. Hati-hati ya!" ucap Dion dam Leni bersamaan.
Dion dan Leni masuk ke dalam rumah seraya mengucap salam.
"Assalamualaikum, Bu kami sudah pulang," ucap Dion dan Leni memanggil Ibunya.
"Waallaikumsalam," sahut Dinda dari dalam.
"Apa yang kalian bawa ini?" tanya Dinda heran kepada anak-anaknya.
"Ini tadi Bapak yang belikan mainan Bu, saat pulang sekolah tadi." kata Leni seraya menunjukkan mainan barunya.
"Alhamdulillah, jaga mainan itu baik-baik. Jangan sampai rusak ya," tutur Dinda menasehati Dion dan Leni.
"Baik Bu."
"Bapak mana? Apa gak ikut mampir kerumah dulu?" tanya Dinda saat berada di depan pintu tak melihat Bagas suaminya.
"Bapak langsung balik ke bengkel Bu. Soalnya, banyak pasien masuk bengkel." ujar Dion memberitahu Ibunya seraya berjalan duduk di kursi bersama Leni.
"Tapi kata Bapak memang begitu Buk." sahut Dion lagi sambil melepaskan sepatu dan meletakkan di rak sepatu, diikuti Leni yang meletakkan sepatunya juga.
Dinda hanya geleng-geleng kepala mendengar cerita dari Dion. Padahal, Dinda ingin menyampaikan keinginannya kalau mau mampir sebentar.
"Kalian ganti baju dan segera cuci kaki dan tangan di kamar mandi ya!" pinta Dinda pada Dion dan Leni.
Dua bocah kecil itu dengan patuh menurut apa yang diperintahkan oleh Dinda. Dion dan Leni masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama.
Selesai mencuci kaki dan tangan, Dion dan Leni segera makan siang. Sebab, sejak tadi perutnya sudah menahan lapar semenjak dari sekolah. Bekal yang dibawakan oleh Dinda hanya dimakan saat jam istirahat sekolah.
Dinda kemudian mengambil nasi dan lauk untuk kedua buah hatinya. Lalu, Dinda, Dion dan Leni segera makan bersama-sama. Dinda tersenyum menatap anak-anaknya yang makan dengan lahap, betapa perasaannya saat ini bahagia melihat pertumbuhan kedua buah hatinya.
Dirinya belum bisa membahagiakan anak-anaknya saat ini, yang terpenting Dion dan Leni makan dengan kenyang sudah membuat hatinya terhibur.
Selesai makan, Dion dan Leni meminta ijin kepada Dinda untuk bermain sebentar. Atas ijin Dinda, Dion dan Leni segera keluar dan bermain bersama teman-teman yang lain.
__ADS_1
Lalu, Dinda mengambil piring kotor tersebut dan mencucinya di dapur. Selesai mencuci, Dinda segera mengambil nasi untuk dimasak makan malam nanti. Agar saat malam tiba, dirinya bisa istirahat dengan nyenyak tanpa pekerjaan yang menumpuk di rumah.
Selesai mencuci beras, Dinda memasukkannya ke magic com. Lalu, mencolokkan kabel tersebut ke sakelar agar nasi segera matang dengan sendirinya.
Dinda pun segera duduk bersantai menikmati harinya sambil menonton televisi. Pekerjaan rumah semua sudah selesai, hanya tinggal menunggu suaminya pulang dari bengkel.
Satu jam berlalu, Dion dan Leni belum pulang dari luar membuat Dinda merasa cemas saat jam menunjukkan pukul 2 siang. Biasanya, Dion dan Leni bermain tak pernah lama.
Saat menunggu Dion dan Leni di ruang tamu, akhirnya yang ditunggu pulang. Namun, Dion pulang dengan menggendong Leni yang menangis.
Dinda segera menghampiri Dion dan beralih mengambil Leni dari Dion.
"Kenapa Leni menangis?" tanya Dinda dengan raut wajah kecemasan.
Dion yang ditanya seketika tertunduk dan tidak berani menjawab, karena takut Ibunya akan marah pada kedua bocah kecil tersebut.
Leni, lalu diletakkan di kursi panjang. Kemudian, Dinda berlari menuju kamar untuk mengambil obat luka. Keluar kamar, Dinda langsung mengambil air dan kain untuk mengompres luka Leni.
Setelah itu, Dinda kembali menghampiri Leni yang masih menangis sesenggukan dan langsung memberi obat luka di lutut Leni yang berdarah.
Saat sedang mengobati luka Leni, Dinda melihat Dion yang masih tertunduk di kursi karena takut dirinya akan marah padanya.
Selesai memberi obat luka pada Leni, Dinda menghampiri Dion yang masih setia dengan kepala tertunduk. Kemudian, Dinda berjongkok menghadap Dion lalu mengangkat dagu putranya itu.
"Sekarang, ceritakan pada Ibu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa luka Leni bisa sampai berdarah seperti itu, hmm!" pinta Dinda lembut saat bertanya pada putra sulungnya.
Dion yang awalnya takut akan dimarahi Ibunya, akhirnya mau menceritakan saat Dinda tak membentak atapun marah padanya.
"Tadi kami bermain sepeda dengan kencang karena balapan dan Dion membonceng Leni. Namun saat kami sedang mengayuh sepeda tiba-tiba saja ada kucing lewat, Dion menghindar dan akhirnya menabrak pohon lalu jatuh dan menyebabkan Leni terjatuh mengenai lututnya." jelas Dion menceritakan kejadian sebenarnya.
"Lain kali, kalian hati-hati saat bersepeda. Tidak perlu balapan atau apapun itu. Jaga keselamatan saat musibah tiba-tiba datang tak terduga." tutur Dinda menasehati Dion dan Leni.
"Baik Bu, maafkan Dion dan Leni. Lain kali, Dion akan berhati-hati dan tidak ceroboh lagi." ucap Dion yang langsung memeluk Ibunya begitu pula Leni.
"Siapa yang berhati-hati dan tidak ceroboh lagi!" ucap seseorang yang baru datang.
Jangan lupa fav, like, komen, hadiah dan vote 😘
__ADS_1
Dukungan kalian membuat author lebih semangat dalam berkarya.
Selamat Membaca 🤗