Bukan Sekedar Janji

Bukan Sekedar Janji
Nenek Sihir


__ADS_3

Demi mencegah Reyhan membongkar statusnya, Nehta memotong ucapan Reyhan dengan cepat karena khawatir Reyhan akan bilang kalau dia suaminya.


“Ini nasi goreng pak Kumis kan? Ayo kita makan di depan  minimarket bawah, kebetulan aku mau beli sesuatu.”


Tanpa pamit, Nehta pergi bersama dengan Gibran meninggalkan Reyhan seorang diri di apartemennya.


Untuk yang kedua kalinya, Gibran bertanya soal keberadaan Reyhan, tapi Nehta beralasan bahwa tadi ada Azka juga.


“Aku udah kenyang.” Nehta tidak bisa lagi menampung nasi goreng yang masih banyak itu ke dalam perutnya.


“Ini masih banyak. Apa kamu udah makan?”


“Iya, tadi Reyhan yang pesan makan. Maaf ya.” Nehta tidak ingin Gibran kecewa.


“Kenapa harus minta maaf. Harusnya kalau kamu udah makan, nggak perlu makan lagi. Nanti perutmu sakit.”


“Nggak apa-apa. Kamu udah sempetin waktu buat beliin nasi goreng ini buat aku. Makasih ya.”


Gibran tersenyum dan mengelus puncak kepala kekasihnya dengan lembut.


Jujur, Gibran merasa cemburu dengan persahabatan yang terjalin antara Nehta dan juga Reyhan. Sebagai seorang laki-laki, dia merasa bahwa Reyhan bukan hanya menganggap Nehta sebagai sahabatnya.


Malam semakin larut, Gibran pamit untuk pulang. Begitu juga dengan Nehta, dia kembali ke apartemen namun tidak menemukan sosok yang sempat dia tinggalkan tanpa pamit.


Perempuan itu mengambil ponselnya yang tadi di tinggalnya. Beberapa kali dia menghubungi Reyhan, namun tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan beberapa pesan yang dia kirim pun tidak Reyhan balas. Salah satu sudut hatinya merasakan hal yang aneh. Dia merasa takut kalau Reyhan marah karena mengabaikannya saat Gibran datang.


“Hallo?”


“Ada apa nona?”


“Astaga, Man. Berulang kali aku bilang, jangan panggil aku nona!” Geritu Nehta pada Arman yang saat ini di hubungi olehnya.


“Tidak bisa. Yang ada gajiku di potong suami nona.” Seloroh Arman lengkap dengan kekehan kecil di seberang sana, laki-laki itu bisa mendengar dengan jelas Nehta yang berdecak kesal.


“Apa Reyhan kembali ke kantor?”


“Tidak. Bukannya Reyhan pulang ke apartemen kamu?”


“Oh.” Ucap Nehta lalu menutup ponselnya, hal itu berhasil membuat Arman menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Tidak ada waktu untuk berpikir lagi, Nehta menyambar kunci mobilnya. Perempuan itu melajukan mobil dengan kecepatan sedang, menuju ke apartemen Reyhan.


Dengan cekatan, dia memencet beberapa angka sebagai pin untuk membuka pintu apartemen itu.


Nehta langsung masuk ke dalam setelah pintu terbuka. Dia berlari kecil ke setiap sudut ruangan demi mencari Reyhan. Dugaannya benar, Reyhan ternyata pulang ke sini. Laki-laki itu berdiri di dapur, tengah menenggak air mineral yang berasal dari dalam kulkas.


“Uhuk...” Karena terkejut dengan kedatangan Nehta, Reyhan sampai tersedak dengan air yang di minumnya.


“Astaga, Ta. Kamu mau aku mati tersedak?” Gerutu Reyhan dengan sisa-sisa batuknya.


“Kenapa pulang nggak bilang-bilang? Apa kamu marah soal kedatangan Gibran?” Tanya Nehta dengan sedikit keraguan.


“Ck. Dasar plin-plan. Tadi kamu ngusir aku, sekarang, aku pulang kamu juga marah-marah.” Ucap Reyhan tanpa menjawab pertanyaan soal marah atau tidaknya, sambil berlalu melewati Nehta.


“Aku nggak pernah tuh ngusir kamu.” Kilah Nehta.


Ya, Nehta memang tidak mengusir Reyhan secara langsung. Tapi dari pertanyaannya saja, bukankah Nehta menginginkan Reyhan pergi dari apartemennya.


“Ya... ya... Aku lelah, mau istirahat.”


Tadinya, Reyhan hanya bercanda dan akan mengantar istrinya karena dia pikir, Nehta akan pulang lagi ke apartemennya. Tapi perkiraannya salah, Nehta malah ikut tidur di ranjang yang sama dengan Reyhan.


Ya ampun, Ta. Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu malah tidur di sini! Kenapa kamu harus khawatir kalau Reyhan marah atau nggak? Nehta memukul-mukul kepalanya pelan.


...*****...


Di kota yang sama, seorang perempuan cantik yang baru saja mendapatkan laporan dari orang suruhannya terus mengeluarkan umpatan dari mulutnya. Dia melampiaskan amarahnya pada barang-barang yang ada di dekatnya. Perempuan itu kesal, lantaran orang suruhannya tidak bisa menemukan informasi mengenai perempuan yang menikah dengan Reyhan.


“Maafkan saya, nona.”


“Dasar nggak beccus!” Pekik Sara.


Ya, perempuan itu adalah Sara. Dia menyuruh Andra untuk mendapatkan informasi mengenai pernikahan Reyhan. Dengan siapa dan dari keluarga mana perempuan yang saat ini sudah menjadi istri sahnya Reyhan.


Tidak mungkin Reyhan menikah dengan Devita, karena Sara yang sudah membuat Devita melarikan diri dengan pacarnya yang ternyata adalah Andra orang suruhannya Sara.


“Ada di mana Devita sekarang?” Sara menatap tajam ke arah Andra yang berdiri dengan kepalanya yang terus menunduk.


“Di apartemen saya, nona. Semenjak hari itu, Devita tidak pernah kembali ke rumahnya apalagi menemui Reyhan.”

__ADS_1


“Apa ada hal lain yang mencurigakan?”


“Selain Nehta, tidak ada lagi perempuan yang selalu ada di sekitar Reyhan.”


“Nehta. Selalu saja, perempuan menyebalkan itu ada di sekitar Reyhan.” Sara mengepalkan tangannya dengan kuat saat mendengar Andra menyebutkan nama Nehta di hadapannya.


Sejak dulu, Sara terobsesi dengan Reyhan. Karena itulah Sara membenci Nehta dan sering mengganggunya saat sekolah dulu. Bahkan tak segan, Sara membuat Nehta terluka.


“Cari tahu semua informasi Nehta setelah lulus SMA sampai sekarang!” Titah Sara pada Andra.


Andra hanya bisa menuruti perintah yang di berikan oleh Sara. Karena uang yang di berikan oleh Sara tidaklah sedikit, meskipun dia sendiri tahu, kalau pekerjaannya ini merugikan orang lain. Tapi demi uang, Andra rela melakukan apapun.


Pagi-pagi sekali, Sara bersiap pergi untuk bertemu dengan Reyhan, sang pujaan hati. Dia mendatangi Reyhan dengan alasan pekerjaan. Karena mulai saat ini, Saralah yang memegang kendali atas investasi yang di berikan oleh Wisnu pada perusahaan Reyhan.


Heich Group. Itulah tulisan yang terpampang jelas di gedung perusahaan milik keluarga Reyhan. Perusahaan yang bergerak di bidang otomotif terbaik di Indonesia. Keuntungan yang di raup tidaklah sedikit, apalagi saat perusahaan itu di pegang oleh Reyhan.


Sara melangkahkan kaki jenjangnya memasuki gedung dengan puluhan lantai tersebut. Dia berjalan dengan angkuhnya, meskipun ada yang menyapanya, Sara sama sekali tidak menghiraukannya.


“Nona Sara.” Sapa Arman saat mereka berpapasan sebelum memasuki lift.


Arman berusaha sesopan mungkin, meskipun dulu mereka pernah ada dalam lingkungan sekolah yang sama. Tapi dia bisa menempatkan dirinya jika berhadapan dengan orang-orang yang kedudukan dan kekuasaannya yang lebih tinggi.


“Kebetulan kamu disini, antar aku untuk bertemu dengan Reyhan.”


Tidak ada kata tolong atau basa-basi lainnya, bahkan senyumpun tidak ada. Ya, begitulah, jika orang yang merasa uang dan kekuasaan adalah segalanya.


“Silakan, nona.” Arman mempersilakan Sara untuk berjalan lebih dulu setelah pintu lift terbuka.


“Reyhan belum datang?”


“Sepertinya masih di jalan, nona.” Arman melihat jam di pergelangan tangannya.


“Aku akan menunggu di ruangannya. Buatkan aku teh herbal.”


Mimpi apa aku semalam? Pagi-pagi begini sudah bertemu dengan nenek sihir. Batin Arman.


“Kamu nggak dengar?”


“Dengar, nona.”

__ADS_1


__ADS_2