Bukan Sekedar Janji

Bukan Sekedar Janji
Kamu Mata-Matain Aku?


__ADS_3

Tak ingin terkena amukan perempuan yang menurutnya nenek sihir itu, Arman berlalu meninggalkan Sara untuk pergi membuatkan apa yang diinginkannya.


Di parkiran, Reyhan turun dari mobil dengan wajah yang cerah. Mengapa tidak? Karena saat bangun tidur posisinya saling berpelukan dengan Nehta. Perempuan itu menjadikan lengannya sebagai bantal, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang milik Reyhan.


Ya, meskipun sempat ada drama saling berteriak, saat mendapati keduanya saling berpelukan. Tapi Reyhan merasakan kenyamanan selama tidurnya, meskipun tangannya terasa kebas saat bangun.


Dasar messum.


Umpatan yang Nehta lontarkan padanya, sama sekali tidak membuatnya tersinggung. Malahan dia senang melihat rona wajah Nehta yang menahan malu, karena ternyata Nehta sendirilah yang berpindah tempat. Terbukti dengan posisi mereka yang berada di wilayah tidur Reyhan, itu artinya Nehta yang datang memeluknya saat tidur.


Namun senyumnya surut seketika, membuat raut wajahnya kembali ke setelan dinginnya. Saat melihat perempuan yang tengah duduk menyeruput minuman di ruangannya.


“Selamat pagi, Rey.” Sapa Sara sambil meletakan cangkir teh yang baru saja di minum olehnya.


“Apa kita ada janji?” Reyhan bertanya tanpa membalas sapaan Sara.


“Nggak ada. Tapi aku dateng ke sini karna papi yang menyuruh.” Bohong Sara, padahal dia yang merengek pada Wisnu.


“Apa ini urusan pekerjaan?”


Selalu saja, Reyhan bersikap dingin padanya. Padahal sebisa mungkin Sara selalu menjaga imagenya. Meskipun hatinya kesal dengan setiap sikap tak acuh yang di terimanya.


“Tentu ini urusan pekerjaan, papi bilang investasinya di perusahaan kamu biar aku yang handle.” Jawab Sara dengan suara yang halus, tapi terasa tidak nyaman di telinga Reyhan.


“Baiklah, aku akan menyuruh Arman menghubungimu saat akan membahas soal itu. Kalau tidak ada lagi yang mau kamu sampaikan, aku permisi, karna ada meeting.” Ucap Reyhan dengan membawa berkas-berkas di tangannya.


“Tunggu Rey!”


“Apa lagi?”


“Ini undangan buat kamu. Besok malam aku ngadain pesta ulang tahunku. Datang ya!”


Ini bukan undangan, tapi perintah. Karena kalau Reyhan sampai tidak datang, Wisnu bisa saja menarik investasinya karena permintaan putri kesayangannya yang kecewa pada Reyhan.


“Ah iya, aku juga ngundang semua alumni SMA kita.” Imbuhnya.


...*****...


Dua buah mobil yang terlihat kontras soal kemewahannya terlibat kecelakaan kecil. Tapi yang parah adalah mobil milik Nehta. Karena mobil yang di kendarainya menghantam sebuah pohon besar, setelah menghindari sebuah mobil mewah yang hampir bertabrakan dengannya.


Degup jantung Nehta berdetak tak karuan, napasnya tersengal-sengal. Beruntung tidak ada luka di tubuhnya, tapi dengan mobilnya yang mengeluarkan asap, perempuan itu menjadi panik.


Tok. Tok. Tok.

__ADS_1


Kaca pintu mobilnya di ketuk berulang kali oleh seseorang dari arah luar. Saat menengok Nehta sama sekali tidak bisa melihat dengan jelas. Dengan gemetar, tangannya membuka pintu mobil. Dia keluar dengan tubuhnya yang lemas, namun masih bisa sadar.


“Nona, anda tidak apa-apa?”


“Saya...”


Saat tubuhnya hampir ambruk, ada seseorang yang menahan tubuhnya. Tapi bukan orang yang bertanya padanya tadi.


“Maaf tuan dan terima kasih sudah menolong saya.”


Laki-laki itu tidak menjawab. Tapi dengan setia memapah Nehta untuk menjauh dari mobilnya.


“Minum dulu!” Ucapnya sambil menyodorkan botol air mineral yang baru saja di bukanya.


Jika melihat interaksi dua orang laki-laki itu, Nehta yakin keduanya adalah bos dan asistennya.


“Apa kau sudah bosan hidup?”


“Bosan hidup?” Nehta mengerutkan keningnya.


“Kau mengendarai mobil dengan sembarangan.”


Mendengar ucapan laki-laki itu Nehta membuang napasnya kasar.


“Sam?” Laki-laki itu menatap asistennya dengan tajam.


“Maaf tuan.” Laki-laki yang bernama Samsul namun lebih suka di panggil Sam itu menundukkan kepalanya.


Demi menebus kesalahan asistennya, Alex menawarkan sebuah pekerjaan pada Nehta di perusahaannya. Pria yang memiliki nama lengkap Bayu Alex Senoadji itu adalah pemilik sebuah perusahaan ritel yang bergerak di bidang fashion, serta menaungi brand Tata Fashion.


“Maaf tuan?"


“Kenapa?”


“Apa lowongannya masih ada? Yang sedang mencari pekerjaan bukan hanya saya. Tapi saya bersama dengan dua sahabat saya.”


“Untuk kau, boleh langsung bekerja. Tapi untuk dua orang yang kau maksud itu, datanglah dulu untuk melamar sendiri ke bagian HRD. Di terima atau tidaknya, terserah bagian HRD.”


Bagai ketiban durian runtuh, Nehta sangat senang. Jarang-jarang bertemu dengan orang baik sekaligus pemilik perusahaan besar seperti Alex.


Sam sendiri heran dengan Alex, tidak biasanya bosnya akan melakukan hal yang saat ini dilakukan pada Nehta. Sepanjang dia bekerja dengan Alex, tidak pernah sekalipun mau terlibat dengan orang asing. Apalagi seorang perempuan. Sam akui, perempuan itu begitu cantik, walaupun dengan penampilannya yang sederhana.


Mungkin sebentar lagi, kutub utara akan segera mencair. Batin Sam senang, karena berpikir mungkin saja tuannya telah jatuh cinta karena bertemu dengan Nehta.

__ADS_1


“Apa kau butuh ke rumah sakit dr. Soeharto Heerdjan, Sam?”


“Maksud tuan?” Sam tampak berpikir dengan apa yang di maksud oleh Alex.


“Astaga. Saya masih waras tuan.” Sangkal Sam, saat sadar kalau nama rumah sakit yang di sebutkan oleh tuannya adalah rumah sakit jiwa.


“Kalau kau masih waras, ngapain kau senyum-senyum sendiri?”


“Tidak apa-apa tuan.”


...*****...


Nehta di buat kaget dengan Reyhan yang tiba-tiba memeluk lalu memeriksa seluruh tubuhnya, begitu laki-laki itu sampai ke apartemennya. Terdengar helaan napas lega dari Reyhan, saat laki-laki itu melihat Nehta dalam keadaan baik-baik saja.


“Aku nggak apa-apa, Rey.”


Indra penglihatan Reyhan menangkap seulas senyuman di bibir Nehta.


“Apa kepalamu terbentur, Ta?”


“Nggak, kenapa memangnya?”


“Kamu kecelakaan, tapi kenapa terlihat happy begitu?”


“Tentu saja aku senang, karena kecelakaan itu aku jadi dapat pekerjaan.”


“Jadi kamu sudah dapat pekerjaan? Dimana?”


“Senoadji Group.”


Reyhan terdiam untuk sesaat. Laki-laki itu tahu, bahwa perusahaan itu cukup terkenal karena pemilik sebelumnya juga memiliki bisnis hitam yang tidak pernah terendus, baik media maupun aparat pemerintah. Tapi kalaupun Reyhan melarang Nehta untuk bekerja di sana, dia tidak akan bisa. Karena Reyhan sendiri tidak mau mengekang perempuan yang kini berstatus istrinya itu.


Untuk saat ini, mungkin yang akan di lakukan Reyhan adalah cukup dengan menjaganya dari kejauhan. Iya, itu yang paling penting sekarang.


“Mulai besok, aku tidak mengizinkan kamu membawa mobil sendiri. Nanti aku akan menyuruh pak Alif buat antar jemput kamu, kemanapun.” Ucapan Reyhan bukan lagi permintaan, karena laki-laki itu tidak menerima penolakan.


“Tapi ngomong-ngomong, Rey...”


“Apa?”


“Kamu tahu dari mana kalau aku kecelakaan? Kamu mata-matain aku?” Nehta menatap tajam wajah Reyhan.


Karena sebelumnya, Reyhan juga tahu tentang kedatangan Dewi yang meminta butik untuk di kelola olehnya dan juga Rasti.

__ADS_1


“Tidak penting aku tahu dari mana.”


__ADS_2