
Nehta menatap punggung Reyhan yang berlalu menuju ke dalam kamar dengan tatapan kesal. Sahabatnya, tidak dia bukan lagi sahabatnya, tapi suaminya, makin kesini semakin menyebalkan.
Tapi dia akui, bahwa dirinya merasa aman dan terlindungi. Walaupun Reyhan merupakan orang yang kaku, datar, seenaknya dan masih banyak lagi hal lainnya.
Memori Nehta berputar kembali ke masa lalu, saat pertama kali bertemu dengan Reyhan. Yaitu, saat hari pertama dia pindah ke SMA yang sama dengan Reyhan.
Flashback on
Lama menetap di luar kota, Nehta merasa asing dengan ibukota. Setelah sepuluh tahun tinggal di Semarang, baru sekarang dia kembali ke Jakarta.
Hari ini, adalah hari pertamanya pindah ke SMA Jakarta. Dia masuk ke semester awal di kelas sebelas, atau kelas dua SMA.
Saat Nehta berjalan mengikuti guru yang akan mengantarnya ke kelas, seorang laki-laki seumuran dengannya menabraknya dari belakang.
“Arghh...” Nehta meringis, merasakan bahunya yang terbentur tembok terasa sakit.
“Reyhan!” Pekik Bu Hastuti, seperti kilat, salah satu tangannya sudah menempel dengan erat di telinga Reyhan.
“Eh ibu...”
“Kamu terlambat lagi? Apa kamu nggak bosen di hukum?”
“Ibu juga, apa tidah bosan menghukum saya?” Reyhan malah balik bertanya, otomatis membuat Hastuti sebagai guru menggelengkan kepalanya.
“Karna kamu terlambat, sebagai hukumannya, antarkan Nehta ke kelasmu. Nehta ini murid pindahan dari SMA Semarang.” Titah Hastuti.
“Baik bu.”
Reyhan sempat menatap Nehta dengan tatapan yang entah, Nehta sendiri tidak bisa menebak apa yang tengah di pikirkan oleh Reyhan saat itu.
Semenjak hari itu, Reyhan selalu saja berbuat usil pada Nehta. Seperti yang baru saja terjadi. Saat Reyhan tidak sengaja melihat Nehta sedang berduaan saat jam istirahat dengan pacarnya di belakang sekolah, laki-laki itu berteriak dengan kencang.
“Bu, Nehta pacaran terus, nih bu.” Teriak Reyhan.
Pacar Nehta yang hampir berhasil mencium bibir Nehta itu, gelagapan, karena takut ketahuan oleh guru. Bisa-bisa di keluarkan dari sekolah. Hal ini terjadi dengan seterusnya, sampai tidak ada lagi laki-laki yang berani dekat dengan Nehta. Karena kelakuan absurd Reyhan.
Tapi anehnya, jika Nehta di kerjai oleh teman-temannya yang lain atau bahkan fans fanatiknya, Reyhan adalah orang pertama yang melindungi Nehta. Aneh bukan? Mungkin, Reyhan merasa bahwa hanya dia yang berhak untuk berbuat usil dengan Nehta.
Setiap harinya, selalu saja ada keributan yang berasal dari dua remaja tersebut. Orang tua dan guru sekolah mereka pun sepertinya sudah sangat bosan dengan kelakuan mereka.
__ADS_1
“Engh...” Nehta melenguh menahan sakit di area perutnya.
Telapak tangannya sudah dingin. Bulir keringat membasahi kening Nehta. Bibirnya pun terlihat sangat pucat. Kakinya yang lemas tidak lagi mampu menopang beban tubuhnya, hingga Nehta tak sadarkan diri.
“Nehta?” Reyhan dengan sigap menangkap tubuh Nehta yang hampir saja ambruk ke lantai.
“Ta, bangun! Kamu kenapa?” Reyhan menepuk-nepuk pipi perempuan yang saat ini memejamkan matanya.
Karena khawatir, Reyhan langsung menggendong Nehta menuju ke klinik sekolah. Pemandangan itu mencuri perhatian setiap siswa yang melihatnya.
“Kamu apain Nehta, Rey? Kamu pasti yang udah bikin Nehta pingsan, iya kan?” Tuduh Wina yang ikut mengantar mereka ke klinik sekolah.
“Jangan bicara sembarangan!” Reyhan merebahkan tubuh Nehta di atas tempat tidur.
Seorang dokter cantik dengan cekatan memeriksa kondisi Nehta. Kemudian dokter memasang infus, karena dari hasil pemeriksaan tekanan darah Nehta sangat rendah.
Sedangkan Wina sibuk memberikan minyak kayu putih, supaya sahabatnya itu cepat sadar.
Melihat Nehta yang masih memakai sepatu, tanpa risi Reyhan membukakan sepatu yang masih terpasang dengan erat di kaki nehta. Lalu menyelimuti Nehta dengan selimut yang tidak terlalu tebal yang ada di sana.
“Untuk sekarang, kita tunggu Nehta sadar terlebih dahulu. Kalian tolong belikan Nehta makan, kalau ada bubur, boleh.” Tutur Putri, dokter yang menangani Nehta barusan.
Semua guru dan juga siswa di sekolah itu memanggil putri dengan sebutan kakak, karena dokter itu masih muda dan juga menolak di panggil ibu.
“Sama-sama.”
Sungguh, senyum yang di berikan oleh Putri mampu membuat setiap orang seketika tertular senyumnya. Bagaimana tidak, dokter cantik itu tidak hanya baik dan ramah, senyumnya pun mampu menggetarkan semua orang.
“Kamu aja, yang belikan!” Reyhan memberikan selembar uang berwarna merah kepada Wina.
“Kok aku?” Wina hendak protes, namun, setelah melihat tatapan mengintimidasi dari Reyhan, Wina pun menurut.
“Dasar, manusia menyebalkan.” Cibir Wina pelan namun Reyhan masih mampu mendengarnya.
Selang berapa belas menit, Wina kembali ke klinik dengan menenteng keresek berisi nasi dan juga sup yang di belinya di kantin sekolah.
“Ta, kamu udah bangun? Apa yang kamu rasain? Ada yang sakit?”
“Ck. Cerewet sekali.”
__ADS_1
“Apa sih Rey. Aku nanya sama Nehta bukan kamu.”
“Orang sakit itu di rawat, bukan di berondong pertanyaan seperti itu.”
“Udah sih! kenapa kalian jadi berantem?” Tegur Nehta.
Setelah di tegur seperti itu, keduanya tidak ada lagi saling berdebat dengan mulut, tapi kedua mata mereka yang berdebat sekarang. Rasanya Wina ingin sekali mencolok mata Reyhan yang selalu menatapnya dengan dingin.
Reyhan membuka keresek makanan yang di bawa oleh Wina, kemudian menyuapi Nehta dengan telaten. Walaupun awalnya menolak, tapi Reyhan yang kukuh menyodorkan sendok makan berisi nasi yang sudah di beri kuah sup pada Nehta.
Sebenarnya, Wina menangkap sesuatu yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Tatapan mata Reyhan padanya berbeda dengan tatapan mata Reyhan pada Nehta. Tapi Wina segera menepis pemikirannya, karena hal itu tidaklah mungkin, mengingat kelakuan Reyhan yang sering usil pada Nehta.
“Udah, Rey.” Tolak Nehta.
“Tidak bisa. Habiskan!”
“Kamu mau bikin Nehta tambah sakit Rey?” Protes Wina, karena memang porsi makanan itu lebih banyak daripada porsi makan Nehta.
“Nehta sudah bangun?” Tanya Putri yang baru saja datang.
“Iya, kak. Makasih banyak udah menolong saya.”
“Sudah tugas, kakak. Bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Alhamdulillah, kak. Lebih baik dari sebelumnya. Hanya perut saya yang masih terasa kurang nyaman.”
Nehta pingsan karena pagi tadi belum sempat sarapan. Datang ke sekolah sudah hampir bel masuk karena kesiangan. Menjelang istirahat, dia malah mendapat hukuman karena ulah Reyhan. Keduanya harus membersihkan dan merapikan ruang biologi. Jadi sejak pagi sampai saat sebelum pingsan dia belum sempat makan.
“Setelah infus ini habis, kamu boleh pulang. Kakak akan resepkan obat. Kalau sampai besok masih belum merasa baikan, datanglah ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
“Baik kak, terima kasih.”
Bel pulang sekolah berbunyi, Wina kembali ke kelas untuk mengambil tas miliknya dan Nehta. Dia sama sekali tidak peduli dengan tas milik Reyhan. Hal itu membuat Reyhan terpaksa kembali ke kelas dan mengambil tasnya sendiri.
Saat kembali ke klinik, Reyhan sempat berpapasan dengan Sara. Perempuan itu malah membahas pesta ulang tahunnya besok malam dan sama sekali tidak bertanya soal Nehta. Reyhan buru-buru menjawab iya, saat Sara memintanya untuk datang. Karena yang ada di pikirannya saat ini adalah Nehta.
“Mana kunci mobil kamu?” Reyhan bertanya saat mendapati Nehta yang sudah keluar dari klinik dengan di papah oleh Wina.
“Untuk apa?” Suara Nehta masih. terdengar lemah.
__ADS_1