
“Ini semua karna kamu, Nehta. Kamu yang membuat Tian meninggal. Kamu pembunnuh!” Hardik Lusy.
Reyhan mengepalkan tangannya, sampai buku-buku tangannya memutih.
Setelah tuduhan dia layangkan, Lusy semakin membuat Nehta bergerak mundur sampai akhirnya tersenggol oleh Sara sehingga dia tercebur ke dalam kolam.
“Sepertinya Sara memang sengaja menyenggol Nehta, Rey.”
“Soal Sara, biarkan aja dulu. Aku tidak bisa gegabah kalau berurusan dengannya. Bukan soal jasa keluarganya pada perusahaan, tapi bisa saja Sara bisa berbuat nekat.”
“Lalu Lusy bagaimana?”
“Aku akan mengurusnya. Kamu siapkan saja kontrak kerja sama kita dengan perusahaan milik orang tuanya, termasuk bukti-bukti kecurangan perusahaannya!”
“Siap laksanakan!” Seru Reyhan.
Reyhan dan juga Arman keluar dari ruang kerja, setelah selesai mendiskusikan rencananya untuk memberikan pelajaran pada Lusy. Begitu keluar mereka sudah di sambut dengan aroma masakan yang membuat perut siapapun tergoda.
“Akhir pekan begini masih aja kerja. Apa kalian nggak capek?” Tanya Nehta sambil menata makanan di atas meja.
“Aku sih capek. Tapi kayaknya, Reyhan tidak sependapat denganku.” Goda Arman.
“Kamu bukannya istirahat, Ta!”
“Aku udah nggak apa-apa, Rey.”
“Man, ayo ikut makan!” Ajak Nehta kemudian.
“Tidak perlu. Arman sudah ada janji makan siang.”
Bukan Arman menolak, tapi ucapan Reyhan barusan merupakan kalimat pengusiran untuknya. Dengan artian, laki-laki itu tidak rela berbagi hasil masakan istrinya.
“Beneran, Man?”
“I-iya, Ta. Aku duluan ya.” Pamit Arman, padahal matanya tak bisa lepas dari ayam asam manis yang ada di atas meja.
Tapi jika dia tidak mengindahkan tatapan Reyhan, bisa-bisa laki-laki itu akan menerkamnya layaknya singa yang baru saja bertemu dengan rusa sebagai makanan pembukanya.
Selepas kepergian Arman, Nehta dan juga Reyhan makan dalam diam. Hanya dentingan sendok yang saling beradu dengan piring.
Semenjak kejadian semalam, Nehta terlihat tengah memikirkan sesuatu. Dan Reyhan dapat menangkapnya dengan baik. Namun sebelum Reyhan bertanya perihal apa yang di pikirkan Nehta, perempuan itu lebih dulu membuka suaranya.
“Rey, sore nanti aku mau mengunjungi Tian.” Lirihnya.
“Ya, ayo kita ke sana.”
...*****...
Matahari mulai terlihat keemasan, menampakkan senja terindahnya. Sepasang suami istri tengah berjalan menyusuri pemakaman, demi berkunjung pada seseorang yang pernah jadi bagian hidup mereka.
__ADS_1
Karangan bunga yang mereka beli tadi sebelum mendatangi pusara, Nehta letakan di dekat nisan. Lalu menyapanya meskipun tidak akan ada tanggapan dari si pemilik pusara.
Ucapan yang di tuduhkan Lusy padanya, sampai saat ini selalu terngiang di kepalanya. Apakah benar, kalau penyebab Tian meninggal adalah dirinya?
Falshback on
Di jalanan yang cukup sepi dengan pengendara, segerombolan anak muda tengah berkumpul. Termasuk tiga sekawan.
Malam itu, mereka mengadakan taruhan balapan motor. Tapi hanya Reyhan dan Tian yang ikut serta, tidak dengan Arman.
Rumornya, Reyhan dan Tian tengah taruhan akan satu hal tapi tidak ada yang tahu apa yang mereka pertaruhkan. Padahal semuanya tahu, bahwa Reyhan dan juga Tian berada dalam satu geng. Yang tambah membuat semua orang penasaran, adalah sikap Reyhan dan juga Tian yang terlihat biasa saja tanpa ada rasa permusuhan atau lainnya. Malah, mereka saling melempar ejekan satu sama lain sambil tertawa.
Sedangkan Arman bertugas memegang bendera, remaja itu mulai menghitung mundur. Reyhan dan juga Tian sudah bersiap di tempat sambil memanaskan motornya yang padahal sudah panas dari tadi.
Brmmm... Brmmm... Brmmm...
“Go!” Teriak Arman, sambil mengacungkan bendera yang di pegangnya.
Baik Reyhan maupun Tian, keduanya menarik gas tanpa ragu. Wajah keduanya terlihat begitu bahagia, tanpa ada usaha saling menjatuhkan satu sama lain.
Kebahagiaan itu hilang dalam sekejap, saat motor yang di kendarai Tian menghantam bagian belakang truk yang tengah berusaha memarkirkan kendaraannya dengan cara mundur.
Brakkk...
“TIAN!!!” Reyhan berteriak begitu kencang, lalu menghentikan laju motornya seketika.
“Tidak, Tian. Kamu harus baik-baik saja. Bangun Tian!!!”
“Re-Rey?”
“Iya Tian, aku disini.” Suaranya hampir tertahan karena tercekat di tenggorokan.
Tian mulai terbatuk-batuk, hidungnya dan telinganya mengeluarkan darah segar. Kenapa Tian tidak memakai helm? Jawabannya karena helm yang dia pakai terlepas dalam keadaan retak.
“A-aku akan telepon ambulans.” Reyhan yang takut kehilangan Tian, sampai bicara dengan terbata-bata.
Salah satu tangan Tian meraih tangan Reyhan yang gemetar saat akan menghubungi ambulans.
“Uhuk... Arggghh...” Tian mengerang merasakan sakit di dadanya saat terbatuk.
Kemungkinan ada tulang rusuknya yang patah.
“Kamu sabar ya... Sebentar lagi, ambulans datang.” Ucap Reyhan setelah berhasil menghubungi ambulans.
“Rey...”
“Jangan banyak bicara, Tian!”
“Tidak Rey... aku... harus bicara...”
__ADS_1
“Sadarlah... Rey! Kamu itu mencintai dia... utarakan lah perasaanmu... sebelum kamu menyesal...” Lirih Tian.
“Cukup, Tian! Semakin kamu bicara, lukamu akan semakin terasa sakit.” Reyhan tidak ingin membahas hal itu dalam kondisi Tian yang seperti ini.
“Sampaikan salamku... Untuknya...” Perlahan matanya menutup dengan sempurna.
“Tian!!!”
“Bangun, beggo! Sampaikan sendiri salam kamu itu, boddoh... Kamu harus banguuunnn!!!”
Reyhan ingin sekali menangis, tapi dia terlalu gengsi untuk menumpahkan air matanya. Sehingga pelupuk matanya sudah penuh dengan air mata yang menggenang.
“Bangun, Tian!!!”
Reyhan terus saja berteriak, sambil mengumpat. Dia tidak tahu kata apa yang harus dia ucapkan demi membangunkan Tian.
Tak berselang lama, Arman dan teman-teman yang lain datang menghampiri Reyhan dan juga Tian. Termasuk Lusy.
“Ti-Tian? Tiannnn... apa yang terjadi? Tian kenapa Rey?” Lusy yang baru saja datang langsung memeluk kekasihnya yang bersimbah darah.
Berulang-kali dia membangunkan Tian, sama seperti yang Reyhan lakukan tadi. Namun nihil, Tian sama sekali tidak membuka matanya.
Beberapa menit berlalu, ambulans baru saja membawa Tian ke rumah sakit. Reyhan dan juga Lusy tampak tidak memedulikan penampilannya yang penuh dengan darah milik Tian.
Reyhan sendiri, tidak bisa diam. Dia terus berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD rumah sakit. Sedangkan Lusy sejak tadi tak berhenti menangis, dia duduk di kursi sambil di temani oleh salah satu temannya.
Dokter dan juga perawat laki-laki keluar menghampiri mereka, bersamaan dengan kedatangan orang tua Tian.
“Wali pasien atas nama Bastian?” Panggil perawat tadi.
“Kami orang tuanya. Bagaimana keadaan anak saya?”
“Maaf pak, pasien datang dengan kondisi yang kritis. Kami juga sudah melakukan pertolongan demi menyelamatkan pasien. Tapi pasien dinyatakan meninggall dunia.” Tutur perawat.
Hal yang di ucapkan perawat tadi di benarkan oleh dokter yang telah menangani Tian.
“Tidak dokter, Tian tidak boleh meninggall!” Seru Reyhan dengan matanya yang berkilat-kilat.
“Apa kami boleh melihat anak kami dokter?” Lirih Tiana, ibunya Reyhan.
“Silakan nyonya.”
Ibu dan ayah itu menangis setelah melihat keadaan putra kesayangannya. Terbujur kaku, dengan luka di dahi dan darah yang berlumuran mengenai bajunya.
“Tiannn... Anak mama...” Tiana menangis histeris sambil memeluk jasad putranya.
“Sayang...” Bagas merengkuh pundak sang istri untuk memberikan kekuatan yang bahkan dirinya sendiri merasa hancur melihat putranya tak lagi bernyawa.
__ADS_1