
Nehta menutup pintu kamar Hanifah, dia tahu, yang di butuhkan Reyhan saat ini adalah ketenangan. Dia melihat Reyhan mendudukkan bobot tubuhnya di ujung tempat tidur.
Tatapannya menyapu ruangan yang menjadi tempat Hanifah beristirahat dari penatnya. Keadaannya yang berantakan, membuat dia tak bisa lagi membendung air matanya. Andai perempuan yang sudah berumur itu melihatnya, akan ada ceramah panjang lebar, keluar dari mulutnya. Karena neneknya adalah orang yang selalu ingin terlihat rapi dengan hal apapun.
Dengan posisi yang masih berdiri, di hadapan Reyhan, Nehta menarik tubuh laki-laki itu ke dalam dekapannya. Sehingga wajah Rehyan bertemu langsung dengan perut Nehta, karena posisinya yang duduk, sedangkan Nehta masih berdiri.
“Taaaa... Nenek, Ta.”
Suara Reyhan tercekat di tenggorokan, sakit, menyesakkan, bulir-bulir kristal berdesakan keluar dari pelupuk matanya.
“Menangislah sepuasnya, Rey. Lepaskan semua beban kamu.”
Nehta merasakan kedua tangan Reyhan mulai melingkar di pinggangnya, isak tangisnya terdengar pilu di indra pendengarannya. Wajahnya sendiri sudah basah karena air matanya.
Tangis Reyhan mulai reda, laki-laki itu mengurai pelukannya. Telapak tangannya terulur menghapus sisa-sisa kesedihan di wajahnya.
“Kita sholat dulu.” Lirihnya.
Nehta dan Reyhan keluar dari kamar Hanifah, menuju kamar Reyhan yang berada di lantai atas. Entah kapan terakhir kali, Reyhan memasuki kamarnya ini. Karena dia lebih sering pulang ke apartemennya.
Reyhan memasuki kamar mandi lebih dulu, sedangkan Nehta menunggu giliran.
Selang beberapa menit kemudian keduanya sudah siap untuk melaksanakan kewajibannya. Mau tahu dari mana Nehta mendapatkan mukena? Jawabannya itu adalah mukena miliknya yang pernah tertinggal di sini. Ya, terkadang Nehta datang ke rumah ini untuk bertemu atau menemani Hanifah.
Sekian lamanya, baru hari ini Nehta melaksanakan shalat berjamaah bersama dengan Reyhan. Karena sebelumnya tidak pernah sama sekali.
Selesai berdoa Reyhan menengokkan dirinya ke arah Nehta, mengulurkan tangannya untuk di salim oleh istrinya itu.
“Kamu tidak keberatan kan kalau malam ini kita menginap disini?”
“Nggak kok.”
...*****...
Keluarga Reyhan berkumpul untuk makan malam, masih dalam keadaan di rundung kesedihan karena duka akibat kehilangan. Apalagi Reyhan yang paling merasa kehilangan sosok Hanifah, dia sendiri sangat menyesal, saat selalu menolak ajakan makan malam bersama.
Hati dan pikirannya menolak rasa dari makanan yang tengah di kunyahnya saat ini, tapi tubuhnya butuh tenaga untuk sekedar mengenang kebersamaannya dengan sang nenek.
“Astaga. Rasanya aku sedang makan di kuburan.” Keluh Rasti, menghentikan makannya dengan menaruh sendok secara kasar.
“Rasti!” Peringat Haris.
“Aku udah selesai.” Rasti beranjak dari meja makan.
“Maafkan adik iparmu, ya Nehta.”
__ADS_1
“Nggak apa-apa, yah.”
“Rey, apa kamu tetap pergi ke luar kota? Apa tidak bisa di tunda dulu?”
Keluar kota? Apa urusan pekerjaan? Batin Nehta menatap laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
“Tidak bisa, yah. Lebih cepat lebih baik, aku tidak mau terlalu lama membiarkan tikus-tikus itu merugikan perusahaan.”
“Ajaklah istrimu, Rey. Kalian kan pengantin baru.”
Haris dan Reyhan memang tidak pernah bicara dari hati ke hati, sebagai ayah dan anak. Tapi setidaknya Haris berusaha menumbuhkan kembali kepercayaan anaknya, setelah luka yang pernah di berikannya dulu.
“Tidak yah, suasana di sana sedang tidak kondusif. Lagi pula, Nehta juga pasti sibuk dengan urusan butik.”
Padahal, kalaupun Reyhan mengajaknya pergi, dia yakin perempuan itu akan menolak. Karena Reyhan tahu, hubungan pernikahannya bukan atas dasar cinta.
“Ngomong-ngomong soal butik...”
“Kenapa?” Haris menatap istrinya, menunggu perempuan yang telah melahirkan putrinya itu meneruskan ucapannya.
“Karna ibu sudah nggak ada, apa boleh bunda yang mengelolanya?” Bujuk Dewi dengan suaranya yang mendayu.
Jika di hadapan suaminya, Dewi selalu menyebu dirinya dengan sebutan Bunda. Lain lagi, jika tidak ada Haris.
Nehta sampai terperanjat dengan suara Reyhan yang terdengar tegas dan tidak mau di bantah.
“Lho kenapa? Apa salahnya kalau bunda yang mengelola butik itu Rey?”
“Nenek mempercayakan butik itu pada Nehta, kalau anda lupa.”
“Itu kan waktu nenekmu masih ada Reyhan.” Dewi mulai meninggikan nada suaranya, karena geram dengan sikap anak sambungnya itu.
“Kuburan nenek bahkan masih belum kering.”
“Sudah... sudah... Lebih baik kita istirahat.”
Hari ini berlalu begitu panjang, Haris tidak ingin bertambah pusing dengan perdebatan anak dan istrinya. Laki-laki itupun menarik tangan istrinya pergi meninggalkan meja makan, menyisakan Reyhan dan Nehta.
“Rey...”
“Aku lelah, Ta. Lebih baik kita istirahat.”
Mungkin lain kali, aku bicara dengan Reyhan. Sungguh, kalaupun tante Dewi mau mengelola butiknya. Sama sekali aku nggak keberatan, karena butik itu memng bukan hakku. Batin Nehta.
Keduanya tidur dengan posisi saling memunggungi. Tidak, mereka tidak tidur, melainkan hanya memejamkan matanya. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, hingga kantuk pun tidak terelakkan.
__ADS_1
Sesuai apa yang di bicarakan semalam, Reyhan tengah bersiap untuk pergi ke luar kota. Tapi Reyhan pulang ke apartemen lebih dulu, baru setelah itu dia mengantar istrinya ke butik.
Selama ini, Nehta memang tinggal apartemen bersama dengan Azka. Tapi dia lebih banyak menghabiskan waktunya di butik. Walaupun berbentuk ruko, tapi tempat itu begitu luas untuk butik di lantai satu dan juga tempat istirahat untuk Nehta di lantai atas jika sedang lembur.
“Ah... aku lupa.” Nehta menepik jidatnya pelan.
“Kalau tante Dewi mengambil alih butik ini, apa aku, Rizki dan Wina masih bisa bekerja di sini?”
Mengingat sikap Dewi selama ini, Nehta yakin kalau ibu tiri dari suaminya itu tidak akan pernah membiarkan dirinya tetap bekerja di sini. Tapi Nehta berharap, kedua sahabatnya bisa tetap bekerja di sana.
Pikirannya kembali pada status pernikahannya dengan Reyhan. Selama hidupnya, sama sekali tidak ada bayangan menjadi istri dari sahabatnya sendiri.
Tapi bukan berarti, pernikahannya di anggapnya main-main. Prinsip hidupnya sama seperti Reyhan, menikah sekali dalam seumur hidup. Hanya saja, mungkin untuk saat ini, dia ikuti saja alur takdir membawanya kemana.
Nehta membuka laptopnya, mencari tempat untuk dirinya membuka butik baru. Tak apa walaupun kecil, yang penting dia sudah punya rencana, jika suatu saat Dewi mengambil alih butik yang di kelolanya itu.
“Gibran sama sekali nggak ada kabar, apa dia marah?” Nehta melihat notifikasi ponselnya, tidak ada satupun pesan yang berasal dari Gibran.
Baru saja Nehta ingin mengirim pesan pada Gibran, namun indra pendengarannya menangkap suara gaduh dari luar ruangannya.
Buru-buru dia keluar, untuk memastikan sumber kegaduhan yang terjadi.
“Tante Dewi, Rasti.” Nama itu keluar dari bibir Nehta.
“Maaf, Ta.” Cicit Rizki.
“Nggak apa-apa, Riz. Lanjutin aja kerjaan kamu.”
“Pasti kamu yang nyuruh mereka buat larang aku sama bunda masuk.” Rasti berkata sambil menunjuk tepat di hadapan wajah Nehta.
“Nggak kok, Ras. Ayo kita bicara di dalam.”
“Nggak perlu. Saya datang kesini cuma mau bilang, mulai sekarang saya yang akan mengelola butik ini. Jadi, kamu harus segera pergi dari sini!” Ucap Dewi dengan angkuhnya.
“Kasih aku waktu tante. Karena masih ada beberapa desain yang belum selesai. Aku masih...”
“Kamu nggak perlu khawatir. Aku bisa melanjutkan dan menyelesaikan semuanya.” Potong Rasti dengan percaya dirinya.
“Tapi...”
“Kamu tulli?” Pekik Dewi.
“Ba-baik tante.”
“Jangan lupa, bawa dua temanmu itu. Aku nggak suka sama mereka!”
__ADS_1