Bukan Sekedar Janji

Bukan Sekedar Janji
Tontonan Gratis


__ADS_3

Nehta terkejut dengan penuturan Rasti, kalau mereka berdua tidak suka padanya bahkan sekarang dengan terang-terangan mengusirnya, tidak apa-apa. Tapi kalau dengan Rizki dan Wina sampai harus kehilangan pekerjaannya? Sungguh, Nehta merasa tidak terima. Tapi mau bagaimana? Dia sendiri tidak punya kuasa untuk melawan.


Tangannya mengepal dengan kuatnya. Bola matanya dia gerakkan ke arah atas, demi menjaga kristal bening di pelupuk matanya tidak sampai jatuh.


Ke dua perempuan yang datang tiba-tiba itu keluar dari butik tanpa merasa bersalah. Menyisakan Nehta yang berusaha sekuat tenaga untuk menahan apa yang di rasakannya saat ini.


Kadang pada saat titik tertentu, Nehta merasa takdir begitu tega mempermainkan dirinya. Tapi itu hanya sesaat, Nehta akan selalu sadar dan bersyukur setelahnya. Dia selalu mengingat perkataan mendiang ibunya.


Seseorang lahir ke dunia dengan takdirnya masing-masing, bahkan malaikat sampai bertanya 77 kali setelah mereka melihat gambaran hidupnya selama hidup di dunia.


Bukankah dengan kalimat itu sudah jelas, bahwa yang memutuskan jalan hidup adalah kita sendiri?


“Taaa...?” Panggilan Rizki dan juga Wina membuyarkan lamunan Nehta.


“Ah iya, kenapa?”


“Apa yang di bilang sama dua nenek sihir itu?” Wina bertanya dengan penasaran.


Mau tak mau Nehta memberitahu kedua sahabatnya itu tentang keinginan Dewi dan juga Rasti yang ingin mengelola butik ini, termasuk Rizki dan juga Wina yang harus kehilangan pekerjaannya karena Nehta.


“Maaf...” Nehta sudah tidaj bisa lagi membendung air matanya.


Kedua sahabatnya malah tersenyum, mereka meraih tangan Nehta dan menggenggamnya dengan kuat.


“Ini bukan salah kamu, Ta. Emang dasarnya aja, nenek sihir itu serakah.” Cibir Wina.


“Lagi pula, ogah aku kerja sama mereka. Tapi nggak tahu ya kalau Rizki.” Seloroh Wina.


“Enak aja, aku juga ogah. Idih... amit-amit.” Rizki sampai membuat gerakan mengetok-ngetok kepalanya dengan tangannya lalu beralih ke meja.


“Makasih ya, aku akan berusaha cari usaha baru, supaya kita nggak jadi pengangguran.” Nehta terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Obrolan terus berlanjut sambil merapikan dan mengemas barang-barang pribadi mereka. Karena hari sudah siang, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu.

__ADS_1


Di sela-sela makan, Nehta sesekali melihat ponselnya. Sama sekali tidak ada notifikasi pesan ataupun panggilan, baik dari Gibran maupun Reyhan. Tunggu! Untuk apa Nehta menunggu pesan dari laki-laki itu, bukankah biasanya mereka bertukar pesan pun dapat di hitung jari? Tapi kenapa hari ini dia menunggu pesan dari Reyhan? Apa karena dia sudah jadi suaminya? Atau karena ada hal lain?


Nehta di buat pusing dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai dia tidak sadar dengan kehadiran laki-laki yang sejak pagi di tunggu olehnya. Tanpa di minta, Wina dan Rizki pergi meninggalkan Nehta dengan Gibran.


“Gibran? Kamu di sini?”


“Iya aku sempat lihat kamu tadi, makanya aku mampir ke sini.”


“Aku kira, kamu marah sama aku.” Nehta menundukkan kepalanya.


“Kenapa aku harus marah sama kamu?” Laki-laki itu meraih dagu Nehta agar perempuan itu menatapnya.


Nehta merasa canggung sekali dengan sentuhan fisik yang di lakukan oleh Gibran, bagaimanapun dia perempuan yang sudah bersuami. Bukankah sudah kewajibannya untuk tetap menjaga marwah suaminya sebagai seorang istri?


Tanpa Nehta tahu, Gibran dapat menangkap gelagat aneh pada diri Nehta saat dia menyentuh kekasihnya itu.


“Maaf, kemarin aku...”


“Sudah jangan di bahas, aku juga turut berduka cita atas meninggalnya nyonya Hanifah.”


“Ayo aku antar ke butik.”


Tak butuh waktu lama, sepasang kekasih itu sudah sampai di depan butik.


“Sayang maaf, aku nggak bisa bantu kamu.” Gibran berkata seperti itu setelah Nehta memberitahu kalau Dewi akan mengambil alih butik.


“Nggak apa-apa Gibran, lagi pula, butik itu bukan hak aku.” Nehta mengulas senyumnya.


Aku juga minta maaf Gibran. Aku janji, kalau waktunya sudah tepat, aku akan menceritakan semuanya sama kamu. Batin Nehta.


...*****...


Suasana tegang tengah di rasakan oleh seorang pria paruh baya, yang saat ini tengah berdiri dengan gelisah di hadapan atasannya yang datang secara mendadak ke kantor cabang yang di kelolanya.

__ADS_1


Apalagi, laki-laki yang umurnya jauh di bawahnya itu tengah duduk diam dengan tangannya yang sengaja dia ketuk-ketukkan di atas meja kebesarannya. Membuat kegugupannya semakin menjadi, manakala tatapannya bertemu dengan atasannya itu.


Tok. Tok. Tok.


“Masuk!” Ucap Reyhan datar.


Ya, laki-laki yang duduk di kursi kebesarannya itu tak lain adalah Reyhan. Sedangkan yang ada di hadapannya saat ini adalah Farhan, selaku manajer cabang dari perusahaan yang menyediakan sparepart untuk mobil yang di produksi perusahaan pusat milik Reyhan.


“Maaf tuan, saya sudah mendapatkan buktinya.” Arman menyerahkan berkas yang baru saja di bawanya.


“Bagus. Buang jauh-jauh manusia serakah itu. Dia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.”


“Tolong, tuan. Jangan serahkan saya pada polisi, kalau saya sampai di penjara, lalu bagaimana nasib keluarga saya?” Farhan menekuk lututnya di hadapan Reyhan dan juga Arman sambil menangkupkan telapak tangannya.


“Apa anda memikirkan keluarga sebelum melakukan semua ini?” Terlihat salah satu sudut bibir Reyhan terangkat ke atas.


“Tolong tuan, saya akan melakukan apapun untuk tuan. Asalkan saya tidak di serahkan ke polisi.” Lagi-lagi Farhan memohon.


Di kalangan bisnis, Reyhan terkenal dingin dan tidak kenal ampun. Tapi, masih saja ada manusia yang berulah, apalagi mengatas namakan untuk menafkahi keluarganya. Apa mereka tidak pernah berpikir, bukankah uang yang di hasilkan itu adalah uang haram?


Reyhan sendiri adalah orang yang realistis serta mengakui, bahwa segalanya memang memerlukan uang. Tapi bukan berarti mereka bebas melakukan hal menyimpang seperti yang di lakukan oleh Farhan.


Tak berselang lama, tiga orang berseragam polisi datang untuk membawa Farhan. Tentu saja Farhan berontak, saat tangannya di borgol. Reyhan hanya berlalu dari hadapan mereka tanpa sepatah katapun.


“Reyhan!!!” Teriak Farhan yang  berusaha melepaskan diri.


Teriakan Farhan begitu menggema, membuat langkah kaki Reyhan berhenti, lalu memutar tumitnya demi melihat apa yang akan di ucapkan oleh Farhan.


“Dasar brengggsek. Kamu lihat saja nanti! Aku tidak akan tinggal diam, aku akan membalaskan semuanya.” Ancam Farhan dengan berteriak sekaligus menatap Reyhan, wajahnya yang menyeramkan tapi sama sekali tidak membuat Reyhan terusik.


Farhan yang di bawa oleh polisi, menjadi tontonan gratis bagi karyawan yang ada di sana. Sekaligus peringatan, bahwa Reyhan tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Tapi ada juga yang bersyukur, Farhan sudah di tangkap oleh polisi. Dengan begitu, tidak ada lagi atasan yang berlaku semena-mena di sana.

__ADS_1


Setelah tidak ada lagi keributan, aktivitas karyawan berjalan seperti biasanya. Hanya ada beberapa bagian yang saat ini sedang meeting dengan Reyhan. Membahas laporan bulanan serta mencari pengganti Farhan, karena posisi manajer cabang harus segera ada yang mengisi.


__ADS_2