Bukan Sekedar Janji

Bukan Sekedar Janji
Baru Pulang Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Baru saja masuk ke dalam rumah, Wina sudah di tatap dengan tatapan nyalang. Seorang laki-laki paruh baya tengah duduk di ruang tamu, yang bahkan sofanya sudah tidak layak pakai.


Laki-laki itu tak lain adalah Sarwan, ayah kandung Wina. Walaupun Sarwan adalah ayah kandung Wina, tapi laki-laki paruh baya itu sering kali berbuat semena-mena pada putrinya. Bahkan tak jarang tangannya ikut andil, saat berteriak saja dia rasa tak cukup.


“Wi-wina dari rumah sakit pak.” Jawab Wina dengan wajah yang menunduk ketakutan.


“Halah... Palingan kamu habis pergi sama om-om kan? Ibu lihat kamu pulang di antar dengan mobil mewah.” Utami ikut menimpali percakapan suami dan anak sambungnya.


“Apa benar, Wina?”


“Iya pak...”


Plak.


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Wina. Rasa panas yang menjalar di pipinya, sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Matanya mengembun menatap ke arah sang ayah kandung, dengan tangannya memegang bekas tamparan Sarwan.


“Bapak?” Pekik Wina.


“Wina memang di antar dengan mobil mewah, tapi dia hanya teman. Wina di atar olehnya setelah menemani Nehta yang sakit. Harusnya bapak dengarkan dulu penjelasan, Wina.” Ucap Wina dengan menahan tangisnya, sehingga rasa tak nyaman mengganjal di tenggorokannya.


Selama ini Wina selalu diam dengan perlakuan ayah kandungnya, karena rasa bersalah yang selalu terngiang di pikirannya. Tentang ibu kandungannya yang meninggal setelah melahirkan Wina. Karena Sarwan selalu mengungkit kejadian itu di hadapan Wina. Bahkan dia sendiri tidak pernah tahu seperti apa wajah ibunya.


Utami? Tidak, dia bukan ibu kandung Wina. Dia menikah dengan Sarwan saat Wina masuk ke SMP. Semakin parahlah kelakuan ayah kandungnya itu terhadapnya.


Wina yang kecewa, meninggalkan Sarwan dan juga Utami yang masih berada di ruang tamu.


Tanpa ada yang tahu, Arman tengah berdiri di depan pintu. Laki-laki itu terpaksa kembali ke rumah Wina karena ponselnya yang terjatuh di kursi mobil.


Bukan maksud menguping, tapi Arman dapat mendengar dengan jelas suara tamparan yang di layangkan oleh Sarwan.


Ternyata ada. Laki-laki, bahkan dia seorang ayah. Berbuat kasar pada putrinya sendiri. Batin Arman mulai mengiba.


Arman mengurungkan niatnya untuk mengembalikan ponsel milik Wina. Dia tidak ingin menambah penderitaan perempuan yang baru saja menerima tamparan dari ayahnya.


...*****...


Serangkaian tes di lakukan oleh Nehta dan hasilnya tidak ada yang bermasalah. Reyhan mengembuskan napasnya lega. Selang oksigen sudah di lepas, hanya selang infus yang masih terpasang.


“Terima kasih banyak, dok.” Ucap Nehta tulus.


“Sama-sama, nona. Semua ini berkat suami anda. Tuan Reyhan melakukan pertolongan pertama dengan cepat dan tepat.” Dokter tersenyum dengan ramah, kemudian pamit keluar dari ruang rawat Nehta.


Sepeninggal dokter, Reyhan memberikan makanan yang sebelumnya di bawakan oleh suster. Sebenarnya Reyhan ingin menyuapi, tapi melihat Nehta yang sudah tidak lemas dan menolak untuk di suapi. Akhirnya Nehta makan dengan tangan sendiri.

__ADS_1


“Kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Reyhan pura-pura tidak tahu dengan tatapan yang di berikan oleh Nehta.


“Kamu nolong aku dengan cara apa memangnya?” Nehta tahu pertolongan pertama yang di maksud dokter tadi, tapi dia bertanya hanya ingin memastikan.


“Dengan napas buatanlah.” Enteng Reyhan.


Mendengar jawaban dari Reyhan, Nehta berhenti menyuap makanan yang ada di pangkuannya.


“Ciuman pertamaku.” Lirih Nehta sambil menyentuh bibirnya.


“Ck. Kamu ini boddoh atau apa. Kamu bilang itu ciuman?” Rehyan melangkah semakin dekat ke arah Nehta dengan senyum tipis di bibirnya.


“Kamu ngatain aku boddoh?” Kesal Nehta.


Reyhan tidak menjawab, tapi laki-laki itu sudah menempelkan bibirnya di bibir Nehta.


Saking terkejutnya Nehta hanya diam, Reyhan berpikir bahwa istrinya tidak menolak perlakuan Reyhan padanya.


Reyhan mulai menggerakkan bibirnya, mengeccupp, menyessap, lalu mellumatt sekilas bibir Nehta.


Deg. Deg. Deg.


Jantung Nehta berdebar tak karuan setelah Reyhan melepaskan tautannya.


“Reyhan!!!” Pekik Nehta.


“Kalau kamu sudah bisa berteriak seperti ini, berarti kamu sudah sehat.” Seloroh Reyhan.


“Ah satu lagi. Itu juga ciuman pertamaku.” Aku Reyhan.


Nehta hanya bisa diam menerima semuanya, selain sudah terlanjur terjadi dan tidak mungkin bisa kembali lagi seperti semula. Reyhan juga suaminya, dia berhak atas apa yang di lakukannya barusan, bahkan sekalipun lebih dari itu.


Cih. Ciuman pertama apanya. Aku nggak percaya. Batin Nehta kembali menyentuh bibirnya.


“Mau lagi?” Goda Reyhan.


Reyhan semakin terkikik saat mendapat tatapan tajam dari istrinya. Hatinya juga ikut menghangat, lantaran yang pertama menyentuh bibir ranum perempuan yang berstatus istrinya itu adalah dirinya.


Padahal dia sempat berpikir, bahwa selama dia kuliah di luar negeri, Nehta sering berpacaran. Mungkin saja ada laki-laki yang berhasil mendapatkan ciuman pertama Nehta. Tapi ternyata tidak, justru Reyhanlah yang pertama. Meskipun saat ini Nehta menjalani hubungan dengan Gibran.


“Kamu nggak ke kantor Rey?” Tanya Nehta, berniat mengusir halus laki-laki itu.


“Apa sewaktu jatuh ke kolam, kepalamu terbentur, Ta?”

__ADS_1


Nehta mengerutkan keningnya.


“Ini hari minggu.”


Nehta memalingkan wajahnya karena malu. Kenapa dia sampai lupa hari. Saking inginnya Reyhan pergi dari kamarnya.


“Atau mu-mungkin kamu mau pergi berkencan.”


Entah kenapa, ada setitik rasa tidak rela jika Reyhan pergi berkencan. Padahal selama ini dia tidak pernah memedulikan urusan asmaranya Reyhan. Apalagi dia sendiri mempunyai hubungan dengan Gibran.


Selama ini, sebenarnya perasaan apa yang dia rasakan untuk Gibran. Apakah benar, dia menyayangi Gibran sebagai seorang kekasih? Apakah cinta itu sudah hadir di hatinya?


“Satu hal yang harus kamu ingat, Ta. Aku bukan tipe laki-laki yang suka bermain perempuan, apalagi statusku saat ini adalah seorang suami.” Ucap Reyhan dengan raut wajah dingin.


Senyum dan tawanya menghilang entah kemana, saat Nehta menyinggung soal kencan padanya.


Seharusnya yang merasakan sesak bukan Nehta, tapi Reyhan. Karena dia masih menjalin hubungan dengan Gibran saat statusnya sudah menjadi istri orang lain.


Nehta menunduk, dia malu dengan Reyhan, malu karena belum bisa terus terang dengan Gibran kalau dia sudah menikah dengan Reyhan. Sementara suaminya itu enggan untuk berhubungan dengan perempuan lain. Bukankah ini tidak adil untuk Reyhan? Tapi pernikahan ini terjadi karena mereka mengikuti keinginan Hanifah. Tidak. Meskipun itu keinginan Hanifah, tapi tetap saja Nehta sendiri yang memutuskan bersedia menikah dengan Reyhan.


“Aku keluar dulu. Infus kamu sudah mau habis. Dokter bilang, setelah infus habis kamu boleh pulang.”


“Iya.” Hanya satu kata itu yang bisa Nehta keluarkan dari mulutnya.


Selang satu jam, Nehta dan Reyhan sudah menaiki mobil untuk pulang.


“Rey?”


“Hmmm?


“Apa boleh, kalau mampir dulu ke apartemenku?”


“Ya.”


Singkat, padat dan menyebalkan. Padahal di dunia ini ada satu juta lebih kata yang bisa dia pakai sebagai jawaban, selain Hmmm dan Ya.


Sesampainya di apartemen, Nehta menemui Azka terlebih dahulu. Rupanya laki-laki yang lahir setelahnya itu tengah meringkuk di tempat tidur. Nehta pun kembali ke kamarnya.


“Buat apa koper itu?” Tanya Reyhan yang melihatnya di ambang pintu.


“Bukannya kamu yang nyuruh aku buat mindahin barang-barangku ke apartemen kamu?”


“Astaga. Tahu begitu, langsung pulang aja. Kamu baru keluar dari rumah sakit, Ta.” Gerutu Reyhan.

__ADS_1


“Rumah sakit? Kak Nehta sakit bang?”


__ADS_2