
Proses pemakaman Tian berlangsung dengan lancar tanpa ada gangguan sedikitpun. Selain meliburkan kegiatan belajar dan mengajar, pihak sekolah pun turut serta dalam proses pemakaman hari itu. Bahkan menyuruh siswanya untuk ikut melayat.
Sebagai seorang ibu, Tiana begitu kehilangan putranya. Tapi dia mencoba untuk ikhlas, karena tahu, jika dia terus bersedih dan menangis, bukankah itu akan semakin memberatkan kepergian Tian.
Tertulis nama Bastian Indra Wijaya bin Bagas Indra Wijaya pada nisan yang tertancap di atas pusara yang tanahnya masih basah tersebut. Kelopak bunga serta buket bunga tampak memenuhinya.
“Maafkan saya, om, tante.” Lirih Reyhan.
Sejak semalam, Reyhan terus saja meminta maaf pada orang tua Tian. Karena dirinya merasa bersalah karena balapan motor dan juga dirinya yang terlambat membawa Tian ke rumah sakit.
“Tidak, Rey. Om tahu, meskipun bukan dengan kamu. Tian memang suka sekali balapan liar. Mungkin ini sudah takdirnya, om dan tante sudah berusaha ikhlas.”
Ya, Reyhan juga tahu itu. Salah satu hobi sahabatnya itu adalah balapan motor. Hanya saja tempatnya yang salah.
Setelah mengucapkan itu, kedua orang tua Tian pergi meninggalkan area pemakaman. Menyisakan Reyhan, Arman, Sara, Lusy dan juga Nehta.
Plak.
Satu tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi Nehta. Membuat Reyhan dan juga Arman terkejut dengan ulah perempuan satu ini.
“Semua ini gara-gara kamu Nehta. Tian meninggal gara-gara kamu.” Hardik Lusy.
Deg.
“Gara-gara aku?” Alis Nehta saling bertaut, satu tangannya menyentuh bekas tamparan Lusy yang terasa sangat perih.
Entah fakta apa yang di ketahui oleh Lusy, tapi tanpa mendengarkan dulu detailnya, dia sudah menuduh Nehta yang bukan-bukan. Padahal Nehta sama sekali tidak tahu tentang aksi balapan Reyhan dan juga Tian.
“Aku benci sama kamu, aku harap hidupmu akan menderita. Bahkan aku berdoa supaya kamu juga kehilangan orang yang kamu sayangi.” Mata Lusy yang sembab berkilat-kilat dan pipinya yang basah membuatnya tampak bersungguh-sungguh menyumpahi Nehta.
Brugh.
Dengan sengaja, Lusy melewati Nehta. Dia pergi bersamaan dengan Sara yang sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Flashback off
“Kamu masih ingat sama apa yang di sumpahkan Lusy dulu, Rey?” Nehta bertanya tanpa menatap suaminya.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Apa mungkin yang aku alami sekarang itu karena ucapan Lusy yang terkabul. Aku kehilangan kedua orang tuaku. Tapi sampai sekarang, aku nggak tahu kesalahanku itu apa. Sehingga dia menyumpahi aku sampai segitunya. Bahkan menuduhku sebagai pembunuh Tian.” Air mata Nehta sudah meluncur, membasahi pipinya.
“Kepergian orang tuamu bukan semata karena ucapan Lusy, tapi memang sudah takdirnya. Dan kamu juga tidak salah. Kembali lagi, ini adalah takdirnya Tian.” Hibur Reyhan.
Tidak. Bukan hanya untuk menghibur Nehta, tapi memang kenyataannya seperti itu. Nehta tidak bersalah, tapi Reyhan dan Tianlah yang memutuskan untuk melakukan balapan itu.
...*****...
Pagi hari, Nehta sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Senoadji Group. Tapi berkali-kali Reyhan menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih tertutup, padahal pakaian yang di kenakannya sudah sopan.
Drrtt... Drrtt...
Ponsel Nehta bergetar, menandakan ada pesan masuk di sana.
Sayang, kamu jadi kerja di Senoadji Group?
Siapa lagi kalau bukan Gibran, yang berani mengirimkan pesan dengan panggilan sayang tersebut.
Iya. Ini, aku lagi siap-siap. Balas Nehta.
Nggak perlu, aku bisa berangkat sendiri. Kalau kamu nggak sibuk, apa bisa ketemuan setelah aku pulang kerja? Ada yang mau aku sampaikan sama kamu.
Pesan itu sudah terkirim, Gibran juga sudah membukanya. Tapi belum ada balasan dari laki-laki yang berstatus kekasihnya itu.
“Kamu mau kerja atau mau ngelenong?” Reyhan menghapus lipstik di bibir Nehta, yang sedari tadi fokus pada ponselnya.
“Ih... Lipstikku jadi berantakan Rey.” Kesal Nehta.
Tapi Nehta tidak punya waktu lagi untuk memoles ulang lipstiknya, sehingga dia hanya merapikan bagian yang berantakan saja.
“Tunggu, Ta!”
“Apa lagi Rey?” Nehta sudah sangat kesal dengan kelakuan Reyhan, tapi dia terdiam saat ada sepasang sepatu baru di dekat pintu apartemen.
“Orang bilang, sepatu yang bagus bisa membawamu ke tempat yang bagus juga. Pakailah. Anggap itu hadiah dariku atas pekerjaan barumu.”
__ADS_1
“Ck. Sejak kapan kamu peduli dengan omongan orang? By the way, makasih.”
Nehta pun memakai sepatu itu tanpa kesulitan, karena ukurannya pas sekali dengan kakinya. Sepatu itu juga sesuai dengan warna kesukaannya, putih. Dan nyaman.
Layaknya pasangan suami istri pada umumnya, Nehta mencium tangan Reyhan saat pamit. Entah kenapa, ada secuil rasa hangat di hatinya saat Reyhan berpesan untuk hati-hati.
Reyhan dan juga Nehta pergi menggunakan mobil masing-masing menuju ke tempat yang berbeda pula.
Saat masuk ke perusahaan Senoadji Group, Nehta tidak sempat untuk menghubungi kedua sahabatnya. Karena terlalu fokus dengan dimana dan apa yang harus di kerjakan olehnya.
“Ini meja anda, nona.”
“Tuan Sam, cukup panggil saya Nehta.” Ucap Nehta sedikit berbisik pada Sam.
Tapi laki-laki itu seakan tuli, dan mengabaikan ucapannya. Sehingga dia tetap saja memanggilnya dengan sebutan nona.
“Di sini anda sebagai ketua tim tiga. Rekan tim anda, ada Sherly, Darwin dan juga Risma. Untuk satu orang lagi, tim HRD sedang mengupayakan agar bisa lengkap seperti tim satu dan dua.” Tutur Sam.
“Selamat datang, nu Nehta.” Ucap ke tiganya serempak.
“Iya, panggil aja Nehta.” Nehta tersenyum dengan manisnya.
Dia tidak tahu, bagaimana tim satu dan dua melihatnya dengan tatapan tidak suka. Apalagi dengan Sam yang memanggilnya nona, semakin kesal. Karena mereka pikir Nehta bisa bekerja di sana hanya dengan embel-embel orang dalam.
Mereka menganggap tim lain adalah saingan, karena itulah ketua tim tiga sebelumnya sampai mengundurkan diri karena ulah mereka.
“Saya permisi.” Pamit Sam.
“Terima kasih, tuan Sam.”
Setelah basa-basi perkenalan dengan rekan timnya, Nehta mulai melakukan tugasnya sebagai ketua tim. Pekerjaannya berjalan dengan beberapa kesulitan, karena projek desain yang di rencanakan oleh ketua tim sebelumnya menggantung.
“Sudah waktunya makan siang. Ayo kita makan dulu!” Ajak Nehta.
Namun ajakannya itu terdengar aneh di telinga karyawan di sana. Apalagi ketiga rekan kerjanya terus menundukkan kepalanya, mereka takut akan di tegur oleh ketua tim satu atau ketua tim dua.
“Kenapa?” Nehta merasa aneh sendirian.
__ADS_1
“I-itu bu, ka-kami belum lapar, iya belum lapar.. pekerjaan kami juga masih banyak.” Ucap Risma.
“Kalian tahu? Menahan lapar itu bisa bikin kita stres, cemas dan mood berantakan. Karna adanya perubahan hormon dan metabolisme yang tidak seimbang. Tunda dulu pekerjaannya, kita bisa melanjutkannya setelah makan. Ayo!” Nehta sampai menarik lengan Risma dan juga Sherly.