Bukan Sekedar Janji

Bukan Sekedar Janji
Apa Bedanya?


__ADS_3

Saat Nehta hendak mengambil baju di lemari, indra pendengarannya menangkap pergerakan dari atas tempat tidurnya. Dengan perlahan, Nehta bergerak mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk memukul.


Degup jantungnya berdetak tak karuan, dia sangat ketakutan. Mau tak mau, Nehta menyeret kakinya menuju sakelar lampu. Karena kamarnya dalam keadaan gelap.


Klap.


Bugh. Bugh. Bugh.


“Dasar messum, pencuuri, pengunntit, maliing.” Nehta berteriak memukul dengan sekuat tenaga menggunakan buku tebal yang dia gulung.


“Akkhh... Nehta, hentikan!” Reyhan menangkap tangan Nehta, kemudian mencekalnya dengan kuat agar perempuan itu berhenti memukulinya.


“Re-Rey?”


“Iya ini aku.” Reyhan yang baru bangun tidur langsung tersadar karena pukulan Nehta.


Apalagi saat ini, dia berhadapan langsung dengan Nehta yang hanya menggunakan handuk saja. Sebagai laki-laki normal, Reyhan sempat menelan ludahnya kasar. Tapi buru-buru dia menyadarkan diri, agar tidak terbawa suasana.


“Kenapa kamu ada di sini?”


“Azka yang menyuruhku untuk istirahat disini.”


“Lepas!” Pekik Nehta.


Yang meminta di lepaskan Nehta sendiri, tapi begitu Reyhan melepas cekalan tangannya, tubuh Nehta terhuyung karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Sehingga membuatnya ambruk menindih Reyhan.


Di luar dugaan, ujung belitan handuk di tubuh Nehta terlepas. Kalau dia bangun dengan tergesa-gesa, maka handuk yang di pakainya akan melorot. Dengan terlelas seperti ini saja, belahan dadanya hampir terlihat.


Nehta mendongak ke arah Reyhan, laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Demi menyembunyikan wajahnya yang merona, karena merasakan benda kenyal dan empuk milik nehta.


“Tutup matamu dan jangan bergerak!”


Dari tadi yang paling banyak bergerak itu kamu, Nehta. Batin Reyhan, tapi laki-laki itu menurut dengan apa yang di perintahkan oleh istrinya.


Dalam satu kali gerakan, Nehta sudah berdiri dari tubuh Reyhan. Kemudian dengan cepat dia menyambar pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Reyhan hanya mampu menggelengkan kepalanya, bibir yang jarang dia pakai untuk tersenyum itu dia lipat kedalam demi menahan bibirnya yang berkedut ingin tertawa.


Selepas mengerjakan shalat berjamaah, Nehta dan juga Reyhan keluar dari kamar. Namun tidak mendapati Azka dimanapun, entah kemana perginya laki-laki tersebut. Padahal saat pulang Nehta sempat melihat adiknya, tapi jahilnya, Azka tidak bilang apa-apa soal Reyhan. Sampai sekarang Nehta masih merasa malu dengan kejadian tadi.


Apa Reyhan termasuk kaum belok? Kenapa tadi dia nggak bereaksi apa-apa? Batin Nehta menatap suaminya dengan tatapan aneh.


Tidak tahu saja, bahwa orang yang di sangkanya menyimpang itu menahan gejolak hassrratnya susah payah.


“Apa ada yang aneh?” Reyhan meraba-raba wajah dan tubuhnya saat mendapati tatapan aneh dari Nehta.

__ADS_1


Iya. Kamu aneh, Rey. Tentu saja Nehta hanya menjawab seperti itu dalam hatinya.


“Nggak.”


“Kamu mau ngapain?”


“Mau masak. Emangnya kamu nggak laper?”


“Pesan aja, aku sudah lapar.”


Padahal dia belum terlalu lapar, bahkan bisa menunggu kalau Nehta mau memasak. Tapi Reyhan tahu, istrinya itu pasti lelah.


“Oh, okey.” Nehta manut saja, kebetulan memang hari ini dia sangat lelah.


Seharian ini, Nehta mendatangi beberapa perusahaan termasuk butik-butik kecil untuk melamar pekerjaan. Namun hasilnya nihil. Tidak ada satupun yang mau menerimanya, karena tidak ada lowongan.


“Aku sudah pesan, mungkin sebentar lagi makanannya datang.” Ucap Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


“Aku kan belum bilang mau makan apa.” Protes Nehta.


Reyhan hanya diam, tak menanggapi kekesalan Nehta.


Tak berselang lama, bel apartemen berbunyi. Tanda seseorang datang. Dan ternyata yang datang adalah ojek online yang mengantarkan pesanan Reyhan.


Bibir Nehta terlihat mengulum senyumnya, saat melihat makanan yang di pesan oleh Reyhan adalah makanan yang dia mau saat ini.


Tangannya dengan cekatan menata semua makanan di atas meja. Keduanya makan dengan tanpa terlibat obrolan apapun, hanya dentingan sendok beradu yang terdengar.


“Besok, kembalilah bekerja di butik.” Titah Reyhan sambil meletakkan piring kotor di hadapan Nehta yang sedang mencuci piring.


Mendengar ucapan Reyhan, Nehta menghentikan gerakan tangannya. Dia berbalik lalu menatap suaminya.


“Aku tahu, tante Dewi minta kamu keluar dari butik kan?”


“Aku nggak apa-apa, Rey. Lagi pula, aku nggak ada hak untuk mengelola butik itu.” Nehta berusaha meyakinkan Reyhan.


“Kamu punya hak, Ta. Nenek sudah mempercayakan butik itu sama kamu. Kamu juga istriku sekarang.” Kekeh Reyhan.


Nehta menggeleng pelan. Dia  memberikan alasan, bahwa dia ingin mencari pekerjaan di tempat lain. Untuk mencari pengalaman pekerjaan di tempat yang baru.


“Baiklah. Tapi, kapanpun kamu mau, kamu bisa kembali ke butik.” Reyhan mengalah.


“Makasih banyak, Rey.”

__ADS_1


“Hmmm.”


Setelah berbincang soal butik, Nehta menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring dan membereskan peralatan serta meja makan.


Kening Nehta berkerut, saat melihat Reyhan masih ada di apartemennya. Laki-laki itu duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.


“Kamu masih di sini, Rey?”


“Karna kamu juga masih di sini.”


“Ish...” Susah memang kalau ngomong sama laki-laki yang satu ini.


Kini keduanya duduk di ruang tengah, tapi di sofa yang berbeda. Mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing.


Entah apa yang tengah di lakukan Reyhan dengan ponselnya, membuat Nehta berulang kali melirik ke arah Reyhan yang sama sekali tidak merasa terganggu dengan keberadaannya.


“Sampai kapan kamu mau tetap di sini?” Tanya Nehta.


“Kenapa?”


“Kamu nggak pulang?”


“Kamu sendiri nggak pulang?”


“Ini apartemenku. Lantas aku harus pulang kemana lagi?”


Reyhan malah terkekeh dengan jawaban yang di berikan Nehta, apalagi, sejak Nehta membuka suaranya, mereka hanya saling melempar pertanyaan satu sama lain.


Bukankah lucu, Nehta bahkan lupa kalau statusnya sudah menjadi istri seorang Reyhan. Mungkin karena hubungan persahabatannya yang begitu erat, Nehta sampai lupa membedakan hubungannya sendiri. Antara sahabat dan juga sepasang suami istri.


Reyhan sampai berpikir yang aneh-aneh. Mungkin hanya dengan melakukan ‘itu’ Nehta akan sadar hubungannya dengan Reyhan sudah berubah dari sebelumnya.


Reyhan menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pikiran kotornya. Jangan sampai dia benar-benar melakukannya, apalagi sampai memaksa Nehta. Karena pada dasarnya, Reyhan cukup jahil jika berhubungan dengan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Rasa penasaran Nehta saat melihat Reyhan yang masih saja tertawa, menguar begitu saja, karena bel apartemen berbunyi.


Keduanya melihat jam yang menempel dengan sempurna di dinding yang berada di ruang tengah. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kenapa ada orang yang bertamu malam-malam begini.


Betapa terkejutnya Nehta, setelah membuka pintu apartemennya. Laki-laki yang masih berstatus kekasihnya itu datang dengan membawa bungkusan makanan di tangannya.


“Sayang, aku bawain kamu...” Ucapan Gibran menggantung saat melihat Reyhan muncul dari belakang Nehta.


“Ini sudah malam, Ta. Tidak baik untuk menerima tamu laki-laki.”

__ADS_1


“Ck. Lalu apa bedanya? Anda sendiri ada disini, malam-malam seperti ini, tuan Reyhan?” Gibran mulai tersulut emosinya.


“Tentu saja beda karna...”


__ADS_2