
Memang dasarnya laki-laki itu tidak pernah mau di bantah, dan seenaknya sendiri. Tanpa persetujuan, Reyhan mencari kunci mobil Nehta dari dalam tas milik Nehta. Lalu berjalan menuju mobil milik Nehta dan membukakan pintu di kursi penumpang untuk Nehta.
“Kamu tidak perlu ikut! Repot kalau harus mengantar kamu pulang juga.”
“Idih, lagian siapa yang mau ikut. Kalau aku ikut, gimana nasib motorku?”
Saat Nehta sakit, malah Wina yang lebih banyak berdebat dengan Reyhan.
“Bukannya kamu juga bawa motor, Rey?” Nehta menatap laki-laki yang lebih banyak membuatnya jengkel itu.
“Motorku urusan nanti. Sekarang ayo masuk!” Kakinya seolah merasakan pegal, karena terus berdiri menunggu Nehta masuk ke dalam mobilnya.
Reyhan mengemudikan mobil Nehta dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang tidak terlalu ramai.
Sesampainya di rumah Nehta, Rosa, ibu kandung Nehta terlihat begitu khawatir saat anak perempuannya pulang di papah oleh Reyhan.
Rosa mengenal Reyhan, karena saking seringnya Nehta terlibat masalah dengan remaja yang satu ini. Rosa sendiri tak pernah ambil pusing dengan kelakuan absurd keduanya. Malahan, Rosa merasa, keusilan Reyhan adalah bentuk mengekspresikan hubungan persahabatannya. Buktinya, sejahil atau seusil apapun Reyhan, dia tetap perhatian pada Nehta seperti saat ini.
“Tata kenapa, Rey?” Bukannya bertanya pada anaknya, Rosa malah bertanya pada Reyhan.
Tata adalah panggilan sayang di keluarganya, hanya Azka yang lebih sering memanggil Nehta dengan sebutan kakak.
“Nehta tadi pingsan, tante. Belum makan dari pagi, diet katanya.” Seloroh Reyhan.
“Diet apaan. Semua gara-gara kamu tahu. Kalau aku nggak di hukum bareng kamu, aku pasti udah makan.” Kesal Nehta.
“Sudah-sudah, kamu istirahat aja yuk!” Ajak Rosa pada Nehta.
“Reyhan pamit dulu, tante.” Reyhan mengulurkan tangannya untuk meminta salim pada Rosa.
“Lho kok buru-buru? Makan dulu di sini, kebetulan tante udah masak.”
“Makasih tante, Reyhan harus kembali ke sekolah, motor Reyhan masih di sana.”
“Ya ampun, ngerepotin jadinya. Ke sekolahnya biar di anterin sama sopir tante ya?”
“Tidak usah tante, Reyhan naik taksi aja.”
__ADS_1
Mau tak mau Rosa membiarkan Reyhan untuk kembali ke sekolah, tanpa di antar sopirnya.
Flashback off
Terlihat Nehta begitu sibuk merapikan penampilannya di depan cermin. Demi menghadiri pesta ulang tahun Sara.
Ya, sesuai apa yang di sampaikan Sara pada Reyhan tempo hari, Nehta yang termasuk alumni SMA yang sama ikut di undang.
Sebenarnya, Reyhan sudah melarang perempuan itu untuk datang. Karena Reyhan tidak mau Sara berbuat ulah pada Nehta.
“Kamu benar-benar mau datang?” Reyhan kembali memastikan.
“Ya ampun, Rey. Aku kan udah bilang, aku mau dateng. Lagian mungkin Sara udah berubah sekarang, kita itu udah dewasa bukan anak remaja kemarin sore lagi. Apalagi, seperti yang kamu bilang, dia udah mulai meneruskan usaha papinya.”
“Ck. Dasar keras kepala.”
“Sampai ketemu di sana.” Ucap Nehta.
Keduanya berpisah setelah keluar dari apartemen. Reyhan terlihat sangat kesal, lantaran Nehta sama sekali tidak mau di antar oleh sopir.
Sebelumnya, mereka sempat berdebat soal itu. Tapi semakin lama, Reyhan semakin di buat pusing, lantaran Nehta sama sekali tidak mau mendengarkan ucapannya. Reyhan pun mengalah, dengan syarat, Nehta harus mau memakai mobil pemberiannya.
Rasanya masih segar betul di ingatannya, saat Nehta menyalipnya yang tengah mengendarai motor sportnya. Padahal dia melajukan motor tidaklah pelan. Waktu itu Nehta dan juga Reyhan sempat terlibat aksi kejar-kejaran, seperti layaknya tengah balapan.
Namun berakhir dengan, Reyhan di tilang oleh polisi. Hanya Reyhan, karena Nehta berhasil lolos dari kejaran polisi.
Laki-laki tersenyum tipis kala mengingat hari itu, tapi senyum itu cepat dia hilangkan saat sadar, bahwa mobil yang di kendarainya sudah sampai di sebuah hotel mewah.
Tamu yang datang, satu per satu di minta untuk menunjukkan undangan yang di terimanya. Termasuk Nehta dan juga Reyhan yang datang beriringan.
“Ingat. Jangan bikin ulah!” Ucap Nehta, namun lebih terdengar seperti berbisik.
Namun Reyhan berlalu begitu saja, tanpa menanggapi ucapan yang lebih terdengar seperti ancaman yang tak berarti untuk Reyhan.
Pesta itu terletak di lantai paling atas dari hotel bintang lima yang sudah terkenal dengan kemewahan. Jelas saja, Sara bukan hanya mampu membuat pesta sebesar ini, tapi mungkin bisa saja keluarganya mampu untuk mengakuisisi hotel ini jika mereka mau.
Di sana, Nehta bertemu dengan teman-teman lamanya. Ternyata, Wina sudah berada di sana, datang lebih dulu daripada Nehta.
__ADS_1
“Untung kamu cepet dateng, Ta. Sumpah aku nggak nyaman banget. Teman-teman kita semuanya sudah sukses. Jadi yang mereka obrolin soal bisnis atau semacamnya.” Ucap Wina merendah.
“Aku juga risi, dari tadi hanya aku yang pakai kerudung.” Wina menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
“Justru aku yang risi, kalau kamu tiba-tiba buka kerudung, Win.” Seloroh Nehta.
Nehta terkekeh pelan, karena dirinya juga sama. Saat ini dia bukan lagi orang yang berada di kalangan atas. Bahkan saat ini dia mungkin saja jadi pengangguran andai Alex tidak memberikannya pekerjaan.
“Ah aku lupa.” Pekiknya, sehingga membuat beberapa orang meliriknya, padahal suaranya bisa saja tersamarkan oleh suara musik yang mengalun.
“Kenapa, Ta?”
“Hari senin pergilah ke Senoadji Group, ajak Rizki, sambil bawa berkas lamaran kerja!” Nehta terlihat sangat senang.
“Senoadji Group? Itu kan perusahaan besar? Mana berani aku lamar kerjaan di sana, Ta.”
“Dateng aja, hari senin aku juga akan ke sana. Dateng ya?” Bujuk Nehta.
Dan Wina pun mengangguk setuju.
Acara pesta ulang tahun itu di mulai, seluruh tamu undangan berdiri tak jauh dari si pemilik pesta yang tengah berdiri, yang di hadapannya terdapat kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala.
Selesai meniup lilin, Sara mulai memotong kuenya. Semua orang di sana sudah tahu dengan pasti, kue itu di berikan pada siapa.
“Kue pertama, untuk kamu Rey.” Sara menyodorkan piring kecil yang berisi potongan kue tersebut pada Reyhan.
Karena tidak mau ada drama, Reyhan menerima kue yang di berikan oleh Sara tanpa bicara apapun. Semua tamu bersorak, bahkan terlihat rona merah di pipi Sara yang merasa senang karena Reyhan tidak menolak pemberiannya.
“Teman-teman sekalian, silakan menikmati pesta dan juga hidangan yang ada di sini.” Ucap Sara.
Nehta dan juga Wina pun pergi ke meja yang sudah di sediakan berbagai makanan dan juga camilan termasuk buah-buahan seta minuman.
“Hai, Ta. Apa kabar?”
“Hai juga, kabarku baik. Oh iya, happy birthday Sara.”
Ucapan selamat ulang tahun dari Nehta itu tulus, meskipun dulu, perempuan yang ada di hadapannya itu sering sekali membullynya.
__ADS_1
“Thank’s.”
Waktu semakin larut, tapi pesta semakin meriah. Hanya Reyhan yang tampak tidak begitu menikmati pesta yang meriah itu. Laki-laki itu berniat untuk melipir sebentar, begitu lepas dari perhatian Sara dan teman-teman yang lainnya. Reyhan juga merasa kesal, lantaran Nehta bersikap seperti tidak saling mengenal.